PANGSA PASAR OBAT MAAG ( PRODUK)
"Promag meraih 80 persen pangsa pasar," kata Johannes dikutip dari http://www.majalah.farmacia.com/rurik/one_news_print.asp?IDNews=59
Suatu hal yang fantastis bila satu obat menguasai pangsa pasar sampai angka tersebut. Dan suatu hal sangat sulit dipercaya bila hal tersebut dapat terwujud, apalagi promag bukan satu-satunya obat yang bermutu bagus. Kadang saya berpikir banarkah? mengingat macam obat maag gaolongan antasida yang sangat banyak, ditambah lagi dari golongan non antasid. Bagaimana bisa percaya bila prosentase total penjualan promag terhadap obat maag lain di apotek saya tak pernah melebihi angka 5%?
Seharusnya disebutkan pansa pasar obat mag yang mana? antasida tablet kunyah? sehinga kita akan menggunakan data dengan lebih baik, untuk terhadap antasida tablet kunyah saja promag tak pernah melebihi 5% dari semua obat mag tablet kunyah yang dijual diapotek saya.
Saya mengakui bila promag adalah salah satu obat maag yang baik, baik dalam artian kualitas ataupun tekstur rasa. Pada obat tablet kunyah tekstur rasa menjadi pilihan utama setara kualitas obat itu sendiri, meski manjur bila rasa tak enak biasanya masyarakat juga enggan. Untuk generik berlogo antasia doen punya Kimia Farma adalah favorit saya, sedangkan untuk atasida bermerek lain sangat banyak pilhannya yang mempunyai tekstur rasa yang baik, bahkan beberapa darinya lebih baik dari promag menurut saya.
Menurut hemat saya angka fantastis itu lebih disebabkan faktor-faktor marketing dan distribusi bukan faktor kualitas. Bila suatu produk kita tawarkan secara acak di apotek tak bisa kita akan memasarkan obat sampai sebesar itu, kecuali obat tanpa kompetitor. Bila melihat pangsa pasar tersebut berarti masih banyak celah yang bisa dimasuki oleh pemain lain untuk meningkatkan penjualan antasida tablet. Salah satu celahnya adalah memanfaatkan keberadaan apoteker aktif di apotek.
Seperti kita ketahui karena keberadaan apoteker di apotek yang mampu memberikan informasi obat secara proporsional dan rasional, maka hal ini akan menjadi celah buat pemasaran obat bebas. Termasuk antasida tablet kunyah. Keberadaan apoteker ini adalah salah satu celah yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan farmasi kecil dalam memasarkan produknya. Ditambah lagi keberadaan apotek yang cenderung memasuki daerah-daerah kecamatan akan lebih memperbesar penetrasi dengan biaya promosi yang tidak terlalu besar.
Untuk menembus pangsa pasar sampai kepelosok sangat sulit menyaingi promag, tetapi dengan adanya apoteker yang masuk sampai pelosok akan lebih memudahkan perusahaan kecil farmasi yan ingin bersaing meperebutkan pasar obat maag tablet tablet kunyah. Sulit karena diperlukan biaya yang sangat besar, tetapi dengan keberadaan dan pemerataan apotek sampai kepelosok akan memudahkan penetrasi tersebut. Kadang saya menghitung kira-kira berapa pansa pasar suatu obat yang ideal bila ada kompetitor seperti halnya obat maag tablet kunyah? Dalam hitungan saya tidak pernah lebih dari 20%, angka itu sudah sangat fantastis.
Maksud dari tulisan saya ini, semoga dapat ditangkap sebagai peluang marketing oleh perusahaan farmasi kecil dan besar dengan memanfaatkan keberadaan apoteker diapotek. Sampai saat ini belum ada keraguan terhadap kualitas apoteker dalam memberikan informasi tentang obat secara benar, rasional dan proporsional apalagi setelah ditetapkannya uji kompetensi terhadap apoteker yang praktek di apotek. Dan semua pihak termasuk masyarakat akan diuntungkan karena informasi menjadi lebih rasional dan tidak hanya berorientasi laba semata.
Minggu, 25 Mei 2008
Minggu, 11 Mei 2008
PELAYANAN PRIMA BELUM MENJADI PILIHAN UTAMA
PELAYANAN PRIMA BELUM MENJADI PILIHAN UTAMA
Salah satu dari tantangan TATAP adalah belum sadarnya masyarakat/ konsumen akan pentingnya pelayanan prima dari suatu apotek. Yang mana salah satu syarat dikatakan pelayanan prima adalah keberadaan apoteker diapotek saat jam buka apotek. Bahkan untuk konsumen dari perusahaan besar sekelas PT ASKES. Kemarin pada saat perpanjangan perjanjian kerja sama diminta untuk mengisi blanko yang salah satunya jumlah tenaga diapotek, yang tidak menanyakan berapa jumlah apoteker di apotek sebagai salah satu indikator dari pelayanan prima.
Saat itu saya memberi masukan kepada karyawan PT ASKES yang menyodorkan blanko, kalau seharusnya ada juga pertanyaan yang berisi berapa jumlah apoteker pendamping. Beliau berkata kalau nanti akan disampaikan kepada kasi pelayanan. Disini kelihatan bila perusahaan sekelas PT ASKES pun belum menyadari akan pentingnya apa itu pelayanan kefarmasian yang prima, apalagi masyarakat luas yang jelas-jelas sebagian darinya tingkat pendidikannya ada dibawah rata-rata.
Mungkin dari anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kefarmasian dari sebuah apotek masih berpikir akan apa pentingnya pelayanan kefarmasian yang baik dan apa untungnya. Sangat sulit memang menjelaskan kepada mereka tanpa disertai oleh data data yang tidak dilabeli dengan istilah penelitian. Tetapi secara logika mungkin sebagian dari anggota masyarakat akan menyadari akan pentingnya pelayanan prima.
Menurut pengalaman saya dari sekian jumlah pasien yang berkonsultasi tentang pelayanan kefarmasian diapotek dari peserta ASKES baik yang mengambil obat dari apotek saya atau tidak, adalah pelayanan kefarmasian adalah sangat penting, baik buat pasien peserta ASKES maupun PT ASKES. Beberapa kali pasien peserta PT ASKES dari rawat jalan tingkat lanjutan datang ke apotek saya yang hanya melayani rawat jalan tingkat pertama hanya untuk bertanya tentang obat yang didapat dari apotek rujukan yang bukan dari apotek saya, karena dari apotek rujukan tersebut tak melayani PIO dengan baik, karena apoteker tak ada saat jam buka apotek.
Keuntungan pelayanan prima dari suatu apotek dalam melayani resep ASKES bagi pasien adalah meningkatkan rasionalisasi penggunaan obat sehingga pengobatan menjadi lebih optimal. Dan bagi PT ASKES adalah dengan pengobatan yang lebih optimal, maka secara langsung akan menurunkan biaya pengobatan dan selanjutnya akan menurunkan jumlah klaim dan akan meningkatkan laba perusahaan. Banyak contoh kasus pemborosan karena pengobatan tidak optimal dari PT ASKES yang disebabkan pelayanan yang tidak prima dari sebuah apotek.
Mungkin suatu saat PT ASKES dapat bekerjasama dengan ISFI atau HISFARMA untuk melakukan penelitian yang terkait pengaruh pelayanan prima terhadap penurunan jumlah dan nilai klaim. Satu contoh pemborosan akibat pelayanan yang kurang prima adalah pasien yang setiap bulan memeriksakan kesehatan dan selalu mendapatkan resep, tetapi obat tak diminum. selanjutnya karena dokter menganggap dosis kurang besar, maka dosis diperbesar dan kenyataannya oleh pasien obat tidak diminum lagi.
Semoga kedepan masyarakat (termasuk korporat) menjadi lebih sadar dan memilih layanan prima diapotek sebagai pilihan dan tidak hanya sekedar mendapatkan obat, karena akan membuat lebih hemat.
Salah satu dari tantangan TATAP adalah belum sadarnya masyarakat/ konsumen akan pentingnya pelayanan prima dari suatu apotek. Yang mana salah satu syarat dikatakan pelayanan prima adalah keberadaan apoteker diapotek saat jam buka apotek. Bahkan untuk konsumen dari perusahaan besar sekelas PT ASKES. Kemarin pada saat perpanjangan perjanjian kerja sama diminta untuk mengisi blanko yang salah satunya jumlah tenaga diapotek, yang tidak menanyakan berapa jumlah apoteker di apotek sebagai salah satu indikator dari pelayanan prima.
Saat itu saya memberi masukan kepada karyawan PT ASKES yang menyodorkan blanko, kalau seharusnya ada juga pertanyaan yang berisi berapa jumlah apoteker pendamping. Beliau berkata kalau nanti akan disampaikan kepada kasi pelayanan. Disini kelihatan bila perusahaan sekelas PT ASKES pun belum menyadari akan pentingnya apa itu pelayanan kefarmasian yang prima, apalagi masyarakat luas yang jelas-jelas sebagian darinya tingkat pendidikannya ada dibawah rata-rata.
Mungkin dari anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kefarmasian dari sebuah apotek masih berpikir akan apa pentingnya pelayanan kefarmasian yang baik dan apa untungnya. Sangat sulit memang menjelaskan kepada mereka tanpa disertai oleh data data yang tidak dilabeli dengan istilah penelitian. Tetapi secara logika mungkin sebagian dari anggota masyarakat akan menyadari akan pentingnya pelayanan prima.
Menurut pengalaman saya dari sekian jumlah pasien yang berkonsultasi tentang pelayanan kefarmasian diapotek dari peserta ASKES baik yang mengambil obat dari apotek saya atau tidak, adalah pelayanan kefarmasian adalah sangat penting, baik buat pasien peserta ASKES maupun PT ASKES. Beberapa kali pasien peserta PT ASKES dari rawat jalan tingkat lanjutan datang ke apotek saya yang hanya melayani rawat jalan tingkat pertama hanya untuk bertanya tentang obat yang didapat dari apotek rujukan yang bukan dari apotek saya, karena dari apotek rujukan tersebut tak melayani PIO dengan baik, karena apoteker tak ada saat jam buka apotek.
Keuntungan pelayanan prima dari suatu apotek dalam melayani resep ASKES bagi pasien adalah meningkatkan rasionalisasi penggunaan obat sehingga pengobatan menjadi lebih optimal. Dan bagi PT ASKES adalah dengan pengobatan yang lebih optimal, maka secara langsung akan menurunkan biaya pengobatan dan selanjutnya akan menurunkan jumlah klaim dan akan meningkatkan laba perusahaan. Banyak contoh kasus pemborosan karena pengobatan tidak optimal dari PT ASKES yang disebabkan pelayanan yang tidak prima dari sebuah apotek.
Mungkin suatu saat PT ASKES dapat bekerjasama dengan ISFI atau HISFARMA untuk melakukan penelitian yang terkait pengaruh pelayanan prima terhadap penurunan jumlah dan nilai klaim. Satu contoh pemborosan akibat pelayanan yang kurang prima adalah pasien yang setiap bulan memeriksakan kesehatan dan selalu mendapatkan resep, tetapi obat tak diminum. selanjutnya karena dokter menganggap dosis kurang besar, maka dosis diperbesar dan kenyataannya oleh pasien obat tidak diminum lagi.
Semoga kedepan masyarakat (termasuk korporat) menjadi lebih sadar dan memilih layanan prima diapotek sebagai pilihan dan tidak hanya sekedar mendapatkan obat, karena akan membuat lebih hemat.
Minggu, 04 Mei 2008
TANTANGAN TATAP
TANTANGAN TATAP
Sebenarnya dalam permenkes tentang pendirian apotek sudah mencerminkan TATAP, yang mana bila apoteker pengelola apotek berhalangan hadir, maka harus digantikan oleh apoteker pendamping. Tetapi karena dalam permenkes tersebut didak diatur tentang sanksi yang diterimakan ke apotek ataupun apoteker bila apotek pada jam buka tidak ada apoteker, maka TATAP tidak dijalankan. Oleh karena itu sebagian apoteker akan optimis bila rencana penerapan TATAP oleh ISFI yang akan ditargetkan pada tahun 2009 akan berhasil, bila kita mengacu pada permenkes tersebut dengan menambahi sedikit sanksi.
Seharusnya bagaimanakah penerapan TATAP agar berhasil ? Pertanyaan inilah yang akan ditanyakan oleh sebagian dari para apoteker. Dan menurut hemat saya tak harus dengan sanksi dalam penerapan TATAP ini bila kesadaran para apoteker ada, atau kesadaran dari masyarakat ada. Dari kedua poin diatas, kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan apoteker inilah hal awal yang harus ditumbuhkan. Mengapa demikian, karena dengan kesadaran masyarakat, maka mau atau tidak mau apotek akan menyediakan apoteker saat jam buka apotek, kecuai apotek akan ditinggalkan oleh masyarakat.
Apakah mungkin masyarakat akan memilih pelayanan, bukan harga? menurut pengalaman saya diapotek, umumnya masyarakat memilih harga dan pelayanan secara bersamaan. Bila pada penerapan TATAP ISFI selaku organisasi profesi dan pemerintah mau mengkampanyekan TATAP sebagai bagian dari strategi pembangunan kesehatan bangsa, maka hal ini akan mungkin. Maksudnya, akan mungkin TATAP terlaksana dengan tanpa pemberian sanksi.
Cara mengkampayenkan TATAP oleh pengurus ISFI ke anggota sudah berjalan lama, tetapi kampanye TATAP kemasyarakat belum. Saat ini sudah sewaktunya TATAP di kampanyekan baik kepada masyarakat atau kepada anggota ISFI sendiri. Karena kampanye adalah bagian dari usaha penerapan TATAP sendiri yang dilanjutkan dengan uji coba dan pembinaan. Selanjutnya diikuti dengan evaluasi. bila memang TATAP layak maka penerapan TATAP menjadi suatu keharusan.
Seharusnya pelayanan langsung oleh apoteker diapotek adalah hal mutlak. Dan bila masih diadakan study dan evaluasi adalah untuk mencari bentuk yang ideal dalam pelaksanaan Tiada Apoteker Tiada Pelayanan. Sebagai masyarakat modern kita sebagai profesi apoteker harus mau dan mampu bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa. Demikian pula bagi para investor pada bidang perapotekan juga harus mau mengikuti peraturan yang ada, janganlah sebagai investor hanya mau untungnya saja sedangkan keselamatan akibat pemakaian obat diabaikan.
Dari pengamatan saya, pelaksanaan TATAP tidak akan merugikan siapa saja asal dilakukan sosialisasi dengan baik. Maksudnya apa yang menjadi peluang dan tantangan dalam penerapannya dikaji lebih jauh dan tuntas, sehingga semua yang terlibat dapat melakukan persiapan dengan baik. Kalau perlu ISFI sebagai induk organisasi menyediakan tempat konsultasi penerapan TATAP. Yang mana ISFI sebagai induk organisasi memberikan masukan dan pengarahan bila ada pihak-pihak yang mengalami kesulitan dalam penerapannya. sudah menjadi hal yang wajar bila ISFI melakukannya.
Dengan demikian, maka pada penerapannya nanti tidak akan terlalu banyak masalah yang timbul bila TATAP diberlakukan setelan disosialisasi dan di uji coba. Bagaimanapun juga TATAP adalah kepedulian kita semua terhadap pembangunan kesehatan bangsa. Juga kepedulian kita terhadap perkembangan profesi apoteker yang harus tumbuh mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan jaman. Semoga TATAP akan mendapat dukungan semua pihak mengingat sampai sekarang belum terbukti ada pihak-pihak yang dirugikan oleh rencana pemberlakuan TATAP, tetapi justru akan menguntungkan semua pihak.
Seandainya sampai ada yang kesulitan dalam penerapan TATAP secara teknis, maka ISFI sebagai induk organisasi harus menyediakan kosultasi dan pembinaan, baik kepada para apoteker maupun kepada investor. Sehingga kedepannya nanti tidak akan ditemui masalah yang berarti. Pembinaan dan konsultasi seharusnya dilakukan dimulai sekarang, karena semakin baik persiapan akan semakin baik. Pembinaan dan konsultasi sebaiknya diadakan pada setiap cabang dengan menyediakan teaga terlatih pada setiap cabang, atau setidaknya perkaresidenan satu orang konsultan TATAP
Akhir kata semoga TATAP dapat berjalan dengan baik mulai tahun 2009.
Sebenarnya dalam permenkes tentang pendirian apotek sudah mencerminkan TATAP, yang mana bila apoteker pengelola apotek berhalangan hadir, maka harus digantikan oleh apoteker pendamping. Tetapi karena dalam permenkes tersebut didak diatur tentang sanksi yang diterimakan ke apotek ataupun apoteker bila apotek pada jam buka tidak ada apoteker, maka TATAP tidak dijalankan. Oleh karena itu sebagian apoteker akan optimis bila rencana penerapan TATAP oleh ISFI yang akan ditargetkan pada tahun 2009 akan berhasil, bila kita mengacu pada permenkes tersebut dengan menambahi sedikit sanksi.
Seharusnya bagaimanakah penerapan TATAP agar berhasil ? Pertanyaan inilah yang akan ditanyakan oleh sebagian dari para apoteker. Dan menurut hemat saya tak harus dengan sanksi dalam penerapan TATAP ini bila kesadaran para apoteker ada, atau kesadaran dari masyarakat ada. Dari kedua poin diatas, kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan apoteker inilah hal awal yang harus ditumbuhkan. Mengapa demikian, karena dengan kesadaran masyarakat, maka mau atau tidak mau apotek akan menyediakan apoteker saat jam buka apotek, kecuai apotek akan ditinggalkan oleh masyarakat.
Apakah mungkin masyarakat akan memilih pelayanan, bukan harga? menurut pengalaman saya diapotek, umumnya masyarakat memilih harga dan pelayanan secara bersamaan. Bila pada penerapan TATAP ISFI selaku organisasi profesi dan pemerintah mau mengkampanyekan TATAP sebagai bagian dari strategi pembangunan kesehatan bangsa, maka hal ini akan mungkin. Maksudnya, akan mungkin TATAP terlaksana dengan tanpa pemberian sanksi.
Cara mengkampayenkan TATAP oleh pengurus ISFI ke anggota sudah berjalan lama, tetapi kampanye TATAP kemasyarakat belum. Saat ini sudah sewaktunya TATAP di kampanyekan baik kepada masyarakat atau kepada anggota ISFI sendiri. Karena kampanye adalah bagian dari usaha penerapan TATAP sendiri yang dilanjutkan dengan uji coba dan pembinaan. Selanjutnya diikuti dengan evaluasi. bila memang TATAP layak maka penerapan TATAP menjadi suatu keharusan.
Seharusnya pelayanan langsung oleh apoteker diapotek adalah hal mutlak. Dan bila masih diadakan study dan evaluasi adalah untuk mencari bentuk yang ideal dalam pelaksanaan Tiada Apoteker Tiada Pelayanan. Sebagai masyarakat modern kita sebagai profesi apoteker harus mau dan mampu bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa. Demikian pula bagi para investor pada bidang perapotekan juga harus mau mengikuti peraturan yang ada, janganlah sebagai investor hanya mau untungnya saja sedangkan keselamatan akibat pemakaian obat diabaikan.
Dari pengamatan saya, pelaksanaan TATAP tidak akan merugikan siapa saja asal dilakukan sosialisasi dengan baik. Maksudnya apa yang menjadi peluang dan tantangan dalam penerapannya dikaji lebih jauh dan tuntas, sehingga semua yang terlibat dapat melakukan persiapan dengan baik. Kalau perlu ISFI sebagai induk organisasi menyediakan tempat konsultasi penerapan TATAP. Yang mana ISFI sebagai induk organisasi memberikan masukan dan pengarahan bila ada pihak-pihak yang mengalami kesulitan dalam penerapannya. sudah menjadi hal yang wajar bila ISFI melakukannya.
Dengan demikian, maka pada penerapannya nanti tidak akan terlalu banyak masalah yang timbul bila TATAP diberlakukan setelan disosialisasi dan di uji coba. Bagaimanapun juga TATAP adalah kepedulian kita semua terhadap pembangunan kesehatan bangsa. Juga kepedulian kita terhadap perkembangan profesi apoteker yang harus tumbuh mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan jaman. Semoga TATAP akan mendapat dukungan semua pihak mengingat sampai sekarang belum terbukti ada pihak-pihak yang dirugikan oleh rencana pemberlakuan TATAP, tetapi justru akan menguntungkan semua pihak.
Seandainya sampai ada yang kesulitan dalam penerapan TATAP secara teknis, maka ISFI sebagai induk organisasi harus menyediakan kosultasi dan pembinaan, baik kepada para apoteker maupun kepada investor. Sehingga kedepannya nanti tidak akan ditemui masalah yang berarti. Pembinaan dan konsultasi seharusnya dilakukan dimulai sekarang, karena semakin baik persiapan akan semakin baik. Pembinaan dan konsultasi sebaiknya diadakan pada setiap cabang dengan menyediakan teaga terlatih pada setiap cabang, atau setidaknya perkaresidenan satu orang konsultan TATAP
Akhir kata semoga TATAP dapat berjalan dengan baik mulai tahun 2009.
Sabtu, 26 April 2008
BELAJAR LEWAT TELEPON GENGGAM
BELAJAR LEWAT TELEPON GENGGAM
Saat ini adalah era informasi, yang mana informasi sangat mudah diakses. Sebut saja hape atau telepon genggam, adalah alat komunikasi yang sangat umum yang mudah dioperasikan bahkan oleh anak-anak. Selain sebagai alat komunikasi telepon genggam juga bisa menjadi sumber informasi, karena telepon genggam saat ini dapat dipakai untuk mengakses internet hampir disetiap tempat. Banyak informasi yang dapat kita akses lewat telepon genggam.
Meskipun belum semua jenis data internet yang dapat diakses lewat telepon genggam, tetapi menurut saya telepon genggam sudah lebih dari cukup. Karena banyak informasi yang bisa saya dapatkan lewat telepon genggam. Sebagai apoteker saya sering kali dihadapkan kepada masalah informasi yang salah satunya adalah informasi mengenai perkembangan dunia kesehatan dan kefarmasian. Dan sebagian masalah tersebut cukup saya selesaikan lewat telepon genggam.
Mungkin anda juga mempunyai pengalaman yang sama dengan saya dalam menggunakan telepon genggam sebagai sumber informasi. mungkin anda juga berpendapat bila dunia hanya segenggam. Dunia memang hanya segenggam, informasi ada dalam genggaman kita saat ini, mulai koran, majalah, komix dan lain-lain. Kalau dijaman dulu saat kita butuh informasi, kita keperpustakaan dan pulang mungkin kita akan membawa buku besar, tetapi sekarang kita bisa mendapatkan banyak informasi cukup dari tempat kita tanpa harus beranjak kemana-mana.
Memang suatu hal mempunyai kelemahan, termasuk telepon genggam untuk berinternet ria. Salah satunya tulisan yang kecil-kecil, aksesnya cukup lama dan lain sebagainya. Tetapi dibalik kelemahan tersebut adalah banyak kelebihan penggunaan telepon genggam untuk mengakses sumber infomasi. antara lain
1. biaya cukup murah
2. dapat diakses dimana saja asal ada signal, disawah, dikota, dan sebagainya
3. kecil dan mudah dibawa, cuma segenggam.
4. harga telepon genggam relatif murah bila dibandingkan dengan komputer.
5. dsb
Sudah setahunan ini saya berinternet ria dengam telepon genggam. Saya yang ada di daerah sering kali kesulitan dalam mengakses informasi, apa lagi pada saat awal saya buka apotek. Dengan adanya telepon genggam untuk berinternet saya merasa sangat terbantu. Dulu kalau ingin mencari informasi saya harus ke warnet di kota yang jaraknya sekitar 10km dari apotek saya yang sekaligus rumah saya, tetapi sejak satu tahun yang lalu saya cukup ditempat saja dan informasi sudah bisa saya dapatkan.
Bahkan banyak pula informasi kefarmasian yang aku dapatkan lewat telepon genggam. Suatu hal yang tidak dapat saya bayangkan sebelumnya, yang mana saya diapotek bisa sampai 14 jam sehari, tetapi informasi tetap bisa saya dapatkan. suatu hal yang tidak mungkin terjadi tempo dulu.
Era informasi, yang mana informasi sangat-sangat tidak terbatas. Kita dapat belajar dimana saja tanpa harus beranjak dari tempat duduk kita, bahkan sambil tiduranpun kita bisa dapat informasi dan belajar. sungguh hal yang luar biasa. Terkadang sambil ngobrol dengan orang-orang diwarung di desa kita tetap ada informasi dan kesempatan belajarpun tetap terbuka. bahkan sambil jalan-jalan pagi menyusuri pemantang sawahpun informasi tetap bisa kita dapatkan.
Cuma sayangnya belum banyak informasi yang berbasis wap. Sangatlah beruntungnya saya seandainya ada situs ISFI yang berbasis wap. Apalagi bila seandainya ada ISO online yang berbasis wap. Mungkin kita akan lebih mudah dalam mencari atau menelusuri informasi untuk meningkatkan pengetahuan kita. Sebenarnya adalah wajar bila setahun lalu saat awal-awal saya belajar berinternet lewat telepon genggam saya membayangkan seandainya persyaratan kepemilikan buku-buku farmakope, undang-undang dan lain-lain dalam pembukaan apotek diganti dengan telepon genggam. Toh semua informasi dapat kita akses lewat internet dengan menggunakan telepon genggam.
Saat ini adalah era informasi, yang mana informasi sangat mudah diakses. Sebut saja hape atau telepon genggam, adalah alat komunikasi yang sangat umum yang mudah dioperasikan bahkan oleh anak-anak. Selain sebagai alat komunikasi telepon genggam juga bisa menjadi sumber informasi, karena telepon genggam saat ini dapat dipakai untuk mengakses internet hampir disetiap tempat. Banyak informasi yang dapat kita akses lewat telepon genggam.
Meskipun belum semua jenis data internet yang dapat diakses lewat telepon genggam, tetapi menurut saya telepon genggam sudah lebih dari cukup. Karena banyak informasi yang bisa saya dapatkan lewat telepon genggam. Sebagai apoteker saya sering kali dihadapkan kepada masalah informasi yang salah satunya adalah informasi mengenai perkembangan dunia kesehatan dan kefarmasian. Dan sebagian masalah tersebut cukup saya selesaikan lewat telepon genggam.
Mungkin anda juga mempunyai pengalaman yang sama dengan saya dalam menggunakan telepon genggam sebagai sumber informasi. mungkin anda juga berpendapat bila dunia hanya segenggam. Dunia memang hanya segenggam, informasi ada dalam genggaman kita saat ini, mulai koran, majalah, komix dan lain-lain. Kalau dijaman dulu saat kita butuh informasi, kita keperpustakaan dan pulang mungkin kita akan membawa buku besar, tetapi sekarang kita bisa mendapatkan banyak informasi cukup dari tempat kita tanpa harus beranjak kemana-mana.
Memang suatu hal mempunyai kelemahan, termasuk telepon genggam untuk berinternet ria. Salah satunya tulisan yang kecil-kecil, aksesnya cukup lama dan lain sebagainya. Tetapi dibalik kelemahan tersebut adalah banyak kelebihan penggunaan telepon genggam untuk mengakses sumber infomasi. antara lain
1. biaya cukup murah
2. dapat diakses dimana saja asal ada signal, disawah, dikota, dan sebagainya
3. kecil dan mudah dibawa, cuma segenggam.
4. harga telepon genggam relatif murah bila dibandingkan dengan komputer.
5. dsb
Sudah setahunan ini saya berinternet ria dengam telepon genggam. Saya yang ada di daerah sering kali kesulitan dalam mengakses informasi, apa lagi pada saat awal saya buka apotek. Dengan adanya telepon genggam untuk berinternet saya merasa sangat terbantu. Dulu kalau ingin mencari informasi saya harus ke warnet di kota yang jaraknya sekitar 10km dari apotek saya yang sekaligus rumah saya, tetapi sejak satu tahun yang lalu saya cukup ditempat saja dan informasi sudah bisa saya dapatkan.
Bahkan banyak pula informasi kefarmasian yang aku dapatkan lewat telepon genggam. Suatu hal yang tidak dapat saya bayangkan sebelumnya, yang mana saya diapotek bisa sampai 14 jam sehari, tetapi informasi tetap bisa saya dapatkan. suatu hal yang tidak mungkin terjadi tempo dulu.
Era informasi, yang mana informasi sangat-sangat tidak terbatas. Kita dapat belajar dimana saja tanpa harus beranjak dari tempat duduk kita, bahkan sambil tiduranpun kita bisa dapat informasi dan belajar. sungguh hal yang luar biasa. Terkadang sambil ngobrol dengan orang-orang diwarung di desa kita tetap ada informasi dan kesempatan belajarpun tetap terbuka. bahkan sambil jalan-jalan pagi menyusuri pemantang sawahpun informasi tetap bisa kita dapatkan.
Cuma sayangnya belum banyak informasi yang berbasis wap. Sangatlah beruntungnya saya seandainya ada situs ISFI yang berbasis wap. Apalagi bila seandainya ada ISO online yang berbasis wap. Mungkin kita akan lebih mudah dalam mencari atau menelusuri informasi untuk meningkatkan pengetahuan kita. Sebenarnya adalah wajar bila setahun lalu saat awal-awal saya belajar berinternet lewat telepon genggam saya membayangkan seandainya persyaratan kepemilikan buku-buku farmakope, undang-undang dan lain-lain dalam pembukaan apotek diganti dengan telepon genggam. Toh semua informasi dapat kita akses lewat internet dengan menggunakan telepon genggam.
Selasa, 22 April 2008
EMPIRIS DAN IMAJINATIF
EMPIRIS DAN IMAJINATIF
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesi yang disingkat ISFI dalam perannya terhadap perkembangan profesi apoteker dapat dinilai kurang bagus pada awalnya, karena pada awalnya kepengurusannya jarang diisi oleh para apoteker aktif diapotek atau disebut praktisi penuh. Saat ini banyak apoteker praktisi penuh yang menjadi pengurus aktif ISFI, baik pada pengurus cabang atau pengurus daerah.
Seharusnya pengurus ISFI diisi oleh semua lapisan anggota ISFI yang mana ada birokrat, dosen dan praktisi penuh juga apoteker yang juga menjadi pengusaha. Dengan diisinya pengurus ISFI oleh para apoteker dari banyak latar belakang akan memperkaya ISFI dalam memecahkan permasalahan bangsa, terutama masalah kesehatan. Itulah sebabnya ISFI saat ini pola bergeraknya dalam mengembangkan profesi apoteker berbeda.
Tujuan dalam mengembangkan profesi adalah tetap, yaitu tercapainya derajat kesehatan yang tinggi dari masyarakat. memang dalam perannya apoteker tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus saling bersinergi dengan tenaga kesehatan lain. ISFI menyadari tidak ada satupun tenaga kesehatan yang mampu mengangkat derajat kesehatan masyarakat sendirian, tetapi harus bersama-sama dan saling bersinergi, sehingga dampak dari hasil sinergi ini akan sangat luar biasa.
Dalam tujuan tercapainya derajat kesehatan yang tinggi inilah yang selama ini menjadi tujuan yang sama dari para anggota ISFI, tetapi pada pola geraknya sering kali kita berbeda pendapat. perbedaan pendapat pada masa lalu sering kali hanya diselesaikan dengan empiris pengalaman pribadi dari pengurus yang umumnya bukan praktisi penuh dan imajinasi dari para apoteker yang umumnya juga bukan praktisi penuh. Hasilnya tentu saja akan sangat jauh dengan suatu idealisme profesi dan sering kali justru kontra produktif terhadap eksistensi apoteker sendiri. Dengan banyaknya para apoteker praktisi penuh yang menjadi pengurus justru memberi banyak masukan yang mana sangat membuka wawasan dan cara berpikir para sejawatnya.
Para praktisi penuh telah berhasil membuat masukan yang berarti dalam pemberlakuan TATAP dan apotek yang diisi oleh para praktisi penuh inilah laboratorium ISFI. maksudnya, praktisi penuh telah berhasil memberikan data yang sangat bagus bagi ISFI guna mengembangkan profesi apoteker yang lebih ideal. Dengan adanya data dari para praktisi penuh ini bukan berarti praktisi penuh adalah segalanya dalam pengembangan profesi, tetapi telah menjadi sumber data yang sangat berharga dan tak ternilai bagi pengembangan profesi apoteker kedepan.
Masukan dari para praktisi penuh adalah data yang selama ini digunakan sebagai dasar dari pengembangan TATAP. Masukan ini telah dikembangkan dan akan terus dikembangkan guna membentuk profesi yang ideal. dengan adanya data, maka pengembangan profesi apoteker menjadi lebih rasional, terarah dan tidak hanya berupa empiris pengalaman pribadi orang perorang juga bukan hanya imajigasi dari orang perorang. Sebelum banyak praktisi penuh yang menjadi pengurus ISFI, standart pelayanan hampir tidak jelas. Bukan berarti tidak ada standart, tetapi masing-masing apoteker secara kreatif membuat standart profesi secara sendiri-sendiri dan hasil akhirnya tentu standart yang sangat membingungkan para praktisi sendiri, utamanya praktisi penuh.
Pada akhirnya, kita telah meninggalkan empiris dan imajinatif untuk mendapatkan profesi yang ideal dengan mengambil data dari para praktisi penuh. Selanjutnya data ini yang akan diolah ISFI lewat HISFARMA, guna kepentingan profesi dan masyarakat luas. ISFI tidak boleh lagi akan menggunakan cara-cara tradisional dalam menyelesaikan masalah profesi, tetapi akan bekerja lebih baik dan modern dalam menyelesaikan masalah profesi. Akhir kata adalah agar profesi dapat berkembang secara maksimal dan optimal, maka semua permasalahan profesi tidak boleh lagi didasarkan pada empiris dan imajinatif, tetapi harus didasarkan pada data-data ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesi yang disingkat ISFI dalam perannya terhadap perkembangan profesi apoteker dapat dinilai kurang bagus pada awalnya, karena pada awalnya kepengurusannya jarang diisi oleh para apoteker aktif diapotek atau disebut praktisi penuh. Saat ini banyak apoteker praktisi penuh yang menjadi pengurus aktif ISFI, baik pada pengurus cabang atau pengurus daerah.
Seharusnya pengurus ISFI diisi oleh semua lapisan anggota ISFI yang mana ada birokrat, dosen dan praktisi penuh juga apoteker yang juga menjadi pengusaha. Dengan diisinya pengurus ISFI oleh para apoteker dari banyak latar belakang akan memperkaya ISFI dalam memecahkan permasalahan bangsa, terutama masalah kesehatan. Itulah sebabnya ISFI saat ini pola bergeraknya dalam mengembangkan profesi apoteker berbeda.
Tujuan dalam mengembangkan profesi adalah tetap, yaitu tercapainya derajat kesehatan yang tinggi dari masyarakat. memang dalam perannya apoteker tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus saling bersinergi dengan tenaga kesehatan lain. ISFI menyadari tidak ada satupun tenaga kesehatan yang mampu mengangkat derajat kesehatan masyarakat sendirian, tetapi harus bersama-sama dan saling bersinergi, sehingga dampak dari hasil sinergi ini akan sangat luar biasa.
Dalam tujuan tercapainya derajat kesehatan yang tinggi inilah yang selama ini menjadi tujuan yang sama dari para anggota ISFI, tetapi pada pola geraknya sering kali kita berbeda pendapat. perbedaan pendapat pada masa lalu sering kali hanya diselesaikan dengan empiris pengalaman pribadi dari pengurus yang umumnya bukan praktisi penuh dan imajinasi dari para apoteker yang umumnya juga bukan praktisi penuh. Hasilnya tentu saja akan sangat jauh dengan suatu idealisme profesi dan sering kali justru kontra produktif terhadap eksistensi apoteker sendiri. Dengan banyaknya para apoteker praktisi penuh yang menjadi pengurus justru memberi banyak masukan yang mana sangat membuka wawasan dan cara berpikir para sejawatnya.
Para praktisi penuh telah berhasil membuat masukan yang berarti dalam pemberlakuan TATAP dan apotek yang diisi oleh para praktisi penuh inilah laboratorium ISFI. maksudnya, praktisi penuh telah berhasil memberikan data yang sangat bagus bagi ISFI guna mengembangkan profesi apoteker yang lebih ideal. Dengan adanya data dari para praktisi penuh ini bukan berarti praktisi penuh adalah segalanya dalam pengembangan profesi, tetapi telah menjadi sumber data yang sangat berharga dan tak ternilai bagi pengembangan profesi apoteker kedepan.
Masukan dari para praktisi penuh adalah data yang selama ini digunakan sebagai dasar dari pengembangan TATAP. Masukan ini telah dikembangkan dan akan terus dikembangkan guna membentuk profesi yang ideal. dengan adanya data, maka pengembangan profesi apoteker menjadi lebih rasional, terarah dan tidak hanya berupa empiris pengalaman pribadi orang perorang juga bukan hanya imajigasi dari orang perorang. Sebelum banyak praktisi penuh yang menjadi pengurus ISFI, standart pelayanan hampir tidak jelas. Bukan berarti tidak ada standart, tetapi masing-masing apoteker secara kreatif membuat standart profesi secara sendiri-sendiri dan hasil akhirnya tentu standart yang sangat membingungkan para praktisi sendiri, utamanya praktisi penuh.
Pada akhirnya, kita telah meninggalkan empiris dan imajinatif untuk mendapatkan profesi yang ideal dengan mengambil data dari para praktisi penuh. Selanjutnya data ini yang akan diolah ISFI lewat HISFARMA, guna kepentingan profesi dan masyarakat luas. ISFI tidak boleh lagi akan menggunakan cara-cara tradisional dalam menyelesaikan masalah profesi, tetapi akan bekerja lebih baik dan modern dalam menyelesaikan masalah profesi. Akhir kata adalah agar profesi dapat berkembang secara maksimal dan optimal, maka semua permasalahan profesi tidak boleh lagi didasarkan pada empiris dan imajinatif, tetapi harus didasarkan pada data-data ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.
Rabu, 16 April 2008
STOK VS TATAP
STOK VS TATAP
Sengaja aku tulis STOK VS TATAP, hal ini adalah salah satu yang diungkapkan beberapa teman sejawat apoteker yang sudah mencoba penerapan TATAP. Suatu hal dilematis pada penerapan TATAP yang lebih mengutamakan pelayanan kefarmasian yang akhirnya sering kali kartu stok tebengkalai.
Suatu hal yang sangat manusiawi bila pada apotek kecil yang mengutamakan pelayanan demi keselamatan masyarakat banyak, kartu stok terlupakan, mengingat masyarakat kita umumnya tidak sabar dalam pelayanan dan tidak mau menunggu dan sukanya main serobot saja. Demi meningkatkan kecepatan pelayanan tanpa mengurangi hak masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bidang kefarasian, sering kali apoteker menjadi tidak sempat mengisi kartu stok. Bila kartu stok di ditertibkan maka apotek bisa jadi tidak laku karena pelayanan kalah sama yang tidak menerapkan TATAP, karena mereka menggunakan tenaga pelayanan sub standart yang asal murah.jangan-jangan karena memburu murah akhirnya nungsep seperti maskapai penerbangan kita yang ujung-ujungnya nungsep juga.
Kartu stok keberadaannya sangat penting dan penting sekali, karena dari kartu stok dapat dimonitor kemana saja larinya obat dan kemungkinan penyalah gunaan obat. Bisa jadi tanpa kartu stok boleh dibilang apotek tidak melakukan pekerjaan dengan benar. Pelanggaran praktek pelayanan kefarmasian dianggap telah terjadi. Tapi apa gunanya kartu stok bila apoteker tak ada? Apakah kartu stoknya bis dipertanggung jawabkan?
Dari urut-urutan pelayanan kefarmasian kartu stok sebenarnya ada pada urutan terakhir, karena TATAP sendirilah yang menjadi urutan pertama. Bila apotek pada jam buka dibuka dengan tidak ada apoteker, maka semua jenis layanan kefarmasian dianggap menyalahi aturan dan tidakdapat dipertanggung jawabkan atau dengan kata lain substandart. Mengapa hal ini menjadi buah pikiran dari sebagian teman kita? Alasan utamanya adalah bagaimana stok bisa benar, pelayanan bisa benar dan semuanya bisa benar kalau tenaga yang berkompetensi tidak ada? Suatu mission imposible.
Tak ada gunanya kartu stok benar bila TATAP tidak ada. Hal lain lagi adalah tidak mungkin penyaluran perbekalan farmasi akan benar bila tidak ada apoteker. Hal yang harus kita sadari atau kita utamakan adalah obat sampai kemasyarakat harus benar dan pasien harus selamat.
Tanpa TATAP, maka konseling, PIO, edukasi dan lain sebagainya adalah tidak mungkin. Jadi apa gunanya kartu stok tanpa ada TATAP?
Kita harus menghargai para pelaksana TATAP yang sekarang sudah melakukan, karena dari biaya operasionalnya saja para pelaku TATAP umumnya harus menanggung biaya perasional 2-5% lebih mahal, yang ujung-ujungnya margin keuntungan para pelaku TATAP adalah lebih kecil.
Tak ada alasan untuk tidak melakukan TATAP mengingat banyak apotek yang melakukan TATAP tetap eksis. Janga salahkan TATAP bila apotek rugi karena penerapan TATAP. Banyak alasan yang mengatakan TATAP akan membuat apotek merugi, dan alasan itu sebenarnya Cuma dibuat-buat saja demi mengeruk keuntungan apotek yan sebesar-besarnya. Dan jangan salahkan TATAP bila penyelenggara apotek sebenarnya memang tidak mempunyai kemampuan manajemen yang baik.
Banyak yang menyalahkan apoteker sebagai penyebab mahalnya biaya operasional apotek, tetapi seharusnya kita berpikir bahwa keselamatan adalah mahal. Karena keselamatan adalah segala-galanya bagi suatu penyelanggaraan semua jenis pelayanan termasuk apotek, maka TATAP harus ada pada urutan pertama dalam pelayanan kefarmasian. Bila TATAP tak diterapkan, mungkin juga tidak ada gunanya penerapa GMP pada pabrik obat atau juga pada pabrik jamu, kosmetik, makanan dan sebagainya.
Kita sadari TATAP bukan satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelanggaraan pelayanan kefarmasian di apotek, tetapi TATAP adalah awal dan paling utama dalam penyelenggaraan apotek yang ideal. Tak mungkin masyarakat bermimpi pelayanan kefarmasian yang ideal bila TATAP tidak berjalan.
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa saja, tetapi hanyalah terjemahan saya dari pelaku TATAP yang menginginkan TATAP yang ideal demi kemanusiaan. Ketidak inginan menggurui siapa saja, karena banyak sekali apoteker yang mempunyai potensi yang belum dimanfaatkan dengan benar dalam proses pelayanan kesehatan bangsa. Menurut saya potensi apoteker dalam membangun kesehatan bangsa adalah ibarat harta karun terpendam yang belum dimanfaatkan oleh bangsa ini.
Sengaja aku tulis STOK VS TATAP, hal ini adalah salah satu yang diungkapkan beberapa teman sejawat apoteker yang sudah mencoba penerapan TATAP. Suatu hal dilematis pada penerapan TATAP yang lebih mengutamakan pelayanan kefarmasian yang akhirnya sering kali kartu stok tebengkalai.
Suatu hal yang sangat manusiawi bila pada apotek kecil yang mengutamakan pelayanan demi keselamatan masyarakat banyak, kartu stok terlupakan, mengingat masyarakat kita umumnya tidak sabar dalam pelayanan dan tidak mau menunggu dan sukanya main serobot saja. Demi meningkatkan kecepatan pelayanan tanpa mengurangi hak masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bidang kefarasian, sering kali apoteker menjadi tidak sempat mengisi kartu stok. Bila kartu stok di ditertibkan maka apotek bisa jadi tidak laku karena pelayanan kalah sama yang tidak menerapkan TATAP, karena mereka menggunakan tenaga pelayanan sub standart yang asal murah.jangan-jangan karena memburu murah akhirnya nungsep seperti maskapai penerbangan kita yang ujung-ujungnya nungsep juga.
Kartu stok keberadaannya sangat penting dan penting sekali, karena dari kartu stok dapat dimonitor kemana saja larinya obat dan kemungkinan penyalah gunaan obat. Bisa jadi tanpa kartu stok boleh dibilang apotek tidak melakukan pekerjaan dengan benar. Pelanggaran praktek pelayanan kefarmasian dianggap telah terjadi. Tapi apa gunanya kartu stok bila apoteker tak ada? Apakah kartu stoknya bis dipertanggung jawabkan?
Dari urut-urutan pelayanan kefarmasian kartu stok sebenarnya ada pada urutan terakhir, karena TATAP sendirilah yang menjadi urutan pertama. Bila apotek pada jam buka dibuka dengan tidak ada apoteker, maka semua jenis layanan kefarmasian dianggap menyalahi aturan dan tidakdapat dipertanggung jawabkan atau dengan kata lain substandart. Mengapa hal ini menjadi buah pikiran dari sebagian teman kita? Alasan utamanya adalah bagaimana stok bisa benar, pelayanan bisa benar dan semuanya bisa benar kalau tenaga yang berkompetensi tidak ada? Suatu mission imposible.
Tak ada gunanya kartu stok benar bila TATAP tidak ada. Hal lain lagi adalah tidak mungkin penyaluran perbekalan farmasi akan benar bila tidak ada apoteker. Hal yang harus kita sadari atau kita utamakan adalah obat sampai kemasyarakat harus benar dan pasien harus selamat.
Tanpa TATAP, maka konseling, PIO, edukasi dan lain sebagainya adalah tidak mungkin. Jadi apa gunanya kartu stok tanpa ada TATAP?
Kita harus menghargai para pelaksana TATAP yang sekarang sudah melakukan, karena dari biaya operasionalnya saja para pelaku TATAP umumnya harus menanggung biaya perasional 2-5% lebih mahal, yang ujung-ujungnya margin keuntungan para pelaku TATAP adalah lebih kecil.
Tak ada alasan untuk tidak melakukan TATAP mengingat banyak apotek yang melakukan TATAP tetap eksis. Janga salahkan TATAP bila apotek rugi karena penerapan TATAP. Banyak alasan yang mengatakan TATAP akan membuat apotek merugi, dan alasan itu sebenarnya Cuma dibuat-buat saja demi mengeruk keuntungan apotek yan sebesar-besarnya. Dan jangan salahkan TATAP bila penyelenggara apotek sebenarnya memang tidak mempunyai kemampuan manajemen yang baik.
Banyak yang menyalahkan apoteker sebagai penyebab mahalnya biaya operasional apotek, tetapi seharusnya kita berpikir bahwa keselamatan adalah mahal. Karena keselamatan adalah segala-galanya bagi suatu penyelanggaraan semua jenis pelayanan termasuk apotek, maka TATAP harus ada pada urutan pertama dalam pelayanan kefarmasian. Bila TATAP tak diterapkan, mungkin juga tidak ada gunanya penerapa GMP pada pabrik obat atau juga pada pabrik jamu, kosmetik, makanan dan sebagainya.
Kita sadari TATAP bukan satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelanggaraan pelayanan kefarmasian di apotek, tetapi TATAP adalah awal dan paling utama dalam penyelenggaraan apotek yang ideal. Tak mungkin masyarakat bermimpi pelayanan kefarmasian yang ideal bila TATAP tidak berjalan.
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa saja, tetapi hanyalah terjemahan saya dari pelaku TATAP yang menginginkan TATAP yang ideal demi kemanusiaan. Ketidak inginan menggurui siapa saja, karena banyak sekali apoteker yang mempunyai potensi yang belum dimanfaatkan dengan benar dalam proses pelayanan kesehatan bangsa. Menurut saya potensi apoteker dalam membangun kesehatan bangsa adalah ibarat harta karun terpendam yang belum dimanfaatkan oleh bangsa ini.
Selasa, 15 April 2008
JUMLAH APOTEKER DI APOTEK YANG IDEAL
JUMLAH APOTEKER DI APOTEK YANG IDEAL
Saya buka web isfi, ada tulisan dengan judul PERANAN APOTEKER MENUJU INDONESIA SEHAT 2010. disana ada tulisan yang menurut pemahaman aku, mengajak untuk menyediakan minimal 2 apoteker pada apotek yang melayani masyarakat diatas 8jam dan minimal 3 apoteker pada apotek yang buka 24 jam. Menurut aku adalah ide yang bagus yang patut kita dukung.
Cuma sebelum diterapkan sebaiknya diadakan penelitian dulu apakah jumlah minimal itu sudah sesuai dengan keadaan lapangan. Jangan-jangan setelah diterapkan kita sendiri yang akhirnya kelabakan karena ternyata tidak sesuai dengan keberadaan kita sendiri. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum sesuatuhal itu diputuskan. Sebagai contoh, apotek banyak yang buka pagi sore (2 sip) saat ini, senin sampai senin lagi. Bila terjadi seperti itu bagaimana dengan hari minggu, tak mungkin apoteker yang apoteknya bukan punyanya sendiri akan mau masuk 7 hari kerja.
Atau pada kasus lain, bagaimana apotek sekarang yang ditunggui sendiri oleh apotekernya yang juga menjadi rumahnya, dan bila berhalangan hadir akan ditutup, dan biasa kerja lebih dari 10 jam per hari. Sebaiknya ada penelitian-penelitian, yang salah satunya adalah berapa jam apoteker dapat bekerja dengan optimal selama satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun dan sebagainya. Karena kemampuan setiap orang dalam bekerja adalah berbeda-beda.
Selain harus ada penelitian didalam kemampuan apoteker sendiri, juga harus diteliti tentang keberadaan apotek itu sendiri saat ini, apakah sudah memenuhi syarat atau belum sama sekali yang selanjutnya harus diambil suatu tindakan agar apotek menuju ideal. Harusnya ada pemataan aptek dan kebutuhan model apotek, karena perbedaan strata sosial dalam masyarakat bisa jadi membutukan model apotek yang berbeda. Dalam setiap mode harus dibuat bentukidealnya.
Sebenarnya lebih simple bila kita mengsaratkan saja TATAP atau tak ada apoteker tak ada pelayanan, karena berapapun jumlah apoekernya, tetapi bila saat itu tidak ada apoeker sama sekali apotek harus tutup. Takperlu ribet dengan bahasa peraturan dan lain sebagainya, dan bila ternyata ditemukan apotek yang buka dan melakukan pelayanan tanpa apoteker, maka apotek langsung bisa dikenai sanksi. Berat ringannya sanksi tegantung dari suatu kesepakatan kita.
Sebenarnya pada tatap ideal jumlah apoteker tidak hanya ditentukan oleh jam buka apotek semata, tetapi juga ditetukan oleh banyak hal yang antara lain jumlah kebutuan pelayanan kefarmasian di apotek itu sendiri. Missal apotek dibuka hanya beberapa jam saja tetapi bila volume pelayanannya tinggi, maka dibutuhkan banyak apoteker.
Sedangkan hal-hal yang mempengaruhi jumlah kebutuhan pelayanan kefarmasian antara lain 1. jumlah penduduk 2. jumlah sarana kesehatan disekitar apotek, 3. tingkat ekonomi masyarakat, 4. kesadaran masyarakat akan hidup sehat, 5. tingkat pendidikan, 6. pusat keramaian seperti pasar dan ain-lain.
Bila kita menghitung jumlah kebutuhan pelayanan kefarmasian sebelum apotek buka akan sulit, dan menurut saya akan butuh suatu study yang cukup panjang. Simpelnya untuk saat ini adalah berlakukan saja TATAP. Meski pemberlakuan ini belum ideal. Atau gunakan saja standart-standart yang sudah ada saat ini missal dari WHO atau dari DepKes.
Ide untuk mensyaratkan jumlah apoteker minimal adalah baik tetapi belum mencerminkan suatu upaya pelayanan kesehatan yang ideal. Oleh karena itu ke depan ISFI dan HISFARMA harus ampu melakukan penelitian-penelitian yang lebih lengkap akan kebutuhan apoteker kedepan. Dengan menghitung faktor-faktor yang mempengaruhi. Yang paling penting saat ini adalah kesepakatan bila TATAP tak jalan harus ada sanksi sesuai kesepakatan kita. Bila kita sudah sepakat dan ternyata apotek tak ada apotekernya saat jam buka, maka apotk harus diberi sanksi seperti kesepakatan. Karena bila bipersaratkan julam apoteker minimal dan ternyata apoteker minimal itu ternyata hanya nama doang ya tak ada gunanya.
Kesimpulan saya TATAP adalah bukan dengan mensyaratkan jumla minimal apoteker yang ada diapotek, tetapi apoteker harus ada saat jam buka apotek. Mungkin apotek bisa saja butuh banyak apoteker, bila dalam apotek apotekernya hanya mampu bekerja beberapa sip saja, missal hanya 2sip dalam satu minggu. Kita harus pula menghargai bila apoteker praktek dalam satu muinggu hanya beberapa sip saja, yang penting adalah keberadaan apoteker saat jam buka apotek.
MARILAH KITA TUTUP APOTEK KITA BILA KITA BERHALANGAN HADIR DIAPOTEK PADA SAAT JAM BUKA APOTEK.
Saya buka web isfi, ada tulisan dengan judul PERANAN APOTEKER MENUJU INDONESIA SEHAT 2010. disana ada tulisan yang menurut pemahaman aku, mengajak untuk menyediakan minimal 2 apoteker pada apotek yang melayani masyarakat diatas 8jam dan minimal 3 apoteker pada apotek yang buka 24 jam. Menurut aku adalah ide yang bagus yang patut kita dukung.
Cuma sebelum diterapkan sebaiknya diadakan penelitian dulu apakah jumlah minimal itu sudah sesuai dengan keadaan lapangan. Jangan-jangan setelah diterapkan kita sendiri yang akhirnya kelabakan karena ternyata tidak sesuai dengan keberadaan kita sendiri. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum sesuatuhal itu diputuskan. Sebagai contoh, apotek banyak yang buka pagi sore (2 sip) saat ini, senin sampai senin lagi. Bila terjadi seperti itu bagaimana dengan hari minggu, tak mungkin apoteker yang apoteknya bukan punyanya sendiri akan mau masuk 7 hari kerja.
Atau pada kasus lain, bagaimana apotek sekarang yang ditunggui sendiri oleh apotekernya yang juga menjadi rumahnya, dan bila berhalangan hadir akan ditutup, dan biasa kerja lebih dari 10 jam per hari. Sebaiknya ada penelitian-penelitian, yang salah satunya adalah berapa jam apoteker dapat bekerja dengan optimal selama satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun dan sebagainya. Karena kemampuan setiap orang dalam bekerja adalah berbeda-beda.
Selain harus ada penelitian didalam kemampuan apoteker sendiri, juga harus diteliti tentang keberadaan apotek itu sendiri saat ini, apakah sudah memenuhi syarat atau belum sama sekali yang selanjutnya harus diambil suatu tindakan agar apotek menuju ideal. Harusnya ada pemataan aptek dan kebutuhan model apotek, karena perbedaan strata sosial dalam masyarakat bisa jadi membutukan model apotek yang berbeda. Dalam setiap mode harus dibuat bentukidealnya.
Sebenarnya lebih simple bila kita mengsaratkan saja TATAP atau tak ada apoteker tak ada pelayanan, karena berapapun jumlah apoekernya, tetapi bila saat itu tidak ada apoeker sama sekali apotek harus tutup. Takperlu ribet dengan bahasa peraturan dan lain sebagainya, dan bila ternyata ditemukan apotek yang buka dan melakukan pelayanan tanpa apoteker, maka apotek langsung bisa dikenai sanksi. Berat ringannya sanksi tegantung dari suatu kesepakatan kita.
Sebenarnya pada tatap ideal jumlah apoteker tidak hanya ditentukan oleh jam buka apotek semata, tetapi juga ditetukan oleh banyak hal yang antara lain jumlah kebutuan pelayanan kefarmasian di apotek itu sendiri. Missal apotek dibuka hanya beberapa jam saja tetapi bila volume pelayanannya tinggi, maka dibutuhkan banyak apoteker.
Sedangkan hal-hal yang mempengaruhi jumlah kebutuhan pelayanan kefarmasian antara lain 1. jumlah penduduk 2. jumlah sarana kesehatan disekitar apotek, 3. tingkat ekonomi masyarakat, 4. kesadaran masyarakat akan hidup sehat, 5. tingkat pendidikan, 6. pusat keramaian seperti pasar dan ain-lain.
Bila kita menghitung jumlah kebutuhan pelayanan kefarmasian sebelum apotek buka akan sulit, dan menurut saya akan butuh suatu study yang cukup panjang. Simpelnya untuk saat ini adalah berlakukan saja TATAP. Meski pemberlakuan ini belum ideal. Atau gunakan saja standart-standart yang sudah ada saat ini missal dari WHO atau dari DepKes.
Ide untuk mensyaratkan jumlah apoteker minimal adalah baik tetapi belum mencerminkan suatu upaya pelayanan kesehatan yang ideal. Oleh karena itu ke depan ISFI dan HISFARMA harus ampu melakukan penelitian-penelitian yang lebih lengkap akan kebutuhan apoteker kedepan. Dengan menghitung faktor-faktor yang mempengaruhi. Yang paling penting saat ini adalah kesepakatan bila TATAP tak jalan harus ada sanksi sesuai kesepakatan kita. Bila kita sudah sepakat dan ternyata apotek tak ada apotekernya saat jam buka, maka apotk harus diberi sanksi seperti kesepakatan. Karena bila bipersaratkan julam apoteker minimal dan ternyata apoteker minimal itu ternyata hanya nama doang ya tak ada gunanya.
Kesimpulan saya TATAP adalah bukan dengan mensyaratkan jumla minimal apoteker yang ada diapotek, tetapi apoteker harus ada saat jam buka apotek. Mungkin apotek bisa saja butuh banyak apoteker, bila dalam apotek apotekernya hanya mampu bekerja beberapa sip saja, missal hanya 2sip dalam satu minggu. Kita harus pula menghargai bila apoteker praktek dalam satu muinggu hanya beberapa sip saja, yang penting adalah keberadaan apoteker saat jam buka apotek.
MARILAH KITA TUTUP APOTEK KITA BILA KITA BERHALANGAN HADIR DIAPOTEK PADA SAAT JAM BUKA APOTEK.
Langganan:
Postingan (Atom)