Tampilkan postingan dengan label HIMPUNAN SEMINAT FARMASI MASYARAKAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIMPUNAN SEMINAT FARMASI MASYARAKAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS


ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS

Sampai saat ini masih banyak apoteker yang menganggap puncak dari farmasi komunitas adalah farmakoterapi, meskipun sebenarnya farmakoterapai adalah sebagian dari ilmu farmasi komunitas. Ketidak pahaman ini sering dilontarkan oleh sejawat diluar farmasi komunitas yang memang membutuhkan farmakoterapi sebagai “hardskill”. Sehingga cara memandang masalah yang sempit menjadi mengurung diri kita masing-masing pada titik sempit profesi.

Pada farmasi komunitas, masalah aspek farmasetika dan aspek farmakoterapi tetap menjadi domain penting yang tidak mungkin hilang. Bahkan harus terus selalu berkembang sesuai kebutuhan pada perkembangan jaman. Perkembangan ilmu praktis terkait aspek farmasetika dan aspek farmakoterapi akan tetap berkembang pesat pada saat praktek profesi terjadi. Perkembangan ini akan semakin cepat lagi bila data praktek profesi yang menjadi bukti praktek semakin banyak sebagai bagian dalam menyusun “evidence based practice”.

Seperti pada acara pelantikan pengurus HISFARMA PD IAI JATIM kemarin, ada yang menanyakan terkait sikap kita bila ada pasien yang menolak edukasi. Pertanyaan semacam ini sering muncul pada praktisi baru. Mungkin juga akan muncul pada mereka yang bukan dari farmasi komunitas. Dan mengapa hal ini muncul, tentunya terkait pada bagaimana kita mampu mengatasi aspek sosial. Dan tidak mengherankan bila aspek sosial menjadi dominan pada farmasi komunitas, karena siapapun yang sakit, yang kita hadapi dalam penyerahan obat selalu manusia. Meskipun pasiennya adalah seekor kucing.

Pada paham farmasi komunitas, teknologi obat yang baik dan pemahaman farmakoterapi yang baik dari apoteker  masih memungkinkan pengobatan akan gagal bila apoteker tidak memahami aspek sosial dengan benar. Sehingga permasalahan terkait aspek sosial juga harus diselesaikan dengan baik. Dan aspek sosial tidak hanya terkait komunikasi, tetapi lebih dari itu.

Hal dominan yang sering menjadi masalah dari aspek sosial pada farmasi komunitas adalah hambatan psikologi, hambatan sosiologi dan hambatan komunikasi. Yang mana hambatan tersebut dapat terjadi pada diri pasien atau dapat terjadi pada diri apoteker. Ketiga hambatan tersebut umumnya kurang dipahami dan kurang menarik bagi apoteker yang tidak praktek pada komunitas. Tetapi hal tersebut  justru akan sangat menarik bagi praktisi farmasi komunitas, bahkan pada beberapa praktisi komunitas mendudukan aspek sosial ini sebagai pilar utama ilmu kefarmasian.

Oleh karenanya untuk dapat mengatasi ketiga masalah tersebut diatas, kita sebagai praktisi komunitas tidak dapat hanya membaca buku teori, tetapi kita harus mampu melakukan interaksi sosial dengan benar dan dalam jam yang banyak. Meskipun banyak teori yang dapat dibangun untuk menjelaskan ketiga hambatan diatas, tetapi dari kesemuanya tetap dibutuhkan praktek yang nyata.

Praktek nyata selalu dibutuhkan untuk mengekspresikan suatu ilmu. Semisal pada masalah introvert yang terjadi pada diri pasien, apoteker harus mampu mengali informasi penting yang menjadi pesan utama agar tujuan terapi tercapai. Pada masalah ini mungkin saja kita juga mengalami kegagalan bila pendekatan yang kita gunakan kurang tepat atau bila kita kurang fokus. Sehingga menajamkan ilmu sosial harus selalu dilakukan selama menyebut dirinya praktisi farmasi komunitas.

Seorang apoteker yang mempunyai jam terbang cukup masih mungkin mengalami kegagalan dalam menghadapi aspek sosial  karena dunia tidak ada yang seratus persen. Oleh karenanya melakukan praktek nyata guna mengasah ilmu praktis setiap saat menjadi sangat penting apalagi bagi praktisi baru. Bagi praktisi baru, ada baiknya bila menjadikan ketrampilan sosial  sebagai focus yang juga harus dikembangkan guna meningkatkan kualitas profesi diri sendiri. Hal itu dilakukan mengingat akan pentingnya aspek sosial dalam keberhasilan profesi apoteker komunitas.

Focus pasien berarti juga focus pada aspek sosial dari pasien itu sendiri. Karena setiap pasien bersifat spesifik dan perlu mendapat perhatian secara khusus. Oleh karenanya pemahaman ilmu sosial oleh profesi apoteker mejadi penting, karena ilmu sosial inilah yang mengatarkan semua aspek kefarmasian sampai pada masyarakat.

“BISA JADI ASPEK FARMASETIKA YANG HEBAT DAN PEMAHAMAN FARMAKOTERAPI YANG HEBAT DARI APOTEKER AKAN GAGAL MANAKALA APOTEKER JUGA GAGAL DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU SOSIAL YANG DIMILIKINYA”

Selamat atas dilantiknya pengurus HISFARMA PD IAI JATIM kemarin, dan tulisan ini menjadi salah satu dedikasi saya pada HISFARMA.

Kamis, 28 Juli 2011

KOMUNIKASI

KOMUNIKASI


Banyak teori komunikasi yang kembangkan oleh banyak orang. Dan tidak ada salahnya jika saya juga mempunyai pandangan lain tentang teori komunikasi. Perkara semua orang tidak setuju, tetapi ini merupakan salah satu pengalaman saya dengan yang namanya komunikasi.

Komunikasi adalah hubungan batin antara kita dengan lingkungan kita yang didalam hubungannya ada interaksi pesan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup kita, yang didalam berhubungan dapat melibatkan verbal atau non verbal. Dengan demikian bila ada interaksi pesan semisal verbal dengan berita bohong dan tidak ada interaksi batin, maka komunikasi tidak terjadi, atau hanya sekedar komunikasi semu.

Selanjutnya dengan komunikasi. Komunikasi diantara kita dapat menggunakan bahasa verbal atau non verbal. Sedangkan komunikasi dengan tanaman dengan merawatnya. Komunikasi dengan hewan ternak kita dengan memeliharanya. Kesemua itu membutuhkan hubungan batin yang kuat bila mengingikan komunikasi yang lebih baik. Komunikasi dengan Tuhan dengan berdoa yang tulus, hati yang bersih. Berkomunikasi dengan sesama kita sebenarnya juga menjadi cerminan berkomunikasi dengan Tuhan yang membutuhkan hati yang bersih, dengan kata lain hubungan horizontal adalah ibadah kepadaNya.

Oleh karenanya, didalam berkomunikasi antara kita dengan pasien, akan lebih baik bila kita tidak hanya sekedar komunikasi verbal. Tetapi kita sebaiknya mampu lebih dari itu dengan mengkomunkasikan hati kita sehingga akan ada hubungan batin antara kita dengan pasien. Karena kesuksesan dalam berkomunikasi adalah tujuan bersama dengan perbedaan kepentingan. Sukses bagi apoteker adalah eksistensi profesi dan sukses bagi pasien adalah keberhasilan pengobatan yang semua itu didasarkan pada nilai-nilai kemanusia yang berkembang dalam bangsa ini.

Sehingga komunikasi dalam farmasi adalah hubungan batin yang kuat antara apoteker dengan pasien menggunakan pesan-pesan profesional agar didapat hasil layanan kesehatan yang maksimal yang didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku pada bangsa kita.

Minggu, 03 Juli 2011

ETIKA

ETIKA



Seringkali kita terjebak pada pemahaman etika sebagai pegetahuan. Sebagai pengetahuan, etika hanya untuk sebagai sekedar tahu jikalau nanti profesional dalam menjalankan praktek profesi akan bersentuhan dengan etika. Pengetahuan ini seringkali belum diikuti dengan pemahaman untuk implementasinya.

Hal yang seharusnya kita perkuat dalam mebangun profesi apoteker dalam hal etika adalah memperkuat pemahaman etika dalam sisi praktis. Dalam sisi praktis, etika tidak hanya bisa diajarkan sebagai “tulisan”, tetapi etika harus diajarkan sebagai contoh-contoh penerapan dalam menjalankan praktek profesi, yang profesional dan bertanggung jawab. Hal ini tentu saja akan menjadikan lebih mudah bagi para calon apoteker atau apoteker dalam mengambil analogi-analogi etika, karena pencontohan sesuai dengan praktek profesi yang update.

Janganlah kita mencontohkan etika 10 atau mungkin malah 20 tahun yang lalu sebagai aktual etika saat ini atau saat yang akan datang. Untuk itu, para praktisi aktif harus menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan etika dalam membangun profesi. Dan para praktisi ini tidak bisa serta merta langsung dilibatkan, tetapi tentu saja harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan-pelatihan etika agar dapat merumuskan etika yang dipunyainya. Dalam hal ini, etika sebagai ilmu dan sebagai terapan harus dikembangkan secara bersama-sama.

Aktual etika sebagai ilmu terapan harus terus berjalan sesuai perkembangan jaman, bahkan perkiraan-perkiraan akan perkembangan etika sebagai ilmu terapan kedepan juga harus dibangun sedemikian rupa agar para profesional tidak “terkejut” apabila ternyata etika tiba-tiba berkembang menjadi sangat pesat.

Pembangunan etika profesi kearah ilmu terapan yang sangat implementatif menjadi impian para praktisi, yang seharusnya juga diajarkan oleh para praktisi dan selalu didiskusikan di antara para praktisi dan dikembangkan sebagai ilmu oleh para praktisi, yang selanjutnya praktisi diapresiasi dengan difasilitasi untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Etika sudah sewajarnya bila dibangun di atas impian praktisi, sebagai salah satu impian dalam mengembangkan profesi.

Jumat, 01 Juli 2011

PASIEN

PASIEN


Pemaknaan pasien bagi apoteker mungkin berbeda dengan tenaga kesehatan lain. Karena profesi apoteker adalah spesifik dan berbeda dengan tenaga kesehatan lain maka dalam hubungan pasien-apoteker tidak dapat dimaknai dengan hubungan pasien-dokter, atau hubungan paisien-perawat. Karena ada batasan-batasan perbedaan kompetensi dalam menjalankan praktek profesi masing-masing.

Pada hubungan pasien-apoteker, pasien dapat dimaknai sebagai anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa apoteker untuk tujuan sehat, sesuai dengan kompetensi apoteker. Yang mana hubungan tersebut terkait kepuusan, tindakan dan pekerjaan profesi. Sehingga pada batasan ini seorang apoteker sangat tidak boleh memaknai hubungan pasien-apoteker dengan hubungan pasien-tenaga kesehatan lain. Bisa jadi akan sangat berbeda maknanya.

Dalam mengembangkan farmasi komunitas, seharusnya kita tidak “dalam bayang-bayang” tenaga kesehatan lain. Termasuk dalam memaknai pasien. Kita harus mampu memaknai pasien sesuai pelayanan profesional yang mampu kita lakukan. Bukannya kita menonjolkan ego profesi, tetapi kita menonjolkan kompetensi profesi yang telah kita kembangkan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kepentingan masyarakat luas.

Pengembangan profesi bukan untuk mengembangkan ego, tetapi untuk mengembangkan kepedulian profesi terhadap kepentingan masyarakat luas. Janganlah menjadikan materi sebagai barometer keberhasilan pengembangan ini, tetapi ketercukupan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasianlah yang seharusnya menjadi barometer.

Dengan demikian, pasien dimata apoteker adalah setiap orang sakit atau sehat yang membutuhkan layanan profesional kefarmasian untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, baik dengan menggunakan tools (sediaan farmasi), atau hanya sebatas informasi untuk edukasi.

Selasa, 24 Mei 2011

PENGAKTUALAN ILMU

PENGAKTUALAN ILMU

Tidak salah, ternyata banyak manfaat yang bisa saya ambil karena mengikuti kuliah S2 manajemen dan kebijakan farmasi. Banyak sekali pengaktualan ilmu terkait praktek profesi di apotek. Yang banyak menyita tenaga dan pikiran untuk itu. Sangat-sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan praktek profesi. Dari kaca mata farmasi masyarakat, semua sangat-sangat bagus.

Sangat terkesima, ternyata banyak hal terkait praktek dikomunitas yang selama ini kita tidak tahu, menjadi tahu logika-logika dasar penyusun praktek tersebut. Banyak juga yang selama ini kita abaikan dan tidak kita anggap penting, ternyata adalah sangat-sangat penting. kesibukan dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi saya kurang produktif menulis. bukan karena tidak ada ide, tetapi justru terlalu banyak ide sehingga bingung memulai dari mana.

selama ini blog hanya saya isi konseptual praktek profesi dan saya selalu berpikir holistik. tetapi setelah mendapat mata kuliah filsafat, saya merasa apa yang saya tulis kuranglah holistik. Dan dasar-dasar penulisan saya di blog ini mungkin juga kurang kuat pada beberapa hal. Saya merasa sangat berutung bertemu banyak guru. Apa yang kita cari selama bertahun-tahun, ternyata hanya butuh waktu beberapa jam tatap muka saja. demikian ini juga dirasakan oleh sejawat yang lain.

Semakin dalam kuliah, semakin banyak tugas dan semakin tersesat saya dalam ilmu nyata praktek profesi yang lebih baik. Semoga saya bisa memanfaatkan kuliah Manajemen dan Kebijakan Farmasi ini, untuk diri saya sendiri, keluarga, masyarakat, sejawat dan bangsa.

Sabtu, 19 Maret 2011

MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN FARMASI

MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN FARMASI

Akhir-akhir ini blog kurang aktif, karena adminnya lagi memnyiapkan pendidikan S2. bidang ilmu farmasi, minat “Manajemen dan Kebijakan Farmasi”. Saat ini kuliah sudah dimulai dan kesan pertama begitu menggoda. Banyak hal menarik. Saat kita berbagi dengan sejawat lain, tidak sedikit yang mempunyai ketertarikan pada minat Manajemen dan kebijakan Farmasi.

Yang menarik pertama, kegiatan membuka apotek dan di dalamnya ada praktek profesi sangat peka terhadap perubahan kebijakan. Padahal setiap Negara selalu ada perubahan kebijakan yang tentunya ini sedikit banyak akan mempengaruhi jalannya usaha dan praktek profesi. Oleh karenanya mempersiapkan diri sebelum perubahan adalah lebih baik, sehingga perubahan kebijakan ke arah yang lebih baik tidak lagi dianggap sebagai penghambat. Tetapi bagaimana kita dapat menjadikan ini justru sebagai peluang.

Sebagai bagian dari masyarakat modern yang menerima perubahan sebagai hal yang lebih manusiawi, Manajemen dan Kebijakan Farmasi adalah pilihan tepat. Mungkin ini juga merupakan hal yang menarik bagi sebagian sejawat. Yang ingin lebih maju beberapa langkah.

Yang berikutnya dari manajemen, hampir semua sendi kehidupan membutuhkan suatu pengelolaan yang baik. Oleh karena itu manajemen menjadi sangat penting guna meningkatkan daya unggul kita. Daya unggul yang meningkat akan meningkatkan daya saing.

Minat ini sementara saya pahami sebagai minat yang tidak hanya menarik bagi anggota farmasi komunitas, tetapi juga bagi banyak sejawat di seminat lain. Karena secara umum semua minat dalam farmasi selalu bersentuhan dengan kebijakan dan manajemen. Manajemen tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kebijakan dan kebijakan juga membutuhkan manajemen.

Semoga kuliah kami bermanfaat bagi kami sendiri, keluarga dan masyarakat disekitar kami. Belajar dari ayunan sampau liang lahat. Be a long life learner.

Senin, 02 Agustus 2010

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA


Selama saya bergabung dengan IAI (yang dulu ISFI), sebenarnya tidak pernah sekalipun saya menemukan konsep yang jelek. Semua konsep yang ditawarkan didalam membangun profesi adalah sangat baik. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa diantara konsep-konsep IAI tersebut selalu ada saja yang tidak bisa diterima?

Untuk sementara ini, kesimpulan saya adalah karena ada rasa tidak saling mempercayai diantara anggota IAI sendiri. Yang mana rasa tidak saling percaya ini bisa disebabkan oleh berbagai hal yang sangat manusiawi. Bila kita membicarakan siapa yang salah dan benar, maka pada hemat saya semuanya benar dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Yang salah adalah ketidak mampuan IAI mulai cabang sampai pusat didalam mengelola kepentingan-kepentingan yang muncul. Kepentingan itu bisa terkait kepentingan intern dan kepentingan ekstern. Dalam mengelola kepentingan kepentingan intern anggota saja, selama ini IAI masih kesulitanan. Padahal didalam mengelola organisasi yang besar ini, pengelolaan terhadap kepetingan kepentingan intern adalah sangat penting.

Dimana letak salahnya? Kesalahan bukan pada individu pengurus, tetapi karena IAI kekurangan ahli dalam segala bidang didalam membangun organisasi. Tetapi kekurangan ini bisa diminimalkan dengan melibatkan semua anggota yang peduli terhadap kemajuan profesi dalam hal ini termasuk juga melibatkan para praktisi. bukan berarti para praktisi ini adalah segalanya, tetapi setidaknya praktisi inilah yang bisa merasakan suka uka dalam melakukan praktek profesi. teori bisa di baca, tetapi perasaan sebagai praktisi hanya dapat dirasakan dengan melakukan pekerjaan profesi. Ini yang tidak bisa digantikan dengan hanya sekedar membaca.

Dalam membangun rasa saling percaya dalam organisasi IAI, hal-hal yang seharusnya diperhatikan antara lain :
1. membangun persepsi, yang mana dengan membangun persepsi diharapkan akan ada penyeragaman terhadap persepsi dalam praktek profesi. Penyeragaman buka berarti membelenggu kreatifitas anggota, tetapi batasan profesi harus dipahami dengan pemahaman profesionalisme.
2. Membangun komunikasi antar apoteker dan antar anggota dengan pengurus. Karena tanpa komunikasi yang baik, pesan tidak akan diterimakan dengan baik pula.
3. Membangun rasa keadilan didalam praktek profesi.
4. Mengatasi kesenjangan sosial.
5. mengapresiasikan semua masukan yang baik dari anggota.
6. Membangun PO yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Bila di dalam organisasi tidak ada rasa saling percaya, maka semua potensi yang ada bisa jadi justru akan saling meniadakan. Padahal semua potensi inilah yang seharusnya dikelola oleh organisasi agar menjadi kekuatan dari organisasi tersebut.

Salah satu cara didalam mengelola semua potensi ini adalah dengan :
1. meningkatkan interaksi diantara semua potensi
2. menciptakan rasa saling ketergantungan diantara semua potesi.
3. mempererat hubungan anara semua potensi
4. membangun komitmen bersama diantar semua potensi.

Dalam hal ini semua elemen organisasi adalah sangat penting dan tidak ada salah satupun yang lebih penting dari yang lain. Kita semua di dalam organisasi adalam tim, tim yang harus bekerja sama dan bekerja keras dengan tujuan memajukan organisasi. Oleh karena itu membangun komitmen bersama menjadi hal yang sangat penting.

Di dalam organisasi, kepercayaan adalah modal sosial yang hanya dapatkan dengan cara dibangun dan kerja keras, bukanya didapatkan dengan percuma. Semoga, IAI kedepan menjadi organisasi besar yang diisi oleh rasa saling percaya, baik intern dan ekstern. Demi kemajuan pembangunan kesehatan bangsa.

Selasa, 27 Juli 2010

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN


Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan memanjakan mata dengan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran umumnya pelukisnya sendiri, mereka dengan ramah menyambut para undangan. Para penjaga lukisan terkadang juga menceritakan apa maksud dari lukisan, sambil mempersilahkan para undangan segera memasuki ruang pertemuan setelah melihat pameran lukisan.

Saat Apoteker menuju sudut-sudut ruang jamuan, Apoteker mulai melamunkan seni-seni yang di temui sepanjang hari ini dan membandingkan dengan seni-seni praktek profesi Apoteker yang telah dilakukannya. “Tanpa disadari oleh banyak orang, apotekerpun juga merupakan seorang seniman”, demikian dalam hatinya. Apoteker selalu mengingat “buatlah sesuai seni”, setiap dalam melakukan peracikan obat, tanpa intervensi dari siapapun juga. Seni meracik memang menjadi seni tersendiri bagi seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas mulia.

Dan masih banyak seni-seni lain yang terlibat di dalam praktek profesi Apoteker. Seni mengelola keuangan, seni berkomunikasi, dsb. Seperti beberapa waktu yang lalu, apoteker harus selalu kreatif di dalam menjalankan tugasnya dengan seni berkomunikasi yang mudah di cerna oleh masyarakat. Analogi-analogi seringkali harus digunakan. Seperti pada kasus OTT di bawah diwaktu itu.

Pasien, “Pak minta obat A dan B”

Apoteker, “Untuk sakit apa bu?”

Pasien, “Titipan”

Apoteker, “yang nitip siapa?”

Pasien, “Keluarga saya”

Apoteker, “Obat ini tidak rasional bila digunakan secara bersama-sama”

Pasien, “tidak apa-apa, nanti orangnya marah bila saya tidak membelikan obat ini”

Apoteker, “Kombinasi obat ini dapat dari mana?”

Pasien, “dari dokter”

Apoteker mulai curiga bila pasien berbohong, karena kombinasi tidak rasional. kemudian apoteker melanjutkan perkataannya, “dokter mana bu?”

Pasien, “pokonya kedua obat ini bagus, dan saya minta kedua obat itu untuk dilayani”

Apoteker, “Benar Bu semua obat bagus, tetapi dalam penggunaannya ada aturan-aturan yang harus dipenuhi”

Pasien, “biar cepat sembuh Pak”

Apoteker, “ibu tahukan bila ada bakso enak sama tembakau enak?”. Lanjut apoteker sambil tersenyum, “tembakau enak itu bila dicampurkan dengan bakso enak akan menjadi sangat-sangat tidak enak”.

Kemudian pasien itu dengan sedikit malu sambil tertawa kecil. “Iya ya, he he he …”.

Apoteker akhirnya juga ikut tertawa.

Tanpa disadari, Apoteker akhirnya tertawa sendiri mengingat kejadian itu. Masih sangat beruntung, saat tertawa sendiri posisi Apoteker pas didepan sebuah lukisan yang menggambarkan orang yang sangat gendut lagi naik kuda yang sangat kurus. Yang didalam pikiran sebagian orang mungkin lukisan itu cukup bisa menggelitik.

“Ada yang lucu pak?”, tiba-tiba ada menyapa Apoteker…

Senin, 19 Juli 2010

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN



“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya. Apoteker terdiam sesaat, mengingat-ingat. “Sepertinya saya tidak kenal”, dalam hati apoteker. Tanpa menunggu jawaban dari Apoteker pria tersebut melanjutkan pembicaraan, “kenalkan, saya Menteri Agama dan Budaya (MAB)”.

“PM, yang meberitahu keberadaan anda disini, beliau masih sibuk”, lanjut MAB. “Maaf tuan MAB, karena saya kurang mengenal lingkungan Istana”, sahut Apoteker. “Adakah yang tuan inginkan dari hamba?”, lanjut Apoteker. didalam hati apoteker sangat malu, lingkungan Istana menjadi lingkugan yang baru buat dirinya. Hampir-hampir tidak ada yang dikenalinya.

“Tidak ada”, jawab MAB. “hanya saya ingin mengetahui dari anda beberapa hal mengenai praktek profesi apoteker saja, karena menurut hasil arahan dari PM tadi malam tim penyusun konsep penugasan Apoteker diketuai oleh saya dan anda juga masuk didalam tim itu. Agar dalam pertemuan-pertemuan berikutnya nanti saya tidak buta akan profesi Apoteker, saya usahakan menemui anda dahulu. Meskipun ketetapan Raja belum turun, karena masih menunggu nanti, tetapi kita yang ada kemungkinan ditugaskan harus menyiapkan diri.”, lanjut MAB.

“Bila pada pertemuan hari ini Raja benar memilih saya sebagai ketua tim, maka saya berharap, dua hari lagi saya sudah bisa mendapatkan konsep tertulisnya dari anda. Dan minggu depan sudah dapat dimulai rapat-rapat penyusunan konsep. Dan sebelum minggu depan saya sudah harus mendapatkan gambaran praktek profesi Apoteker untuk dipelajari dan saya kaitkan dengan nilai-nilai budaya kerajaan”, lanjut MAB lagi.

Apoteker, “Hamba siap melaksanakan tugas tuan”.

MAB, “o iya, tadi anda terlihat terkejut karena sangat menikmati musik? Apa anda suka dengan musik?”

Jawab Apoteker, “Benar tuan, tebakan tuan tidak salah”. Dalam hati apoteker, “saya tidak mungkin akan menceritakan kecemburua sosial saya terhadap Koki Kepala”, “toh saya kan lebih memilih nilai-nilai kemanusiaan yang tidak hanya sekedar urusan perut, he3x”. dalam hati Apoteker untuk menghibur dirinya sendiri. Dalam hatinya lagi, “saya kan profesional yang siap melayani peduduk kerajaan, dan hidup saya akan saya dedikasikan buat Kerajaan dan kemakmuran Kerajaan”.

“saya suka musik, tetapi saya tidak bisa bermain musik” lanjut Apoteker. “musiknya sangat enak didengar, dan saya sangat menikmati”, lanjut apoteker lagi.

MAB, “Pendengaran anda cukup bagus, pemain musik itu memang hebat, sehari-hari kerjanya hanya berlatih bermain musik saja”. “mereka professional dan melakukan pekerjaannya demi menyenangkan orang lain secara profesional, bekerja keras dalam belajar dan berlatih menjadi motonya”, lanjut MAB.

Apoteker, “benar Tuan, mereka hebat. Alunan musiknya kadang sperti gemericik air, kadang seperti deru angina, yg terdengar sangat sangat enak ditelinga”.

“tetapi sehebat-hebatnya pemain musik tidak bisa menghibur orang tuli”, sambung MAB sambil tersenyum.

Tidak menyangka apoteker terhadap pernyataan MAB, kemudian apoteker menjawab, “iya ya…..,”, dengan spontan Apoteker melanjutkan perkataannya dengan sekenanya, “ berarti masih hebat apoteker, karena tetap bisa melayani orang yang tuli, ha3x”. kemudian di ikuti gelak tawa mereka berdua.

MAB melanjutkan lagi, “Anda lihat disudut itu, banyak lukisan, sehebat-hebatnya lukisan juga tidak bisa dinikmati oleh orang buta”.

Jawab Apoteker, “Benar tuan, semua lukisan itu tidak dapat dinikmati orang yang buta, beruntunglah kita tidak buta”.

Lanjut MAB, “Semoga kita tidak sedang dalam hati yang buta dan tuli, sehingga lebih bisa menikmati indahnya dunia”. Kemudian MAB berpamitan dan meninggalkan Apoteker yang masih menikmati hidangan tanpa menghiraukan kiri kanannya yang belum dikenal. Bukan karena sombong, tetapi karena memang tidak mempunyai ide untuk dibicarakan dan karena rasa percaya diri yang masih perlu dipupuk sedikit lagi.

Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran yang umumnya pelukisnya sendiri dengan ramah menyambut para undangan. Dengan ramah para penjaga lukisan juga…

Sabtu, 10 Juli 2010

BERMIMPI SAAT TERJAGA

BERMIMPI SAAT TERJAGA


Malam ini Apoteker menjadi susah tidur, mengingat pengalaman hari ini yang sangat istimewa. Setelah Raja memutuskan untuk mengirimkan Apoteker untuk ditugaskan sampai kepelosok guna mendampingi penduduk Kerajaan didalam meningkatkan derajat pendidikan kesehatan dan kesehatan, yang berarti juga meningkatkan ekonomi, kemanusiaan, peradaban dan ketahanan Kerajaan, Raja menindak lanjuti dengan menyusun tim guna menyiapkan segala yang tekait dengan usaha penugasan Apoteker sampai pada tingkat pelosok. Guman Apoteker dalam hati berulang-ulang, “Raja yang sangat cerdas dan bijaksana”.

Setiap detik demi detik hari ini terekam didalam benak Apoteker seakan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. “Pengalaman yang sangat berharga”, itu yang terlintas didalam pikirannya. “Setiap detik hari ini adalah ilmu dan pengalaman, yang tidak pernah terlintas didalam hati sebelumnya, bila akan menemui peristiwa yang sangat berharga yang mungkin hanya sekali didalam hidup”, demikian pikir Apoteker.

Sungguh tak terbayangkan, bila hari ini diundang oleh Raja untuk membahas penugasan Apoteker sampai ke pelosok. Tidak terbayangkan bila hari ini dirinya menjadi salah satu orang yang akan ikut didalam mengambil keputusan Kerajaan. “Sungguh merupakan mimpi,” kenang apoteker sambil membaringkan dirinya titempat tidur.

Sebelum acara hari ini dimulai, diadakan jamuan makan oleh Raja, yang mana makanan kualitas Kerajaan menjadi mimpi pertama bagi Apoteker dihari ini. “Sungguh luar biasa”, berkali-kali Apoteker berguman. Pengalaman pertamanya menyantap hidangan yang sangat lezat bagi lidah Apoteker. nuansa jamuan yang sangat istimewa karena diiringi musik yang sangat syahdu. “mimpikah aku”, kata Apoteker didalam hati setiap kali memasukan suapan nasi kedalam mulut. “Mungkin selama ini saya hanyalah katak dalam tempurung”, kata Apoteker dalam hati lagi.

Sudut-sudut ruang jamuan dihiasi lukisan lukisan yang sangat molek yang membuat hati Apoteker menjadi lebih nyaman didalam menikmati jamuan makan. Sesekali Apoteker berguman sendiri dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti orang lain, karena sangat pelannya didalam hirup pikuk undangan dan musik.

Sambil menikmati jamuan, Apoteker tenggelam didalam lamunannya sendiri. ”seandainya istri saya bisa memasak senikmat ini”, begitu mungkin ungkapan apoteker didalam lamunannya. “Ada masalah dengan jamuan tuan?”, tiba-tiba Apoteker dikejukan oleh seorang pria disampingnya. Dengan agak terkejut, tanpa menunggu makanan dimulut masuk kerongkongan semua, Apoteker sepontan menjawab “ tidak ada, tidak ada tuan” kemudian apoteker terbatuk-batuk karena tersedak. Pria itu kemudian melanjutkan perkataannya,” maaf tuan, saya telah mengganggu anda”. Dengan buru-buru apoteker menjadwab,”tidak apa-apa tuan. Kenalkan saya Apoteker, anda siapa?”

“Saya adalah Koki Kepala yang beratanggung jawab terhadap hidangan jamuan ini tuan”, sahut pria itu. “Jikalau ada keluhan dapat langsung disampaikan kepada saya”, sahut pria itu lagi.

“wah, hebat hebat hebat, masakan anda hebat”, kata apoteker kepada Koki Kepala sambil tersenyum lebar. “ha3x”, kemudian apoteker tertawa. “bisa masak sedemikian hebat, tentu anda berasal dari keluarga yang sangat jago memasak”, tebak apoteker.

sambil tersenyum Koki Kepala menjawab, “Saya berasal dari keluarga biasa, hanya karena kerja keras saya bisa jadi Koki Kepala”. Apoteker menjadi bingung, dalam hatinya, “apa hubungan kerja keras dengan jadi Koki???”, kemudian Apoteker berkata, “ Kita semua memang harus bekerja keras agar menjadi sukses”. Meskipun dalam hati Apoteker bertanya-tanya.

Dalam hati Apoteker yang penuh tanda Tanya, kemudian bertanya lagi, “Bagaimana masakan anda begitu hebat tuan?”. “Belajar dimana?”, lanjut Apoteker. “Saya jadi Koki Kepala baru 10 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya menjadi koki biasa dengan kemampuan yang terbatas, 10 tahun sebelumnya lagi saya hanya menjadi pembantu koki”, jawab Koki. “Beda dengan Apoteker, yang mana Apoteker ada pendidikannya, kalau Koki hanya belajar dari Koki Senior”, sambung Koki.

“Tapi Koki kan gajinya besar”, sambung apoteker merendah, karena memang tidak tahu berapa gaji koki yang sebenarnya. Lanjut apoteker lagi, “ Gaji Apoteker hanya sekitar 10 sampai 15 keping perak”. “Hanya cukup untuk makan saja”, lajut Apoteker lagi.

“Koki yang mana dulu? Pembantu Koki yang hanya menjadi pelayani Koki gajinya antara 7 keping perak sampai 15 keping perak, saat sudah bisa beberapa masakan sederhana atau membakar daging bisa sampai lebih dari 2 keping emas”, Jawab Koki. “Koki biasa bisa sampai 3 atau 4 keping emas. Koki Kepala bisa sampai 20 keping emas”, lanjut Koki. “Profesi Koki memang cukup menjanjikan di Kerajaan ini”, lanjut Koki Kepala lagi.

Sangat terkejut hati apoteker mendengar besarnya gaji Koki Kepala, bisa dibayangkan, satu keping emas setara dengan 20 keping perak. Di kepalanya sudah mulai menghitung seandainya gaji apoteker sebesar gaji Koki Kepala, dalam pikiran apoteker mulai penuh impian dan hayalan tentang seandainya, seandainya dan seandainya.

Apoteker bertanya lagi,” Dengan gaji Koki Kepala sebesar 20 keping emas, kenapa tidak membuat rumah makan sendiri?. lanjut Apoteker, “ keuntungannya kan pasti sangat besar dan berlipat-lipat”.

“ha3x, saya sering mendapat pertanyaan begini, saya sudah menduga”, jawab Koki Kepala sambil tertawa sedikit keras. kemudian Koki Kepala melanjutkan pernyataannya, “Banyak Koki yang berusaha mencoba membuka rumah makan sendiri, mulai pembantu koki sampai Koki Kepala. Umumnya pembantu Koki bukan mencoba membuka rumah makan besar, tetapi mencoba membuka rumah makan kecil-kecilan atau menjual makanan pingir jalan”.

Lanjut Koki, “ coba hitung, biaya operasional rumah makan besar untuk biaya gaji Koki dan karyawan lain ditambah sewa lahan bisa sampai 100 keping emas. Sangat besar sekali, itu semua belum ter,asuk perlengkapan masak dan biaya-biaya lain, kalau tidak jalan bagaimana?”

Apoteker terdiam sesaat sambil berpikir, “ gaji Koki Kepala cukup untuk menggaji 20 lebih Apoteker seperti dirinya. Bila dilihat dari fungsi kemanusiaan keberadaan Apoteker jauh lebih penting dari pada sekedar urusan perut. Tetapi bila dilihat dari sisi penghasilan, gaji Apoteker sangat jauh, padahal bila ditimbang-timbang pada tingkat kesulitan di dalam pekerjaan mungkin masih lebih rumit Apoteker.”

Kemudian Apoteker menjawab sekenanya, “ Wah, kalau begitu lebih enakan ikut orang saja, tidak usah mikir capek-capek penghasilan besar, ha3x”. Kemudian Koki menyambung dengan membenarkan perkataan Apoteker,” Memang benar, ikut orang gaji cukup untuk menghidupi keluarga, sudah sepantasnya saya bersukur”.

Setelah berbasa basi sebentar Koki Kepala berpamitan kepadaAapoteker,” Senang bertemu anda tuan, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Selamat menikmati jamuan”.

Sepeninggal Koki, hati apoteker berkata, “ besar sekali gaji Koki Kepala”, “untung saya tidak tertarik gaji, untung saya tertarik pada nilai-nilai kemanusiaan, meskipun gaji kecil”, sisi hati apoteker yang lain menghibur diri.

Apoteker melanjukan lamunannya,” Memang untuk mencari emas lebih berkembang bisnis urusan perut dari pada kerja kemanusiaan. Atau setidaknya membuka praktek dikota besar lebih menjanjikan dari pada dipelosok. Tetapi kalau ingin berguna bagi kemanusiaan dan Kerajaan lebih terasa di pelosok, lagian penduduk pelosok lebih menghargai orang lain dari pada penduduk kota.”.

Malam semakin larut, Apoteker belum bisa tidur, meskipun sudah cukup lama ada di tempat tidur. Kemudian apoteker bagun lagi dan mengambil minum air putih meskipun tidak haus.

“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya… Berlanjut sampai ada waktu untuk melanjutkan.

Sabtu, 26 Juni 2010

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR


Pada jaman dahulu kala ada Kerajaan Negeri Dongeng yang dipimpin oleh seorang Raja yang cerdas dan bijaksana. Yang mempunyai seorang Perdana Menteri (PM) yang cerdas pula. Rakyatnya selalu hidup dalam kemakmuran yang tiada kurang suatu apapun. Ada suatu kebiasaan Raja yang sangat baik, yang mana Raja sangat suka menyamar menjadi rakyat jelata, pedagang atau menjadi apapun juga untuk melihat keadaan kerajaan yang sebenarnya.

Pada suatu hari, dimusim panen yang mana kebanyakan dari para rakyatnya sedang sibuk merayakan pesta panen, Raja mengajak 2 orang pengawalnya untuk melakukan penyamaran. Dengan berpura-pura menjadi pedagang, Raja berharap dapat melihat keadaan ekonomi Kerajaan. Sehinga kondisi rakyat dapat diterjemahkan dalam rencana pembangunan ekonomi Kerajaan.

Dari desa ke desa, dari kota ke kota. Tanpa kenal lelah Sang Raja ditemani oleh dua orang pengawalnya. Yang satu menjadi tukang angkut barang dan yang satu menjadi bendahara. Raja sepertinya sangat menikmati perjalanannya, sampailah pada suatu hari Raja melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung didepan rumahnya dengan tatapan kosong. Guratan tua diwajahnya semakin menambah usia yang sebenarnya. Pakaian lusuh yang dikenakan menjadikan seperti orang yang tidak terawatt didalam hidupnya.

Dengan langkah yang perlahan Raja mendekati orang tua tersebut. Kemudian dengan sangat lembut Raja mengucapkan salam dan bertanya kepada pria tua tersebut.

“ selamat siang tuan, bisakah saya bertanya sesuatu?” kata Raja dengan penuh hormat. Sebagai orang asing, Raja tetap menghormati siapa saja yang ditemui di dalam penyamaran.

Pria tersebut tetap saja berdiam diri, tanpa menoleh sedikitpun seperti tidak ada siapa-siapa didekatnya. Pandangan kosong dan guratan-guratan tua wajahnya menampakkan tiada ekspresi sama sekali. Sekali-sekali mengambil nafas dalam-dalam, pria tersebut semakin kelihatan suatu duka yang mendalam. Kemudian Raja mengulang perkataannya lagi, “ Seamat siang tuan, bisakah anda menolong saya?” Kemudian pria tersebut menoleh tanpa menjawab, hanya memandangi wajah asing didekatnya.

Setelah beberapa saat Pria tua itu berkata, “anda siapa?” dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan tetap memandangi wajah asing didekatnya, dengan hampir tanpa ekspresi.

Raja menjawab, “saya pedagang dari kota.” Berdiam sesaat kemudian Raja berkata lagi, “Saya sedang mencari dagangan, kira-kira siapa penduduk disini yang masih menyimpan hasil panen?” Raja melanjutkan, “Mungkin tuan sendiri mempunyai hasil panen yang belum terjual?”

Pria tua itu terdiam. Tanpa sepatah katapun di keluarkan sambil menatap wajah sang raja dalam-dalam. Kemudian Raja berkata lagi,”kalau tuan sudah tidak mempunyai hasil panen lagi, bisakah tuan menunjukan orang yang masih mempunyai hasil panen?”
Pria tua itu kemudian menjawab, “Tuan, saya sudah tidak mempunyai ladang dan sawah lagi. Semua sudah saya jual. Dan saya juga tidak tahu siapa yang masih mempunyai hasil panen. Karena sudah satu tahun ini saya tidak pernah bergaul dan hanya merawat istri saya yang sakit.”

Selanjutnya pembicaraan menjadi cerita pria tua itu dengan usaha mengobati penyakit istrinya. Dengan sekali-sekali menarik napas panjang pria itu menceritakan semua cobaan yang dihadapi dengan tanpa semangat. Semua keluh kesah keluar dari mulutnya. Raja mendengarkan dengan penuh empati.

Setelah cerita berakhir, dengan basa basi sedikit Raja kemudian memberi uang keping emas kepada pria tua itu sambil berkata, “ini ada sedikit keping emas laba dari penjualan beberapa hari kemarin, semoga bisa membantu istri tuan untuk berobat.” Pria tua itu menerimanya dengan sangat terharu, dan sambil menangis pria itu berkata, “Tuanku, semoga rejeki tuan semakin banyak dan jauh dari mara bahaya.” Kemudian Raja berpamitan dan meninggalkan desa itu.

Keesokan harinya setelah sampai di Istana, Raja memanggil PM dan mendiskusikan masalah kesehatan. Saran dari Perdana Menteri adalah memperbaiki sistem kesehatan Kerajaan dan memanggil semua tenaga kesehatan terkait untuk dimintai masukan. Raja menyetujui dan menitahkan kepada Perdana menteri untuk mengundang semua tenaga kesehatan yang ada di Kota Raja.

Beberapa hari kemudian, hamper semua tenaga kesehatan sudah berkumpul di istana Kerajaan, di ruang pertemuan. Dan semua bertanya-tanya terhadap undangan Raja yang tiba-tiba dan terkesan sangat mendesak. Satu sama lain saling melontarkan pertanyaan yang sama dan semua tidak ada yang memahami kenapa sampai terjadi undangan ini. Saat kegaduhan yang diakibatkan bisikan-bisakan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara “Baginda Raja memasuki ruangan, semua hadirin harus hormat”.

Dengan penuh kewibawaan, Raja memasuki ruangan pertemuan. Setelah penghormatan kepada Raja selesai, Raja memerintahkan kepada PM untuk memulai pertemuan membahas masalah kesehatan di wilayah kerajaan.

PM: “ saudara-saudara yang terhormat, kalian semua diundang Kerajaan untuk membicarakan masalah kesehatan di wilayah Kerajaan. Raja menginginkan pembangunan kesehatan menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Karena Negara yang kuat tidak mungkin bila tidak diisi oleh badan dan jiwa yang sehat.”

Kemudian PM melanjutkan dengan pertanyaannya kepada Dokter; “ Dokter, bagaimana kosep kamu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat?”

Dokter; ”Tuanku yang saya hormati, menurut hamba Kerajaan harus menggaji dokter lebih banyak dan mengirmkannya sampai pada pelosok. Karena tanpa gaji yang cukup saya rasa tidak mungkin Dokter akan mau dikirim sampai ke pelosok kerajaan.”

PM; “ Perawat, bagaimana menurut kamu?

Perawat; “Benar yang mulia, profesi kami siap membantu Dokter sampai ke pelosok, toh saat ini Perawat sudah sampai pada pelosok Kerajaan. Cuma saja kewenangan kami terbatas.

PM; “ Apoteker ada masukan?”

Apoteker; “ Tuanku, menurut hamba Kerajaan harus mempunyai arah yang tepat dalam membangun sistem kesehatan. Termasuk menempatkan Dokter dan Perawat sampai ke tingkat pelosok Kerajaan. Dan kami akan membantu mereka dengan obat dan penyuluhan kesehatan yang sudah biasa kami lakukan.”

PM; “Dokter dari mana kamu akan menghidupi diri kamu bila gaji yang diberikan kerajaan kecil dan tidak cukup?”

Dokter; “ Kami masih bisa menarik jasa kepada penduduk yang sakit, terutama yang kaya. Dengan sekeping perak atau emas. Baik pada pelayanan pengobatan atau pada layanan konsultasi.”

PM; “ Perawat, bagaimana dengan kalian?”

Perawat; “ Tuanku, menurut hamba sama dengan Dokter. Hanya saja kami hanya menarik sekeping perunggu.”

PM; “Apoteker?”

Apoteker; “Tuanku, kami selama ini hanya makan dari jasa yang sangat kecil dari apa yang kami lakukan. Malahan untuk konsultasi dan edukasi kami hanya bisa melakukan dengan cuma-cuma.”

PM melanjutkan pertanyaannya; “ terus bagaimana kamu menghidupi keluarga kamu bila jasa kamu sangat kecil?”

Apoeker; “ Jasa kami memang sangat kecil, tetapi yang menggunakan jasa kami jauh lebih banyak. Sehingga bila dikumpulkan akan cukup untuk menghidupi keluarga kami. Meskipun itu tidak menjadikan kami kaya”

PM; “ Dokter, apa yang bisa kamu kerjaka untuk kerajaan?”

Dokter; “ Tuanku, kami akan bekerja keras mengobati semua penduduk Kerajaan yang sakit demi nilai-nilai kemanusiaan.”

PM; “ Perawat, apa yang bisa kamu kejakan?”

Perawat; “Kami siap melakukan perawatan kepada semua penduduk yang membutuhkan.”

PM; “ Apoteker? “

Apoteker; “ Tuanku, saya rasa kami siap mendudkung mereka, dan kami akan pula melakukan penyuluhan kesehatan kepada penduduk kerajaan dengan cuma-cuma. “

PM; “ Dokter, apa yang kamu harapkan dari kerajaan terhadap peran kamu? “

Dokter; “ Kami hanya minta sedikt gaji yang lebih banyak tuan. “

PM; “ Perawat? “

Perawat; “ hamba rasa sama dengan dokter Tuan “

Apoteker; “ kami hanya mengharapkan kemudahan dan pembebasan dari pajak, karena apa yang kami kami lakukan akan meningkatkan ekonomi kerajaan meskipun dampaknya tidak langsung. Dan sewajarnya bila ada dampak pada peningkatan ekonomi kerajaan menjadikan kami dipermudah, karena kami tidak mengharapkan gaji dari Kerajaan. “

Kemudian PM menghentikan dialog dan membicara hasil dialog ini dengan Raja. Raja menyuruh PM untuk mengambil kesimpulan dengan mendiskusikan lagi dengan para ahli kesehatan se Kota Raja.

PM; “ Menurut saya, kesimpulannya adalah, mengirimkan Dokter dan perawat sampai tingkat pelosok dan Apoteker harus mendukung mereka dengan mendirikan apotek pada daerah-daerah yang dianggapstrategis. Bagaimana menurut kalian semua? “

Dokter; “Hamba siap melaksanakan tugas “

Perawat; Hamba siap melaksanakan tugas kerajaan”

Apoteker; “ Hamba siap melaksanakan tugas Kerajaan “

Setelah semua selesai mengemukakan pendapat, PM melaporkan kepada Raja bahwa kesimpulan telah selesai dibuat, dan menjadi kewenangan Raja untuk memutuskan. Kata PM kepada Raja; “ Tuanku Yang Mulia, sidang sudah disimpulkan, dan dipersilahkan kepada Yang Mulia untuk menyampaikan putusan / titah. “

Kemudian Raja berdiam sejenak sebelum mengeluarkan titahnya. Dengan penuh kewibawaan Raja mengucapkan titahnya, “ Pertama, peran dokter dan perawat tetap seperti semula dan Kerajaan akan mengirim sampai pelosok disesuaikan dengan kebutuhan.

Kedua, Apoteker akan dikirimkan sampai pelosok untuk mengawal penduduk didalam menjaga kesehatan. Dan Kerajaan akan memberikan kemudahan dalam mengurus ijin dan membebaskan dari segala jenis pajak kerajaan.”

“Mungkin kalian bertanya-tanya akan keputusan ini.” lanjut Raja. “Saya lebih memilih untuk mengirimkan apoteker samai kepelosok, karena pekerjaan Dokter dan Perawat adalah tindakan medis dan pekerjaan akan ada setelah ada kasus medis. Sedangkan Apoteker justru lebih bisa diarahkan pada prekuentif dan edukasi. Bisa kamu hitung berapa uang kerajaan yang seharusnya dikeluarkan kepada penyuluh kesehatan bila kerajaan harus mengirimkan penyuluh kesehatan sampai kepelosok, padahal pekerjaan itu dapat dirangkap oleh Apoteker. Pada tugas ini Apoteker tidak perlu digaji oleh Kerajaan. Sedangkan dampaknya pada nilai ekonomi Kerajaan sangat tinggi. “

Lanjut Raja, “ oleh karena itu, sebagai ganti atas peran apoteker yang sangat penting didalam membangun kesehatan dan ekonomi Kerajaan, maka Apoteker akan difasilitasi oleh Kerajaan didalam menjalankan prakteknya dan akan dibebaskan dari segala macam pajak kerajaan. “

“Demikian titah aku turunkan”, Raja menutup siding dan meninggalkan ruangan.

Senin, 21 Juni 2010

PROFESIKU UNTUKMU MASYARAKAT

PROFESIKU UNTUKMU MASYARAKAT


Apoteker sebagai pelayan masyarakat adalah sangat mulia. Dan mendedikasika hidup untuk masyarakat menjadi sangat indah. Dalam mendedikasikan diri kepada masyarakat, tidak hanya kita melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat, tetapi membantu sejawat belajar praktek profesi atau membimbing adik-adik calon apoteker juga berarti mendedikasikan diri kepada masyarakat.

Pada saat kita mendedikasikan diri kepada masyarakat yang sebagian dari kita merupakan hal mulia tidak harus mendapatkan pujian, sebagian dari kita justru mendapatkan cemoohan. Tentu saja yang mencemooh diantaranya adalah “orang-orang buta”. Yang mana orang yang buta terhadap pemahaman profesi tidak memahami arti pentingnya profesi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menghadapi orang-orang buta semacam ini, kita terkadang terbakar hati. Tetapi tidak selamanya kita akan terbakar juga. Karena banyak hal yang bisa kita lakukan dan sikapi terhadapnya. Buat apa hati terluka, bila lebih banyak hati yang terobati. Mungkin seperti ungkapan dalam puisi dari pujangga besar Chairil anwar berikut

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, adalah ungkapan yang tepat pada saat awal aku mendedikasika profesi, karena justru tidak mempunyai apresiasi dari banyak sejawat dan terkadang justru menjadi cemoohan. Meski dari dalam hati para pencemooh terkadang ada rasa iri dan dengki karena apresiasi dari masyarakat yang tidak pernah dimiliki oleh para pencemooh. Dan tidak bisa kita pungkiri, bila sebagian dari para penddikasi profesi telah “mati” sebelum menjadi binatang jalang karena tidak tahan menjadi kumpulan dari yang terbuang. Apatis adalah ungkapan yang katakanya kepada saya.

Sebagai bagian dari kumpulan yang terbuang, tentu saja menjadi orang yang dianggap sakit jiwa oleh kelompok orang yang lain. Yang mana anggapan ini tentu saja akan menjadi luka dan bisa seperti ungkapan Chairil Anwar. Dan yang aku lakukan adalah berlari dari anggapan itu dan menjadikan diri ini mengambil pikiran positif terhadap semua tindakan profesi yang kita ambil. Dan semua itu demi mendedikasikan diri ini kepada masyarakat. Masyarakatlah yang telah membesarkan jiwa profesi ini, bukan dari yang membuang kita.

Ilustrasinya mungkin cocok pada cerita berikut ini. Pada saat saya bekerja sama dengan perusahaan asuransi kesehatan, dari awal saya mengatakan kepada para pejabat perusahaan tersebut yang pada umumnya para pejabat perusahaan itu merasa sebagai dewa yang bisa menjebatani kebutuhan kesehatan masyarakat dan menjadi pahlawan buat profesi karena menjadi pemberi rejeki yang sangat-sangat besar, meskipun kenyataannya adalah belum tentu. “saya dedikasikan pelayanan saya kepada masyarakat, bukan pada perusahaan kamu”, demikianlah ungkapan yang aku banggakan.

Aku tidak pernah bangga karena bekerja sama dengan perusahaan itu, tetapi aku bangga karena bisa mendedikadikan profesi aku kepada masyarakat yang kebetulan adalah peserta asuransi. Secara umum, perusahaan asuransi seperti itu tidak pernah menghargai profesi aku meskipun dalam perusahaan semacam itu ada pula pejabat yang kebetulan juga merupakan apoteker yang juga menjadi teman sejawat aku. Hanya perbedaannya adalah aku dari kumpulan yang terbuang dan para pejabat itu adalah dari kumpulan para pahlawan yang sangat-sangat hebat yang merasa tidak harus bergaul dan mendengarkan pendapat dari para orang-orang dari kumpulan yang tebuang.

Demikian juga pada saat menjadi anggota organisasi profesi. Aku juga menjadi kulmpulan dari orang-orang yan terbuang. Pada saat aku mebicarakan dedikasi kepada masyarakat ditinggal pergi. Demikian sampai beberapa kali sampai aku ketemu orang-orang yang terbuang pula. Memang aku akhirnya menjadi kumpulan dari orang-orang yang terbuang. Tidak pernah rugi dan akan mengobati sakit hati bila apa yang kita lakukan dalam organisasi profesi tidak aku dedikasikan buat apoteker karena tidak semua apoteker membutuhkan dedikasi kita, tetapi semua itu aku dedikasikan buat nilai-nilai kemanusiaan.

Aku suka dengan ungkapan Chairil Anwar, “dan aku akan lebih tidak perduli” tetapi aku beda dengan Chairil Anwar disini, “aku tidak mau hidup 1000 tahun lagi”. Chairil Anwar, engkau memang pahlawan besar, tetapi aku tidak harus mempunyai pikiran yang sama denganmu. Tetapi dalam tujuan mendedikasikan hidup aku kepada bangsa mungkin kita harus sama.

Kamis, 17 Juni 2010

APOTEKER MAGANG DI APOTEK

APOTEKER MAGANG DI APOTEK



Dua kali ada apoteker industri yang meminta magang di apotek saya. Keduanya kontak saya awalnya dari FB. Alasan magang adalah keinginan memiliki apotek sendiri dan pada saat PKP Apotek merasa mendapatkan apotek yang salah. Yang mana apoteker tidak mampu membimbing langsung praktek profesi atau membimbing tetapi ketrampilan dan pengetahuan praktis yang seharusnnya didapatkan oleh calon apoteker kurang dan tidak lengkap.

Keduanya pada saat mendatangi saya dalam kondisi masih aktif sebagai karyawan pabrik farmasi. Keinginan magang dilakukan setelah pulang dari pabrik farmasi yang mungkin hanya bisa dilakukan sekitar 3 jam dalam satu hari. Dan saya tetap akan mensyaratkan magang 3 bulan dengan metode standar saya.

Pada magang di apotek saya, saya tidak harus mengajarkan ilmu farmasi sepenuhnya seperti pada saat kuliah profesi atau pada saat kuliah di tingkat sarjana, tetapi saya lebih mengarahakan pada hal-hal terkait terapan praktis yang dibutuhkan oleh seorang apoteker komunitas.

Mungkin sangat jarang apoteker yang sudah lulus sengaja minta magang di apotek. Tetapi kenyataannya permintaan itu ada. Yang atas kesadaran sendiri minta magang ditempat saya karena menginginkan membuka apotek sendiri setelah lulus. Dan kenyataannya pada apoteker yang seperti ini justru sangat bersemangat. Bisa anda bayangkan, ada apoteker baru yang minta magang di apotek saya padahal jarak rumah apoteker baru itu dengan apotek saya adalah sekitar 40Km dan dia lakukan PP yang berarti sekitar 80Km setiap hari dengan sepeda motor. Hal tersebut sangat berat menurut saya, padahal apoteker baru itu adalah perempuan.

Hal yang mungkin menjadi pertanyaan kita semua akan sangat banyak dengan melihat kasus diatas. Yang pertama adalah keterkaitan kualitas pendidikan profesi apoteker dalam hal ini adalah akreditasi, juga kualitas preceptor, lama PKP / BPP di apotek, standar PKP / BPP di apotek dsb. Tapi itu adalah kenyataan. Dan seharusnya IAI dan PT Farmasi memang harus bekerja sama didalam membangun profesi apoteker ke depan.

Saya menyadari bila diri saya bukan orang hebat, tetapi yang menjadi kelebihan saya adalah saya berani memulai melakukan pratek profesi secara mandiri semenjak lulus kuliah. Sehingga ketramplan dan pengetahuan saya tentang farmasi komunitas dapat berkembang lebih baik dari kebanyak apoteker.

Kamis, 13 Mei 2010

PERKEMBANGAN APOTEKER KOMUNITAS

PERKEMBANGAN APOTEKER KOMUNITAS


Perkembangan apoteker komunitas kedepan harus menjadi perhatian yang lebih dari berbagai pihak, karena apoteker komunitas menjadi penentu akhir dari tujuan pengobatan. Bisa jadi diagnosa yang dilakukan dokter tepat, tetapi bila pada penyerahan obatnya tidak memenuhi standar layanan kefarmasian, bisa jadi hasil pengobatan kurang optimal.

Selain itu apoteker komunitas juga menjadi sumber data bagi perkembangan dunia farmasi. Dan tidak mungkin perguruan tinggi farmasi dapat berkembang tanpa melibatkan apoteker komunitas. Hubungan apoteker komunitas dengan perguruan tinggi farmasi menjadi sangat penting. Perguruan tinggi farmasi tidak hanya sekedar meluluskan apoteker semata, tetapi juga harus memonitor dan membantu untuk berkembang selanjutnya, karena perguruan tinggi farmasi bisa dianggap sebagai pusat penggalian IPTEK kefarmasian.

Bila pada tahun tahun yang lalu, perguruan tinggi farmasi bisa dikatakan cukup ego dengan menganggap dirinya adalah segalanya didalam mengembangkan IPTEK, pada masa mendatang hubungan saling ketergantungan akan semakin tercipta. Banyak hal yang selama ini dikembangkan oleh para praktisi dikomunitas yang belum tersentuh perguruan tinggi. Dan apa yang dikembangkan para praktisi ini tidak bisa hanya dipandang sebelah mata saja, karena hal-hal teknis sering kali tidak terdeteksi sebelum pekerjaan itu dijalani. Atau dengan kata lain ilmu terapan pada praktek apoteker komunitas tidak bisa hanya digambarkan atau diimajinasikan saja oleh para guru besar.

Sehingga hubungan timbal balik antara apoteker komunitas dan perguruan tinggi farmasi menjadi gerbang ilmu baru dalam perkembangan apoteker komunitas di negeri ini. Bila pada masa dulu apoteker komunitas hanya dipandang sebelah mata, tetapi pada masa mendatang apoteker komunitas justru menjadi dominan melebihi apoteker pada komunitas lain. Saat ini apoteker komunitas siap berkembang dan bersaing didalam perannya membangun kesehatan masyarakat. Bukannya apoteker komunitas akan mengambil alih peran dari tenaga kesehatan lain, tetapi apoteker komunitas akan siap melayani masyarakat dengan penuh dedikasi seperti tenaga kesehatan lain.

Untuk bisa membangun apoteker komunitas, sering kali para praktisi membuat dan melakukan sendiri standar-standar layanan demi persaingan di dalam layanan dan demi lebih memanjakan masyarakat sebagai klien. Agar standar-standar layanan ini kedepannya lebih terarah pada arah yang lebih baik, maka akan sangat penting bila para praktisi ini bergabung pada seminat dan diorganisasi dengan baik oleh IAI ( Ikatan Apoteker Indonesia ). Sehingga kesan berkembang secara sendiri-sendiri seperti saat yang lampau lebih dapat dikurangi. Dan bagaimanapun kebersamaan adalah kekuatan.

Bila kita membicarakan pada tataran yang lebih luas, perguruan tinggi farmasi tidak bisa lepas begitu saja didalam membangun profesi yang berkualitas, oleh karena itu APTFI tidak bisa begitu saja melepaskan IAI di dalam membangun perguruan tinggi yang berkualitas. Saya selalu mengatakan kepada semua pihak bila semua apoteker di depan IAI adalah sama, baik dari lulusan perguruan tinggi dengan akreditasi A maupun akreditasi B, tetapi permasalahan yang dihadapi IAI mungkin akan berbeda didalam pembinaan apoteker baru. Oleh karena itu IAI bagaimanapun juga mempunyai kepentingan terhadap kualitas lulusan.

Selanjutnya pada perkembangannya, APTFI tidak mungkin membangun pendidikan tinggi farmasi yang berkualitas tanpa melibatkan IAI dan perguruan tinggi farmasi yang berkualitas tidak mungkin meninggalkan para praktisi. bila idealisme ini terwujud dalam waktu dekat ini, maka perkembangan dunia farmasi, khususnya farmasi komunitas akan berjalan dengan sangat pesat. Dan kita sebagai praktisi harus pula bersiap-siap menghadapi yunior kita yang bisa jadi akan lebih baik.