Tampilkan postingan dengan label APOTEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APOTEK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

PEMETAAN APOTEK SEBAGAI PENGATURAN DAN PEMERATAAN LAYANAN KEFARMASIAN

PEMETAAN APOTEK SEBAGAI PENGATURAN DAN PEMERATAAN LAYANAN KEFARMASIAN



Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan kesehatan primer yang semakin lama semakin dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat. Sebagai salah satu indikasinya (untuk jawa) adalah semakin menjamurnya apotek sampai daerah kecamatan dan bahkan pada beberapa apotek sudah mulai berani berdiri lebih jauh dari kota kecamatan.

14 tahun yang lalu saat saya mendirikan apotek di kota kecamatan yang berstatus daerah tertinggal, banyak sekali yang mencemooh dan mengatakan tidak akan pernah laku. Sekarang di kecamatan saya sudah ada 5 apotek yang berdiri. Dan omset apotek saya sampai saat ini belum berkurang secara bermakna dan pertumbuhan pertahunnya masih bisa dirasakan, meskipun pertumbuhannya tidak sebesar tahun-tahun awal saya mendirikan apotek.

Jumlah seluruh apotek di kabupaten dimana apotek saya berdiri 14 tahun yang lalu ada 8, dan apotek saya adalah yang ke-9. Sekarang jumlah apotek sudah melebihi angka 80 dan masih ada beberapa lagi yang masih dalam proses perizinan. Peningkatan pertumbuhan apotek yang cukup pesat. Bila pertumbuhan itu kita hitung dengan deret ukur, maka bisa diasumsikan dalam 14 tahun ke depan jumlah apotek akan mendekati angka 160. Bila kita menggunakan deret geometrik, mungkin bisa diasumsikan dalam 14 tahun menjadi sebesar sepuluh kali lipat atau bisa mencapai 800.

Pertambahan jumlah apotek yang cukup besar ini menjadi kekhawatiran juga dari berbagai pihak termasuk para pemodal, apoteker, mungkin juga pemerintah didalam memfasilitasi dalam membuka lapangan pekerjaan. Oleh karena itu pengaturan dan pemetaan kebutuhan layanan kefarmasian dari apotek harus mulai disusun dengan cara-cara yang benar dan tepat. Semua demi kepentingan kita bersama, juga kepentingan para masyarakat sebagai penguna jasa.

Tujuan Pemetaan Apotek
Tujuan pemetaan apotek adalah untuk mempermudah pengaturan, penataan dan pengembangan layanan kefarmasian yang didasarkan pada nilai-nilai dan kenyataan nyata yang ada di lapangan.

Manfaat Pemetaan Apotek
1. Melindungi masyarakat, karena pemetaan bisa diharapakan mampu meningkatkan kualitas layanan kefarmasian.
2. Bagi apoteker, peluang kerja, pengembangan diri dsb lebih bisa diperkirakan.
3. Melindungi bisnis apotek, karena kebutuhan apotek dan apoteker lebih bisa diperhitungkan dengan rasional. Biaya investasi dan pengembalian modal lebih mudah diperkirakan sehingga resiko bisnis lebih dapat ditekan. Pengembangan bisnis juga menjadi lebih bisa menjanjikan.
4. Mempermudah bagi pemerintah didalam pengaturan, penataan, pembinaan, pemerataan dan pengembangan guna mendukung sistem kesehatan yang terintegrasi.
5. PT farmasi sebagai penghasil apoteker akan lebih mudah didalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas apoteker baru.
6. Bisnis terkait farmasi komunitas menjadi lebih mudah dalam menghitung peluang dan resiko, juga dalam pengembangan.
7. Organisasi profesi akan menjadi lebih mudah dalam pembinaan, pengembangan, dan pengaturan. Juga lebih jelas arah memperjuangkan kesejahteraan apoteker dan koordinasi dengan berbagai pihak.Bagaimanapun juga, seseorang tidak bisa berdiri sendiri, demikian juga profesi, akan ada saling ketergantungan dengan lingkungan. Sehingga koordinasi dengan berbagai pihak menjadi sangat penting dan pemetaan menjadi hal dasar yg juga harus dikembangkan.

Pemetaan Apotek

Pemetaan Apotek yang saya maksud adalah menghitung kebutuhan nyata apotek pada suatu daerah, keberadaan daerah terhadap kebutuhan layanan kefarmasian. Sehingga pengaturan, penataan dan pemerataan layanan kefarmasian menjadi lebih rasional dan berdasarkan kepentingan masyarakat akan kesehatan.

Pemetaan apotek merupakan bagian dari pemetaan permasalahan kesehatan bidang kefarmasian. Yang mana penggambaran keberadaa apotek dan kebutuhannya pada suatu wilayah diharapkan akan mampu memberikan arah dalam mengambil kebijakan atau keputusan terkait perkembangan dan pengembangan apotek pada semua lini. Dan ini kedepannya dapat menjadi data awal bagi pemerintah, organisasi profesi, penanam modal juga bagi PT farmasi.

Selama ini, bisa dikatakan sangat sulit mengumpulkan data apotek, karena data apotek masih hanya menjadi kebutuhan organisasi didalam membina anggotanya. Dengan sistem pemetaan apotek yang lebih baik, diharapkan pengumpulan data akan menjadi lebih mudah bagi siapa saja, karena data menjadi kepentingan bersama. Kepentingan bersama antara profesi, organisasi profesi, pemerintah, PT farmasi juga pengusaha. Bahkan masyarakatpun bisa jadi akan membutuhkan data dari pemetaan tersebut.

Saat ini, konsep pemetaan apotek yang yang dikembangkan sudah saatnya menjadi kebutuhan yang mendesak dan didasarkan pada data-data yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diukur. Semisal didasarkan pada jumlah penduduk, tingkat keramaian suatu wilayah seperti pasar, keberadaan sarana kesehatan lain dsb. Dengan harapan akan lebih memberikan nilai-nilai keadilan bagi semua pihak seperti profesi dan pemilik modal, juga bagi masyarakat. Bagaimanapun juga masyarakat sebagai pihak yang lemah memerlukan perlindungan dari pemerintah dan organisasi profesi dengan menyediakan sarana kesehatan apotek yang layak, merata serta tejangkau.

I.Pemetaan Berdasarkan Jarak Antar Apotek

Beberapa masukan yang pernah diterapkan didalam mengatur jumah apotek agar pemerataan dapat berjalan dengan baik adalah dengan mengatur jarak. Kelemahan pengaturan dengan jarak salah satunya adalah adanya perbedaan kepadatan jumlah penduduk. Selain itu juga pengaruh dari sarana kesehatan lain yang membutuhkan keberadaan apotek.

Seperti kita ketahui banyak apotek yang ingin berdiri didekat RS atau tempat keramaian seperti pasar dll. Luasan daerah sekitar pasar yang ramai umunya hanya beberapa ratus meter dari pasar, dan bila pemetaan mengunakan jarak bisa jadi apotek kedua dan selanjutnya akan menerima daerah yang dianggap kurang menguntungkan.


II. Pemetaan Berdasarkan Jumlah Penduduk Per Luasan Wilayah

Pemetaan berdasarkan jumlah penduduk luasan wilayah tertentu dapat dihitung berdasarkan perkiraan kemampuan maksimal apoteker dalam melayanani masyarakat dengan asumsi setiap 10.000 penduduk 1000-2000 diantaranya membutuhkan layanan kefarmasian setiap bulannya. Bila kita mengasumsikan setiap satu bulan ada 25 hari kerja, maka akan ada 40-80 kunjungan dalam setiap hari.

Kelemahan model ini adalah mobilitas masyarakat yang dalam mencukupi kebutuhan layanan kermasian terkadang memilih apotek didaerah lain yang disebabkan oleh beberapa hal. Kesadaran penduduk akan kesehatan terkait sediaan farmasi tidak merata pada setiap daerah dan tingkat ekonomi juga tidak merata, ini juga mempengaruhi model ini.


III Pemetaan Berdasarkan Jumlah Kunjungan

Pemetaan berdasarkan jumlah kunjungan bisa juga dilakukan. Bila kita mengasumsikan apoteker hanya mampu ideal melayani 40-80 pasien perhari, maka bila ada lebih dari 80 kunjungan harus ada Aping yang membantu dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian.

Kelemahan model ini adalah, pada apotek yang mempunyai manajemen kurang bagus bisa jadi jumlah kunjungan tidak mewakili kebutuhan layanan nyata. Karena mereka yang kurang puas bisa saja akan memilih sarana kesehatan lain atau mendiamkan penyakitnya.


IV. Pemetaan Berdasarkan Rasionalisasi Investasi

Apotek bisa juga dikatakan sebagai usaha layanan kesehatan yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai sosial. Oleh karena itu, apotek didalam menjalankan usaha tidak boleh dominan perdagangan agar tidak menghancurkan sistem layanan kesehatan yang menopang sistem kesehatan bangsa. Selanjutnya pemetaan berdasarkan pada nilai-nilai investasi juga dapat dikembangkan.

Pengaturan jumlah apotek berdasar pada rasionalisasi investasi bisa jadi diperlukan guna melindungi nilai-nilai investasi yang selanjutnya dapat diharapkan masyarakat mau ikut berinvestasi dalam bidang kesehatan. Dengan pengaturan bisa diharapkan persaingan akan lebih mengarah pada kualitas layanan bukan pada perdagangan bebas, karena bagaimanapun juga perdagangan bebas dapat menyebabkan pengusaha kecil akan enggan masuk dalam usaha perapotekan dan pengusaha besar akan semakin kuat. Padahal pengusaha kuat umumnya hanya mau berinvestasi bila menguntungkan saja dan kualitas layanan sering kali dinomorduakan. Tidak mungkin apotek wara laba akan mau masuk sampai ke pelosok desa, padahal banyak pengusaha kecil yang mau masuk sampai ke pelosok desa, meskipun bila dilihat dari sisi investasi mungkin kurang menguntungkan.

Harga murah bukan berarti menguntungkan, tetapi kualitas layanan yang baik sudah pasti akan sangat menguntungkan masyarakat. Pengaturan apotek agar kualitas layanan dapat dijaga harus dilakukan. Dan selanjutnya pengusaha juga mendapat perlindungan agar tidak enggan berinvestasi dibidang kesehatan, khususnya kefarmasian.

Pemetaan Apotek Ke depan

Pemetaan apotek ke depan harus melibatkan segala aspek. Aspek profesi menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan, demi nilai-nilai kemanusiaan. Karena meninggalkan aspek profesi berarti juga meninggalkan aspek layanan kesehatan dan meninggalkan aspek layanan berarti akan merugikan masyarakat, merugikan masyarakat berarti merugikan bangsa dan negara.

Pemetaan guna mengatur pendirian apotek menjadi sangat perlu, karena apotek bukanlah usaha perdagangan. Meskipun kran perdagangan bebas dibuka, pembukaan apotek tidak boleh serta merta hanya mempertimbangkan orientasi bisnis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai-nilai manusiaan dan pemerataan akan layanan kesehatan. Dengan demikian, pendirian apotek ke depan sebagai bagian dari usaha pemerataan pelayanan kesehatan. Pendiriannya harus diatur dengan mempertimbangankan akan kebutuhan layanan kesehatan. Persaingan apotek hanya diarahkan sedapat mungkin hanya pada hal-hal terkait kualitas layanan, bukan persaingan pada usaha-usaha perdagangan.

Dengan mempertimbangkan untuk mengkombinasikan semua masukan dari para profesional maka pemetaan untuk sementara saya usulkan dengan istilah “menghitung kebutuhan layanan kefarmasian dengan model blok”. Model blok yang saya maksud adalah dengan mendasarkan wilayah tertentu (blok) terhadap kebutuhan tenaga kefarmasian dan investasi sehingga pengaturan bisa diharapkan lebih rasional. Disini menurut saya tidak menutup kemungkinan masukan dari para profesional, karena merekalah yang sebenarnya lebih paham dari saya pribadi. Sebagai masukan tentu akan sangat banyak kekurangan, tetapi setidaknya dalam harapan saya, masukan saya ini bisa menjadi salah satu pertimbangan demi kemajuan profesi apoteker di Indonesia.

Wilayah tertentu dalam perhitungan blok bisa berarti kota, kecamatan, desa, perumahan atau wiayah lain yang bisa ditentukan atau diukur akan kebutuhan layanan kefarmasian oleh apoteker. Secara ekonomis, pendirian apotek sejumlah apoteker akan lebih mahal bila dibandingkan dengan mendirikan apotek sejumlah kebutuhan layanan. Dengan mempertimbangkan jumlah kebutuhan layanan, maka keberadaan apoteker didalam pendirian apotek bisa lebih dari seorang. Mungkin saja dalam apotek akan ada lebih dari 5 orang apoteker tergantung besar dan kecilnya apotek, juga banyak dan tidaknya jumlah layanan dalam satuan waktu. Mungkin ini termasuk hal baru bagi sebagian apoteker dalam membuat perhitungan untuk pemetaan, oleh karena itu akan ada baiknya bila ini dikaji lebih jauh agar bisa menjadi salah satu pertimbangan didalam mengembangkan praktek profesi apoteker ke depan.

Perhitungan kebutuhan apoteker dalam satu wilayah (A), bisa kita lakukan dengan membuat asumsi tingkat potensi kunjungan penduduk ke apotek yang di gambarkan dalam persentase (P) dikalikan konstanta wilayah (K) dibandingan dengan rasionalisasi nasional kemampuan apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian (R). Yang selanjutnya bisa digambarkan dengan rumus :

A = (jumlah penduduk x P x A) : R

Sebagai contoh, semisal dalam satu kecamatan dengan jumlah penduduk 50.000, dengan asusmsi tingkat kunjungan 20% dan konstanta wilayah 0,7. dan ketetapan rasionalisasi nasional sebesar 1500 layanan perbulan, maka

A= (50.000 x 20% x 0,7) : 1500

A=4,67
maka kebutuhan apoteker didalam wilayah tersebut adalah 5 apoteker.

Angka tersebut bisa saja berubah bila ada perubahan P yang dipengaruhi oleh banyak hal atau ada perubahan K yang seharusnya ditetapkan oleh IAI dan pemerintah. Sebagai pengendali rumus tersebut digunakan rumus rasionalisasi kebutuhan apoteker (RA) dalam apotek. Yang mana rumus rasionalisasi kebutuhan apoteker juga di hitung berdasarkan jumlah kunjungan nyata ke apotek dalam periode tertentu (J) di bagi rasionalisasi kemampuan apoteker didalam melakukan pekerjaan kefarmasian (R).

RA = J : R

Semisal dalam kenyataan di kecamatan tersebut diatas ada 3 apotek, yang satu apotek mempunyai tingkat kunjungan 5000 per bulan. Maka

RA = 5000 : 1500
RA = 3,3

Maka kebutuhan apoteker dalam apotek tersebut minimal adalah 4 orang. Hal ini kita usulkan juga karena ada kemungkinan salah satu apotek yang didirikan pada wilayah tertentu mempunyai daya tarik lebih yang menyebabkan tingkat kunjungan lebih dari yang lain. Untuk memenuhi keadilan dalam biaya operasional salah satunya, maka hal-hal tersebut seharusnya juga kita perhatikan.

Demikian masukan saya dalam hal pemetaan, semoga dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan didalam membangun praktek profesi.

(naskah ini juga saya muat pada hisfarma.blogspot.com)

Jumat, 13 Agustus 2010

PENJAGA LUKISAN

PENJAGA LUKISAN


“Ada yang lucu Tuan?”, tiba-tiba ada yang menyapa Apoteker. Apoteker menoleh dan memperhatikan sekilas, menurut perkiraannya pria itu adalah pelukis yang sedang menjaga lukisannya. Apoteker dengan tetap tersenyum lebar menyapa pria tersebut, “he3x, anda yang melukis lukisan ini Tuan?”, sambil menunjuk lukisan pria yang sangat gendut sedang naik kuda yang kurus kerempeng sambil menggigit rumput.

Pria tersebut menjawab sambil tersenyum bangga karena merasa lukisannya ada yang mengapresiasi, “Benar Tuan, sayalah yang melukis itu”. Lanjut pria tersebut, “Diantara pengujung lukisan saya, lukisan ini adalah salah satu yang menarik, karena pesan dibalik lukisannya”.

Kemudian apoteker melanjutkan perkataannya, “itu kuda berjalan sepuluh langkah saja langsung rubuh, ha3x” apoteker tertawa sambil menirukan jalannya kuda yang terhuyung2.

Pelukis, “ha3x, tuan bisa saja”.

Jawab Apoteker dengan setengah tertawa, “ha3x, Coba Tuan perhatikan, kuda yang kurus kerempeng dengan beban kerja seperti itu hanya menggigit rumput tanpa boleh mengunyah. Apa kudanya lagi sariawan?

“Saya rasa tidaklah kalau kudanya sariawan. Itu pastinya karena pemiliknya sangat kikir”, lanjut Apoteker lagi.

Pelukis, “terima kasih tuan, anda telah mengapresiasi pesan dibalik lukisan saya”. Lanjut pelukis, “semua orang boleh mengapresiasi sesuai dengan latar belakangnya secara bebas, tetapi tetap harus mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku di Kerajaan ini”.

“Kalau setiap orang melakukan penilaian sendiri-sendiri, apakah itu tidak akan menjadikan penilaian menjadi kacau?”, Apoteker bertanya.

Pelukis, “Justru penilaian itu harus bebas dan kreatif, tetapi tidak boleh menyimpang dari norma yang berlaku di Kerajaan kita. Karena dari penilaian kreatif itulah munculnya ide-ide kreatif yang membangun”.

“Ooo, begitu ya”, jawab Apoteker sambil manggut-manggut

Pelukis, “Pada pekerjaan seniman itu yang susah adalah menggabungkan semua rasa sehingga dihasilkan suatu keserasian dan keselarasan rasa. Jadi sebagai seniman tidak boleh mngutamakan satu rasa saja. Missal asin atau pedas saja”.

Apoteker, “Tuan Pelukis, terus untuk asinan sama manisan bagaimana?”

Apoteker melanjutkan, “bukankah disitu hanya ada dominasi satu rasa saja??”

Pelukir, “Disinilah pentingnya memahamin rasa. Tidak semua makanan enak untuk dijadikan asinan atau manisan, hal ini disebabkan oleh rasa bawaan yang dikandung oleh bahan makanan yang mau dijadikan asinan atau manisan, jadi keserasian dan keselarasan rasa tetap ada.”

Apoteker manggut-manggut lagi, “he3x, iya ya…”

Pelukis, “Pekerjaan seniman tidak boleh diintervensi oleh pihak lain yang tidak mempunyai kompetensi”.

Apoteker, “Maksudnya”

“Tuan bisa melukis?” Tanya Pelukis kepada Apoteker.

“Tentu tidak tuan, ha3x”, jawab Apoteker sambil tertawa. “Saya tidak pernah belajar melukis”, lanjut Apoteker lagi.

“Tuan mau seandainya diminta melakukan intervesi terhadap lukisan saya yang belum selesai itu?”, Tanya pelukis sambil menunjuk lukisannya yang belum selesai.

Jawab Apoteker, “ha3x, mau saya jadikan apa???”

Sambil terus tertawa Apoteker melanjutkan, “bisa saya melanjutkan, tetapi menjadi gambar gelap gulita di dalam goa, ha3x”, Apoteker tertawa panjang.

“OK, saya mengerti”, lanjut Apoteker lagi.

Pelukis hanya tersenyum saja melihat tingkah apoteker yang dianggapnya sebagai jiwa yang menyenangkan.

Setelah berbincang-bincang agak lama yang terkadang diselingi gelak tawa dari keduanya, pelukis berkata kepada Apoteker sambil meminta apoteker memperhatikan pintu masuk ruang pertemuan.

Pelukis, “Tuan, coba anda perhatikan, didepan pintu masuk sudah ada 1 orang penjaga, berarti para tamu sudah dipersilahkan untuk masuk ruangan. Bila ada 2 penjaga berarti acara segera dimulai dan bila sudah ada 3 penjaga berarti acara sudah dimulai dan biasanya sudah tidak boleh lagi ada orang yang masuk”.

Lanjut Pelukis, “Di linkungan Kerajaan dibiasakan tidak boleh ada suara keras, sehingga semua dilakukan dengan simbol-simbol”.

Apoteker, “Ooo, begitu ya. Kalau begitu saya mohon pamit dulu”, sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Pelukis.
Pelukis, “Senang bertemu anda dan semoga hari anda menyenangkan”

Setelah berpamitan dan berbasa-basi sebentar Apoteker memasuki ruang pertemuan. Di dalam ruang pertemuan yang belum penuh, Apoteker disambut oleh PM, “Silahkan anda menempati deretan terdepan … bersambung

Senin, 02 Agustus 2010

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA


Selama saya bergabung dengan IAI (yang dulu ISFI), sebenarnya tidak pernah sekalipun saya menemukan konsep yang jelek. Semua konsep yang ditawarkan didalam membangun profesi adalah sangat baik. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa diantara konsep-konsep IAI tersebut selalu ada saja yang tidak bisa diterima?

Untuk sementara ini, kesimpulan saya adalah karena ada rasa tidak saling mempercayai diantara anggota IAI sendiri. Yang mana rasa tidak saling percaya ini bisa disebabkan oleh berbagai hal yang sangat manusiawi. Bila kita membicarakan siapa yang salah dan benar, maka pada hemat saya semuanya benar dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Yang salah adalah ketidak mampuan IAI mulai cabang sampai pusat didalam mengelola kepentingan-kepentingan yang muncul. Kepentingan itu bisa terkait kepentingan intern dan kepentingan ekstern. Dalam mengelola kepentingan kepentingan intern anggota saja, selama ini IAI masih kesulitanan. Padahal didalam mengelola organisasi yang besar ini, pengelolaan terhadap kepetingan kepentingan intern adalah sangat penting.

Dimana letak salahnya? Kesalahan bukan pada individu pengurus, tetapi karena IAI kekurangan ahli dalam segala bidang didalam membangun organisasi. Tetapi kekurangan ini bisa diminimalkan dengan melibatkan semua anggota yang peduli terhadap kemajuan profesi dalam hal ini termasuk juga melibatkan para praktisi. bukan berarti para praktisi ini adalah segalanya, tetapi setidaknya praktisi inilah yang bisa merasakan suka uka dalam melakukan praktek profesi. teori bisa di baca, tetapi perasaan sebagai praktisi hanya dapat dirasakan dengan melakukan pekerjaan profesi. Ini yang tidak bisa digantikan dengan hanya sekedar membaca.

Dalam membangun rasa saling percaya dalam organisasi IAI, hal-hal yang seharusnya diperhatikan antara lain :
1. membangun persepsi, yang mana dengan membangun persepsi diharapkan akan ada penyeragaman terhadap persepsi dalam praktek profesi. Penyeragaman buka berarti membelenggu kreatifitas anggota, tetapi batasan profesi harus dipahami dengan pemahaman profesionalisme.
2. Membangun komunikasi antar apoteker dan antar anggota dengan pengurus. Karena tanpa komunikasi yang baik, pesan tidak akan diterimakan dengan baik pula.
3. Membangun rasa keadilan didalam praktek profesi.
4. Mengatasi kesenjangan sosial.
5. mengapresiasikan semua masukan yang baik dari anggota.
6. Membangun PO yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Bila di dalam organisasi tidak ada rasa saling percaya, maka semua potensi yang ada bisa jadi justru akan saling meniadakan. Padahal semua potensi inilah yang seharusnya dikelola oleh organisasi agar menjadi kekuatan dari organisasi tersebut.

Salah satu cara didalam mengelola semua potensi ini adalah dengan :
1. meningkatkan interaksi diantara semua potensi
2. menciptakan rasa saling ketergantungan diantara semua potesi.
3. mempererat hubungan anara semua potensi
4. membangun komitmen bersama diantar semua potensi.

Dalam hal ini semua elemen organisasi adalah sangat penting dan tidak ada salah satupun yang lebih penting dari yang lain. Kita semua di dalam organisasi adalam tim, tim yang harus bekerja sama dan bekerja keras dengan tujuan memajukan organisasi. Oleh karena itu membangun komitmen bersama menjadi hal yang sangat penting.

Di dalam organisasi, kepercayaan adalah modal sosial yang hanya dapatkan dengan cara dibangun dan kerja keras, bukanya didapatkan dengan percuma. Semoga, IAI kedepan menjadi organisasi besar yang diisi oleh rasa saling percaya, baik intern dan ekstern. Demi kemajuan pembangunan kesehatan bangsa.

Selasa, 27 Juli 2010

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN


Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan memanjakan mata dengan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran umumnya pelukisnya sendiri, mereka dengan ramah menyambut para undangan. Para penjaga lukisan terkadang juga menceritakan apa maksud dari lukisan, sambil mempersilahkan para undangan segera memasuki ruang pertemuan setelah melihat pameran lukisan.

Saat Apoteker menuju sudut-sudut ruang jamuan, Apoteker mulai melamunkan seni-seni yang di temui sepanjang hari ini dan membandingkan dengan seni-seni praktek profesi Apoteker yang telah dilakukannya. “Tanpa disadari oleh banyak orang, apotekerpun juga merupakan seorang seniman”, demikian dalam hatinya. Apoteker selalu mengingat “buatlah sesuai seni”, setiap dalam melakukan peracikan obat, tanpa intervensi dari siapapun juga. Seni meracik memang menjadi seni tersendiri bagi seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas mulia.

Dan masih banyak seni-seni lain yang terlibat di dalam praktek profesi Apoteker. Seni mengelola keuangan, seni berkomunikasi, dsb. Seperti beberapa waktu yang lalu, apoteker harus selalu kreatif di dalam menjalankan tugasnya dengan seni berkomunikasi yang mudah di cerna oleh masyarakat. Analogi-analogi seringkali harus digunakan. Seperti pada kasus OTT di bawah diwaktu itu.

Pasien, “Pak minta obat A dan B”

Apoteker, “Untuk sakit apa bu?”

Pasien, “Titipan”

Apoteker, “yang nitip siapa?”

Pasien, “Keluarga saya”

Apoteker, “Obat ini tidak rasional bila digunakan secara bersama-sama”

Pasien, “tidak apa-apa, nanti orangnya marah bila saya tidak membelikan obat ini”

Apoteker, “Kombinasi obat ini dapat dari mana?”

Pasien, “dari dokter”

Apoteker mulai curiga bila pasien berbohong, karena kombinasi tidak rasional. kemudian apoteker melanjutkan perkataannya, “dokter mana bu?”

Pasien, “pokonya kedua obat ini bagus, dan saya minta kedua obat itu untuk dilayani”

Apoteker, “Benar Bu semua obat bagus, tetapi dalam penggunaannya ada aturan-aturan yang harus dipenuhi”

Pasien, “biar cepat sembuh Pak”

Apoteker, “ibu tahukan bila ada bakso enak sama tembakau enak?”. Lanjut apoteker sambil tersenyum, “tembakau enak itu bila dicampurkan dengan bakso enak akan menjadi sangat-sangat tidak enak”.

Kemudian pasien itu dengan sedikit malu sambil tertawa kecil. “Iya ya, he he he …”.

Apoteker akhirnya juga ikut tertawa.

Tanpa disadari, Apoteker akhirnya tertawa sendiri mengingat kejadian itu. Masih sangat beruntung, saat tertawa sendiri posisi Apoteker pas didepan sebuah lukisan yang menggambarkan orang yang sangat gendut lagi naik kuda yang sangat kurus. Yang didalam pikiran sebagian orang mungkin lukisan itu cukup bisa menggelitik.

“Ada yang lucu pak?”, tiba-tiba ada menyapa Apoteker…

Senin, 19 Juli 2010

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN



“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya. Apoteker terdiam sesaat, mengingat-ingat. “Sepertinya saya tidak kenal”, dalam hati apoteker. Tanpa menunggu jawaban dari Apoteker pria tersebut melanjutkan pembicaraan, “kenalkan, saya Menteri Agama dan Budaya (MAB)”.

“PM, yang meberitahu keberadaan anda disini, beliau masih sibuk”, lanjut MAB. “Maaf tuan MAB, karena saya kurang mengenal lingkungan Istana”, sahut Apoteker. “Adakah yang tuan inginkan dari hamba?”, lanjut Apoteker. didalam hati apoteker sangat malu, lingkungan Istana menjadi lingkugan yang baru buat dirinya. Hampir-hampir tidak ada yang dikenalinya.

“Tidak ada”, jawab MAB. “hanya saya ingin mengetahui dari anda beberapa hal mengenai praktek profesi apoteker saja, karena menurut hasil arahan dari PM tadi malam tim penyusun konsep penugasan Apoteker diketuai oleh saya dan anda juga masuk didalam tim itu. Agar dalam pertemuan-pertemuan berikutnya nanti saya tidak buta akan profesi Apoteker, saya usahakan menemui anda dahulu. Meskipun ketetapan Raja belum turun, karena masih menunggu nanti, tetapi kita yang ada kemungkinan ditugaskan harus menyiapkan diri.”, lanjut MAB.

“Bila pada pertemuan hari ini Raja benar memilih saya sebagai ketua tim, maka saya berharap, dua hari lagi saya sudah bisa mendapatkan konsep tertulisnya dari anda. Dan minggu depan sudah dapat dimulai rapat-rapat penyusunan konsep. Dan sebelum minggu depan saya sudah harus mendapatkan gambaran praktek profesi Apoteker untuk dipelajari dan saya kaitkan dengan nilai-nilai budaya kerajaan”, lanjut MAB lagi.

Apoteker, “Hamba siap melaksanakan tugas tuan”.

MAB, “o iya, tadi anda terlihat terkejut karena sangat menikmati musik? Apa anda suka dengan musik?”

Jawab Apoteker, “Benar tuan, tebakan tuan tidak salah”. Dalam hati apoteker, “saya tidak mungkin akan menceritakan kecemburua sosial saya terhadap Koki Kepala”, “toh saya kan lebih memilih nilai-nilai kemanusiaan yang tidak hanya sekedar urusan perut, he3x”. dalam hati Apoteker untuk menghibur dirinya sendiri. Dalam hatinya lagi, “saya kan profesional yang siap melayani peduduk kerajaan, dan hidup saya akan saya dedikasikan buat Kerajaan dan kemakmuran Kerajaan”.

“saya suka musik, tetapi saya tidak bisa bermain musik” lanjut Apoteker. “musiknya sangat enak didengar, dan saya sangat menikmati”, lanjut apoteker lagi.

MAB, “Pendengaran anda cukup bagus, pemain musik itu memang hebat, sehari-hari kerjanya hanya berlatih bermain musik saja”. “mereka professional dan melakukan pekerjaannya demi menyenangkan orang lain secara profesional, bekerja keras dalam belajar dan berlatih menjadi motonya”, lanjut MAB.

Apoteker, “benar Tuan, mereka hebat. Alunan musiknya kadang sperti gemericik air, kadang seperti deru angina, yg terdengar sangat sangat enak ditelinga”.

“tetapi sehebat-hebatnya pemain musik tidak bisa menghibur orang tuli”, sambung MAB sambil tersenyum.

Tidak menyangka apoteker terhadap pernyataan MAB, kemudian apoteker menjawab, “iya ya…..,”, dengan spontan Apoteker melanjutkan perkataannya dengan sekenanya, “ berarti masih hebat apoteker, karena tetap bisa melayani orang yang tuli, ha3x”. kemudian di ikuti gelak tawa mereka berdua.

MAB melanjutkan lagi, “Anda lihat disudut itu, banyak lukisan, sehebat-hebatnya lukisan juga tidak bisa dinikmati oleh orang buta”.

Jawab Apoteker, “Benar tuan, semua lukisan itu tidak dapat dinikmati orang yang buta, beruntunglah kita tidak buta”.

Lanjut MAB, “Semoga kita tidak sedang dalam hati yang buta dan tuli, sehingga lebih bisa menikmati indahnya dunia”. Kemudian MAB berpamitan dan meninggalkan Apoteker yang masih menikmati hidangan tanpa menghiraukan kiri kanannya yang belum dikenal. Bukan karena sombong, tetapi karena memang tidak mempunyai ide untuk dibicarakan dan karena rasa percaya diri yang masih perlu dipupuk sedikit lagi.

Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran yang umumnya pelukisnya sendiri dengan ramah menyambut para undangan. Dengan ramah para penjaga lukisan juga…

Sabtu, 10 Juli 2010

BERMIMPI SAAT TERJAGA

BERMIMPI SAAT TERJAGA


Malam ini Apoteker menjadi susah tidur, mengingat pengalaman hari ini yang sangat istimewa. Setelah Raja memutuskan untuk mengirimkan Apoteker untuk ditugaskan sampai kepelosok guna mendampingi penduduk Kerajaan didalam meningkatkan derajat pendidikan kesehatan dan kesehatan, yang berarti juga meningkatkan ekonomi, kemanusiaan, peradaban dan ketahanan Kerajaan, Raja menindak lanjuti dengan menyusun tim guna menyiapkan segala yang tekait dengan usaha penugasan Apoteker sampai pada tingkat pelosok. Guman Apoteker dalam hati berulang-ulang, “Raja yang sangat cerdas dan bijaksana”.

Setiap detik demi detik hari ini terekam didalam benak Apoteker seakan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. “Pengalaman yang sangat berharga”, itu yang terlintas didalam pikirannya. “Setiap detik hari ini adalah ilmu dan pengalaman, yang tidak pernah terlintas didalam hati sebelumnya, bila akan menemui peristiwa yang sangat berharga yang mungkin hanya sekali didalam hidup”, demikian pikir Apoteker.

Sungguh tak terbayangkan, bila hari ini diundang oleh Raja untuk membahas penugasan Apoteker sampai ke pelosok. Tidak terbayangkan bila hari ini dirinya menjadi salah satu orang yang akan ikut didalam mengambil keputusan Kerajaan. “Sungguh merupakan mimpi,” kenang apoteker sambil membaringkan dirinya titempat tidur.

Sebelum acara hari ini dimulai, diadakan jamuan makan oleh Raja, yang mana makanan kualitas Kerajaan menjadi mimpi pertama bagi Apoteker dihari ini. “Sungguh luar biasa”, berkali-kali Apoteker berguman. Pengalaman pertamanya menyantap hidangan yang sangat lezat bagi lidah Apoteker. nuansa jamuan yang sangat istimewa karena diiringi musik yang sangat syahdu. “mimpikah aku”, kata Apoteker didalam hati setiap kali memasukan suapan nasi kedalam mulut. “Mungkin selama ini saya hanyalah katak dalam tempurung”, kata Apoteker dalam hati lagi.

Sudut-sudut ruang jamuan dihiasi lukisan lukisan yang sangat molek yang membuat hati Apoteker menjadi lebih nyaman didalam menikmati jamuan makan. Sesekali Apoteker berguman sendiri dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti orang lain, karena sangat pelannya didalam hirup pikuk undangan dan musik.

Sambil menikmati jamuan, Apoteker tenggelam didalam lamunannya sendiri. ”seandainya istri saya bisa memasak senikmat ini”, begitu mungkin ungkapan apoteker didalam lamunannya. “Ada masalah dengan jamuan tuan?”, tiba-tiba Apoteker dikejukan oleh seorang pria disampingnya. Dengan agak terkejut, tanpa menunggu makanan dimulut masuk kerongkongan semua, Apoteker sepontan menjawab “ tidak ada, tidak ada tuan” kemudian apoteker terbatuk-batuk karena tersedak. Pria itu kemudian melanjutkan perkataannya,” maaf tuan, saya telah mengganggu anda”. Dengan buru-buru apoteker menjadwab,”tidak apa-apa tuan. Kenalkan saya Apoteker, anda siapa?”

“Saya adalah Koki Kepala yang beratanggung jawab terhadap hidangan jamuan ini tuan”, sahut pria itu. “Jikalau ada keluhan dapat langsung disampaikan kepada saya”, sahut pria itu lagi.

“wah, hebat hebat hebat, masakan anda hebat”, kata apoteker kepada Koki Kepala sambil tersenyum lebar. “ha3x”, kemudian apoteker tertawa. “bisa masak sedemikian hebat, tentu anda berasal dari keluarga yang sangat jago memasak”, tebak apoteker.

sambil tersenyum Koki Kepala menjawab, “Saya berasal dari keluarga biasa, hanya karena kerja keras saya bisa jadi Koki Kepala”. Apoteker menjadi bingung, dalam hatinya, “apa hubungan kerja keras dengan jadi Koki???”, kemudian Apoteker berkata, “ Kita semua memang harus bekerja keras agar menjadi sukses”. Meskipun dalam hati Apoteker bertanya-tanya.

Dalam hati Apoteker yang penuh tanda Tanya, kemudian bertanya lagi, “Bagaimana masakan anda begitu hebat tuan?”. “Belajar dimana?”, lanjut Apoteker. “Saya jadi Koki Kepala baru 10 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya menjadi koki biasa dengan kemampuan yang terbatas, 10 tahun sebelumnya lagi saya hanya menjadi pembantu koki”, jawab Koki. “Beda dengan Apoteker, yang mana Apoteker ada pendidikannya, kalau Koki hanya belajar dari Koki Senior”, sambung Koki.

“Tapi Koki kan gajinya besar”, sambung apoteker merendah, karena memang tidak tahu berapa gaji koki yang sebenarnya. Lanjut apoteker lagi, “ Gaji Apoteker hanya sekitar 10 sampai 15 keping perak”. “Hanya cukup untuk makan saja”, lajut Apoteker lagi.

“Koki yang mana dulu? Pembantu Koki yang hanya menjadi pelayani Koki gajinya antara 7 keping perak sampai 15 keping perak, saat sudah bisa beberapa masakan sederhana atau membakar daging bisa sampai lebih dari 2 keping emas”, Jawab Koki. “Koki biasa bisa sampai 3 atau 4 keping emas. Koki Kepala bisa sampai 20 keping emas”, lanjut Koki. “Profesi Koki memang cukup menjanjikan di Kerajaan ini”, lanjut Koki Kepala lagi.

Sangat terkejut hati apoteker mendengar besarnya gaji Koki Kepala, bisa dibayangkan, satu keping emas setara dengan 20 keping perak. Di kepalanya sudah mulai menghitung seandainya gaji apoteker sebesar gaji Koki Kepala, dalam pikiran apoteker mulai penuh impian dan hayalan tentang seandainya, seandainya dan seandainya.

Apoteker bertanya lagi,” Dengan gaji Koki Kepala sebesar 20 keping emas, kenapa tidak membuat rumah makan sendiri?. lanjut Apoteker, “ keuntungannya kan pasti sangat besar dan berlipat-lipat”.

“ha3x, saya sering mendapat pertanyaan begini, saya sudah menduga”, jawab Koki Kepala sambil tertawa sedikit keras. kemudian Koki Kepala melanjutkan pernyataannya, “Banyak Koki yang berusaha mencoba membuka rumah makan sendiri, mulai pembantu koki sampai Koki Kepala. Umumnya pembantu Koki bukan mencoba membuka rumah makan besar, tetapi mencoba membuka rumah makan kecil-kecilan atau menjual makanan pingir jalan”.

Lanjut Koki, “ coba hitung, biaya operasional rumah makan besar untuk biaya gaji Koki dan karyawan lain ditambah sewa lahan bisa sampai 100 keping emas. Sangat besar sekali, itu semua belum ter,asuk perlengkapan masak dan biaya-biaya lain, kalau tidak jalan bagaimana?”

Apoteker terdiam sesaat sambil berpikir, “ gaji Koki Kepala cukup untuk menggaji 20 lebih Apoteker seperti dirinya. Bila dilihat dari fungsi kemanusiaan keberadaan Apoteker jauh lebih penting dari pada sekedar urusan perut. Tetapi bila dilihat dari sisi penghasilan, gaji Apoteker sangat jauh, padahal bila ditimbang-timbang pada tingkat kesulitan di dalam pekerjaan mungkin masih lebih rumit Apoteker.”

Kemudian Apoteker menjawab sekenanya, “ Wah, kalau begitu lebih enakan ikut orang saja, tidak usah mikir capek-capek penghasilan besar, ha3x”. Kemudian Koki menyambung dengan membenarkan perkataan Apoteker,” Memang benar, ikut orang gaji cukup untuk menghidupi keluarga, sudah sepantasnya saya bersukur”.

Setelah berbasa basi sebentar Koki Kepala berpamitan kepadaAapoteker,” Senang bertemu anda tuan, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Selamat menikmati jamuan”.

Sepeninggal Koki, hati apoteker berkata, “ besar sekali gaji Koki Kepala”, “untung saya tidak tertarik gaji, untung saya tertarik pada nilai-nilai kemanusiaan, meskipun gaji kecil”, sisi hati apoteker yang lain menghibur diri.

Apoteker melanjukan lamunannya,” Memang untuk mencari emas lebih berkembang bisnis urusan perut dari pada kerja kemanusiaan. Atau setidaknya membuka praktek dikota besar lebih menjanjikan dari pada dipelosok. Tetapi kalau ingin berguna bagi kemanusiaan dan Kerajaan lebih terasa di pelosok, lagian penduduk pelosok lebih menghargai orang lain dari pada penduduk kota.”.

Malam semakin larut, Apoteker belum bisa tidur, meskipun sudah cukup lama ada di tempat tidur. Kemudian apoteker bagun lagi dan mengambil minum air putih meskipun tidak haus.

“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya… Berlanjut sampai ada waktu untuk melanjutkan.

Sabtu, 26 Juni 2010

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR


Pada jaman dahulu kala ada Kerajaan Negeri Dongeng yang dipimpin oleh seorang Raja yang cerdas dan bijaksana. Yang mempunyai seorang Perdana Menteri (PM) yang cerdas pula. Rakyatnya selalu hidup dalam kemakmuran yang tiada kurang suatu apapun. Ada suatu kebiasaan Raja yang sangat baik, yang mana Raja sangat suka menyamar menjadi rakyat jelata, pedagang atau menjadi apapun juga untuk melihat keadaan kerajaan yang sebenarnya.

Pada suatu hari, dimusim panen yang mana kebanyakan dari para rakyatnya sedang sibuk merayakan pesta panen, Raja mengajak 2 orang pengawalnya untuk melakukan penyamaran. Dengan berpura-pura menjadi pedagang, Raja berharap dapat melihat keadaan ekonomi Kerajaan. Sehinga kondisi rakyat dapat diterjemahkan dalam rencana pembangunan ekonomi Kerajaan.

Dari desa ke desa, dari kota ke kota. Tanpa kenal lelah Sang Raja ditemani oleh dua orang pengawalnya. Yang satu menjadi tukang angkut barang dan yang satu menjadi bendahara. Raja sepertinya sangat menikmati perjalanannya, sampailah pada suatu hari Raja melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung didepan rumahnya dengan tatapan kosong. Guratan tua diwajahnya semakin menambah usia yang sebenarnya. Pakaian lusuh yang dikenakan menjadikan seperti orang yang tidak terawatt didalam hidupnya.

Dengan langkah yang perlahan Raja mendekati orang tua tersebut. Kemudian dengan sangat lembut Raja mengucapkan salam dan bertanya kepada pria tua tersebut.

“ selamat siang tuan, bisakah saya bertanya sesuatu?” kata Raja dengan penuh hormat. Sebagai orang asing, Raja tetap menghormati siapa saja yang ditemui di dalam penyamaran.

Pria tersebut tetap saja berdiam diri, tanpa menoleh sedikitpun seperti tidak ada siapa-siapa didekatnya. Pandangan kosong dan guratan-guratan tua wajahnya menampakkan tiada ekspresi sama sekali. Sekali-sekali mengambil nafas dalam-dalam, pria tersebut semakin kelihatan suatu duka yang mendalam. Kemudian Raja mengulang perkataannya lagi, “ Seamat siang tuan, bisakah anda menolong saya?” Kemudian pria tersebut menoleh tanpa menjawab, hanya memandangi wajah asing didekatnya.

Setelah beberapa saat Pria tua itu berkata, “anda siapa?” dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan tetap memandangi wajah asing didekatnya, dengan hampir tanpa ekspresi.

Raja menjawab, “saya pedagang dari kota.” Berdiam sesaat kemudian Raja berkata lagi, “Saya sedang mencari dagangan, kira-kira siapa penduduk disini yang masih menyimpan hasil panen?” Raja melanjutkan, “Mungkin tuan sendiri mempunyai hasil panen yang belum terjual?”

Pria tua itu terdiam. Tanpa sepatah katapun di keluarkan sambil menatap wajah sang raja dalam-dalam. Kemudian Raja berkata lagi,”kalau tuan sudah tidak mempunyai hasil panen lagi, bisakah tuan menunjukan orang yang masih mempunyai hasil panen?”
Pria tua itu kemudian menjawab, “Tuan, saya sudah tidak mempunyai ladang dan sawah lagi. Semua sudah saya jual. Dan saya juga tidak tahu siapa yang masih mempunyai hasil panen. Karena sudah satu tahun ini saya tidak pernah bergaul dan hanya merawat istri saya yang sakit.”

Selanjutnya pembicaraan menjadi cerita pria tua itu dengan usaha mengobati penyakit istrinya. Dengan sekali-sekali menarik napas panjang pria itu menceritakan semua cobaan yang dihadapi dengan tanpa semangat. Semua keluh kesah keluar dari mulutnya. Raja mendengarkan dengan penuh empati.

Setelah cerita berakhir, dengan basa basi sedikit Raja kemudian memberi uang keping emas kepada pria tua itu sambil berkata, “ini ada sedikit keping emas laba dari penjualan beberapa hari kemarin, semoga bisa membantu istri tuan untuk berobat.” Pria tua itu menerimanya dengan sangat terharu, dan sambil menangis pria itu berkata, “Tuanku, semoga rejeki tuan semakin banyak dan jauh dari mara bahaya.” Kemudian Raja berpamitan dan meninggalkan desa itu.

Keesokan harinya setelah sampai di Istana, Raja memanggil PM dan mendiskusikan masalah kesehatan. Saran dari Perdana Menteri adalah memperbaiki sistem kesehatan Kerajaan dan memanggil semua tenaga kesehatan terkait untuk dimintai masukan. Raja menyetujui dan menitahkan kepada Perdana menteri untuk mengundang semua tenaga kesehatan yang ada di Kota Raja.

Beberapa hari kemudian, hamper semua tenaga kesehatan sudah berkumpul di istana Kerajaan, di ruang pertemuan. Dan semua bertanya-tanya terhadap undangan Raja yang tiba-tiba dan terkesan sangat mendesak. Satu sama lain saling melontarkan pertanyaan yang sama dan semua tidak ada yang memahami kenapa sampai terjadi undangan ini. Saat kegaduhan yang diakibatkan bisikan-bisakan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara “Baginda Raja memasuki ruangan, semua hadirin harus hormat”.

Dengan penuh kewibawaan, Raja memasuki ruangan pertemuan. Setelah penghormatan kepada Raja selesai, Raja memerintahkan kepada PM untuk memulai pertemuan membahas masalah kesehatan di wilayah kerajaan.

PM: “ saudara-saudara yang terhormat, kalian semua diundang Kerajaan untuk membicarakan masalah kesehatan di wilayah Kerajaan. Raja menginginkan pembangunan kesehatan menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Karena Negara yang kuat tidak mungkin bila tidak diisi oleh badan dan jiwa yang sehat.”

Kemudian PM melanjutkan dengan pertanyaannya kepada Dokter; “ Dokter, bagaimana kosep kamu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat?”

Dokter; ”Tuanku yang saya hormati, menurut hamba Kerajaan harus menggaji dokter lebih banyak dan mengirmkannya sampai pada pelosok. Karena tanpa gaji yang cukup saya rasa tidak mungkin Dokter akan mau dikirim sampai ke pelosok kerajaan.”

PM; “ Perawat, bagaimana menurut kamu?

Perawat; “Benar yang mulia, profesi kami siap membantu Dokter sampai ke pelosok, toh saat ini Perawat sudah sampai pada pelosok Kerajaan. Cuma saja kewenangan kami terbatas.

PM; “ Apoteker ada masukan?”

Apoteker; “ Tuanku, menurut hamba Kerajaan harus mempunyai arah yang tepat dalam membangun sistem kesehatan. Termasuk menempatkan Dokter dan Perawat sampai ke tingkat pelosok Kerajaan. Dan kami akan membantu mereka dengan obat dan penyuluhan kesehatan yang sudah biasa kami lakukan.”

PM; “Dokter dari mana kamu akan menghidupi diri kamu bila gaji yang diberikan kerajaan kecil dan tidak cukup?”

Dokter; “ Kami masih bisa menarik jasa kepada penduduk yang sakit, terutama yang kaya. Dengan sekeping perak atau emas. Baik pada pelayanan pengobatan atau pada layanan konsultasi.”

PM; “ Perawat, bagaimana dengan kalian?”

Perawat; “ Tuanku, menurut hamba sama dengan Dokter. Hanya saja kami hanya menarik sekeping perunggu.”

PM; “Apoteker?”

Apoteker; “Tuanku, kami selama ini hanya makan dari jasa yang sangat kecil dari apa yang kami lakukan. Malahan untuk konsultasi dan edukasi kami hanya bisa melakukan dengan cuma-cuma.”

PM melanjutkan pertanyaannya; “ terus bagaimana kamu menghidupi keluarga kamu bila jasa kamu sangat kecil?”

Apoeker; “ Jasa kami memang sangat kecil, tetapi yang menggunakan jasa kami jauh lebih banyak. Sehingga bila dikumpulkan akan cukup untuk menghidupi keluarga kami. Meskipun itu tidak menjadikan kami kaya”

PM; “ Dokter, apa yang bisa kamu kerjaka untuk kerajaan?”

Dokter; “ Tuanku, kami akan bekerja keras mengobati semua penduduk Kerajaan yang sakit demi nilai-nilai kemanusiaan.”

PM; “ Perawat, apa yang bisa kamu kejakan?”

Perawat; “Kami siap melakukan perawatan kepada semua penduduk yang membutuhkan.”

PM; “ Apoteker? “

Apoteker; “ Tuanku, saya rasa kami siap mendudkung mereka, dan kami akan pula melakukan penyuluhan kesehatan kepada penduduk kerajaan dengan cuma-cuma. “

PM; “ Dokter, apa yang kamu harapkan dari kerajaan terhadap peran kamu? “

Dokter; “ Kami hanya minta sedikt gaji yang lebih banyak tuan. “

PM; “ Perawat? “

Perawat; “ hamba rasa sama dengan dokter Tuan “

Apoteker; “ kami hanya mengharapkan kemudahan dan pembebasan dari pajak, karena apa yang kami kami lakukan akan meningkatkan ekonomi kerajaan meskipun dampaknya tidak langsung. Dan sewajarnya bila ada dampak pada peningkatan ekonomi kerajaan menjadikan kami dipermudah, karena kami tidak mengharapkan gaji dari Kerajaan. “

Kemudian PM menghentikan dialog dan membicara hasil dialog ini dengan Raja. Raja menyuruh PM untuk mengambil kesimpulan dengan mendiskusikan lagi dengan para ahli kesehatan se Kota Raja.

PM; “ Menurut saya, kesimpulannya adalah, mengirimkan Dokter dan perawat sampai tingkat pelosok dan Apoteker harus mendukung mereka dengan mendirikan apotek pada daerah-daerah yang dianggapstrategis. Bagaimana menurut kalian semua? “

Dokter; “Hamba siap melaksanakan tugas “

Perawat; Hamba siap melaksanakan tugas kerajaan”

Apoteker; “ Hamba siap melaksanakan tugas Kerajaan “

Setelah semua selesai mengemukakan pendapat, PM melaporkan kepada Raja bahwa kesimpulan telah selesai dibuat, dan menjadi kewenangan Raja untuk memutuskan. Kata PM kepada Raja; “ Tuanku Yang Mulia, sidang sudah disimpulkan, dan dipersilahkan kepada Yang Mulia untuk menyampaikan putusan / titah. “

Kemudian Raja berdiam sejenak sebelum mengeluarkan titahnya. Dengan penuh kewibawaan Raja mengucapkan titahnya, “ Pertama, peran dokter dan perawat tetap seperti semula dan Kerajaan akan mengirim sampai pelosok disesuaikan dengan kebutuhan.

Kedua, Apoteker akan dikirimkan sampai pelosok untuk mengawal penduduk didalam menjaga kesehatan. Dan Kerajaan akan memberikan kemudahan dalam mengurus ijin dan membebaskan dari segala jenis pajak kerajaan.”

“Mungkin kalian bertanya-tanya akan keputusan ini.” lanjut Raja. “Saya lebih memilih untuk mengirimkan apoteker samai kepelosok, karena pekerjaan Dokter dan Perawat adalah tindakan medis dan pekerjaan akan ada setelah ada kasus medis. Sedangkan Apoteker justru lebih bisa diarahkan pada prekuentif dan edukasi. Bisa kamu hitung berapa uang kerajaan yang seharusnya dikeluarkan kepada penyuluh kesehatan bila kerajaan harus mengirimkan penyuluh kesehatan sampai kepelosok, padahal pekerjaan itu dapat dirangkap oleh Apoteker. Pada tugas ini Apoteker tidak perlu digaji oleh Kerajaan. Sedangkan dampaknya pada nilai ekonomi Kerajaan sangat tinggi. “

Lanjut Raja, “ oleh karena itu, sebagai ganti atas peran apoteker yang sangat penting didalam membangun kesehatan dan ekonomi Kerajaan, maka Apoteker akan difasilitasi oleh Kerajaan didalam menjalankan prakteknya dan akan dibebaskan dari segala macam pajak kerajaan. “

“Demikian titah aku turunkan”, Raja menutup siding dan meninggalkan ruangan.

Senin, 21 Juni 2010

PROFESIKU UNTUKMU MASYARAKAT

PROFESIKU UNTUKMU MASYARAKAT


Apoteker sebagai pelayan masyarakat adalah sangat mulia. Dan mendedikasika hidup untuk masyarakat menjadi sangat indah. Dalam mendedikasikan diri kepada masyarakat, tidak hanya kita melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat, tetapi membantu sejawat belajar praktek profesi atau membimbing adik-adik calon apoteker juga berarti mendedikasikan diri kepada masyarakat.

Pada saat kita mendedikasikan diri kepada masyarakat yang sebagian dari kita merupakan hal mulia tidak harus mendapatkan pujian, sebagian dari kita justru mendapatkan cemoohan. Tentu saja yang mencemooh diantaranya adalah “orang-orang buta”. Yang mana orang yang buta terhadap pemahaman profesi tidak memahami arti pentingnya profesi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menghadapi orang-orang buta semacam ini, kita terkadang terbakar hati. Tetapi tidak selamanya kita akan terbakar juga. Karena banyak hal yang bisa kita lakukan dan sikapi terhadapnya. Buat apa hati terluka, bila lebih banyak hati yang terobati. Mungkin seperti ungkapan dalam puisi dari pujangga besar Chairil anwar berikut

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, adalah ungkapan yang tepat pada saat awal aku mendedikasika profesi, karena justru tidak mempunyai apresiasi dari banyak sejawat dan terkadang justru menjadi cemoohan. Meski dari dalam hati para pencemooh terkadang ada rasa iri dan dengki karena apresiasi dari masyarakat yang tidak pernah dimiliki oleh para pencemooh. Dan tidak bisa kita pungkiri, bila sebagian dari para penddikasi profesi telah “mati” sebelum menjadi binatang jalang karena tidak tahan menjadi kumpulan dari yang terbuang. Apatis adalah ungkapan yang katakanya kepada saya.

Sebagai bagian dari kumpulan yang terbuang, tentu saja menjadi orang yang dianggap sakit jiwa oleh kelompok orang yang lain. Yang mana anggapan ini tentu saja akan menjadi luka dan bisa seperti ungkapan Chairil Anwar. Dan yang aku lakukan adalah berlari dari anggapan itu dan menjadikan diri ini mengambil pikiran positif terhadap semua tindakan profesi yang kita ambil. Dan semua itu demi mendedikasikan diri ini kepada masyarakat. Masyarakatlah yang telah membesarkan jiwa profesi ini, bukan dari yang membuang kita.

Ilustrasinya mungkin cocok pada cerita berikut ini. Pada saat saya bekerja sama dengan perusahaan asuransi kesehatan, dari awal saya mengatakan kepada para pejabat perusahaan tersebut yang pada umumnya para pejabat perusahaan itu merasa sebagai dewa yang bisa menjebatani kebutuhan kesehatan masyarakat dan menjadi pahlawan buat profesi karena menjadi pemberi rejeki yang sangat-sangat besar, meskipun kenyataannya adalah belum tentu. “saya dedikasikan pelayanan saya kepada masyarakat, bukan pada perusahaan kamu”, demikianlah ungkapan yang aku banggakan.

Aku tidak pernah bangga karena bekerja sama dengan perusahaan itu, tetapi aku bangga karena bisa mendedikadikan profesi aku kepada masyarakat yang kebetulan adalah peserta asuransi. Secara umum, perusahaan asuransi seperti itu tidak pernah menghargai profesi aku meskipun dalam perusahaan semacam itu ada pula pejabat yang kebetulan juga merupakan apoteker yang juga menjadi teman sejawat aku. Hanya perbedaannya adalah aku dari kumpulan yang terbuang dan para pejabat itu adalah dari kumpulan para pahlawan yang sangat-sangat hebat yang merasa tidak harus bergaul dan mendengarkan pendapat dari para orang-orang dari kumpulan yang tebuang.

Demikian juga pada saat menjadi anggota organisasi profesi. Aku juga menjadi kulmpulan dari orang-orang yan terbuang. Pada saat aku mebicarakan dedikasi kepada masyarakat ditinggal pergi. Demikian sampai beberapa kali sampai aku ketemu orang-orang yang terbuang pula. Memang aku akhirnya menjadi kumpulan dari orang-orang yang terbuang. Tidak pernah rugi dan akan mengobati sakit hati bila apa yang kita lakukan dalam organisasi profesi tidak aku dedikasikan buat apoteker karena tidak semua apoteker membutuhkan dedikasi kita, tetapi semua itu aku dedikasikan buat nilai-nilai kemanusiaan.

Aku suka dengan ungkapan Chairil Anwar, “dan aku akan lebih tidak perduli” tetapi aku beda dengan Chairil Anwar disini, “aku tidak mau hidup 1000 tahun lagi”. Chairil Anwar, engkau memang pahlawan besar, tetapi aku tidak harus mempunyai pikiran yang sama denganmu. Tetapi dalam tujuan mendedikasikan hidup aku kepada bangsa mungkin kita harus sama.

Kamis, 17 Juni 2010

APOTEKER MAGANG DI APOTEK

APOTEKER MAGANG DI APOTEK



Dua kali ada apoteker industri yang meminta magang di apotek saya. Keduanya kontak saya awalnya dari FB. Alasan magang adalah keinginan memiliki apotek sendiri dan pada saat PKP Apotek merasa mendapatkan apotek yang salah. Yang mana apoteker tidak mampu membimbing langsung praktek profesi atau membimbing tetapi ketrampilan dan pengetahuan praktis yang seharusnnya didapatkan oleh calon apoteker kurang dan tidak lengkap.

Keduanya pada saat mendatangi saya dalam kondisi masih aktif sebagai karyawan pabrik farmasi. Keinginan magang dilakukan setelah pulang dari pabrik farmasi yang mungkin hanya bisa dilakukan sekitar 3 jam dalam satu hari. Dan saya tetap akan mensyaratkan magang 3 bulan dengan metode standar saya.

Pada magang di apotek saya, saya tidak harus mengajarkan ilmu farmasi sepenuhnya seperti pada saat kuliah profesi atau pada saat kuliah di tingkat sarjana, tetapi saya lebih mengarahakan pada hal-hal terkait terapan praktis yang dibutuhkan oleh seorang apoteker komunitas.

Mungkin sangat jarang apoteker yang sudah lulus sengaja minta magang di apotek. Tetapi kenyataannya permintaan itu ada. Yang atas kesadaran sendiri minta magang ditempat saya karena menginginkan membuka apotek sendiri setelah lulus. Dan kenyataannya pada apoteker yang seperti ini justru sangat bersemangat. Bisa anda bayangkan, ada apoteker baru yang minta magang di apotek saya padahal jarak rumah apoteker baru itu dengan apotek saya adalah sekitar 40Km dan dia lakukan PP yang berarti sekitar 80Km setiap hari dengan sepeda motor. Hal tersebut sangat berat menurut saya, padahal apoteker baru itu adalah perempuan.

Hal yang mungkin menjadi pertanyaan kita semua akan sangat banyak dengan melihat kasus diatas. Yang pertama adalah keterkaitan kualitas pendidikan profesi apoteker dalam hal ini adalah akreditasi, juga kualitas preceptor, lama PKP / BPP di apotek, standar PKP / BPP di apotek dsb. Tapi itu adalah kenyataan. Dan seharusnya IAI dan PT Farmasi memang harus bekerja sama didalam membangun profesi apoteker ke depan.

Saya menyadari bila diri saya bukan orang hebat, tetapi yang menjadi kelebihan saya adalah saya berani memulai melakukan pratek profesi secara mandiri semenjak lulus kuliah. Sehingga ketramplan dan pengetahuan saya tentang farmasi komunitas dapat berkembang lebih baik dari kebanyak apoteker.

Senin, 24 Mei 2010

PENDEKATAN INDIVIDU PADA PEMBELAJARAN KEPADA CALON APOTEKER

PENDEKATAN INDIVIDU PADA PEMBELAJARAN KEPADA CALON APOTEKER



PKP (Praktek Kerja Profesi) Apotek yang juga dikenal pada sebagian PT Farmasi sebaga BPP (Belajar Praktek Profesi) Apotek, merupakan bagian di dalam membentuk pengetahuan dan ketrampila profesi apoteker. Yang dibimbing oleh seorang apoteker pembimbing yang biasanya dikenal sebagai preceptor.

Apapun istilahnya, saya pribadi tidak menjadikan masalah, tetapi yang paling penting adalah bagaimana agar jalannya proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Meskipun waktunya cukup singkat, tetapi pada proses pembelajaran yang baik yang berbasiskan profesi akan mampu memberikan hasil yang optimal.

Pada proses BPP/PKP Apotek, hal yang saya usahakan adalah :
1. Memberikan linkungan yang nyaman dan proses yang nyaman, dengan linkungan yang nyaman diharapkan, mahasiswa peserta BPP akan mampu mengomptimalkan proses belajar tanpa ada banyak rasa tekanan.
2. Menyiapkan metode dan target, metode selalu menjadi hal yang penting menurut saya dalam mencapai target. Demikian juga pada proses BPP, metode harus disiapkan sesuai target yang diinginkan.
3. Menyiapkan evaluasi.
4. Mengajak mahasiswa BPP agar mau belajar secara aktif.
5. Menghargai, calon apoteker sudah haus diperkenalka tentang etika untuk saling menghargai profesi dan keputusan profesi. Pada proses BPP, calon apoteker selalu saya ajarkan untuk langsung belajar mengambil keputusan meskipun pada kasus sederhana, dan hasil keputusannya kita bahas dalam diskusi. Disini kita tidak hanya membahas masalah benar dan salah, tetapi juga mengenai baik dan terbaik.
6. dsb.

Pada prosesnya, saya selalu berusaha menggunakan pendekatan individual sesuai dengan potensi mahasiswa PKP. Seperti kita ketahui, setiap orang mempunyai karakter dan potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu akan sangat penting bila kita melakukan pendekatan yang berbeda pada masing-masing mahasiswa. Dan saya selalu mengatakan kepada semua orang, bila untuk menjadi profesi yang professional buka dibutuhkan orang yang genius, tetapi dibutuhkan orang yang mau dan mampu.

Seorang genius, mungkin tidak pantas menjadi seoran professional bila kemauan tidak ada pada dirinya. Dan orang yang kecerdasannya pas-pasan saja mungkin akan menjadi lebih professional bila kemauan dan usaha untuk mengejar kemampuan minimal profesi dapat mereka lakukan. Sehingga target profesi yang kita inginkan dalam proses BPP menjadi lebih optimal. Tidak jarang mahasiswa yang cerdas hanya mengejar nilai akademik, dan mahasiswa yang kecerdasannya pas-pasan sering kali justru mengejar kemampuan profesi. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang dikembangkan oleh akademisi dan praktisi sering kali berbeda. Secara jujur, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tetapi akan sangat baik bila pada proses BPP, nilai akademik mengikuti nilai praktisi.

Berbeda dengan proses belajar pada tingkat sarjana, pada BPP lebih mengutamakan evidence based practice sebagai landasan di dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu akan sangat rasional bila nilai akademis megikuti nilai yang dikembangkan oleh para praktisi. Dan selanjutnya produk BPP bisa menjadi lebih sesuai dengan praktek profesi.

Hal yang tidak kalah penting dalam proses BPP adalah kemampuan preceptor didalam memahami kemampuan individu sehingga mampu membentuk profesi yang handal. Dan penyeragaman antar preceptor menjadi sangat penting dan selajutnya penyeragaman antara preceptor dan akademisi.

Pendekatan individu bisa dilakukan dengan baik bila para preceptor mempunyai kemampuan yang seragam didalam membimbing mahasiswa BPP. Dan perbedaan individu yang sering terjadi pada mahasiswa BPP bisa terkait kedalamam pengetahuan kefarmasian (nilai akademik) dan terkait ketrampilan. Pada BPP para preceptor menurut saya tidak perlu dibebani untuk meningkatkan nilai akademik kecual yang terkait dengan BPP, tetapi yang paling penting adalah meningkatkan ketrampilan di dalam menggunakan, mengembangkan, dan mengombinasikan pengetahuan akademik di dalam praktek proesi.

Karena ada perbedaan pada setiap individu, maka pendekatan individual menjadi sangat penting. Semoga kedepan, banyak preceptor yang lebih memahami perbedaan individu, dan mampu menyikapi perbedaan individu dengan baik. Dan BPP berbeda dengan pendidikan tingkat sarjana yang pendidikannya dilakukan secara kolektif, dan pada BPP pendidikannya dilakukan secara privat. Semoga bermanfaat.

Kamis, 13 Mei 2010

PERKEMBANGAN APOTEKER KOMUNITAS

PERKEMBANGAN APOTEKER KOMUNITAS


Perkembangan apoteker komunitas kedepan harus menjadi perhatian yang lebih dari berbagai pihak, karena apoteker komunitas menjadi penentu akhir dari tujuan pengobatan. Bisa jadi diagnosa yang dilakukan dokter tepat, tetapi bila pada penyerahan obatnya tidak memenuhi standar layanan kefarmasian, bisa jadi hasil pengobatan kurang optimal.

Selain itu apoteker komunitas juga menjadi sumber data bagi perkembangan dunia farmasi. Dan tidak mungkin perguruan tinggi farmasi dapat berkembang tanpa melibatkan apoteker komunitas. Hubungan apoteker komunitas dengan perguruan tinggi farmasi menjadi sangat penting. Perguruan tinggi farmasi tidak hanya sekedar meluluskan apoteker semata, tetapi juga harus memonitor dan membantu untuk berkembang selanjutnya, karena perguruan tinggi farmasi bisa dianggap sebagai pusat penggalian IPTEK kefarmasian.

Bila pada tahun tahun yang lalu, perguruan tinggi farmasi bisa dikatakan cukup ego dengan menganggap dirinya adalah segalanya didalam mengembangkan IPTEK, pada masa mendatang hubungan saling ketergantungan akan semakin tercipta. Banyak hal yang selama ini dikembangkan oleh para praktisi dikomunitas yang belum tersentuh perguruan tinggi. Dan apa yang dikembangkan para praktisi ini tidak bisa hanya dipandang sebelah mata saja, karena hal-hal teknis sering kali tidak terdeteksi sebelum pekerjaan itu dijalani. Atau dengan kata lain ilmu terapan pada praktek apoteker komunitas tidak bisa hanya digambarkan atau diimajinasikan saja oleh para guru besar.

Sehingga hubungan timbal balik antara apoteker komunitas dan perguruan tinggi farmasi menjadi gerbang ilmu baru dalam perkembangan apoteker komunitas di negeri ini. Bila pada masa dulu apoteker komunitas hanya dipandang sebelah mata, tetapi pada masa mendatang apoteker komunitas justru menjadi dominan melebihi apoteker pada komunitas lain. Saat ini apoteker komunitas siap berkembang dan bersaing didalam perannya membangun kesehatan masyarakat. Bukannya apoteker komunitas akan mengambil alih peran dari tenaga kesehatan lain, tetapi apoteker komunitas akan siap melayani masyarakat dengan penuh dedikasi seperti tenaga kesehatan lain.

Untuk bisa membangun apoteker komunitas, sering kali para praktisi membuat dan melakukan sendiri standar-standar layanan demi persaingan di dalam layanan dan demi lebih memanjakan masyarakat sebagai klien. Agar standar-standar layanan ini kedepannya lebih terarah pada arah yang lebih baik, maka akan sangat penting bila para praktisi ini bergabung pada seminat dan diorganisasi dengan baik oleh IAI ( Ikatan Apoteker Indonesia ). Sehingga kesan berkembang secara sendiri-sendiri seperti saat yang lampau lebih dapat dikurangi. Dan bagaimanapun kebersamaan adalah kekuatan.

Bila kita membicarakan pada tataran yang lebih luas, perguruan tinggi farmasi tidak bisa lepas begitu saja didalam membangun profesi yang berkualitas, oleh karena itu APTFI tidak bisa begitu saja melepaskan IAI di dalam membangun perguruan tinggi yang berkualitas. Saya selalu mengatakan kepada semua pihak bila semua apoteker di depan IAI adalah sama, baik dari lulusan perguruan tinggi dengan akreditasi A maupun akreditasi B, tetapi permasalahan yang dihadapi IAI mungkin akan berbeda didalam pembinaan apoteker baru. Oleh karena itu IAI bagaimanapun juga mempunyai kepentingan terhadap kualitas lulusan.

Selanjutnya pada perkembangannya, APTFI tidak mungkin membangun pendidikan tinggi farmasi yang berkualitas tanpa melibatkan IAI dan perguruan tinggi farmasi yang berkualitas tidak mungkin meninggalkan para praktisi. bila idealisme ini terwujud dalam waktu dekat ini, maka perkembangan dunia farmasi, khususnya farmasi komunitas akan berjalan dengan sangat pesat. Dan kita sebagai praktisi harus pula bersiap-siap menghadapi yunior kita yang bisa jadi akan lebih baik.

Senin, 12 April 2010

MENJADIKAN MASYARAKAT SEBAGAI PENENTU DI DALAM LAYANAN

MENJADIKAN MASYARAKAT SEBAGAI PENENTU DI DALAM LAYANAN



Pada farmasi komunitas, keberadaan masyarakat sebagai pengguna jasa adalah sangat penting. Tanpa ada masyarakat, maka farmasi komunitas juga tidak ada. Oleh karena itu farmasi komunitas harus mampu mengakomodasi kepentingan dari masyarakat. Dan di dalam usaha mengakomodasi kepentingan masyarakat ini, tidak jarang kita para praktisi komunitas menggunakan ketrampilan dan pengetahuan kita guna mendikte masyarakat tanpa melibatkan masyarakat didalam mengambil keputusan.

Tidak jarang pula kita selalu tampil lebih, atau mendudukan diri lebih tinggi dari masyarakat. Dan memosisikan diri yang lebih dari masyarakat ini bisa jadi akan kurang tepat pada beberapa kasus. Karena sebagian masyarakat justru ingin didudukan sejajar atau mungkin lebih pada beberapa hal. Dan kenyataannya tidak jarang masyarakat merasa lebih dari kita para professional dan seharusnya dalam hal ini kita mampu menghargainya dan menyikapinya. Memang pada beberapa hal sering kali masyarakat lebih dari kita, tetapi jalannya profesi tetap harus berjalan dengan benar.

Oleh karena itu, tidak jarang saya mendudukan diri sejajar dengan masyarakat, demi jalannya profesi yang lebih kondusif. Karena dalam hal ini bukan siapa yang lebih hebat, tetapi yang penting adalah bagaimana caranya agar jalannya profesi menjadi optimal. Proses profesi di komunitas bisa jadi berkembang menjadi sangat menarik bila kita mampu menempatkan diri pada peran yang sesuai. Dan tidak jarang pula saya berpikir bila di dalam menjalankan profesi pada farmasi komunitas akan lebih optimal bila kita membentuk tim. Yang mana tim tersebut bisa terdiri dari beberapa apoteker didalamnya selain tenaga yang lain, agar lebih meningkatkan komunikasi profesi dan akan lebih memudahkan di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkembang dan bisa jadi di dalam menyelesaikannya akan lebih kreatif dan inovatif.

Tim yang hebat harus bisa saling memahami dan bekerja sama dengan baik. Demi suatu tujuan bersama, yang dalam hal ini adalah pelayanan prima. Tetapi jarang terlintas di dalam benak kita, bahwa kita juga bisa menjadikan masyarakat sebagai klien menjadi anggota tim kita. Bahkan masyarakat bisa jadi akan menjadi anggota tim kita yang hebat yang hasilnya bisa jadi lebih dari pada yang apa kita pikirkan sebelumnya. Dalam menjadikan masyarakat dalam anggota tim, kita bisa menempatkan masyarakat pada posisi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah melibatkan masyarakat di dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Dan peran kita hanya memfasilitasi agar masyarakat tidak hanya terkesan hanya sebagai obyek. Dalam hal ini sering kali masyarakat lebih merasa dihargai, diperhatikan dan masalah kesehatannya terselesaikan.

Melibatkan masyarakat sebagai tim yang solid, baik didalam pengambilan keputusan terkait kepentingannya sendiri atau terkait hal-hal lain diperlukan latihan dan jam terbang, wawasan apoteker, kompetensi dll. Oleh karena itu keberadaan TATAP adalah sangat mutlak diperlukan di dalam meningkatkan pengalaman dan menambah jam terbang. Juga diperlukan pelatihan-pelatihan dan pendidikan berkelanjutan. Kita tidak bisa hanya puas sampai disini saja, dan praktek secara aktif menjadi hal penentu yang sangat penting.

Menjadikan masyarakat sebagai penentu di dalam layanan dan dilibatkan di dalam pengambilan keputusan terkait layanan bagi dirinya yang mana didalam prosesnya kita memberikan informasi dan edukasi yang cukup, masyarakat akan belajar menghitung resiko akibat penggunaan obat terutama pada swamedikai. Pada pelayanan resep sering kali saya juga melibatkan didalam memutuskan bila ada penggantian merek obat dengan informasi yang cukup dan jelas. Dan pada banyak peran lain masyarakat bisa kita libatkan didalam tim.

Banyak kesan yang bisa diapresiasi oleh masyarakat didalam hal ini. Dan ujungnya tetap masyarakat adalah raja di dalam menggunakan jasa layanan dan siap memberikan sebagian uangnya untuk jasa kita. Disini peran ilmu sosial kefarmasian bisa sangat jadi cukup dominant di dalam praktek di komunitas.

Sabtu, 10 April 2010

MANAJEMEN BERBASIS PROFESI ADALAH BELAJAR SEUMUR HIDUP

MANAJEMEN BERBASIS PROFESI ADALAH BELAJAR SEUMUR HIDUP



Apotek sebagai bidang usaha layanan kesehatan yang sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan-perubahan. Sehingga di dalam pengelolaannya tidak mungkin mengabaikan adanya perubahan-perubahan itu. Semua yang terlibat mau atau tidak harus mampu mengikuti perubahan yang terjadi bila menginginkan tetap dapat berkembang. Dan hal yang tidak mungkin bila suatu perkembangan demi kebutuhan layanan yang lebih manusiawi dikalahkan oleh ketidak mampuan satu dua orang dalam mengikuti perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih baik.

Dalam dunia pelayanan kita tidak mungkin akan kembali kepada jaman dulu dalam kualitas layanan, tetapi kita harus mampu melangkah kejaman yang lebih modern dan mengikuti perkembangan nilai-nilai dan IPTEK. Perkembangan nilai-nilai harus selalu didasarkan kepada usaha perbaikan kualitas layanan dengan ukuran yang selalu berkembang dan lebih dapat dipertanggung jawabkan yang mengikuti perkembangan jaman. Perkembangan itu yang akhirnya mempengaruhi perubahan dari aturan-aturan dan peraturan-peraturan baik di tingkat etik, organisasi, ataupun perundangan.

Pada saat kita memulai usaha layanan kemanusiaan seperti pada bidang kesehatan atau yang lain, yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, mau tidak mau kita harus juga menyiapkan diri terhadap resiko-resiko yang diakibatkan oleh adanya perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja akan berpotensi menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi kita semua untuk mengikutinya. Dan kesulitan itu tidak hanya menimpa satu dua orang saja, tetapi akan dialami oleh semua yang terlibat di seluruh negeri. Kesulitan demi memenuhi hak dari masyarakat luas yang memang menjadi hak dari masyarakat untuk mendapatkan kualitas layanan yang baik. Dan tidak mungkin kita mengorbankan hak masyarakat luas hanya demi nilai ekonomi yang tidak seberapa. Bahkan dengan manajemen berbasis profesi dampak nilai ekonominya justru akan meningkat dan dalam hitungan kasar saya mungkin bisa mencapai ratusan persen bila penataannya tepat.

Berangkat dari kemungkinan perubahan inilah, maka manajemen berbasis profesi bisa dijadikan jembatan didalam memenuhi kepentingan-kepentingan. Yang mana kepentingan-kepentingan itu adalah kepentingan masyarakat, masyarakat profesi, pemilik modal, pemerintah dan pihak-pihak lain yang terkait. Dalam menjembatani, manajemen profesi harus mampu mencari solusi-solusi yang rasional demi kepentingan masyarakat sebagai klien dan tetap mengakomodasi kepentingan lain. Sehingga jurang pemisah antar kepentingan lebih dapat teratasi. Salah satu solusi didalam mengatasi perubahan-perubahan dan usaha didalam mempersempit jurang pemisah kepentingan adalah dengan belajar. Belajar sepanjang masa guna meningkatkan kompetensi mengikuti perkembangan kebutuhan kompetensi yang selalu berkembang mengikuti IPTEK dan nilai-nilai.

Kebutuhan akan KIE oleh masyarakat yang selalu meningkat dan usaha-usaha peningkatan tingkat derajat pendidikan kesehatan yang menjadi salah satu tujuan di dalam manajemen berbasis profesi menjadikan para professional harus mau dan mampu belajar dan menjaga kompetensinya sepanjang karir profesionalnya.

Sabtu, 27 Maret 2010

MEMBANGUN SUATU PROFESI JUGA BERARTI MEBANGUN NILAI-NILAI

MEMBANGUN SUATU PROFESI JUGA BERARTI MEBANGUN NILAI-NILAI


Bila kita membangun suatu profesi, berti pula kita membangu nilai-nilai yang membentuk suatu profesi tu sendiri. Disinilah pentingnya kenapa pembangunan nilai-nilai didalam suatu profesi menjadi sangat penting. Dan niali-nilai itlah yang aka menjadi suat pondasi dalam pembangunan profesi, sehingga nilai-nilai harus didasarkan pada apa yang ada di lapangan dan nilai-nilai yang di yakini oleh bangsa Indonesia. Seperti kita ketahui, yang mana nilai-nilai yang di yakini oleh bangsa Indonesia antara lain adalah; nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan nilai-nilai beragama.

Jadi menjadi hal yang tidak mungki kita menjadi professional di negeri ini bila kita tidak mempunyai rasa kemanusiaan da hanya mengejar materi belaka. Dan juga tidak mungkin kita menghilangkan hak-hak seseorang atau sekelompok orang didalam membangun profesionalisme. Dengan demikian, yang dinamakan professional didalam profesi apoteker adalah profesionalisme yang tidak meninggalkan nilai-nilai yang diyakini oleh bangsa Indonesia.

Dapat juga kita mengatakan, bila nilai-nilai yang terkait kemanusiaan, keadilan dan agama menjadi nilai dasar didalam membangun suau profesi. Baru diikuti oleh nilai-nilai dari peraturan perundangan yang berlaku dan selanjutnya baru diikuti oleh nilai-nilai yang lain. Dari semua nilai-nilai diatas, nilai-nilai professional disusun. Segala kepentingan dalam membangun profesi harus tunduk pada nilai-nilai dasar.

Oleh karena itu sangat tidak masuk akal bila kita mebangun profesi yang tidak mendasarkan pada peraturan perundangan dan sangat tidak masuk akal bila peraturan perundanan disusun degan meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan social dan nilai-nilai agama yang berkembang di Negara kita. Karena ketiga nilai terseuta adalah bagian dari dasar Negara kita.

Oleh karena itu, nilai-nilai ekonomi didalam membangun suatu profesi harusnya tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar. Karena nilai ekonomi tidak boleh menjadi nilai ketamakan, maka nilai-nilai dasar tetap harus menjadi pertimbangan yang paling mendasar. Disilah beratnya didalam membangun suatu nilai ekonomi dalam suatu profesi. Dan ini semua seharusnya menjadi PR bagi IAI sebagai induk organisasi para apoteker.

Dan penyeragaman terhadap pemahaman nilai-nilai ini menjadi sangat penting. Dan akhir kata, “membangun nilai-nilai sangat penting bagi suatu profesi dan yang sangat penting dari padanya adalah tidak boleh terlepas dari nilai-nilai dasar, yaitu kemanusiaan, keadilan dan nilai2 agama.

Kamis, 11 Maret 2010

KEGAGALAN DIDALAM MEMBANGUN PROFESI

KEGAGALAN DIDALAM MEMBANGUN PROFESI


Tadi pagi tetangga aku datang ke rumah sebelum aku berangkat ke apotek. Apotek aku jaraknya 10km dari rumah dan aku sudah 13 tahun melakukan hal itu. Dan anak2 aku, aku sekolahkan dekat apotek.

Sebelum berangkat tetangga saya minta dibawakan obat kalau pulang untuk cucunya. Katanya; “ sudah saya belikan obat ke dokter kok tidak sembuh”. Sering kali kita juga mendengar kata2 dari masyarakat di apotek yang mengatakan; “ sudah saya suntikan ke dokter kok tidak sembuh”. Mungkin pemandangan begini sayangat sering ditemui oleh sejawat kita di apotek, yang mana dokter hanya dianggap tukang obat atau tukang suntik belaka. Mungkin masyarakat susah membedakan antara dokter dengan tukang obat di pasar-pasar. Toh kenyataannya mereka juga merasa sembuh saat membeli obat ke tukang obat yang tdak jelas latar belakang pendidikannya.

Dari hal diatas seakan-akan kita harus menyadari bila dokter masih diperbolehakn untuk menyediaakan obat didalam prakteknya. Padahal hal diatas adalah gambaran kegagalan kita tenaga kesehatan secara umum didalam membangun pendidikan kesehatan masyarakat. Kita mungkin tidak perlu terlalu saling menyalahakan, tetapi bagaiman kita bisa mengajari masyarakat agar kalau ke dokter untuk meminta informasi mengenai penyakitnya dan kita bisa memabantu masyarakat agar menyadari bila kedokter sebenarnya bukan untuk membeli obat atau sekedar untuk mendapatkan suntik belaka. Mencerdaskan masyarakat emang butuh perjuangan, tetapi kita tetap harus melakukan.

Hal yang saya lakukan di apotek adalah, bagaimana caranya agar masyarakat memahami bila ke apotek bukan tujuan akhir didalam proses pengobatan pada swamedikasi. Oleh karena itu saya sering kali mengiformasikan bila penyakit berlanjut untuk mendatangi dokter keluargannya. Tentu saja dokter yang saya jadikan rujukan adalah dokter yang baik dengan saya, dan saya bisa mengarahkan sebagian pasien saya ke dokter-dokter tertentu seperti yang saya minta. Disilah perlunya hubungan baik antara apoteker dan dokter.

Setiap hari selalu ada saja yang saya rujuk ke dokter. Ini semua demi membangun profesi kesehatan secara umum. Bukan hanya ego saya yang hanya ingin membangun profesi apoteker, tetapi kita harus mampu bekerja sama demi nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan diadakannya tenaga kesehatan.

Saya sering kali mengatakan bila dokter dispensing adalah kegagalan dokter dalam membangun profesinya sehingga pada sebagian dokter sulit lepas dari pandangan dokter sebagai tukang obat atau tukang suntik. Sehingga keberadaan obat dan suntik menjadi daya tarik bagi praktek profesi dokter, bukan hanya kompetensi dokter sebagai ahli penyakit. Disini seharusnya semua tenaga kesehatan dapat melakukan kerja sama didalam membangun profesi kesehatan secara bersama-sama.

Mungkin kita juga harus belajar dari toko obat, yang merupakan sarana kesehatan yang diakui secara undang-undang, tetapi kegagalan TTK didalam mengawal toko obat. Sehingga saat ini dibeberapa daerah toko obat tidak berkembang dan nyaris hilang dari peredaran. Suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh TTK dalam mempertahankan keberadaan toko obat.

Demikian dengan apotek, bila kita tidak mampu membangun profesi yang baik seperti yang seharusnya seorang profesional lakukan, jangan-jangan apotek akan hilang seperti toko obat. Sampai sekarang saya berpendapat bila keberadaan profesional harus mampu melakukan pekerjaan proesional.

Semoga ini bisa menjadi salah satu bahan renungan bagi siapa saja yang ingin membangun profesi kesehatan secara umum. Dan khususnya bagi kita apoteker didalam melangkah kedepan menuju profesi yang bermartabat dan manusiawi.

Senin, 01 Maret 2010

PENYERAGAMAN PERSEPSI TERHADAP NILAI-NILAI PRAKTIS KEFARMASIAN

PENYERAGAMAN PERSEPSI TERHADAP NILAI-NILAI PRAKTIS KEFARMASIAN



Salah satu hambatan didalam membangun suatu profesi apoteker adalah keseragaman persepsi terhadap nilai-nilai praktis profesi apoteker. Dan nilai-nilai praktis profesi apoteker yang merupakan kompetensi apoteker masih mempunyai makna yang bias sampai saat ini. Penyebab biasnya adalah karena perbedaan sudut pandang dari peran apoteker di masyarakat.

Sehingga tugas berat dari organisasi profesi (IAI) salah satunya adalah penyeragaman persepsi praktis antar praktisi juga antar seminat. Dan untuk menyelesaikan ini IAI sebagai organisasi profesi harus mempunyai langkah-langkah yang tepat,efektif dan strategis, yang dilakukan secara mendasar, kontinyu dan menyeluruh. Dengan melibatkan semua elemen dalam organisasi. Sehingga nilai-nilai yang dihasilkan nantinya bisa lebih dapat diterima dan mewakili pandangan dari semua elemen organisasi, tanpa meninggalkan kepentingan masyarakat.

Bukan tugas yang ringan dalam penyeragaman persepsi ini. Karena perkembangan profesi apoteker yang sudah terlanjur sangat pesat dan sangat diluar perkiraan kita semua pada awalnya. Sehingga penyeragaman ini akan lebih bisa memberikan harapan yang lebih baik dalam pengembangan profesi yang manusiawi dan menurunkan resiko profesi. Juga akan lebih bisa menurunkan gesekan antar profesi kesehatan karena adanya kepentingan profesi yang bersinggungan.

Langkah awal dalam penyeragaman persepsi adalah dengan merumuskan akar permasalahan dan merumuskan semua permasalahan yang berkembang pada tingkatan berikutnya di dalam praktek profesi. Karena dari perumusan akar permasalahan, jalan keluar baru bisa dipikirkan. Yang selanjutnya adalah pembinaan profesi secara berkesinambungan baik dengan pendidikan berkelanjutan ataupun dengan pelatihan-pelatihan.

Penyeragaman profesi ini bukan untuk menjadikan para apoteker agar mempunyai cara yang sama dalam berpikir dan bertindak, tetapi lebih menjadikan profesi agar lebih bisa berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai profesi. Karena penyeragaman hanya menyeragamkan profesi dalam mengambil keputusan dan tindakan atas dasar-dasar dari nilai-nilai profesi yang profesional. Kita tidak mungkin akan membelenggu profesi sehingga kehilangan profesionalismenya dan kita tidak mungkin membiarkan profesi agar bertindak semaunya sehingga hilanglah nilai-nilai profesional. Dengan demikian penyeragaman terhadap nilai-nilai menjadi sangat penting dan strategis.

Kreatifitas profesi tetap diperlukan dan dibutuhkan dalam membangunsuatu profesi, tetapi tetap harus berpegang pada nilai-nilai yang dapat dipertanggung jawabkan. Janganlah membangun kreatifitas yang meninggalkan nilai-nilai profesionalisme yang justru “mengubur” profesi itu sendiri.

Dengan demikian, nilai-nilai yang berkembang sangat liar seperti saat ini sudah saatnya untuk kita luruskan. Dan membangun nilai-nilai tersebut menjadi sangat penting karena akan menjadi langkah awal dalam penyeragaman persepsi profesi yang merupakan salah satu sarat dalam membangun profesi itu sendiri.

Banyak pendekatan yang dilakukan para sejawat kita dalam usaha membangun profesi apoteker, tetapi masih masih sedikit yang berusaha membangun profesi yang dilatar belakangi oleh praktisi. Yang mana praktisi yang memang hanya menggantungkan hidupnya dari menjalankan profesi. Padahal cukup banyak praktisi seperti itu, tetapi umumnya mereka merasa tidak mempunyai waktu dan tempat untuk membicarakan profesi karena berbagai sebab. Bukan karena tidak mampu, tetapi lebih disebabkan karena para praktisi sering kali justru menjadi sangat asing bagi sebagian sejawat lain.

Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama penyeragaman persepsi dapat terwujud dan apoteker mampu berkembang menjadi dirinya sendiri. Dan semoga masyarakat, bangsa dan negara lebih dapat merasakan peran apoteker yang lebih profesional, yang lebih memihak pada pelayanan yang lebih manusiawi.

Rabu, 17 Februari 2010

PRAKTEK PROFESI APOTEKER DI APOTEK SANGAT DINAMIS

PRAKTEK PROFESI APOTEKER DI APOTEK SANGAT DINAMIS


Mungkin tidak semua praktisi diapotek merasakan kedinamisan praktek profesi apoteker di apotek. Hal ini sangat mungkin terjadi karena ada perbedaan manajemen pengelolaan antar apotek. Manajemen pengelolaan yang dilakukan oleh para praktisi.

Kedinamisan ini karena para pengunjung apotek bisa berasal dari segala lapisan dengan tingkat ekonomi dan pendidikan dalam jangkauan yang sangat luas. Dan sering kali pelayanan kefarmasian dianggap masyarakat sebagai pelayanan yang paripurna, meski kenyataannya kita hanya membantu masyarakat dengan pelayanan kefarmasian yang “terbatas”. Tetapi kenyataan ini sangat sulit dihindarkan sehingga sering kali para praktisi di komunitas harus banyak belajar sendiri tentang banyak hal terkait praktik profesinya untuk mengembangkan profesi itu sendiri.

Permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh para apoteker praktisi komunitas sering kali tidak hanya terkait obat dan penyakit, tetapi juga terkait banyak hal seperti ekonomi, budaya, psikologi dan lain-lain. Tidak jarang kita juga “terjebak” dalam hal-hal diluar kompetensi kita. Dan bila hal itu terjadi apoteker harus dapat berlaku bijak dan harus mampu menyikapi dan memberikan informasi dan rujukan yang tepat.

Seperti pada cerita berikut. Pada tahun awal-awal saya mendirikan apotek, ada pelanggan yang bertanya kepada saya tentang obat dan penyakit yang diderita oleh familinya. Karena familinya termasuk keluarga yang kurang mampu dan merasa keberatan bila harus kontrol secara terus menerus. Karena alasan itu, dia minta pertimbangan kepada saya sebagai apoteker yang dianggap serba tahu baik masalah obat dan penyakit. Meskipun secara umum saya selalu memdudukan diri dengan kompetensi saya sebagai apoteker.

Pada saat itu dia bercerita kalau familinya adalah remaja perempuan lulus SMU. Dan seingat saya sudah dibawa dua kali kepada dokter, dokter tersebut ada di luar daerah saya dan sangat terkenal sebagai dokter jiwa di daerah saya, dan persisnya saya kurang tahu dengan pasti. Dia bertanya kepada saya apakah saya punya obat, karena kasihan familinya tidak akan mampu melakukan kontrol ke dokter tersebut pada jangka yang panjang.

Kasus ini adalah kasus pertama saya dalam melakukan praktik profesi di apotek yang terkait masalah kesehatan jiwa, oleh karena itu saya ingat betul. Saat itu saya bertanya “kondisi si sakit bagai mana?”. Pelanggan saya secara umum menceritakan keadaan remaja tersebut hanya diam saja dan tidak pernah mau berkomunikasi dengan siapa saja. Sehingga keluarga merasakan kepanikan dan menganggap si remaja tersebut sakit kejiwaan.

Saat itu saya tidak memberikan obat apa-apa, dan hanya memberikan saran, “coba dulu didekati dengan pelan-pelan untuk diajak komunikasi dan tanya kenapa kok sampai diam saja. Dan usahakan cari orang yang paling dekat dengan remaja tersebut, bisa dari dalam keluarga atau teman si remaja”. Saat itu saya mencoba untuk membantu memberikan informasi terkait hal-hal yang mungkin terjadi secara psikologi. Karena bila hal tersebut terkait psikologi, mungkin obat bukan jalan terbaik.

Hampir satu bulan dari kasus itu, pelanggan saya melaporkan kepada saya bila si remaja ternyata hanya kecewa karena tidak bisa melanjutkan kuliah seperti teman-temannya. Padahal si remaja tersebut termasuk lebih bagus nilai akademisnya dibandingkan teman-temannya yang mampu melanjutkan ke bangku kuliah. Dan kenyataannya dalam hal ini obat tidak diperlukan.

Banyak kasus psikologi yang masuk ke apotek saya. Dan terkadang saya rujuk ke psikolog bila dari keluarga mampu dan berpendidikan. Seperti pada kasus beberapa hari yang lalu, pelanggan saya menceritakan anaknya tidak mau BAB dan terlihat seperti trauma bila akan melakukan BAB. Dan pelanggan saya menceritakan bila sebenarnya juga punya rencana ke psikolog dan ternyata juga sudah mempunyai pilihan untuk psikolognya.

Masalah yang sangat komplek yang terjadi di apotek saya terkadang menjadikan diri saya merasa bertambah bodoh menghadapi kenyataan praktek profesi di apotek. Karena apa yang saya dapat dibangku kuliah ternyata masih harus dikembangkan sesuai dengan tempat kita bekerja. Oleh karena itu terkadang saya bermimpi ada pelatihan-pelatihan yang mengakomodasi kasus-kasus yang berkembang di komunitas. Dan bukan hanya kasus-kasus yang berkembang di rumah sakit.

Permasalahan sosial ternyata juga sangat dominan yang tingkat kesulitannya mungkin tidak kalah dengan permasalahan ilmu kefarmasian itu sendiri. Kasus semacam ini mugkin juga dialami oleh sebagian sejawat kita yag ada di komunitas, oleh karena itu saya selalu berpendapat bila permasalahan di komunitas sangat spesifik. Karena spesifiknya ini, maka pengembangan dunia farmasi komunitas juga harus mendapatkan perhatian yang lebih.

Perhatian lebih inilah yang seharusnya juga dilakukan oleh pemerintah dan oraginsasi profesi (IAI). Bukannya kita para apoteker menginginkan penghargaan yang sebesar-besarnya, tetapi hanya kita menginginkan apresiasi atas peran kita didalam pembangunan kesehatan bangsa. Sehingga dalam pengembangan diri profesi bisa berjalan dengan maksimal. Selama ini untuk kasus-kasus yang tanpa menggunakan alat seperti diatas, kita tidak membebankan tarif kepada masyarakat. Tetapi dampak yang ditimbulkan dari peran para apoteker komunitas seperti diatas adalah sangat berarti bagi masyarakat. Baik bila dilihat dari sisi ekonomi, pendidikan kesehatan, dsb.

Semoga kedepan peran apoteker komunitas bisa lebih mendapatkan perhatian dan apresiasi. Sehingga kita para praktisi komunitas bisa bekerja lebih maksimal demi pelayanan kepada masyarakat yang lebih baik.

Sabtu, 13 Februari 2010

INDUSTRI FARMASI HARUS MENYIAPKAN DIRI

INDUSTRI FARMASI HARUS MENYIAPKAN DIRI



Penerapan TATAP yang benar adalah sangat menguntungkan semua pihak, terutama masyarakat dan pemerintah. Dan penerapan TATAP tentu saja juga akan menyulitkan terutama kepada para pelaku, yang mana itu adalah para apoteker. Karena praktik kefarmasian yang didalamnya termasuk pekerjaan kefarmasian menjadi tanggung jawab apoteker secara langsung. Sehingga apoeker juga harus melakukan persiapan untuk pemberlakuan TATAP.

Bila sebelum pemberlakuan TATAP, bisa dikatakan hampir semua resiko layanan diterimakan kepada tenaga teknis kefarmasian. Dan pada penerapan TATAP resiko layanan sebagian besar akan pindah kepada apoteker, secara resiko tenaga teknis akan sangat diuntungkan dengan pemberlakuan TATAP. Persiapan yang dilakukan oleh apoteker dengan pemberlakuan TATAP adalah menghitung ulang nilai-nilai praktik kefarmasian dengan menyusun SPO (standar prosedur operasional).

Karena dengan SPO semua resiko layanan menjadi lebih bisa diminimalkan baik bagi pelaku layanan atau penerima jasa layanan. Selanjutnya SPO akan semakin bisa memberikan dampak yang baik bagi semua pihak karena kebutuhan layanan menjadi lebih mudah untuk dihitung atau diperhitungkan. Termasuk kepada industri obat, baik PMDN ataupun PMA. Termasuk produknya, baik obat paten, bermerek ataupun generik.

Untuk itu semua industri obat sebaiknya juga mengadaptasikan mulai sekarang dan ikut membantu pelaksanaan program TATAP. Yang pertama agar dampaknya pada penjualan mulai dari distribusi sampai pada penggunaan produknya akan menjadi lebih baik. Kedua hal positif ini justru bisa memaksimalkan laba perusahaan karena lebih terukur, sehingga persiapan juga harus dilakukan sedini mungkin agar usaha efisiensi menjadi lebih mudah. Persiapan oleh industri obat bisa jadi akan melibatkan para praktisi yang terhimpun dalam HISFARMA (sekarang menjadi HAPKI, Himpunan Apoteker Praktisi Komunitas Indonesia). Bukan karena anggota HAPKI ingin menggurui, tetapi angota HAPKI bisa menjadi salah satu sumber data bagi perkembangan industri farmasi termasuk industri obat. Dengan demikian anggota HAPKI bisa membantu dengan memberikan data bila ada industri yang menginginkan data dari anggota HAPKI.

Bila saat ini penjualan obat umumnya hanya dibagi menjadi 3, yaitu: bebas (38%), resep (22%) dan dispensing (40%). Kedepannya obat bisa dibagi menjadi beberapa al :
1. berdasarkan rekomendasi penggunaannya, swamedikasi dan atas dasar rekomendasi tenaga kesehatan.
2. berdasarkan golongannya, bebas, bebas terbatas dan obat keras.
3. berdasarkan segmentasi harganya, segmen bawah, menengah dan atas
4. berdasarkan kelompoknya, generik, bermerek dan paten.
5. berdasarkan kelas terapinya.
6. berdasarkan bentuk sediaannya
7. dsb.
Dengan pengelompokan diatas, maka industri juga harus menyiapkan strategi sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dan mempersiapkan sedini mungkin agar tidak terjadi banyak “kejutan” dan akan lebih mampu mempersiapkan diri untuk mengopimalkan laba karena target market menjadi lebih terukur.

Salah satu hal yang patut menjadi perhatian utama sebagai dampak dari penerap TATAP adalah penggunaan obat yang menjadi lebih rasional. Baik rasional dalam penggunaan, harga, komposisi, dosis, dsb. Dengan penggunaan obat yang cenderung menjadi lebih rasional tentu dampak terhadap penjualan obat bisa tejadi. Hal yang terjadi bisa jadi tidak hanya penggunaan obat yang biasanya lebih sering digunakan tidak rasional menjadi tidak laku, tetapi lebih dari itu. Bisa jadi dampaknya menjadi suatu geseran akibat penggunaan obat, atau bisa jadi terjadi peningkatan penggunaan obat semisal obat degeneratif karena tingkat pendidikan masyarakat yang meningkat. Oleh karena itu industri yang lebih menyiapkan diri akan menjadi lebih berhasil.

Seperti kita tahu, dampak yang komplek ini akan menjadi PR bagi kita bersama, kita apoteker praktisi komunitas dan kita industri farmasi juga kita pemerintah dan juga kita semua yang terkait dalam praktik kefarmasian. Semisal kasus akan adanya pergeseran penggunaan obat, yang mana bila penyakit seperti hipertensi yang ditangani dengan baik, maka dampaknya bisa menjadikan kasus resiko terkena stroke akan turun. Disini bukan berarti industri permintaan obat akan turun, tetapi bisa jadi akan naik karena kepatuhan pasien dalam menggunakan obat dengan benar akan naik dan harapan hidup juga akan naik. Bila harapan hidup naik, maka jumlah pemakaian obat juga akan naik.

Bila kita benar-benar mempersiapkan ini, maka akan ada saling ketergantungan antara industri farmasi dan apoteker praktisi komunitas dalam menyiapkan semua akibat dampak penerapan TATAP. Kita harus mempersiapkan ini semua dan kerja sama adalah solusi yang paling tepat. Sebenarnya bukan hanya dampak dari penerapan TATAP ini saja yang mengharuskan industi obat dan apoteker bekerja sama, tetapi pada banyak hal termasuk dampak penerapan asuransi kesehatan atau jaminan kesehatan yang diberlakukan kepada seluruh rakyat secara nasional.

Seperti juga pada penerapan jaminan kesehatan ini, bila industri obat tidak bisa melakukan antisipasi secara tepat dan cermat bisa jadi akan mengalami kesulian kedepannya. Banyak model yang mungkin kita cermati akibat dampak dari jaminan kesehatan dan semua itu seharusnya dihitung dengan banyak pihak termasuk dengan apoteker praktisi komunitas. Karena pada para praktisi komunitas banyak data yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Semoga industri farmasi bisa menyiapkan diri dengan baik yang dikarenakan perkembangan dunia kesehatan yang dinamis, dan semoga industri farmasi juga menyadari betapa pentingnya arti dari suatu kehidupan.

Kamis, 11 Februari 2010

PENGALAMAN PERTAMA NAIK PESAWAT TERBANG

PENGALAMAN PERTAMA NAIK PESAWAT TERBANG



Waktu mendapatkan undangan pelantikan Pengurus Pusat dan Majelis Pembina Etik Apoteke Pusat Ikatan Apoteer Indonesia, sebenarnya saya inginnya berangkat naik kereta api. Tetapi sejawat bangkalan bilang kalau lebih enakan naik pesawat, padahal menurut pendapat saya lebih enakan berangkat naik kerata. Karena pertimbangan lebih menghemat waktu saya akhinya putuskan naik pesawat dan beli tiket PP didepan rumah.

Doa saya yang pertama adalah bertemu teman saat naik pesawat, dan doa saya terkabul. Maklum orang udik yang hampir tidak pernah kemana-mana, tiba-tiba harus naik pesawat bisa jadi menjadi masalah tersendiri buat saya. Kebetulan saya betemu Prof Siswandono dan Pak Totok yang baru saja cek in. girang hati saya, wow dalam hati, melonjak riang didalam hati seperti anak kecil. Kita ngobrol sebentar trus Pak Totok bilang kesaya, “dik minta tempat duduk jejer kita saja”. Hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan sebelumnya dan ternyata banyak kemudahan didalam keberangkatan saya ke Jakarta.

Ada beberapa hal yang saya obrolkan dengan prof Sis, yang pertama adalah cara berpikir analitik yang saya gunakan didalam blog saya. Yang mana cara ini terinspirasi dari tugas yang diberikan oleh Pak Noor Ifansyah saat mata kuliah fitofarmaka. Saya ingat benar bila aku adalah salah satu yang jawabannya diapresiasi baik. Saat itu kita diberi tugas mengapresiasi berita dari media tentang ditemukannya aflatoksin dalam jamu. Saat itu saya senang sekali karena jawaban saya diterima, saya lebih bangga bila jawaban saya dianggap benar dari pada nilai yang diberikan, dan sepanjang hidup saya bisa dikataan saya sekolah bukan untuk mencari atau mementingkan nilai, tetapi saya lebih suka mencari atau mementingkan nilai-nilai dari suatu ilmu pengetahuan.

Pak Noor Ifansyah bisa dikatakan adalah yang mengnspirasi cara berpikr saya dalam menulis blog ini, karena telah memberikan tugas waktu itu. Dan yang menjadi penting disini adalah cara berpikir yang beliau ajarkan dalam berpikir analitik dan sering saya gunakan dalam mengahdapi banyak permasalahan. Pak Noor Ifansyah juga menjadi dosen penguji saat ujian pendadaran apoteker bersama Prof Syamsiah (waktu menguji saya belum profesor) dan penguji saya yang ketiga adalah Prof Sis (waktu itu menjadi dosen penguji yang termuda dan belum profesor. Saya sangat patut sekali bersukur dan berterima kasih kepada Pak Noor Ifansyah yang telah mengajari cara berpikir mengunakan nilai-nilai yang sampai sekarang saya gunakan, terutama dalam menulis blog ini.

Dari ketiga dosen penguji pendadaran waktu itu, yang paling saya takuti adalah Prof Sis, bukan karena yang paling jago atau yang paling pintar, tetapi karena yang paling muda dan belum doktor waktu itu. Setiap kali ada ujian diskusi sangat jarang saya gagal bukan karena pintar, tetapi karena saya lebih bisa membaca psikologi dosennya sehingga saya menjadi lebih mudah didalam mengatasi diskusi secara psikologi. Menghadapi dosen senior dalam pendadaran tidak sulit, karena dosen senior biasanya lebih mengutamakan cara berpikir rasional dan profesional ketimbang cara berpikir yang menghafal. Sehingga pertanyaannyapun biasanya lebih mudah buat saya karena mengalir dan mengajak berpikir. Dan ketakutan saya terbukti, karena dosen yang masih muda lebih sering menanyakan hal yang sifatnya lebih menhapal, belum mengarah pada ilmu sebagi filsafat atau semacam itu.

Pertanyaan yang mengajak berpikir biasanya kita tidak diberi pertanyaan yang harus dijawab 100% benar, tetapi bagaiman kita bisa mengabil keputusan untuk menjawab secara rasional dan analitik. Dan sekarang saya bisa mengingat jasa orang-orang yang telah membentuk saya, dan banyak orang yang membetuk saya dan semuanya berjasa kepada saya.

Kembali kepada obrolan dengan Prof Sis yang sekarang jauh berbeda dengan saat menguji saya waktu pendadaran. Sekarang prof Sis lebih bisa menjadi seorang inspirator bagi saya bahkan mungkin melebihi dari senior-seniornya. Obrolan akhirnya masuk pada ranah keahlian Prof Sis, yang mana terkait kimia medisinal. Hal yang sangat menarik saya adalah saat ini uji aktifitas obat tardisional bisa dilakukan hanya dengan perhitungan kimia medisinal asal rumus strukturnya diketahui. Hal yang baru buat saya, karena saat kuliah dulu ini setahu saya belum pernah diajarkan.

Bagaimanapun saya sangat terkesan dengan pengalaman saya naik pesawat terbang pertama saya. Banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dan inspirasi yang sangat hebat bagi hidup saya. Hal yang luar biasa bila bahan obat bisa dihitung mulai dari penyerapan sampai aktifitasnya, asal rumus strukturnya diketahui. Mungkin saja kedepan uji aktiftas tanaman obat in vitro dan in vivo akan semakin berkurang, karena sebagian akan digantikan dengan perhitungan kimia medisinal. Bila dulu yang dijadiakan alasan penelitian obat tradisional adalah penggunaan empiris, kedepan mungkin bisa saja gugus-gugus tertentu dalam molekul menjadi pertimbangan awal dari suatu penelitian obat tradisional.

Karena kaitan gugus-gugus tertentu itulah yang berperan didalam kaitannya dengan reseptor. Suatu keberuntungan bertemu seorang pakar. Dunia menjadi lebih terbuka. Hidup menjadi lebih indah. Nilai-nilai adalah suatu kebutuhan. Sedemikian jauh perkembangan ilmu kefarmasian. Sepertinya kedepan kita tidak mungkin meninggalkan nilai-nilai yang semakin rasional, yang semakin murah karena lebih mudah dan lebih bisa diperhitungkan sebelum dilakukan uji yang sebenarnya. Bisa dibayangkan betapa sangat mahal harga penelitian obat sebelum ditemukannya kimia medisinal. Kimia medisinal menurut saya bisa menjadi salah satu inspirasi kemajuan sains kefarmasian kedepan.

Dan inspirasi yang lebih aku rasakan dari prof Sis pribadi adalah nilai-nilai kehidupan. Kimia medisinal sangat menginspirasi, tetapi nilai-nilai dari Prof Sis juga sangat memberi aku inspirasi. Nilai-nilai terkait pekerjaan, belajar, mendidik anak, berjuang dsb. Inspirasi ini bisa lebih memberikan warna dan corak dan semakin memberi nilai-nilai.

Kedepan, pengembangan obat tradisional bisa jadi tidak akan lepas dari kimia medisinal. Dan kemungkinan-kemungkinan lain adalah sangat dimungkinkan penemuan obat baru dari Indonesia bila ada banyak profesor-profesor seperti Prof Sis. Karena kita mempunyai banyak bahan kimia alam yang sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi bahan obat. Suatu hal yang luar biasa dari kimia medisinal. Mungkin penentuan pelarut dalam ekstraksi tanaman obat bisa ditentukan secara kimia medisinal. Mugkin juga empiris obat tradisional kedepan akan banyak yang dipatahkan oleh kimia medisinal. Isolasi tanaman obat mungkin juga tidak lepas dari teori-teori kimia medisinal. Obat tradisional kedepannya bisa jadi tidak akan tradisional lagi bila mendapat sentuhan kimia medisinal.

Mungkin pemerintah dalam mengembangkan obat tradisional atau perusahaan jamu dalam mengembangkan obat tradisional membutuhkan teori-teori itu kedepannya. Bila menginginkan hasil yang masimal dan harga lebih murah. Dunia molekuler semakin terbuka. Semoga sukses buat Prof Sis, terima kasih ilmu yang telah dibagikan dalam pesawat pertama dalam hidup aku. Semoga jalan hidup aku juga semakin pesat seperti laju pesawat pertamaku.

Inspirasi menuju bangsa yang lebih maju, lebih efisien. Dan semoga bangsa kita memiliki banyak ahli seperti Prof Sis. Yang siap bekerja demi kemajuan kemanusiaan.