BERMIMPI SAAT TERJAGA
Malam ini Apoteker menjadi susah tidur, mengingat pengalaman hari ini yang sangat istimewa. Setelah Raja memutuskan untuk mengirimkan Apoteker untuk ditugaskan sampai kepelosok guna mendampingi penduduk Kerajaan didalam meningkatkan derajat pendidikan kesehatan dan kesehatan, yang berarti juga meningkatkan ekonomi, kemanusiaan, peradaban dan ketahanan Kerajaan, Raja menindak lanjuti dengan menyusun tim guna menyiapkan segala yang tekait dengan usaha penugasan Apoteker sampai pada tingkat pelosok. Guman Apoteker dalam hati berulang-ulang, “Raja yang sangat cerdas dan bijaksana”.
Setiap detik demi detik hari ini terekam didalam benak Apoteker seakan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. “Pengalaman yang sangat berharga”, itu yang terlintas didalam pikirannya. “Setiap detik hari ini adalah ilmu dan pengalaman, yang tidak pernah terlintas didalam hati sebelumnya, bila akan menemui peristiwa yang sangat berharga yang mungkin hanya sekali didalam hidup”, demikian pikir Apoteker.
Sungguh tak terbayangkan, bila hari ini diundang oleh Raja untuk membahas penugasan Apoteker sampai ke pelosok. Tidak terbayangkan bila hari ini dirinya menjadi salah satu orang yang akan ikut didalam mengambil keputusan Kerajaan. “Sungguh merupakan mimpi,” kenang apoteker sambil membaringkan dirinya titempat tidur.
Sebelum acara hari ini dimulai, diadakan jamuan makan oleh Raja, yang mana makanan kualitas Kerajaan menjadi mimpi pertama bagi Apoteker dihari ini. “Sungguh luar biasa”, berkali-kali Apoteker berguman. Pengalaman pertamanya menyantap hidangan yang sangat lezat bagi lidah Apoteker. nuansa jamuan yang sangat istimewa karena diiringi musik yang sangat syahdu. “mimpikah aku”, kata Apoteker didalam hati setiap kali memasukan suapan nasi kedalam mulut. “Mungkin selama ini saya hanyalah katak dalam tempurung”, kata Apoteker dalam hati lagi.
Sudut-sudut ruang jamuan dihiasi lukisan lukisan yang sangat molek yang membuat hati Apoteker menjadi lebih nyaman didalam menikmati jamuan makan. Sesekali Apoteker berguman sendiri dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti orang lain, karena sangat pelannya didalam hirup pikuk undangan dan musik.
Sambil menikmati jamuan, Apoteker tenggelam didalam lamunannya sendiri. ”seandainya istri saya bisa memasak senikmat ini”, begitu mungkin ungkapan apoteker didalam lamunannya. “Ada masalah dengan jamuan tuan?”, tiba-tiba Apoteker dikejukan oleh seorang pria disampingnya. Dengan agak terkejut, tanpa menunggu makanan dimulut masuk kerongkongan semua, Apoteker sepontan menjawab “ tidak ada, tidak ada tuan” kemudian apoteker terbatuk-batuk karena tersedak. Pria itu kemudian melanjutkan perkataannya,” maaf tuan, saya telah mengganggu anda”. Dengan buru-buru apoteker menjadwab,”tidak apa-apa tuan. Kenalkan saya Apoteker, anda siapa?”
“Saya adalah Koki Kepala yang beratanggung jawab terhadap hidangan jamuan ini tuan”, sahut pria itu. “Jikalau ada keluhan dapat langsung disampaikan kepada saya”, sahut pria itu lagi.
“wah, hebat hebat hebat, masakan anda hebat”, kata apoteker kepada Koki Kepala sambil tersenyum lebar. “ha3x”, kemudian apoteker tertawa. “bisa masak sedemikian hebat, tentu anda berasal dari keluarga yang sangat jago memasak”, tebak apoteker.
sambil tersenyum Koki Kepala menjawab, “Saya berasal dari keluarga biasa, hanya karena kerja keras saya bisa jadi Koki Kepala”. Apoteker menjadi bingung, dalam hatinya, “apa hubungan kerja keras dengan jadi Koki???”, kemudian Apoteker berkata, “ Kita semua memang harus bekerja keras agar menjadi sukses”. Meskipun dalam hati Apoteker bertanya-tanya.
Dalam hati Apoteker yang penuh tanda Tanya, kemudian bertanya lagi, “Bagaimana masakan anda begitu hebat tuan?”. “Belajar dimana?”, lanjut Apoteker. “Saya jadi Koki Kepala baru 10 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya menjadi koki biasa dengan kemampuan yang terbatas, 10 tahun sebelumnya lagi saya hanya menjadi pembantu koki”, jawab Koki. “Beda dengan Apoteker, yang mana Apoteker ada pendidikannya, kalau Koki hanya belajar dari Koki Senior”, sambung Koki.
“Tapi Koki kan gajinya besar”, sambung apoteker merendah, karena memang tidak tahu berapa gaji koki yang sebenarnya. Lanjut apoteker lagi, “ Gaji Apoteker hanya sekitar 10 sampai 15 keping perak”. “Hanya cukup untuk makan saja”, lajut Apoteker lagi.
“Koki yang mana dulu? Pembantu Koki yang hanya menjadi pelayani Koki gajinya antara 7 keping perak sampai 15 keping perak, saat sudah bisa beberapa masakan sederhana atau membakar daging bisa sampai lebih dari 2 keping emas”, Jawab Koki. “Koki biasa bisa sampai 3 atau 4 keping emas. Koki Kepala bisa sampai 20 keping emas”, lanjut Koki. “Profesi Koki memang cukup menjanjikan di Kerajaan ini”, lanjut Koki Kepala lagi.
Sangat terkejut hati apoteker mendengar besarnya gaji Koki Kepala, bisa dibayangkan, satu keping emas setara dengan 20 keping perak. Di kepalanya sudah mulai menghitung seandainya gaji apoteker sebesar gaji Koki Kepala, dalam pikiran apoteker mulai penuh impian dan hayalan tentang seandainya, seandainya dan seandainya.
Apoteker bertanya lagi,” Dengan gaji Koki Kepala sebesar 20 keping emas, kenapa tidak membuat rumah makan sendiri?. lanjut Apoteker, “ keuntungannya kan pasti sangat besar dan berlipat-lipat”.
“ha3x, saya sering mendapat pertanyaan begini, saya sudah menduga”, jawab Koki Kepala sambil tertawa sedikit keras. kemudian Koki Kepala melanjutkan pernyataannya, “Banyak Koki yang berusaha mencoba membuka rumah makan sendiri, mulai pembantu koki sampai Koki Kepala. Umumnya pembantu Koki bukan mencoba membuka rumah makan besar, tetapi mencoba membuka rumah makan kecil-kecilan atau menjual makanan pingir jalan”.
Lanjut Koki, “ coba hitung, biaya operasional rumah makan besar untuk biaya gaji Koki dan karyawan lain ditambah sewa lahan bisa sampai 100 keping emas. Sangat besar sekali, itu semua belum ter,asuk perlengkapan masak dan biaya-biaya lain, kalau tidak jalan bagaimana?”
Apoteker terdiam sesaat sambil berpikir, “ gaji Koki Kepala cukup untuk menggaji 20 lebih Apoteker seperti dirinya. Bila dilihat dari fungsi kemanusiaan keberadaan Apoteker jauh lebih penting dari pada sekedar urusan perut. Tetapi bila dilihat dari sisi penghasilan, gaji Apoteker sangat jauh, padahal bila ditimbang-timbang pada tingkat kesulitan di dalam pekerjaan mungkin masih lebih rumit Apoteker.”
Kemudian Apoteker menjawab sekenanya, “ Wah, kalau begitu lebih enakan ikut orang saja, tidak usah mikir capek-capek penghasilan besar, ha3x”. Kemudian Koki menyambung dengan membenarkan perkataan Apoteker,” Memang benar, ikut orang gaji cukup untuk menghidupi keluarga, sudah sepantasnya saya bersukur”.
Setelah berbasa basi sebentar Koki Kepala berpamitan kepadaAapoteker,” Senang bertemu anda tuan, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Selamat menikmati jamuan”.
Sepeninggal Koki, hati apoteker berkata, “ besar sekali gaji Koki Kepala”, “untung saya tidak tertarik gaji, untung saya tertarik pada nilai-nilai kemanusiaan, meskipun gaji kecil”, sisi hati apoteker yang lain menghibur diri.
Apoteker melanjukan lamunannya,” Memang untuk mencari emas lebih berkembang bisnis urusan perut dari pada kerja kemanusiaan. Atau setidaknya membuka praktek dikota besar lebih menjanjikan dari pada dipelosok. Tetapi kalau ingin berguna bagi kemanusiaan dan Kerajaan lebih terasa di pelosok, lagian penduduk pelosok lebih menghargai orang lain dari pada penduduk kota.”.
Malam semakin larut, Apoteker belum bisa tidur, meskipun sudah cukup lama ada di tempat tidur. Kemudian apoteker bagun lagi dan mengambil minum air putih meskipun tidak haus.
“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya… Berlanjut sampai ada waktu untuk melanjutkan.
Tampilkan postingan dengan label DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Juli 2010
Sabtu, 26 Juni 2010
DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR
DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR
Pada jaman dahulu kala ada Kerajaan Negeri Dongeng yang dipimpin oleh seorang Raja yang cerdas dan bijaksana. Yang mempunyai seorang Perdana Menteri (PM) yang cerdas pula. Rakyatnya selalu hidup dalam kemakmuran yang tiada kurang suatu apapun. Ada suatu kebiasaan Raja yang sangat baik, yang mana Raja sangat suka menyamar menjadi rakyat jelata, pedagang atau menjadi apapun juga untuk melihat keadaan kerajaan yang sebenarnya.
Pada suatu hari, dimusim panen yang mana kebanyakan dari para rakyatnya sedang sibuk merayakan pesta panen, Raja mengajak 2 orang pengawalnya untuk melakukan penyamaran. Dengan berpura-pura menjadi pedagang, Raja berharap dapat melihat keadaan ekonomi Kerajaan. Sehinga kondisi rakyat dapat diterjemahkan dalam rencana pembangunan ekonomi Kerajaan.
Dari desa ke desa, dari kota ke kota. Tanpa kenal lelah Sang Raja ditemani oleh dua orang pengawalnya. Yang satu menjadi tukang angkut barang dan yang satu menjadi bendahara. Raja sepertinya sangat menikmati perjalanannya, sampailah pada suatu hari Raja melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung didepan rumahnya dengan tatapan kosong. Guratan tua diwajahnya semakin menambah usia yang sebenarnya. Pakaian lusuh yang dikenakan menjadikan seperti orang yang tidak terawatt didalam hidupnya.
Dengan langkah yang perlahan Raja mendekati orang tua tersebut. Kemudian dengan sangat lembut Raja mengucapkan salam dan bertanya kepada pria tua tersebut.
“ selamat siang tuan, bisakah saya bertanya sesuatu?” kata Raja dengan penuh hormat. Sebagai orang asing, Raja tetap menghormati siapa saja yang ditemui di dalam penyamaran.
Pria tersebut tetap saja berdiam diri, tanpa menoleh sedikitpun seperti tidak ada siapa-siapa didekatnya. Pandangan kosong dan guratan-guratan tua wajahnya menampakkan tiada ekspresi sama sekali. Sekali-sekali mengambil nafas dalam-dalam, pria tersebut semakin kelihatan suatu duka yang mendalam. Kemudian Raja mengulang perkataannya lagi, “ Seamat siang tuan, bisakah anda menolong saya?” Kemudian pria tersebut menoleh tanpa menjawab, hanya memandangi wajah asing didekatnya.
Setelah beberapa saat Pria tua itu berkata, “anda siapa?” dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan tetap memandangi wajah asing didekatnya, dengan hampir tanpa ekspresi.
Raja menjawab, “saya pedagang dari kota.” Berdiam sesaat kemudian Raja berkata lagi, “Saya sedang mencari dagangan, kira-kira siapa penduduk disini yang masih menyimpan hasil panen?” Raja melanjutkan, “Mungkin tuan sendiri mempunyai hasil panen yang belum terjual?”
Pria tua itu terdiam. Tanpa sepatah katapun di keluarkan sambil menatap wajah sang raja dalam-dalam. Kemudian Raja berkata lagi,”kalau tuan sudah tidak mempunyai hasil panen lagi, bisakah tuan menunjukan orang yang masih mempunyai hasil panen?”
Pria tua itu kemudian menjawab, “Tuan, saya sudah tidak mempunyai ladang dan sawah lagi. Semua sudah saya jual. Dan saya juga tidak tahu siapa yang masih mempunyai hasil panen. Karena sudah satu tahun ini saya tidak pernah bergaul dan hanya merawat istri saya yang sakit.”
Selanjutnya pembicaraan menjadi cerita pria tua itu dengan usaha mengobati penyakit istrinya. Dengan sekali-sekali menarik napas panjang pria itu menceritakan semua cobaan yang dihadapi dengan tanpa semangat. Semua keluh kesah keluar dari mulutnya. Raja mendengarkan dengan penuh empati.
Setelah cerita berakhir, dengan basa basi sedikit Raja kemudian memberi uang keping emas kepada pria tua itu sambil berkata, “ini ada sedikit keping emas laba dari penjualan beberapa hari kemarin, semoga bisa membantu istri tuan untuk berobat.” Pria tua itu menerimanya dengan sangat terharu, dan sambil menangis pria itu berkata, “Tuanku, semoga rejeki tuan semakin banyak dan jauh dari mara bahaya.” Kemudian Raja berpamitan dan meninggalkan desa itu.
Keesokan harinya setelah sampai di Istana, Raja memanggil PM dan mendiskusikan masalah kesehatan. Saran dari Perdana Menteri adalah memperbaiki sistem kesehatan Kerajaan dan memanggil semua tenaga kesehatan terkait untuk dimintai masukan. Raja menyetujui dan menitahkan kepada Perdana menteri untuk mengundang semua tenaga kesehatan yang ada di Kota Raja.
Beberapa hari kemudian, hamper semua tenaga kesehatan sudah berkumpul di istana Kerajaan, di ruang pertemuan. Dan semua bertanya-tanya terhadap undangan Raja yang tiba-tiba dan terkesan sangat mendesak. Satu sama lain saling melontarkan pertanyaan yang sama dan semua tidak ada yang memahami kenapa sampai terjadi undangan ini. Saat kegaduhan yang diakibatkan bisikan-bisakan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara “Baginda Raja memasuki ruangan, semua hadirin harus hormat”.
Dengan penuh kewibawaan, Raja memasuki ruangan pertemuan. Setelah penghormatan kepada Raja selesai, Raja memerintahkan kepada PM untuk memulai pertemuan membahas masalah kesehatan di wilayah kerajaan.
PM: “ saudara-saudara yang terhormat, kalian semua diundang Kerajaan untuk membicarakan masalah kesehatan di wilayah Kerajaan. Raja menginginkan pembangunan kesehatan menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Karena Negara yang kuat tidak mungkin bila tidak diisi oleh badan dan jiwa yang sehat.”
Kemudian PM melanjutkan dengan pertanyaannya kepada Dokter; “ Dokter, bagaimana kosep kamu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat?”
Dokter; ”Tuanku yang saya hormati, menurut hamba Kerajaan harus menggaji dokter lebih banyak dan mengirmkannya sampai pada pelosok. Karena tanpa gaji yang cukup saya rasa tidak mungkin Dokter akan mau dikirim sampai ke pelosok kerajaan.”
PM; “ Perawat, bagaimana menurut kamu?
Perawat; “Benar yang mulia, profesi kami siap membantu Dokter sampai ke pelosok, toh saat ini Perawat sudah sampai pada pelosok Kerajaan. Cuma saja kewenangan kami terbatas.
PM; “ Apoteker ada masukan?”
Apoteker; “ Tuanku, menurut hamba Kerajaan harus mempunyai arah yang tepat dalam membangun sistem kesehatan. Termasuk menempatkan Dokter dan Perawat sampai ke tingkat pelosok Kerajaan. Dan kami akan membantu mereka dengan obat dan penyuluhan kesehatan yang sudah biasa kami lakukan.”
PM; “Dokter dari mana kamu akan menghidupi diri kamu bila gaji yang diberikan kerajaan kecil dan tidak cukup?”
Dokter; “ Kami masih bisa menarik jasa kepada penduduk yang sakit, terutama yang kaya. Dengan sekeping perak atau emas. Baik pada pelayanan pengobatan atau pada layanan konsultasi.”
PM; “ Perawat, bagaimana dengan kalian?”
Perawat; “ Tuanku, menurut hamba sama dengan Dokter. Hanya saja kami hanya menarik sekeping perunggu.”
PM; “Apoteker?”
Apoteker; “Tuanku, kami selama ini hanya makan dari jasa yang sangat kecil dari apa yang kami lakukan. Malahan untuk konsultasi dan edukasi kami hanya bisa melakukan dengan cuma-cuma.”
PM melanjutkan pertanyaannya; “ terus bagaimana kamu menghidupi keluarga kamu bila jasa kamu sangat kecil?”
Apoeker; “ Jasa kami memang sangat kecil, tetapi yang menggunakan jasa kami jauh lebih banyak. Sehingga bila dikumpulkan akan cukup untuk menghidupi keluarga kami. Meskipun itu tidak menjadikan kami kaya”
PM; “ Dokter, apa yang bisa kamu kerjaka untuk kerajaan?”
Dokter; “ Tuanku, kami akan bekerja keras mengobati semua penduduk Kerajaan yang sakit demi nilai-nilai kemanusiaan.”
PM; “ Perawat, apa yang bisa kamu kejakan?”
Perawat; “Kami siap melakukan perawatan kepada semua penduduk yang membutuhkan.”
PM; “ Apoteker? “
Apoteker; “ Tuanku, saya rasa kami siap mendudkung mereka, dan kami akan pula melakukan penyuluhan kesehatan kepada penduduk kerajaan dengan cuma-cuma. “
PM; “ Dokter, apa yang kamu harapkan dari kerajaan terhadap peran kamu? “
Dokter; “ Kami hanya minta sedikt gaji yang lebih banyak tuan. “
PM; “ Perawat? “
Perawat; “ hamba rasa sama dengan dokter Tuan “
Apoteker; “ kami hanya mengharapkan kemudahan dan pembebasan dari pajak, karena apa yang kami kami lakukan akan meningkatkan ekonomi kerajaan meskipun dampaknya tidak langsung. Dan sewajarnya bila ada dampak pada peningkatan ekonomi kerajaan menjadikan kami dipermudah, karena kami tidak mengharapkan gaji dari Kerajaan. “
Kemudian PM menghentikan dialog dan membicara hasil dialog ini dengan Raja. Raja menyuruh PM untuk mengambil kesimpulan dengan mendiskusikan lagi dengan para ahli kesehatan se Kota Raja.
PM; “ Menurut saya, kesimpulannya adalah, mengirimkan Dokter dan perawat sampai tingkat pelosok dan Apoteker harus mendukung mereka dengan mendirikan apotek pada daerah-daerah yang dianggapstrategis. Bagaimana menurut kalian semua? “
Dokter; “Hamba siap melaksanakan tugas “
Perawat; Hamba siap melaksanakan tugas kerajaan”
Apoteker; “ Hamba siap melaksanakan tugas Kerajaan “
Setelah semua selesai mengemukakan pendapat, PM melaporkan kepada Raja bahwa kesimpulan telah selesai dibuat, dan menjadi kewenangan Raja untuk memutuskan. Kata PM kepada Raja; “ Tuanku Yang Mulia, sidang sudah disimpulkan, dan dipersilahkan kepada Yang Mulia untuk menyampaikan putusan / titah. “
Kemudian Raja berdiam sejenak sebelum mengeluarkan titahnya. Dengan penuh kewibawaan Raja mengucapkan titahnya, “ Pertama, peran dokter dan perawat tetap seperti semula dan Kerajaan akan mengirim sampai pelosok disesuaikan dengan kebutuhan.
Kedua, Apoteker akan dikirimkan sampai pelosok untuk mengawal penduduk didalam menjaga kesehatan. Dan Kerajaan akan memberikan kemudahan dalam mengurus ijin dan membebaskan dari segala jenis pajak kerajaan.”
“Mungkin kalian bertanya-tanya akan keputusan ini.” lanjut Raja. “Saya lebih memilih untuk mengirimkan apoteker samai kepelosok, karena pekerjaan Dokter dan Perawat adalah tindakan medis dan pekerjaan akan ada setelah ada kasus medis. Sedangkan Apoteker justru lebih bisa diarahkan pada prekuentif dan edukasi. Bisa kamu hitung berapa uang kerajaan yang seharusnya dikeluarkan kepada penyuluh kesehatan bila kerajaan harus mengirimkan penyuluh kesehatan sampai kepelosok, padahal pekerjaan itu dapat dirangkap oleh Apoteker. Pada tugas ini Apoteker tidak perlu digaji oleh Kerajaan. Sedangkan dampaknya pada nilai ekonomi Kerajaan sangat tinggi. “
Lanjut Raja, “ oleh karena itu, sebagai ganti atas peran apoteker yang sangat penting didalam membangun kesehatan dan ekonomi Kerajaan, maka Apoteker akan difasilitasi oleh Kerajaan didalam menjalankan prakteknya dan akan dibebaskan dari segala macam pajak kerajaan. “
“Demikian titah aku turunkan”, Raja menutup siding dan meninggalkan ruangan.
Pada jaman dahulu kala ada Kerajaan Negeri Dongeng yang dipimpin oleh seorang Raja yang cerdas dan bijaksana. Yang mempunyai seorang Perdana Menteri (PM) yang cerdas pula. Rakyatnya selalu hidup dalam kemakmuran yang tiada kurang suatu apapun. Ada suatu kebiasaan Raja yang sangat baik, yang mana Raja sangat suka menyamar menjadi rakyat jelata, pedagang atau menjadi apapun juga untuk melihat keadaan kerajaan yang sebenarnya.
Pada suatu hari, dimusim panen yang mana kebanyakan dari para rakyatnya sedang sibuk merayakan pesta panen, Raja mengajak 2 orang pengawalnya untuk melakukan penyamaran. Dengan berpura-pura menjadi pedagang, Raja berharap dapat melihat keadaan ekonomi Kerajaan. Sehinga kondisi rakyat dapat diterjemahkan dalam rencana pembangunan ekonomi Kerajaan.
Dari desa ke desa, dari kota ke kota. Tanpa kenal lelah Sang Raja ditemani oleh dua orang pengawalnya. Yang satu menjadi tukang angkut barang dan yang satu menjadi bendahara. Raja sepertinya sangat menikmati perjalanannya, sampailah pada suatu hari Raja melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung didepan rumahnya dengan tatapan kosong. Guratan tua diwajahnya semakin menambah usia yang sebenarnya. Pakaian lusuh yang dikenakan menjadikan seperti orang yang tidak terawatt didalam hidupnya.
Dengan langkah yang perlahan Raja mendekati orang tua tersebut. Kemudian dengan sangat lembut Raja mengucapkan salam dan bertanya kepada pria tua tersebut.
“ selamat siang tuan, bisakah saya bertanya sesuatu?” kata Raja dengan penuh hormat. Sebagai orang asing, Raja tetap menghormati siapa saja yang ditemui di dalam penyamaran.
Pria tersebut tetap saja berdiam diri, tanpa menoleh sedikitpun seperti tidak ada siapa-siapa didekatnya. Pandangan kosong dan guratan-guratan tua wajahnya menampakkan tiada ekspresi sama sekali. Sekali-sekali mengambil nafas dalam-dalam, pria tersebut semakin kelihatan suatu duka yang mendalam. Kemudian Raja mengulang perkataannya lagi, “ Seamat siang tuan, bisakah anda menolong saya?” Kemudian pria tersebut menoleh tanpa menjawab, hanya memandangi wajah asing didekatnya.
Setelah beberapa saat Pria tua itu berkata, “anda siapa?” dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan tetap memandangi wajah asing didekatnya, dengan hampir tanpa ekspresi.
Raja menjawab, “saya pedagang dari kota.” Berdiam sesaat kemudian Raja berkata lagi, “Saya sedang mencari dagangan, kira-kira siapa penduduk disini yang masih menyimpan hasil panen?” Raja melanjutkan, “Mungkin tuan sendiri mempunyai hasil panen yang belum terjual?”
Pria tua itu terdiam. Tanpa sepatah katapun di keluarkan sambil menatap wajah sang raja dalam-dalam. Kemudian Raja berkata lagi,”kalau tuan sudah tidak mempunyai hasil panen lagi, bisakah tuan menunjukan orang yang masih mempunyai hasil panen?”
Pria tua itu kemudian menjawab, “Tuan, saya sudah tidak mempunyai ladang dan sawah lagi. Semua sudah saya jual. Dan saya juga tidak tahu siapa yang masih mempunyai hasil panen. Karena sudah satu tahun ini saya tidak pernah bergaul dan hanya merawat istri saya yang sakit.”
Selanjutnya pembicaraan menjadi cerita pria tua itu dengan usaha mengobati penyakit istrinya. Dengan sekali-sekali menarik napas panjang pria itu menceritakan semua cobaan yang dihadapi dengan tanpa semangat. Semua keluh kesah keluar dari mulutnya. Raja mendengarkan dengan penuh empati.
Setelah cerita berakhir, dengan basa basi sedikit Raja kemudian memberi uang keping emas kepada pria tua itu sambil berkata, “ini ada sedikit keping emas laba dari penjualan beberapa hari kemarin, semoga bisa membantu istri tuan untuk berobat.” Pria tua itu menerimanya dengan sangat terharu, dan sambil menangis pria itu berkata, “Tuanku, semoga rejeki tuan semakin banyak dan jauh dari mara bahaya.” Kemudian Raja berpamitan dan meninggalkan desa itu.
Keesokan harinya setelah sampai di Istana, Raja memanggil PM dan mendiskusikan masalah kesehatan. Saran dari Perdana Menteri adalah memperbaiki sistem kesehatan Kerajaan dan memanggil semua tenaga kesehatan terkait untuk dimintai masukan. Raja menyetujui dan menitahkan kepada Perdana menteri untuk mengundang semua tenaga kesehatan yang ada di Kota Raja.
Beberapa hari kemudian, hamper semua tenaga kesehatan sudah berkumpul di istana Kerajaan, di ruang pertemuan. Dan semua bertanya-tanya terhadap undangan Raja yang tiba-tiba dan terkesan sangat mendesak. Satu sama lain saling melontarkan pertanyaan yang sama dan semua tidak ada yang memahami kenapa sampai terjadi undangan ini. Saat kegaduhan yang diakibatkan bisikan-bisakan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara “Baginda Raja memasuki ruangan, semua hadirin harus hormat”.
Dengan penuh kewibawaan, Raja memasuki ruangan pertemuan. Setelah penghormatan kepada Raja selesai, Raja memerintahkan kepada PM untuk memulai pertemuan membahas masalah kesehatan di wilayah kerajaan.
PM: “ saudara-saudara yang terhormat, kalian semua diundang Kerajaan untuk membicarakan masalah kesehatan di wilayah Kerajaan. Raja menginginkan pembangunan kesehatan menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Karena Negara yang kuat tidak mungkin bila tidak diisi oleh badan dan jiwa yang sehat.”
Kemudian PM melanjutkan dengan pertanyaannya kepada Dokter; “ Dokter, bagaimana kosep kamu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat?”
Dokter; ”Tuanku yang saya hormati, menurut hamba Kerajaan harus menggaji dokter lebih banyak dan mengirmkannya sampai pada pelosok. Karena tanpa gaji yang cukup saya rasa tidak mungkin Dokter akan mau dikirim sampai ke pelosok kerajaan.”
PM; “ Perawat, bagaimana menurut kamu?
Perawat; “Benar yang mulia, profesi kami siap membantu Dokter sampai ke pelosok, toh saat ini Perawat sudah sampai pada pelosok Kerajaan. Cuma saja kewenangan kami terbatas.
PM; “ Apoteker ada masukan?”
Apoteker; “ Tuanku, menurut hamba Kerajaan harus mempunyai arah yang tepat dalam membangun sistem kesehatan. Termasuk menempatkan Dokter dan Perawat sampai ke tingkat pelosok Kerajaan. Dan kami akan membantu mereka dengan obat dan penyuluhan kesehatan yang sudah biasa kami lakukan.”
PM; “Dokter dari mana kamu akan menghidupi diri kamu bila gaji yang diberikan kerajaan kecil dan tidak cukup?”
Dokter; “ Kami masih bisa menarik jasa kepada penduduk yang sakit, terutama yang kaya. Dengan sekeping perak atau emas. Baik pada pelayanan pengobatan atau pada layanan konsultasi.”
PM; “ Perawat, bagaimana dengan kalian?”
Perawat; “ Tuanku, menurut hamba sama dengan Dokter. Hanya saja kami hanya menarik sekeping perunggu.”
PM; “Apoteker?”
Apoteker; “Tuanku, kami selama ini hanya makan dari jasa yang sangat kecil dari apa yang kami lakukan. Malahan untuk konsultasi dan edukasi kami hanya bisa melakukan dengan cuma-cuma.”
PM melanjutkan pertanyaannya; “ terus bagaimana kamu menghidupi keluarga kamu bila jasa kamu sangat kecil?”
Apoeker; “ Jasa kami memang sangat kecil, tetapi yang menggunakan jasa kami jauh lebih banyak. Sehingga bila dikumpulkan akan cukup untuk menghidupi keluarga kami. Meskipun itu tidak menjadikan kami kaya”
PM; “ Dokter, apa yang bisa kamu kerjaka untuk kerajaan?”
Dokter; “ Tuanku, kami akan bekerja keras mengobati semua penduduk Kerajaan yang sakit demi nilai-nilai kemanusiaan.”
PM; “ Perawat, apa yang bisa kamu kejakan?”
Perawat; “Kami siap melakukan perawatan kepada semua penduduk yang membutuhkan.”
PM; “ Apoteker? “
Apoteker; “ Tuanku, saya rasa kami siap mendudkung mereka, dan kami akan pula melakukan penyuluhan kesehatan kepada penduduk kerajaan dengan cuma-cuma. “
PM; “ Dokter, apa yang kamu harapkan dari kerajaan terhadap peran kamu? “
Dokter; “ Kami hanya minta sedikt gaji yang lebih banyak tuan. “
PM; “ Perawat? “
Perawat; “ hamba rasa sama dengan dokter Tuan “
Apoteker; “ kami hanya mengharapkan kemudahan dan pembebasan dari pajak, karena apa yang kami kami lakukan akan meningkatkan ekonomi kerajaan meskipun dampaknya tidak langsung. Dan sewajarnya bila ada dampak pada peningkatan ekonomi kerajaan menjadikan kami dipermudah, karena kami tidak mengharapkan gaji dari Kerajaan. “
Kemudian PM menghentikan dialog dan membicara hasil dialog ini dengan Raja. Raja menyuruh PM untuk mengambil kesimpulan dengan mendiskusikan lagi dengan para ahli kesehatan se Kota Raja.
PM; “ Menurut saya, kesimpulannya adalah, mengirimkan Dokter dan perawat sampai tingkat pelosok dan Apoteker harus mendukung mereka dengan mendirikan apotek pada daerah-daerah yang dianggapstrategis. Bagaimana menurut kalian semua? “
Dokter; “Hamba siap melaksanakan tugas “
Perawat; Hamba siap melaksanakan tugas kerajaan”
Apoteker; “ Hamba siap melaksanakan tugas Kerajaan “
Setelah semua selesai mengemukakan pendapat, PM melaporkan kepada Raja bahwa kesimpulan telah selesai dibuat, dan menjadi kewenangan Raja untuk memutuskan. Kata PM kepada Raja; “ Tuanku Yang Mulia, sidang sudah disimpulkan, dan dipersilahkan kepada Yang Mulia untuk menyampaikan putusan / titah. “
Kemudian Raja berdiam sejenak sebelum mengeluarkan titahnya. Dengan penuh kewibawaan Raja mengucapkan titahnya, “ Pertama, peran dokter dan perawat tetap seperti semula dan Kerajaan akan mengirim sampai pelosok disesuaikan dengan kebutuhan.
Kedua, Apoteker akan dikirimkan sampai pelosok untuk mengawal penduduk didalam menjaga kesehatan. Dan Kerajaan akan memberikan kemudahan dalam mengurus ijin dan membebaskan dari segala jenis pajak kerajaan.”
“Mungkin kalian bertanya-tanya akan keputusan ini.” lanjut Raja. “Saya lebih memilih untuk mengirimkan apoteker samai kepelosok, karena pekerjaan Dokter dan Perawat adalah tindakan medis dan pekerjaan akan ada setelah ada kasus medis. Sedangkan Apoteker justru lebih bisa diarahkan pada prekuentif dan edukasi. Bisa kamu hitung berapa uang kerajaan yang seharusnya dikeluarkan kepada penyuluh kesehatan bila kerajaan harus mengirimkan penyuluh kesehatan sampai kepelosok, padahal pekerjaan itu dapat dirangkap oleh Apoteker. Pada tugas ini Apoteker tidak perlu digaji oleh Kerajaan. Sedangkan dampaknya pada nilai ekonomi Kerajaan sangat tinggi. “
Lanjut Raja, “ oleh karena itu, sebagai ganti atas peran apoteker yang sangat penting didalam membangun kesehatan dan ekonomi Kerajaan, maka Apoteker akan difasilitasi oleh Kerajaan didalam menjalankan prakteknya dan akan dibebaskan dari segala macam pajak kerajaan. “
“Demikian titah aku turunkan”, Raja menutup siding dan meninggalkan ruangan.
Langganan:
Postingan (Atom)