Senin, 25 September 2017

BENCANA PCC

BENCANA PCC

Telah terjadi korban akibat penyalahgunaan bahan berbahaya dalam bentuk tablet pcc. Sudah selayaknya kejadian ini dimaknai sebagai bencana nasional akibat penggunaan bahan berbahaya. Ibarat gunung berapi, kasus ini mungkin merupakan letusan kecil yang dapat diikuti letusan besar sewaktu-waktu. Seharusnya pemerintah menetapkan kasus ini sebagai bencana nasional yang harus kita sikapi bersama sebagai anak bangsa agar nanti tidak terjadi lagi meskipun dalam bentuk lain.

Bila kita sandingkan dengan bencana thalidomide, bencana ini dapat saja lebih berbahaya apabila kita tidak menangani dengan benar. Meskipun kasus berbeda namun korban masal dapat saja terjadi disaat-saat yang akan datang. Keduanya dikemas dalam bentuk “obat” namun carisoprodol bukan lagi dapat dikategorikan sebagai obat. Dulu memang kategori obat, namun saat ini dalam kategori bahan berbahaya.

Thalidomid menjadi bencana karena disaat itu persaratan bahan kimia menjadi bahan kimia obat belum sedetail sekarang sehingga efek samping thalidomide yang berupa teratogenik tidak dapat dihindarkan. Sedangkan PCC justru terjadi dengan peristiwa terbalik, yang mana bahan kimia yang sudah diketahui efek jahatnya justru sengaja diperdagangkan. Sungguh suatu ironi.

Penyimpangan perilaku masyarakatlah merupakan menjadi faktor menyebabkan utama bencana bahan berbahaya. Mungkin korban meninggal akibat bahan berbahaya “oplosan” sudah mencapai ribuan, oplosan tersebut telah dikonsumsi secara menyimpang oleh masyarakat. Saat ini ada model baru bahan berbahaya yang namanya PCC yang tidak kalah berbahaya dibanding oplosan.

PCC mungkin merupakan salah satu perubahan perilaku menyimpang masyarakat dalam mengkonsumsi bahan berbahaya dan mungkin masih banyak perilaku menyimpang lain. Perubahan tersebut karena PCC berbentuk tablet, kecil, mudah dibawa, transaksi online gampang dan sebagainya. Untuk itulah penanganan PCC harus cepat dan menyeluruh.

Kemasan PCC yang lebih praktis dibandingkan oplosan memungkinkan menjadi alasan utama perubahan perilaku menyimpang. Sehingga patut  dicurigai jalur ditribusi dan penggunanya mempunyai kesamaan atau mungkin memang sama. Apalagi menyamarkan bahan berbahaya dalam bentuk tablet dapat menjadi salah satu cara untuk lebih memudahkan pemasaran PCC karena lebih meyakinkan bahwa seakan PCC memang produk industri farmasi yang berkualitas.

PERAN APOTEKER DALAM BENCANA BAHAN BERBAHAYA
Sebagai tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dibidang farmasi, apoteker sudah seharusnya ikut berperan dalam menanggulangi bencana bahan berbahaya. Sesuai porsi tentunya. Sesuai keahlian dan kewenangannya.

Mungkin aka ada pertanyaan tentang peran apoteker dalam membantu menanggulangi bahan berbahaya karena bahan berbahaya tidak berada di apotek dan apoteker tidak terlibat menangani kasus. Namun kekuatan apoteker untuk memberikan pelayanan kognitif kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan kesadaran dan bagaimana masyarakat dapat berperilaku sehat di bidang farmasi. Perilaku sehat farmasi adalah ujung dari pelayanan kefarmasian. Masyarakat yang mendapatkan obat tanpa pelayanan kognitif bisa jadi tidak ada gunanya atau bahkan hanya akan membahayakan jiwanya. Kata lain untuk menggambarkan hal tersebut adalah apoteker di apotek tidak hanya menyediakan obat untuk masyarakat namun yang lebih penting adalah membantu masyarakat agar dapat menggunakan obat dengan benar dan mematuhi penggunaan obat.

Pelayanan kefarmasian tidak hanya berhenti sampai disitu, masih ada evaluasi dan monitoring. Evaluasi dan monitoring merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pelayanan kognitif. Peran evaluasi dan monitoring dapat mengontrol penggunaan obat oleh masyarakat. Penggunaan obat oleh masyarakat yang didapat dari berbagai sumber. Penggunaan obat palsu, substandar atau penggunaan bahan berbahaya  mungkin bisa ditemukan di tahap ini. Namun temuan ini belum ada mekanisme bagaimana dan kemana melaporkannya.

Pelayanan kognotif merupakan salah satu cara yang  efektif untuk membantu menangulangi bencana bahan berbahaya. Untuk melengkapi peran tersebut apotek tempat apoteker praktek dapat menjadi pusat informasi obat masyarakat termasuk bahan berbahaya. Kelebihan apotek sebagai pusat informasi obat masyarakat adalah mudah diakses dan saat ini gratis. Hal tersebut sudah terjadi di apotek saya sejak apotek saya buka lebih dari 20 tahun yang lalu.

Beberapa hal yang sering menjadi masalah di masyarakat adalah pemahaman obat yang berkualitas. Obat yang berkualitas di mata masyarakat seringkali hanya dimaknai sebagai “cespleng” dan mahal. Obat yang berkualitas di mata apoteker adalah obat yang disajikan dengan pelayanan kognitif yang cukup, diproduksi dan dikelola secara profesional, penyajian yang manusiawi, tetap terjaga keamanan dalam penggunaannya serta penggunaan yang sesuai indikasi.
Pelayanan kefarmasian jika dilihat dari kaca mata masyarakat, pelayanan kefarmasian yang telah dilakukan oleh siapa saja mungkin akan sama dengan yang dilakukan apoteker. Namun sebenarya sangat jauh berbeda. Penyalur obat tidak resmi seringkali hanya menyerahkan obat dengan pertimbangan ekonomi, berbeda dengan apoteker yang akan menyajikan obat setelah proses “pharmacotherapy workup” dilampaui yang diikuti pelayanan kognitif yang manusiawi sehingga masyarakat dapat berperilaku dan mematuhi penggunaan obat yang lebih menjamin kemanjuran dan keamanan. Proses inilah yang seringkali dianggap masyarakat birokratis dan mempersulit dan atau bertele-tele, sedikit intonasi tegas seringkali dianggap memarahi. Tidak jarang masyarakat akan berkomentar, “pak saya ini mau beli obat, bukan ingin dimarahi atau digurui”.

Persepsi sakit dan pengalaman menggunakan obat sendiri oleh masyarakat seringkali menjadi kendala yang harus diselesaikan serius dalam membangun kognitif masyarakat. Semua itu butuh keahlian apoteker dalam berkomunikasi. Komunikasi apoteker tentu saja akan menggunakan bahasa awam namun sarat dengan ilmu farmasi. Ilmu farmasi yang sangat luas yang menghabiskan masa muda apoteker.

Penyajian obat oleh apoteker komunitas seringkali dipandang sebelah mata, dengan kerendahan hati kita hampir tidak pernah melakukan protes karena akan menghabiskan energi. Sebagai misal pada perilaku penggunaan obat, apoteker harus menyelesaikan masalah kimia obat dapat mencapai reseptor, apoteker harus menyampaikan bagaimana berperilaku sesuai harapan teknologi farmasi, apoteker harus menyampaikan interaksi obat termasuk dengan perilaku dan makanan, dan sebagainya. Hanya apoteker yang memahami kimia obat sehingga berproses menjadi obat. Namun ujungnya sama dengan yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki kompetensi yaitu menyerahkan obat. Mengingat proses kognitif apoteker dalam menyelesaikan “personal medication needs” tidak terlihat mengharuskan apoteker tetap rendah hati.

Apa yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani kasus bahan berbahaya PCC saya rasa cukup baik, namun media justru memperkeruh. Satu contoh hal baik yang dilakukan pemerintah adalah sidak ke apotek, namun bahasa media adalah merazia apotek. Sidak pemerintah ke apotek bukan untuk maksud menyudutkan apotek, namun untuk membuktikan bahwa jalur legal masih terjaga. Sudah menjadi tugas bersama pemerintah dan apoteker adalah menjaga jalur ini.

Sinergi pemerintah dengan apoteker dalam meningkatkan kesehatan masyarakat salah satunya adalah dengan meningkatkan health literacy. Untuk mendapatkan hasil yang baik pemerintah sebaiknya menangani semua sarana obat yang tidak resmi termasuk swalayan. Apabila swalayan ingin menyediakan pelayanan kefarmasian harus mengurus ijin sebagai sarana kefarmasian. Pentingnya penangan ini adalah memudahkan edukasi karena masyarakat karena hanya mendapatkan pelayanan kognitif dari satu sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam banyak kasus, masyarakat yang sudah kita edukasi dengan baik seringkali berubah pemahamannya (kacau) setelah mendapat informasi dari sarana obat tidak resmi.  

Kesimpulan. Bencana PCC harus menjadi bencana nasional, dan apoteker harus menjadi penggerak utama untuk menangani bencana ini dan apoteker harus melakukan aksi nyata dalam berbagai kegiatan untuk membantu pemerintah menangani bencana bahan berbahaya.

Selamat Hari Apoteker Dunia.


Sabtu, 23 Agustus 2014

KEPADA GURUKU

Ya Tuhan, muliakanlah guru-guru hambamu. hari ini hamba mengetik dengan terharu.

Banyak hal yang telah aku dapatkan selama ini dari para guru-guru hambaMu ya Tuhan.
ucapan terima kasih semata tak akan cukup untuk aku sampaikan kepada mereka.
mereka adalah pelita di dalam kegelapan
yang menjadi petunjuk dan penerangan

Ya Tuhan, janganlah Engkau menghukum mereka karena kebodohan hambaMu
Ya Tuhan, muliakan mereka dengan setiap percikan cahaya yang telah disampaikan kepada ku
Ya Tuhan, muliakan mereka dengan setiap tetesan keringatnya
Ya Tuhan muliakanlah mereka dengan semua kata yang ada

Kebodohanku adalah dosa aku sendiri
kelelahanku adalah kesalahan aku sendiri

Semangatku adalah rahmadMu

Ya Tuhan, tiada kata yang cukup untuk terima kasihku
Ya Tuhan, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami

Ya Tuhan, sesungguhnya kemuliaan adalah milikMu
Ya Tuhan, semoga Engkau muliakan mereka






Sabtu, 11 Mei 2013

INVESTASI



INVESTASI

Sebagai profesional, apoteker dalam menjalankan praktek tentunya tidak akan lepas dari istilah investasi. Yang pada kali ini saya menulis investasi kognitif sebagai investasi profesi yang sangat penting, dan menjadi salah satu pondasi dan pilar dalam memajukan profesi. Sebagai pondasi, investasi kognitif akan mendasari semua kegiatan profesi yang bertanggung jawab, sedangkan sebagai pilar adalah belajar seumur hidup dengan terus memperkokoh kemampuan kognitif yang aktual dan ideal guna mencapai tingkatan profesi yang sekamsimal yang dapat dicapai.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ada sejawat kita yang mengawali membuka praktek mandiri yang melengkapi praktek dengan investasi kognitif dengan membeli buku yang nilainya menurut saya waktu itu adalah cukup fantastik (mahal dalam kacamata saya).  Beberapa tahun yang lalu saat saya mengunjungi apoteknya, saya meliha investasi kognitifnya (buku) sangat banyak, yang tentunya menjadi investasi yang sangat mahal. Mungkin bila dilihat dari kebanyakan praktisi yang berpraktek mandiri adalah “kegilaan” dalam investasi kognitif.

Sebenarnya investasi tersebutlah yang menjadi kelebihannya dan menjadi kunci perjalanan karirnya dalam menjalankan sekaligus membangun profesi. Dalam kacamata saya menjadi sangat wajar bila sejawat kita tersebut cukup sukses dalam banyak hal.

Dalam pendapat saya, investasi kognitif dalam membangun pratek profesi dapat dilakukan dengan setidaknya dua cara, yang pertama adalah berdasarkan kasus dan yang kedua berdasarkan minat. Yang keduanya saling melengkapi.

Investasi kognitif berdasarkan kasus saat menjalankan praktek profesi merupakan investasi kognitif yang didasarkan pada kebutuhan dasar profesi saat menjalankan praktek. Sebagai contohnya, yang tadi sebelum saya menulis ini, beliau baru saja telepon saya, menceritakan semisal ada pasien datang ke apotek dengan membawa data laboratorium dengan nilai diluar kewajaran, otomatis apoteker harus membuka buku atau mencari rujukan kemana saja untuk menjawab kasus tersebut. Sehingga, mau atau tidak apoteker harus belajar secara terus menerus mengikuti sejumlah kasus yang sering kali muncul dalam praktek profesi. Mulai dari kasus yang sederhana sampai pada kasus yang cukup rumit.

Dalam praktek memecahkan kasus yang jumlahnya bisa mencapai ratusan perhari yang berarti juga belajar karena didalam memecahkan kasus tersebut tetap dibutuhkan kemampuan kognitif yang actual dan ideal, investasi kognitif yang didasarkan pada kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang muncul menjadi juga penting.  Kita menyadari bahwa tidak mudah atau terkadang sangat sulit memecahkan kasus tanpa bantuan rujukan yang mempunyai relevansi. Mungkin cara pemecahan dapat kita sederhanakan, atau kita selesaikan dengan asal-asalan toh masyarakat belum tentu memahami bila tidak dibantu dengan maksimal, toh masyarakat terkadang juga tidak melek kesehatan, tetapi sebagai professional yang mempunyai tanggung jawab tentu kita akan berbuat yang sebaiknya yang bisa dilakukan, oleh karenanya investasi rujukan atau investasi kognitif sebagai alat bantu dalam memecahkan setiap kasus yang muncul sangat diperlukan.

Berikutnya adalah investasi kognitif yang berdasarkan minat. Pada investasi ini kita tidak mengaitkan dengan kasus secara spesifik. Kita cukup memikirkan apa yang menjadi minat kita termasuk dalam mengembangkan profesi. Yang secara langsung dengan profesi keterkaitannya bisa jadi tidak berhubungan sama sekali, tetapi dapat pula berhubungan sama sekali. Semisal terkait kognitif manajemen, perilaku, edukasi, sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa, dan sebagainya.  Yang kesemuanya itu kalau kita turuti dapat menyita waktu yang cukup banyak dan juga menyita biaya yang tidak sedikit yang belum tentu sebagian dari kita para praktisi berani mengambil untuk mengembangkan profesi.

Saya pernah menulis, yang mana dalam menjalankan praktek profesi, setidaknya apoteker menyisakan waktu sekitar satu jam dalam satu hari untuk up date kemampuan, mengembangkan, dan mempertahankan kemampuan kognitif. Dan sangat bermimpi bila kita tidak pernah sama sekali menjaga kemampuan kognitif kita mengharapkan keberhasilan.


Minggu, 13 Mei 2012

ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS


ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS

Sampai saat ini masih banyak apoteker yang menganggap puncak dari farmasi komunitas adalah farmakoterapi, meskipun sebenarnya farmakoterapai adalah sebagian dari ilmu farmasi komunitas. Ketidak pahaman ini sering dilontarkan oleh sejawat diluar farmasi komunitas yang memang membutuhkan farmakoterapi sebagai “hardskill”. Sehingga cara memandang masalah yang sempit menjadi mengurung diri kita masing-masing pada titik sempit profesi.

Pada farmasi komunitas, masalah aspek farmasetika dan aspek farmakoterapi tetap menjadi domain penting yang tidak mungkin hilang. Bahkan harus terus selalu berkembang sesuai kebutuhan pada perkembangan jaman. Perkembangan ilmu praktis terkait aspek farmasetika dan aspek farmakoterapi akan tetap berkembang pesat pada saat praktek profesi terjadi. Perkembangan ini akan semakin cepat lagi bila data praktek profesi yang menjadi bukti praktek semakin banyak sebagai bagian dalam menyusun “evidence based practice”.

Seperti pada acara pelantikan pengurus HISFARMA PD IAI JATIM kemarin, ada yang menanyakan terkait sikap kita bila ada pasien yang menolak edukasi. Pertanyaan semacam ini sering muncul pada praktisi baru. Mungkin juga akan muncul pada mereka yang bukan dari farmasi komunitas. Dan mengapa hal ini muncul, tentunya terkait pada bagaimana kita mampu mengatasi aspek sosial. Dan tidak mengherankan bila aspek sosial menjadi dominan pada farmasi komunitas, karena siapapun yang sakit, yang kita hadapi dalam penyerahan obat selalu manusia. Meskipun pasiennya adalah seekor kucing.

Pada paham farmasi komunitas, teknologi obat yang baik dan pemahaman farmakoterapi yang baik dari apoteker  masih memungkinkan pengobatan akan gagal bila apoteker tidak memahami aspek sosial dengan benar. Sehingga permasalahan terkait aspek sosial juga harus diselesaikan dengan baik. Dan aspek sosial tidak hanya terkait komunikasi, tetapi lebih dari itu.

Hal dominan yang sering menjadi masalah dari aspek sosial pada farmasi komunitas adalah hambatan psikologi, hambatan sosiologi dan hambatan komunikasi. Yang mana hambatan tersebut dapat terjadi pada diri pasien atau dapat terjadi pada diri apoteker. Ketiga hambatan tersebut umumnya kurang dipahami dan kurang menarik bagi apoteker yang tidak praktek pada komunitas. Tetapi hal tersebut  justru akan sangat menarik bagi praktisi farmasi komunitas, bahkan pada beberapa praktisi komunitas mendudukan aspek sosial ini sebagai pilar utama ilmu kefarmasian.

Oleh karenanya untuk dapat mengatasi ketiga masalah tersebut diatas, kita sebagai praktisi komunitas tidak dapat hanya membaca buku teori, tetapi kita harus mampu melakukan interaksi sosial dengan benar dan dalam jam yang banyak. Meskipun banyak teori yang dapat dibangun untuk menjelaskan ketiga hambatan diatas, tetapi dari kesemuanya tetap dibutuhkan praktek yang nyata.

Praktek nyata selalu dibutuhkan untuk mengekspresikan suatu ilmu. Semisal pada masalah introvert yang terjadi pada diri pasien, apoteker harus mampu mengali informasi penting yang menjadi pesan utama agar tujuan terapi tercapai. Pada masalah ini mungkin saja kita juga mengalami kegagalan bila pendekatan yang kita gunakan kurang tepat atau bila kita kurang fokus. Sehingga menajamkan ilmu sosial harus selalu dilakukan selama menyebut dirinya praktisi farmasi komunitas.

Seorang apoteker yang mempunyai jam terbang cukup masih mungkin mengalami kegagalan dalam menghadapi aspek sosial  karena dunia tidak ada yang seratus persen. Oleh karenanya melakukan praktek nyata guna mengasah ilmu praktis setiap saat menjadi sangat penting apalagi bagi praktisi baru. Bagi praktisi baru, ada baiknya bila menjadikan ketrampilan sosial  sebagai focus yang juga harus dikembangkan guna meningkatkan kualitas profesi diri sendiri. Hal itu dilakukan mengingat akan pentingnya aspek sosial dalam keberhasilan profesi apoteker komunitas.

Focus pasien berarti juga focus pada aspek sosial dari pasien itu sendiri. Karena setiap pasien bersifat spesifik dan perlu mendapat perhatian secara khusus. Oleh karenanya pemahaman ilmu sosial oleh profesi apoteker mejadi penting, karena ilmu sosial inilah yang mengatarkan semua aspek kefarmasian sampai pada masyarakat.

“BISA JADI ASPEK FARMASETIKA YANG HEBAT DAN PEMAHAMAN FARMAKOTERAPI YANG HEBAT DARI APOTEKER AKAN GAGAL MANAKALA APOTEKER JUGA GAGAL DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU SOSIAL YANG DIMILIKINYA”

Selamat atas dilantiknya pengurus HISFARMA PD IAI JATIM kemarin, dan tulisan ini menjadi salah satu dedikasi saya pada HISFARMA.

Kamis, 28 Juli 2011

KOMUNIKASI

KOMUNIKASI


Banyak teori komunikasi yang kembangkan oleh banyak orang. Dan tidak ada salahnya jika saya juga mempunyai pandangan lain tentang teori komunikasi. Perkara semua orang tidak setuju, tetapi ini merupakan salah satu pengalaman saya dengan yang namanya komunikasi.

Komunikasi adalah hubungan batin antara kita dengan lingkungan kita yang didalam hubungannya ada interaksi pesan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup kita, yang didalam berhubungan dapat melibatkan verbal atau non verbal. Dengan demikian bila ada interaksi pesan semisal verbal dengan berita bohong dan tidak ada interaksi batin, maka komunikasi tidak terjadi, atau hanya sekedar komunikasi semu.

Selanjutnya dengan komunikasi. Komunikasi diantara kita dapat menggunakan bahasa verbal atau non verbal. Sedangkan komunikasi dengan tanaman dengan merawatnya. Komunikasi dengan hewan ternak kita dengan memeliharanya. Kesemua itu membutuhkan hubungan batin yang kuat bila mengingikan komunikasi yang lebih baik. Komunikasi dengan Tuhan dengan berdoa yang tulus, hati yang bersih. Berkomunikasi dengan sesama kita sebenarnya juga menjadi cerminan berkomunikasi dengan Tuhan yang membutuhkan hati yang bersih, dengan kata lain hubungan horizontal adalah ibadah kepadaNya.

Oleh karenanya, didalam berkomunikasi antara kita dengan pasien, akan lebih baik bila kita tidak hanya sekedar komunikasi verbal. Tetapi kita sebaiknya mampu lebih dari itu dengan mengkomunkasikan hati kita sehingga akan ada hubungan batin antara kita dengan pasien. Karena kesuksesan dalam berkomunikasi adalah tujuan bersama dengan perbedaan kepentingan. Sukses bagi apoteker adalah eksistensi profesi dan sukses bagi pasien adalah keberhasilan pengobatan yang semua itu didasarkan pada nilai-nilai kemanusia yang berkembang dalam bangsa ini.

Sehingga komunikasi dalam farmasi adalah hubungan batin yang kuat antara apoteker dengan pasien menggunakan pesan-pesan profesional agar didapat hasil layanan kesehatan yang maksimal yang didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku pada bangsa kita.

Minggu, 03 Juli 2011

ETIKA

ETIKA



Seringkali kita terjebak pada pemahaman etika sebagai pegetahuan. Sebagai pengetahuan, etika hanya untuk sebagai sekedar tahu jikalau nanti profesional dalam menjalankan praktek profesi akan bersentuhan dengan etika. Pengetahuan ini seringkali belum diikuti dengan pemahaman untuk implementasinya.

Hal yang seharusnya kita perkuat dalam mebangun profesi apoteker dalam hal etika adalah memperkuat pemahaman etika dalam sisi praktis. Dalam sisi praktis, etika tidak hanya bisa diajarkan sebagai “tulisan”, tetapi etika harus diajarkan sebagai contoh-contoh penerapan dalam menjalankan praktek profesi, yang profesional dan bertanggung jawab. Hal ini tentu saja akan menjadikan lebih mudah bagi para calon apoteker atau apoteker dalam mengambil analogi-analogi etika, karena pencontohan sesuai dengan praktek profesi yang update.

Janganlah kita mencontohkan etika 10 atau mungkin malah 20 tahun yang lalu sebagai aktual etika saat ini atau saat yang akan datang. Untuk itu, para praktisi aktif harus menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan etika dalam membangun profesi. Dan para praktisi ini tidak bisa serta merta langsung dilibatkan, tetapi tentu saja harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan-pelatihan etika agar dapat merumuskan etika yang dipunyainya. Dalam hal ini, etika sebagai ilmu dan sebagai terapan harus dikembangkan secara bersama-sama.

Aktual etika sebagai ilmu terapan harus terus berjalan sesuai perkembangan jaman, bahkan perkiraan-perkiraan akan perkembangan etika sebagai ilmu terapan kedepan juga harus dibangun sedemikian rupa agar para profesional tidak “terkejut” apabila ternyata etika tiba-tiba berkembang menjadi sangat pesat.

Pembangunan etika profesi kearah ilmu terapan yang sangat implementatif menjadi impian para praktisi, yang seharusnya juga diajarkan oleh para praktisi dan selalu didiskusikan di antara para praktisi dan dikembangkan sebagai ilmu oleh para praktisi, yang selanjutnya praktisi diapresiasi dengan difasilitasi untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Etika sudah sewajarnya bila dibangun di atas impian praktisi, sebagai salah satu impian dalam mengembangkan profesi.

Jumat, 01 Juli 2011

PASIEN

PASIEN


Pemaknaan pasien bagi apoteker mungkin berbeda dengan tenaga kesehatan lain. Karena profesi apoteker adalah spesifik dan berbeda dengan tenaga kesehatan lain maka dalam hubungan pasien-apoteker tidak dapat dimaknai dengan hubungan pasien-dokter, atau hubungan paisien-perawat. Karena ada batasan-batasan perbedaan kompetensi dalam menjalankan praktek profesi masing-masing.

Pada hubungan pasien-apoteker, pasien dapat dimaknai sebagai anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa apoteker untuk tujuan sehat, sesuai dengan kompetensi apoteker. Yang mana hubungan tersebut terkait kepuusan, tindakan dan pekerjaan profesi. Sehingga pada batasan ini seorang apoteker sangat tidak boleh memaknai hubungan pasien-apoteker dengan hubungan pasien-tenaga kesehatan lain. Bisa jadi akan sangat berbeda maknanya.

Dalam mengembangkan farmasi komunitas, seharusnya kita tidak “dalam bayang-bayang” tenaga kesehatan lain. Termasuk dalam memaknai pasien. Kita harus mampu memaknai pasien sesuai pelayanan profesional yang mampu kita lakukan. Bukannya kita menonjolkan ego profesi, tetapi kita menonjolkan kompetensi profesi yang telah kita kembangkan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kepentingan masyarakat luas.

Pengembangan profesi bukan untuk mengembangkan ego, tetapi untuk mengembangkan kepedulian profesi terhadap kepentingan masyarakat luas. Janganlah menjadikan materi sebagai barometer keberhasilan pengembangan ini, tetapi ketercukupan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasianlah yang seharusnya menjadi barometer.

Dengan demikian, pasien dimata apoteker adalah setiap orang sakit atau sehat yang membutuhkan layanan profesional kefarmasian untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, baik dengan menggunakan tools (sediaan farmasi), atau hanya sebatas informasi untuk edukasi.