SEBERAPA APOTEKERKAH KITA ?
Pertanyaan diatas bisa juga kita artikan sebagai, "Sudahkah kita menjadi apoteker?"
Ijazah apoteker sudah kita pegang, tetapi pada sebagian pemegang ijazah apoteker belum semua menyandang harga diri sebagai apoteker. Mengapa terjadi?
Pada saat setelah saya lulus apoteker saya selalu berusaha menyandang harga diri apoteker dengan bangga. Hal ini salah satunya saya terapkan pada saat mengisi aplikasi bank atau kartu kredit, kita selalu ditanya pekerjaan. Hampir selalu bila ada pilihan pekerjaan "profesional" itulah yang saya pilih. Karena bagaimanapun juga saya lebih merasa bangga menggunakan profesional dari pada sekedar swasta. Pada pekerjaan swasta kurang menunjukan siapa diri kita, meskipun gaji kita sebagai profesional apoteker relatif kecil bila dibandingkan profesional yang lain.
Apakah dengan merasa sebagai apoteker, keapotekeran kita sudah besar? Mungkin jawabannya adalah nanti dulu. Keapotekeran kita akan besar bila kita sudah melakukan pekerjaan keapotekeran dengan lebih baik dan bertanggung jawab dengan melakukan pekerjaan apoteker yang nyata. Maksudnya kita harus benar-benar telah melakukan profesi dengan penuh dedikasi. Bisa saja kita selalu mengatakan bila kita adalah apoteker dan memperkenalkan pekerjaan kita sebagai profesional, tetapi bila kita masih menganggap apoteker adalah pelengkap dari pada keberadaan apotek suatu misal, tentu saja kita belumlah mempunyai harga diri sebagai apoteker.
Belum semua apoteker mempunyai harga diri sebagai apoteker tidaklah lepas dari kesalahan kurikulum pendidikan apoteker, yang mana pengajar program pendidikan apoteker masih belum sepenuhnya dilakukan oleh apoteker yang memiliki harga diri sebagai apoteker. Harusnya apoteker diajar oleh para apoteker yang telah memiliki harga dirisebagai apoteker. Sehingga dalam melakukan pekerjaan keapotekerannya tidak hanya menurut anggapan atau menurut empiris para pengajar, tetapi benar-benar menurut kenyataan lapangan.
Hal yang sering saya tanyakan kepada apoteker baru yang mau menjadi APA adalah " Apakah dosen pengajar kamu berpraktek profesi di apotek?" "terus kamu diajar apa?"
Pada saat saya membuat apotek yang bekerjasama dengan apoteker, saya tanya apoteker baru tersebut saat magang di apotek saya " apakah kamu diajar tentang hal-hal seperti ini?" Maksudnya adalah tehik-tehnik konseling yang menurut saya lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan, cara menyikapi berbagai model pasien dan lain sebagainya, bagaimana mendesain pilihan obat yang akan kita siapkan untuk apotek baru dan lain-lain. Jawaban apoteker tersebut dapat anda kira-kira sendiri apa.
Kadang saya juga berpikir "Apakah benar yang diajarkan sekarang benar-benar berorientasi pasien?"
Kadang lucu juga kita, kita gebar-gemborkan paradigma baru yang mana pekerjaan kita yang dulu berorientasi obat sekarang berkembang atau berubah menjadi berorientasi ke pasien. Tetapi sudahkah hal ini kita pahami dengan benar? terus yang membuat standar pelayanan berorientasi ke pasien itu siapa? Bisa jadi saya merasa sudah berorientasi kepasien atau siapa saja bisa merasa, tetapi betulkah?
Coba kita renungkan, bila pengajar kita untuk menjadi apoteker adalah apoteker yang belum memiliki harga diri sebagai apoteker, bisakah kita menjadi apoteker yang berharga diri? Akhinya kita saling menyalahkan seperti pernyataan "dulu mana telur dan ayam". Seharusnya kita saling menyadari kesalahan kita dan duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut agar kita lebih berharga diri.
Apakah bila kita sudah menjadi apoteker yang berharga diri sebagai apoteker kita mesti dikenal orang? tentu saja tidak, kita mesti berpromosi diri dan memperkenalkan diri kita kepada masyarakat bila kita ada. Jadi kalau sebagian masyarakat tidak mengenal kita bukan berarti kita terus mengeluh "...duh gusti...".
Tak kenal maka tak sayang, begitulah mungkin ungkapannya. Ketidak kenalan sebagian anggota masyarakat kepada kita disebabkan antara lain :
1. Jumlah apotek masih belum proporsional dan masih berkembang didaerah perkotaan, sehingga belum semua masyarakat dapat mengakses apotek.
2. Tingkat pendidikan kesehatan masyarakat kita masih rendah, sehingga pemahaman masyarakat terhadap apotek umumnya sangat kurang. Sebagai contoh adalah didaerah saya waktu masih apotek baru satu punya saya. Di daerah saya ada praktek dokter bersama yang sebelahnya disediakan etalase obat yang juga menjual obat kemasyarakat umum, praktek dokter ini disebut juga apotek. Juga ada klinik yang juga menjual obat, klinik inipun juga dikatakan apotek. Mungkin sama juga dengan perawat di daerah saya yang sering kali dianggap dokter.
3. Pemerintah belum melibatkan kita pada banyak hal sehingga kita tidak kurang dikenal dan dihargai oleh masyarakat.
4. Apoteker masih ada yang belum memiliki ego profesi.
5. Masih banyak penjual obat tidak resmi
6. dan masih banyak lagi.
Agar apoteker bisa dikenali oleh semua lapisan masyarakat, seharusnya beberapa hal dibawah ini dipertimbangkan :
1. Pemerintah mengembangkan apotek sampai ke tingkat desa, yang mana apotek harus dikelola oleh apoteker selama jam buka apotek. Sehigga masyarakat lebi bisa mengakses kesehatan terkait kefarmasian dengan benar.
2. Tingkat pendidikan kesehatan terus ditingkatkan terutama yang berkaitan dengan kefarmasian. Bila pendidikan kesehatan masyarakat masih rendah tidak mungkin masyarakat akan dapat mengenali apoteker, apalagi mendefinisikan apotek dengan benar, paling-paling apotek hanya akan dianggap penjual obat dan apoteker adalah penjual obat. Dan akan celaka kita bila kita dianggap sebagai penjual obat yang banyak omong seperti dipasar-pasar tempo dulu.
3. Apoteker seharusnya juga dilibatkan pada banyak hal seperti pemberantasan penyakit dan bencana alam. Kemarin saat gunung kelut mau meletus saya menyiapkan semua apoteker yang mau berpartisipasi, dan empat orang apoteker yang ada diwilayah kelut agar siaga bila sewaktu-waktu benar benar meletus. Dan saya salut kepada teman-teman yang umumnya bersedia ikut berpartisipasi bila kelut benar-benar meletus, dengan kemungkinan kita bergabung dengan posko yang sudah ada atau membuat posko sendiri. Untunglah kelut tak jadi meletus. Dan saya banyak mendapat kesan dari rencana tersebut, bila ternyata kepedulian apoteker terhadap lingkungannya cukup besar, meskipun mereka semua adalah bekerja di apotek swasta atau apotek milik sendiri. Cuma kita belum dilibatkan saja.
4. Memperbaiki ego profesi, agar apoteker merasa setingkat dengan profesi yang lain. Bila ego profesi tak dibina, maka bila ada masalah kesehatan disekitar kita mereka akan berpikir biarlah profesi yang lain mngerjakan hal tersebut.
5. selanjutnya kita bahas saja di ISFI dan HISFARMA saja agar hasilnya lebih baik dan lebih sesuai dengan kenyataan kita dari berbagai daerah yang mana kasusnya mungkin akan sangat berbeda. Yang pasti bila kita ingin lebih dikenal masyarakat, kita harus mau bekerja lebih keras lagi.
Kesimpulan saya, seberapa apotekerkah kita? Kita tidak bisa menjadi apoteker yang sesungguhnya bila kita tidak duduk bersama merencanakan profesi apoteker yang lebih baik kedepan dan apoteker yang sesungguhnya akan terwujud bila kita sudah dapat bekerja sama membangun profesi kita. Membangun profesi dengan berpraktek profesi yang penuh dedikasi, dedikasi kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Rabu, 17 September 2008
Senin, 15 September 2008
CONTOH KONSELING
CONTOH KONSELING
Konseling biasanya berlangsung sangat kondisional dan melibatkan beberapa tehnik konseling sekaligus seperti kasus dibawah ini.
Pasien datang
Apoteker : " Ada yang bisa kita bantu?" (attending)
Pasien : " mau beli obat flu merk A" (Obat tersebut mengandung PPA)
Apoteker : "Untuk siapa bu?" (pertanyaan terbuka)
Pasien : " Untuk saya sendiri, berapa harganya ya?"
Apoteker : " Punya penyakit hipertensi?" (pertanyaan tertutup)
Pasien : " Ada, kadang-kadang tensi saya agak tinggi"
Apoteker : " Sampai berapa bu?" (eksplorasi)
Pasien : " Kadang sampai 170"
Apoteker : " Bu, obat tersebut mengandung PPA yang seharusnya tidak diminum oleh penderita hipertensi" (pemberian informasi, memberikan nasehat)
Pasien : " Ah tidak, pokoknya saya cocoknya obat A tersebut, kalau tidak itu saya tidak mau"
Apoteker : " Ha3, saya sudah menduga dan saya memahami anda, ibu saya sendiri baru 6 bulan percaya kalau tidak boleh minum obat A, karena ibu saya juga menderita hipertensi" (empati)
sambil tersenyum " Mau beli berapa bu? tidak apa-apa tidak percaya, saya menghargai pilihan anda, yang penting saya sudah memberi informasi" (empati)
Pasien : " Beli 3 strip saja" (pasien agak terdiam sambil berpikir)
Apoteker : " Rp3600;- " ada lagi yang bisa dibantu?" (sambil tetap tersenyum)
Pasien : " Pak tidak jadi saja, tolong diberi yang aman buat penderita hipertensi saja" (sambil malu-malu)
Apoteker : " ha3, pilihan ibu tepat, membeli obat harus mempertimbangkan efek samping, sebaiknya ibu minum obat B saja karena tidak mengandung PPA" (menilai, menyimpulkan dan mengakhiri konseling)
Dari contoh konseling diatas dapat kita ambil banyak pelajaran. Dan contoh tersebut termasuk contoh konseling yang berhasil. Konseling umumnya berlansung sangat kondisional dan hasilnya sering kali juga tidak bisa kita nilai hanya dengan benar salah. Satu hal yang paling penting dalam konseling kefarmasian adalah mengamankan klien atau pasien dari ESO atau dari bahaya penggunaan sediaan farmasi lain, juga mengamankan dari bahaya penyakit yang diderita pasien atau klien. Oleh karena itu sebagian hasil konseling kefarmasian diapotek adalah rujukan kesarana kesehatan lain seperti praktek dokter atau rumah sakit.
Konseling tersebut juga kategori konseling efektif, karena berjalan sangat singkat, mungkin cuma 2 atau 3 menit saja. Konseling seperti ini dampaknya akan sangat besar bagi pasien dan lingkungannya sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial, yang mana umumnya pasien akan mengabarkan hasil ini kepada siapa saja yang ia kenal.
Pada konseling seperti ini seringkali dibutuhkan waktu lebih dari sekedar 2 atau 3 menit, dan kadang kala juga membutuhkan 2 atau 3 kali pertemuan. Pada kasus konseling ini pesan utamanya adalah pasien tidak memahami efek samping obat dan kebutuhan pasien adalah obat yang manjur dan aman sesuai kondisi pasien.
Contoh yang lain akan saya usahakan lewat http://sites.google.com/site/hisfarma apresiasinya kami mohon kepada semua pengunjung blog ini.
Konseling biasanya berlangsung sangat kondisional dan melibatkan beberapa tehnik konseling sekaligus seperti kasus dibawah ini.
Pasien datang
Apoteker : " Ada yang bisa kita bantu?" (attending)
Pasien : " mau beli obat flu merk A" (Obat tersebut mengandung PPA)
Apoteker : "Untuk siapa bu?" (pertanyaan terbuka)
Pasien : " Untuk saya sendiri, berapa harganya ya?"
Apoteker : " Punya penyakit hipertensi?" (pertanyaan tertutup)
Pasien : " Ada, kadang-kadang tensi saya agak tinggi"
Apoteker : " Sampai berapa bu?" (eksplorasi)
Pasien : " Kadang sampai 170"
Apoteker : " Bu, obat tersebut mengandung PPA yang seharusnya tidak diminum oleh penderita hipertensi" (pemberian informasi, memberikan nasehat)
Pasien : " Ah tidak, pokoknya saya cocoknya obat A tersebut, kalau tidak itu saya tidak mau"
Apoteker : " Ha3, saya sudah menduga dan saya memahami anda, ibu saya sendiri baru 6 bulan percaya kalau tidak boleh minum obat A, karena ibu saya juga menderita hipertensi" (empati)
sambil tersenyum " Mau beli berapa bu? tidak apa-apa tidak percaya, saya menghargai pilihan anda, yang penting saya sudah memberi informasi" (empati)
Pasien : " Beli 3 strip saja" (pasien agak terdiam sambil berpikir)
Apoteker : " Rp3600;- " ada lagi yang bisa dibantu?" (sambil tetap tersenyum)
Pasien : " Pak tidak jadi saja, tolong diberi yang aman buat penderita hipertensi saja" (sambil malu-malu)
Apoteker : " ha3, pilihan ibu tepat, membeli obat harus mempertimbangkan efek samping, sebaiknya ibu minum obat B saja karena tidak mengandung PPA" (menilai, menyimpulkan dan mengakhiri konseling)
Dari contoh konseling diatas dapat kita ambil banyak pelajaran. Dan contoh tersebut termasuk contoh konseling yang berhasil. Konseling umumnya berlansung sangat kondisional dan hasilnya sering kali juga tidak bisa kita nilai hanya dengan benar salah. Satu hal yang paling penting dalam konseling kefarmasian adalah mengamankan klien atau pasien dari ESO atau dari bahaya penggunaan sediaan farmasi lain, juga mengamankan dari bahaya penyakit yang diderita pasien atau klien. Oleh karena itu sebagian hasil konseling kefarmasian diapotek adalah rujukan kesarana kesehatan lain seperti praktek dokter atau rumah sakit.
Konseling tersebut juga kategori konseling efektif, karena berjalan sangat singkat, mungkin cuma 2 atau 3 menit saja. Konseling seperti ini dampaknya akan sangat besar bagi pasien dan lingkungannya sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial, yang mana umumnya pasien akan mengabarkan hasil ini kepada siapa saja yang ia kenal.
Pada konseling seperti ini seringkali dibutuhkan waktu lebih dari sekedar 2 atau 3 menit, dan kadang kala juga membutuhkan 2 atau 3 kali pertemuan. Pada kasus konseling ini pesan utamanya adalah pasien tidak memahami efek samping obat dan kebutuhan pasien adalah obat yang manjur dan aman sesuai kondisi pasien.
Contoh yang lain akan saya usahakan lewat http://sites.google.com/site/hisfarma apresiasinya kami mohon kepada semua pengunjung blog ini.
Rabu, 10 September 2008
KONSELING DAN KEPATUHAN PASIEN
KONSELING DAN KEPATUHAN PASIEN
Konseling Apoteker, adalah upaya apoteker agar pasien memahami permasalahan yang dialami, yang terkait kesehatan dan sediaan farmasi, sehingga pasien mampu mengambil keputusan terbaik sesuai kemampuannya. Sehingga bila dikaitkan dengan kepatuhan pasien dalam minum obat adalah bagaimana apoteker mampu memahami pasien yang terkait obat termasuk cara minum obat, jangka waktu dan lain sebagainya.
Semisal pada kasus TB, apoteker harus mampu menggali apa saja dari pasien agar terbuka tentang pemahaman penyakitnya, cara minum obat, lama minum obat dan lain sebagainya. Hal ini karena akan sangat erat dengan kepatuhan pasien minum obat. Disini konseling bukan sekedar memberikan PIO tetapi usaha bagaimana agar pasien paham akan permasalahannya sebagai awal dari pelayanan kefarmasian.
Bila pasien sudah memahami permasalahannya, baru apoteker memasukan semua informasi yang terkait pengobatan penyakit tersebut. Atau dengan kata lain konseling berjalan dulu sampai pasien mampu memahami permasalahannya baru pemberian PIO. Bila PIO jalan dulu sering kali pasien akan enggan dan selanjutnya pengobatan tidak berjalan optimal karena pasien umumnya juga tidak patuh karena tidak memahami permasalahannya. PIO sering kali juga dianggap sebagai beban yang lebih memberatkan pasien karena harus balajar dan sering kali dianggap tidak perlu dan pasien cukup minum obat dan bila keluhan hilang sering kali mereka berhenti minum obat.
Untuk menjadikan pasien memahami permasalahannya sering kali juga diperlukan beberapa kali pertemuan konseling atau bahkan terkadang kita sering kali juga harus memberikan konseling kepada keluarganya. Konseling kepada keluarga terdekatnya sering kali juga sangat efektif, karena merekalah yang setiap hari ketemu dan mereka bisa setiap hari mengingatkan agar pasien menjadi patuh.
Apakah konseling dapat meningkatkan kepatuhan pasien? Jawaban saya adalah kepatuhan merupakan salah satu harapan dari hasil konseling, bila pasien memahami apa permasalahannya, maka kepatuhan akan terbentuk dengan sendirinya.
Konseling Apoteker, adalah upaya apoteker agar pasien memahami permasalahan yang dialami, yang terkait kesehatan dan sediaan farmasi, sehingga pasien mampu mengambil keputusan terbaik sesuai kemampuannya. Sehingga bila dikaitkan dengan kepatuhan pasien dalam minum obat adalah bagaimana apoteker mampu memahami pasien yang terkait obat termasuk cara minum obat, jangka waktu dan lain sebagainya.
Semisal pada kasus TB, apoteker harus mampu menggali apa saja dari pasien agar terbuka tentang pemahaman penyakitnya, cara minum obat, lama minum obat dan lain sebagainya. Hal ini karena akan sangat erat dengan kepatuhan pasien minum obat. Disini konseling bukan sekedar memberikan PIO tetapi usaha bagaimana agar pasien paham akan permasalahannya sebagai awal dari pelayanan kefarmasian.
Bila pasien sudah memahami permasalahannya, baru apoteker memasukan semua informasi yang terkait pengobatan penyakit tersebut. Atau dengan kata lain konseling berjalan dulu sampai pasien mampu memahami permasalahannya baru pemberian PIO. Bila PIO jalan dulu sering kali pasien akan enggan dan selanjutnya pengobatan tidak berjalan optimal karena pasien umumnya juga tidak patuh karena tidak memahami permasalahannya. PIO sering kali juga dianggap sebagai beban yang lebih memberatkan pasien karena harus balajar dan sering kali dianggap tidak perlu dan pasien cukup minum obat dan bila keluhan hilang sering kali mereka berhenti minum obat.
Untuk menjadikan pasien memahami permasalahannya sering kali juga diperlukan beberapa kali pertemuan konseling atau bahkan terkadang kita sering kali juga harus memberikan konseling kepada keluarganya. Konseling kepada keluarga terdekatnya sering kali juga sangat efektif, karena merekalah yang setiap hari ketemu dan mereka bisa setiap hari mengingatkan agar pasien menjadi patuh.
Apakah konseling dapat meningkatkan kepatuhan pasien? Jawaban saya adalah kepatuhan merupakan salah satu harapan dari hasil konseling, bila pasien memahami apa permasalahannya, maka kepatuhan akan terbentuk dengan sendirinya.
Sabtu, 06 September 2008
KONSELING APOTEKER
KONSELING APOTEKER
Konseling Apoteker, adalah upaya apoteker agar pasien memahami permasalahan yang dialami, yang terkait kesehatan dan sediaan farmasi, sehingga pasien mampu mengambil keputusan terbaik sesuai kemampuannya.
Pada saat pasien datang ke apotek seringkali pasien kurang mengerti dan bahkan sebagian tidak memahami apa sebenarnya permasalahan dan bagaimana seharusnya permasalahan diselesaikan. Untuk itu diperlukan suatu konseling kefarmasian.
Dalam melakukan konseling di apotek, seorang apoteker harus mampu menguasai tehnik-tehnik konseling. Karena keberhasilan konseling salah satunya ditentukan oleh kemampuan apoteker dalam penguasaan tehnik-tehnik tersebut. Dan seringkali dalam konseling diperlukan beberapa tehnik sekaligus yang dikombinasi. selain itu keberhasilan konseling juga dipengaruhi oleh pengalaman apoteker dalam konseling.
Beberapa tehnik-tehnik konseling yang harus dikuasai apoteker antara lain :
- attending
- empati
- refleksi
- eksplorasi
- open question
- closed questions
- dll
Untuk lebih jauh bisa lihat di http://sites.google.com/site/hisfarma/
Konseling Apoteker, adalah upaya apoteker agar pasien memahami permasalahan yang dialami, yang terkait kesehatan dan sediaan farmasi, sehingga pasien mampu mengambil keputusan terbaik sesuai kemampuannya.
Pada saat pasien datang ke apotek seringkali pasien kurang mengerti dan bahkan sebagian tidak memahami apa sebenarnya permasalahan dan bagaimana seharusnya permasalahan diselesaikan. Untuk itu diperlukan suatu konseling kefarmasian.
Dalam melakukan konseling di apotek, seorang apoteker harus mampu menguasai tehnik-tehnik konseling. Karena keberhasilan konseling salah satunya ditentukan oleh kemampuan apoteker dalam penguasaan tehnik-tehnik tersebut. Dan seringkali dalam konseling diperlukan beberapa tehnik sekaligus yang dikombinasi. selain itu keberhasilan konseling juga dipengaruhi oleh pengalaman apoteker dalam konseling.
Beberapa tehnik-tehnik konseling yang harus dikuasai apoteker antara lain :
- attending
- empati
- refleksi
- eksplorasi
- open question
- closed questions
- dll
Untuk lebih jauh bisa lihat di http://sites.google.com/site/hisfarma/
Senin, 01 September 2008
MARHABAN YA RAMADHAN
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1429 H
Mohon maaf segala kekhilafan & Semoga dibulan suci ini kita mendapatkan ridho Alloh SWT, Amien ...
Mohon maaf segala kekhilafan & Semoga dibulan suci ini kita mendapatkan ridho Alloh SWT, Amien ...
Jumat, 29 Agustus 2008
APOTEK UNTUK MAGANG
APOTEK UNTUK MAGANG
Mahasiswa Profesi memerlukan magang diapotek. Hal ini agar setelah lulus apoteker langsung siap diterjunkan kemasyarakat, mendampingi masyarakat dalam menggunakan obat dan sediaan farmasi lain. Lebih jauhnya agar apoteker baru diharapan dapat melayani masyarakat dengan lebih optimal dan tidak terlalu tertinggal jauh dengan para seniornya yang telah lama berpraktek profesi diapotek.
Pada magang ini diharapkan mahasiswa profesi dapat belajar menerapkan semua ilmu yang telah didapatkan dibangku kuliah pada saat praktek profesi diapotek. Dan persyaratan apotek yang bisa dipakai sebagai PKP mahasiswa farmasi tingkat profesi adalah emenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Mempunyai jumlah pasien yang cukup.
2. Dikelola oleh apoteker secara langsung baik pada sisi praktek profesi dan manajemen
1. Mempunyai jumlah pasien yang cukup, merupakan salah satu syarat agar keterwakilan kasus profesi yang menjadi pembelajaran profesi cukup. Sebagai ilstrasi, tak rasional bila apotek hanya mempunyai kunjungan kurang dari 20 orang dijadikan tempat magang. Pada apotek yang tingkat kunjungannya kecil seringkali hanya melayani kasus-kasus tertentu yang kurang luas permasalahan permasalahan profesinya, sehingga pada praktek profesinya nanti apoteker akan kesulitan pada saat menghadapi kasus-kasus tertentu.
2. Dikelola oleh apoteker secara langsung baik pada sisi praktek profesi dan manajemen. Disini diharapkan akan terjadi tranfer teori dan praktek profesi secara optimal. Seperti penulis alami yang merasa sangat berhutang budi pada para apoteker pembina PKP di apotek. Bahkan pada awalnya penulis betul-betul mencoba manajemen mereka sampai terbentuk manajemen yang lebih sesuai pada daerah setempat. Pada praktek profesi seringkali suatu daerah mempunyai kharakter masyarakat yang berbeda-beda dan mempunyai kesulitan yang berbeda-beda baik terhadap pengelolaan yang terkait profesi ataupun yang terkait manajemen. Bila magang diapotek yang tidak dikelola apoteker secara langsug ditakutkan apotek tidak akan terbuka, sehigga apoteker baru menjadi kurang siap dalam melakukan praktek profesi.
Hal Lain Yang Juga Harus Dipersiapkan
ISFI dan Perguruan Tinggi,membuat data kelayakan apotek yang akan dimonitor secara terus-menerus dan dievaluasi. Juga menyiapkan modul yang harus dikuasai minimal calon apoteker, sehingga terjadi keseragaman out put.
Keuntungan Magang Calon apoteker
1. Buat calon apoteker,
- Calon apoteker dapat mengetahui kasus pelayanan kefarmasian yang up to date.
- Calon apoteker dapat belajar memulai mengembangkan diri sebagai profesional
2. Buat PT
Perguruan Tinggi dapat lebih memantau kebutuhan akan pengembangan ilmu pengetahuan terkait profesi, sehingga pengembangan sain di perguruan tingi lebih akomodatif dengan kebutuhan pasar.
3. Buat Apoteker Pembina
Apoteker pembina dapat dapat mengikuti perkembangan sain dengan berinteraksi dengan apoteker baru.
4. Buat apotek
Apotek dapat lebih mengikuti perkembangan dunia farmasi khusunya bidang perapotekan, karena ada interaksi antara karyawannya, apoteker, calon apoteker, ISFI dan perguruan tinggi.
Baca juga di http://sites.google.com/site/hisfarma/Home/idea
Mahasiswa Profesi memerlukan magang diapotek. Hal ini agar setelah lulus apoteker langsung siap diterjunkan kemasyarakat, mendampingi masyarakat dalam menggunakan obat dan sediaan farmasi lain. Lebih jauhnya agar apoteker baru diharapan dapat melayani masyarakat dengan lebih optimal dan tidak terlalu tertinggal jauh dengan para seniornya yang telah lama berpraktek profesi diapotek.
Pada magang ini diharapkan mahasiswa profesi dapat belajar menerapkan semua ilmu yang telah didapatkan dibangku kuliah pada saat praktek profesi diapotek. Dan persyaratan apotek yang bisa dipakai sebagai PKP mahasiswa farmasi tingkat profesi adalah emenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Mempunyai jumlah pasien yang cukup.
2. Dikelola oleh apoteker secara langsung baik pada sisi praktek profesi dan manajemen
1. Mempunyai jumlah pasien yang cukup, merupakan salah satu syarat agar keterwakilan kasus profesi yang menjadi pembelajaran profesi cukup. Sebagai ilstrasi, tak rasional bila apotek hanya mempunyai kunjungan kurang dari 20 orang dijadikan tempat magang. Pada apotek yang tingkat kunjungannya kecil seringkali hanya melayani kasus-kasus tertentu yang kurang luas permasalahan permasalahan profesinya, sehingga pada praktek profesinya nanti apoteker akan kesulitan pada saat menghadapi kasus-kasus tertentu.
2. Dikelola oleh apoteker secara langsung baik pada sisi praktek profesi dan manajemen. Disini diharapkan akan terjadi tranfer teori dan praktek profesi secara optimal. Seperti penulis alami yang merasa sangat berhutang budi pada para apoteker pembina PKP di apotek. Bahkan pada awalnya penulis betul-betul mencoba manajemen mereka sampai terbentuk manajemen yang lebih sesuai pada daerah setempat. Pada praktek profesi seringkali suatu daerah mempunyai kharakter masyarakat yang berbeda-beda dan mempunyai kesulitan yang berbeda-beda baik terhadap pengelolaan yang terkait profesi ataupun yang terkait manajemen. Bila magang diapotek yang tidak dikelola apoteker secara langsug ditakutkan apotek tidak akan terbuka, sehigga apoteker baru menjadi kurang siap dalam melakukan praktek profesi.
Hal Lain Yang Juga Harus Dipersiapkan
ISFI dan Perguruan Tinggi,membuat data kelayakan apotek yang akan dimonitor secara terus-menerus dan dievaluasi. Juga menyiapkan modul yang harus dikuasai minimal calon apoteker, sehingga terjadi keseragaman out put.
Keuntungan Magang Calon apoteker
1. Buat calon apoteker,
- Calon apoteker dapat mengetahui kasus pelayanan kefarmasian yang up to date.
- Calon apoteker dapat belajar memulai mengembangkan diri sebagai profesional
2. Buat PT
Perguruan Tinggi dapat lebih memantau kebutuhan akan pengembangan ilmu pengetahuan terkait profesi, sehingga pengembangan sain di perguruan tingi lebih akomodatif dengan kebutuhan pasar.
3. Buat Apoteker Pembina
Apoteker pembina dapat dapat mengikuti perkembangan sain dengan berinteraksi dengan apoteker baru.
4. Buat apotek
Apotek dapat lebih mengikuti perkembangan dunia farmasi khusunya bidang perapotekan, karena ada interaksi antara karyawannya, apoteker, calon apoteker, ISFI dan perguruan tinggi.
Baca juga di http://sites.google.com/site/hisfarma/Home/idea
Rabu, 27 Agustus 2008
DIBUTUHKAN APOTEK YANG LAYAK BUAT MAGANG MAHASISWA PROFESI
Kami lagi mendata apotek di Jawa timur yang layak dipakai magang untuk PKP Mahasiswa profesi adapun kriterianya kurang lebih :
1. Apotek dikelola penuh oleh apoteker baik dari sisi pelayanan dan manajemen/keuangan
Sehingga Mahasiwa PKP nantinya dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya
dari kegiatan PKP
2. Lokasi di wilayah jawa timur
3. Bersedia dipakai untuk magang mahasiswa profesi apoteker
Ada yang memberi masukan ?
untuk sementara yang sudah siap :
1. APOTEK BROMO contact person Drs.Suhartono,APt/Dra.Triana N,Apt
Jl. Raya Bromo 22 Probolinggo
Telp 0335-436866 Hp. 08123208562
2. Apotek Kurnia contact person Drs. Amin Prasodjo,Apt
Jl. Pahlawan Probolinggo
Telp. 0335428433
3. Apotek RSAB Muhammadiyah contact person Tri Susanti, SFarm,Apt
Jl. Panglima Sudirman Probolinggo
Telp. 0335421578 Hp. 085228063556
Untuk daftar keseluruhan apotek di probolinggo anda dapat melihat di www.apotekerindonesia.blogspot.com tentang profil isfi cabang probolinggo
1. Apotek dikelola penuh oleh apoteker baik dari sisi pelayanan dan manajemen/keuangan
Sehingga Mahasiwa PKP nantinya dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya
dari kegiatan PKP
2. Lokasi di wilayah jawa timur
3. Bersedia dipakai untuk magang mahasiswa profesi apoteker
Ada yang memberi masukan ?
untuk sementara yang sudah siap :
1. APOTEK BROMO contact person Drs.Suhartono,APt/Dra.Triana N,Apt
Jl. Raya Bromo 22 Probolinggo
Telp 0335-436866 Hp. 08123208562
2. Apotek Kurnia contact person Drs. Amin Prasodjo,Apt
Jl. Pahlawan Probolinggo
Telp. 0335428433
3. Apotek RSAB Muhammadiyah contact person Tri Susanti, SFarm,Apt
Jl. Panglima Sudirman Probolinggo
Telp. 0335421578 Hp. 085228063556
Untuk daftar keseluruhan apotek di probolinggo anda dapat melihat di www.apotekerindonesia.blogspot.com tentang profil isfi cabang probolinggo
Langganan:
Postingan (Atom)