Minggu, 19 Juli 2026

SAYA ADAKAH PRAKTISI

 Saya adalah praktisi

Cuplikan percakapan saya dengan teman satu kos waktu kuliah dalam sebuah acara beberapa waktu lalu. 

Teman saya, "gimana ini, boss kok masih kerja".

Jawab saya, " Saya bukan boss, saya praktisi ".


Seringkali kita mendapatkan pernyataan seperti ini dari orang-orang dekat kita, mereka umumnya tidak memahami bahwa apoteker komunitas seperti saya yang mengabdikan diri sebagai pelayan kesehatan di apotek adalah praktisi yang harus praktek. Meski apotek milik sendiri, bukan berarti kita hanya berpangku tangan belaka, namun harus bekerja keras untuk nilai-nilai kemanusiaan. 

Saya jadi ingat juga pada saat awal berencana mendirikan apotek 30 tahun yang lalu, teman seangkatan saya bertanya, " Besok kalau apotek sudah buka apakah kamu buka sendiri, kamu sapu sendiri? ". Jawab saya, " Ya pasti, saya buka sendiri dan saya sapu sendiri. 

Sekitar 15 tahun lalu dalam berbagai diskusi, ada akademisi yang selalu mengatakan bahwa apoteker dalam praktek tidak menggunakan teori, dan saya paling cuma membalas dengan senyuman. Mereka tidak tahu kalau saya sering kali menyempatkan diri pergi ke toko buku setiap ada waktu senggang. Buku apa saja asal menarik judulnya dan saya anggap memiliki keterkaitan dengan praktek saya beli, paham atau tidak itu urusan berikutnya, dan ada beberapa buku yang saya tidak paham karena akar ilmunya sangat jauh dengan ilmu farmasi. Kadang istri saya sampai bertanya, "kamu kok beli buku kuliahan buat apa? ".

Mungkin karena kita sering menemukan kasus saat menjalankan praktek apoteker yang dalam menyelesaikan membutuhkan ilmu pendukung dari cabang ilmu lain, maka belajar terus menerus menjadi kebutuhan. Praktisi bukan boss, dan secara alamiah kita tetap akan menjalankan praktek dengan terus berusaha menjaga dan bila memungkinkan meningkatkan kualitas praktek. 

Sekali lagi saya tegaskan bila sya di apotek adalah praktisi dan bukan boss. Saya bangga sebagai apoteker praktisi komunitas. Ini tahun ke 30 saya menjadi praktisi.