Ya Tuhan, muliakanlah guru-guru hambamu. hari ini hamba mengetik dengan terharu.
Banyak hal yang telah aku dapatkan selama ini dari para guru-guru hambaMu ya Tuhan.
ucapan terima kasih semata tak akan cukup untuk aku sampaikan kepada mereka.
mereka adalah pelita di dalam kegelapan
yang menjadi petunjuk dan penerangan
Ya Tuhan, janganlah Engkau menghukum mereka karena kebodohan hambaMu
Ya Tuhan, muliakan mereka dengan setiap percikan cahaya yang telah disampaikan kepada ku
Ya Tuhan, muliakan mereka dengan setiap tetesan keringatnya
Ya Tuhan muliakanlah mereka dengan semua kata yang ada
Kebodohanku adalah dosa aku sendiri
kelelahanku adalah kesalahan aku sendiri
Semangatku adalah rahmadMu
Ya Tuhan, tiada kata yang cukup untuk terima kasihku
Ya Tuhan, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami
Ya Tuhan, sesungguhnya kemuliaan adalah milikMu
Ya Tuhan, semoga Engkau muliakan mereka
Sabtu, 23 Agustus 2014
Sabtu, 11 Mei 2013
INVESTASI
INVESTASI
Sebagai profesional, apoteker dalam menjalankan praktek
tentunya tidak akan lepas dari istilah investasi. Yang pada kali ini saya
menulis investasi kognitif sebagai investasi profesi yang sangat penting, dan
menjadi salah satu pondasi dan pilar dalam memajukan profesi. Sebagai pondasi,
investasi kognitif akan mendasari semua kegiatan profesi yang bertanggung
jawab, sedangkan sebagai pilar adalah belajar seumur hidup dengan terus
memperkokoh kemampuan kognitif yang aktual dan ideal guna mencapai tingkatan
profesi yang sekamsimal yang dapat dicapai.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ada sejawat kita yang
mengawali membuka praktek mandiri yang melengkapi praktek dengan investasi
kognitif dengan membeli buku yang nilainya menurut saya waktu itu adalah cukup fantastik
(mahal dalam kacamata saya). Beberapa tahun
yang lalu saat saya mengunjungi apoteknya, saya meliha investasi kognitifnya
(buku) sangat banyak, yang tentunya menjadi investasi yang sangat mahal.
Mungkin bila dilihat dari kebanyakan praktisi yang berpraktek mandiri adalah
“kegilaan” dalam investasi kognitif.
Sebenarnya investasi tersebutlah yang menjadi kelebihannya
dan menjadi kunci perjalanan karirnya dalam menjalankan sekaligus membangun
profesi. Dalam kacamata saya menjadi sangat wajar bila sejawat kita tersebut cukup
sukses dalam banyak hal.
Dalam pendapat saya, investasi kognitif dalam membangun
pratek profesi dapat dilakukan dengan setidaknya dua cara, yang pertama adalah
berdasarkan kasus dan yang kedua berdasarkan minat. Yang keduanya saling
melengkapi.
Investasi kognitif berdasarkan kasus saat menjalankan
praktek profesi merupakan investasi kognitif yang didasarkan pada kebutuhan
dasar profesi saat menjalankan praktek. Sebagai contohnya, yang tadi sebelum
saya menulis ini, beliau baru saja telepon saya, menceritakan semisal ada
pasien datang ke apotek dengan membawa data laboratorium dengan nilai diluar
kewajaran, otomatis apoteker harus membuka buku atau mencari rujukan kemana
saja untuk menjawab kasus tersebut. Sehingga, mau atau tidak apoteker harus
belajar secara terus menerus mengikuti sejumlah kasus yang sering kali muncul
dalam praktek profesi. Mulai dari kasus yang sederhana sampai pada kasus yang
cukup rumit.
Dalam praktek memecahkan kasus yang jumlahnya bisa mencapai
ratusan perhari yang berarti juga belajar karena didalam memecahkan kasus
tersebut tetap dibutuhkan kemampuan kognitif yang actual dan ideal, investasi
kognitif yang didasarkan pada kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang muncul
menjadi juga penting. Kita menyadari
bahwa tidak mudah atau terkadang sangat sulit memecahkan kasus tanpa bantuan
rujukan yang mempunyai relevansi. Mungkin cara pemecahan dapat kita
sederhanakan, atau kita selesaikan dengan asal-asalan toh masyarakat belum
tentu memahami bila tidak dibantu dengan maksimal, toh masyarakat terkadang
juga tidak melek kesehatan, tetapi sebagai professional yang mempunyai tanggung
jawab tentu kita akan berbuat yang sebaiknya yang bisa dilakukan, oleh
karenanya investasi rujukan atau investasi kognitif sebagai alat bantu dalam
memecahkan setiap kasus yang muncul sangat diperlukan.
Berikutnya adalah investasi kognitif yang berdasarkan minat.
Pada investasi ini kita tidak mengaitkan dengan kasus secara spesifik. Kita
cukup memikirkan apa yang menjadi minat kita termasuk dalam mengembangkan
profesi. Yang secara langsung dengan profesi keterkaitannya bisa jadi tidak
berhubungan sama sekali, tetapi dapat pula berhubungan sama sekali. Semisal
terkait kognitif manajemen, perilaku, edukasi, sosial-ekonomi, budaya, agama,
bahasa, dan sebagainya. Yang kesemuanya
itu kalau kita turuti dapat menyita waktu yang cukup banyak dan juga menyita
biaya yang tidak sedikit yang belum tentu sebagian dari kita para praktisi
berani mengambil untuk mengembangkan profesi.
Saya pernah menulis, yang mana dalam menjalankan praktek
profesi, setidaknya apoteker menyisakan waktu sekitar satu jam dalam satu hari
untuk up date kemampuan, mengembangkan, dan mempertahankan kemampuan kognitif.
Dan sangat bermimpi bila kita tidak pernah sama sekali menjaga kemampuan
kognitif kita mengharapkan keberhasilan.
Minggu, 13 Mei 2012
ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS
ASPEK SOSIAL FARMASI KOMUNITAS
Sampai saat ini masih banyak apoteker yang menganggap puncak
dari farmasi komunitas adalah farmakoterapi, meskipun sebenarnya farmakoterapai
adalah sebagian dari ilmu farmasi komunitas. Ketidak pahaman ini sering
dilontarkan oleh sejawat diluar farmasi komunitas yang memang membutuhkan
farmakoterapi sebagai “hardskill”. Sehingga cara memandang masalah yang sempit
menjadi mengurung diri kita masing-masing pada titik sempit profesi.
Pada farmasi komunitas, masalah aspek farmasetika dan aspek
farmakoterapi tetap menjadi domain penting yang tidak mungkin hilang. Bahkan harus
terus selalu berkembang sesuai kebutuhan pada perkembangan jaman. Perkembangan ilmu
praktis terkait aspek farmasetika dan aspek farmakoterapi akan tetap berkembang
pesat pada saat praktek profesi terjadi. Perkembangan ini akan semakin cepat
lagi bila data praktek profesi yang menjadi bukti praktek semakin banyak
sebagai bagian dalam menyusun “evidence based practice”.
Seperti pada acara pelantikan pengurus HISFARMA PD IAI JATIM
kemarin, ada yang menanyakan terkait sikap kita bila ada pasien yang menolak
edukasi. Pertanyaan semacam ini sering muncul pada praktisi baru. Mungkin juga
akan muncul pada mereka yang bukan dari farmasi komunitas. Dan mengapa hal ini
muncul, tentunya terkait pada bagaimana kita mampu mengatasi aspek sosial. Dan tidak
mengherankan bila aspek sosial menjadi dominan pada farmasi komunitas, karena
siapapun yang sakit, yang kita hadapi dalam penyerahan obat selalu manusia. Meskipun
pasiennya adalah seekor kucing.
Pada paham farmasi komunitas, teknologi obat yang baik dan
pemahaman farmakoterapi yang baik dari apoteker masih memungkinkan pengobatan akan gagal bila
apoteker tidak memahami aspek sosial dengan benar. Sehingga permasalahan
terkait aspek sosial juga harus diselesaikan dengan baik. Dan aspek sosial tidak
hanya terkait komunikasi, tetapi lebih dari itu.
Hal dominan yang sering menjadi masalah dari aspek sosial pada
farmasi komunitas adalah hambatan psikologi, hambatan sosiologi dan hambatan
komunikasi. Yang mana hambatan tersebut dapat terjadi pada diri pasien atau dapat
terjadi pada diri apoteker. Ketiga hambatan tersebut umumnya kurang dipahami dan
kurang menarik bagi apoteker yang tidak praktek pada komunitas. Tetapi hal
tersebut justru akan sangat menarik bagi
praktisi farmasi komunitas, bahkan pada beberapa praktisi komunitas mendudukan
aspek sosial ini sebagai pilar utama ilmu kefarmasian.
Oleh karenanya untuk dapat mengatasi ketiga masalah tersebut
diatas, kita sebagai praktisi komunitas tidak dapat hanya membaca buku teori,
tetapi kita harus mampu melakukan interaksi sosial dengan benar dan dalam jam
yang banyak. Meskipun banyak teori yang dapat dibangun untuk menjelaskan ketiga
hambatan diatas, tetapi dari kesemuanya tetap dibutuhkan praktek yang nyata.
Praktek nyata selalu dibutuhkan untuk mengekspresikan suatu
ilmu. Semisal pada masalah introvert yang terjadi pada diri pasien, apoteker
harus mampu mengali informasi penting yang menjadi pesan utama agar tujuan
terapi tercapai. Pada masalah ini mungkin saja kita juga mengalami kegagalan
bila pendekatan yang kita gunakan kurang tepat atau bila kita kurang fokus. Sehingga
menajamkan ilmu sosial harus selalu dilakukan selama menyebut dirinya praktisi farmasi
komunitas.
Seorang apoteker yang mempunyai jam terbang cukup masih
mungkin mengalami kegagalan dalam menghadapi aspek sosial karena dunia tidak ada yang seratus persen. Oleh
karenanya melakukan praktek nyata guna mengasah ilmu praktis setiap saat
menjadi sangat penting apalagi bagi praktisi baru. Bagi praktisi baru, ada
baiknya bila menjadikan ketrampilan sosial sebagai focus yang juga harus dikembangkan
guna meningkatkan kualitas profesi diri sendiri. Hal itu dilakukan mengingat akan
pentingnya aspek sosial dalam keberhasilan profesi apoteker komunitas.
Focus pasien berarti juga focus pada aspek sosial dari
pasien itu sendiri. Karena setiap pasien bersifat spesifik dan perlu mendapat
perhatian secara khusus. Oleh karenanya pemahaman ilmu sosial oleh profesi
apoteker mejadi penting, karena ilmu sosial inilah yang mengatarkan semua aspek
kefarmasian sampai pada masyarakat.
“BISA JADI ASPEK FARMASETIKA YANG HEBAT DAN PEMAHAMAN
FARMAKOTERAPI YANG HEBAT DARI APOTEKER AKAN GAGAL MANAKALA APOTEKER JUGA GAGAL
DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU SOSIAL YANG DIMILIKINYA”
Selamat atas dilantiknya pengurus HISFARMA PD IAI JATIM
kemarin, dan tulisan ini menjadi salah satu dedikasi saya pada HISFARMA.
Kamis, 28 Juli 2011
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI
Banyak teori komunikasi yang kembangkan oleh banyak orang. Dan tidak ada salahnya jika saya juga mempunyai pandangan lain tentang teori komunikasi. Perkara semua orang tidak setuju, tetapi ini merupakan salah satu pengalaman saya dengan yang namanya komunikasi.
Komunikasi adalah hubungan batin antara kita dengan lingkungan kita yang didalam hubungannya ada interaksi pesan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup kita, yang didalam berhubungan dapat melibatkan verbal atau non verbal. Dengan demikian bila ada interaksi pesan semisal verbal dengan berita bohong dan tidak ada interaksi batin, maka komunikasi tidak terjadi, atau hanya sekedar komunikasi semu.
Selanjutnya dengan komunikasi. Komunikasi diantara kita dapat menggunakan bahasa verbal atau non verbal. Sedangkan komunikasi dengan tanaman dengan merawatnya. Komunikasi dengan hewan ternak kita dengan memeliharanya. Kesemua itu membutuhkan hubungan batin yang kuat bila mengingikan komunikasi yang lebih baik. Komunikasi dengan Tuhan dengan berdoa yang tulus, hati yang bersih. Berkomunikasi dengan sesama kita sebenarnya juga menjadi cerminan berkomunikasi dengan Tuhan yang membutuhkan hati yang bersih, dengan kata lain hubungan horizontal adalah ibadah kepadaNya.
Oleh karenanya, didalam berkomunikasi antara kita dengan pasien, akan lebih baik bila kita tidak hanya sekedar komunikasi verbal. Tetapi kita sebaiknya mampu lebih dari itu dengan mengkomunkasikan hati kita sehingga akan ada hubungan batin antara kita dengan pasien. Karena kesuksesan dalam berkomunikasi adalah tujuan bersama dengan perbedaan kepentingan. Sukses bagi apoteker adalah eksistensi profesi dan sukses bagi pasien adalah keberhasilan pengobatan yang semua itu didasarkan pada nilai-nilai kemanusia yang berkembang dalam bangsa ini.
Sehingga komunikasi dalam farmasi adalah hubungan batin yang kuat antara apoteker dengan pasien menggunakan pesan-pesan profesional agar didapat hasil layanan kesehatan yang maksimal yang didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku pada bangsa kita.
Banyak teori komunikasi yang kembangkan oleh banyak orang. Dan tidak ada salahnya jika saya juga mempunyai pandangan lain tentang teori komunikasi. Perkara semua orang tidak setuju, tetapi ini merupakan salah satu pengalaman saya dengan yang namanya komunikasi.
Komunikasi adalah hubungan batin antara kita dengan lingkungan kita yang didalam hubungannya ada interaksi pesan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup kita, yang didalam berhubungan dapat melibatkan verbal atau non verbal. Dengan demikian bila ada interaksi pesan semisal verbal dengan berita bohong dan tidak ada interaksi batin, maka komunikasi tidak terjadi, atau hanya sekedar komunikasi semu.
Selanjutnya dengan komunikasi. Komunikasi diantara kita dapat menggunakan bahasa verbal atau non verbal. Sedangkan komunikasi dengan tanaman dengan merawatnya. Komunikasi dengan hewan ternak kita dengan memeliharanya. Kesemua itu membutuhkan hubungan batin yang kuat bila mengingikan komunikasi yang lebih baik. Komunikasi dengan Tuhan dengan berdoa yang tulus, hati yang bersih. Berkomunikasi dengan sesama kita sebenarnya juga menjadi cerminan berkomunikasi dengan Tuhan yang membutuhkan hati yang bersih, dengan kata lain hubungan horizontal adalah ibadah kepadaNya.
Oleh karenanya, didalam berkomunikasi antara kita dengan pasien, akan lebih baik bila kita tidak hanya sekedar komunikasi verbal. Tetapi kita sebaiknya mampu lebih dari itu dengan mengkomunkasikan hati kita sehingga akan ada hubungan batin antara kita dengan pasien. Karena kesuksesan dalam berkomunikasi adalah tujuan bersama dengan perbedaan kepentingan. Sukses bagi apoteker adalah eksistensi profesi dan sukses bagi pasien adalah keberhasilan pengobatan yang semua itu didasarkan pada nilai-nilai kemanusia yang berkembang dalam bangsa ini.
Sehingga komunikasi dalam farmasi adalah hubungan batin yang kuat antara apoteker dengan pasien menggunakan pesan-pesan profesional agar didapat hasil layanan kesehatan yang maksimal yang didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku pada bangsa kita.
Minggu, 03 Juli 2011
ETIKA
ETIKA
Seringkali kita terjebak pada pemahaman etika sebagai pegetahuan. Sebagai pengetahuan, etika hanya untuk sebagai sekedar tahu jikalau nanti profesional dalam menjalankan praktek profesi akan bersentuhan dengan etika. Pengetahuan ini seringkali belum diikuti dengan pemahaman untuk implementasinya.
Hal yang seharusnya kita perkuat dalam mebangun profesi apoteker dalam hal etika adalah memperkuat pemahaman etika dalam sisi praktis. Dalam sisi praktis, etika tidak hanya bisa diajarkan sebagai “tulisan”, tetapi etika harus diajarkan sebagai contoh-contoh penerapan dalam menjalankan praktek profesi, yang profesional dan bertanggung jawab. Hal ini tentu saja akan menjadikan lebih mudah bagi para calon apoteker atau apoteker dalam mengambil analogi-analogi etika, karena pencontohan sesuai dengan praktek profesi yang update.
Janganlah kita mencontohkan etika 10 atau mungkin malah 20 tahun yang lalu sebagai aktual etika saat ini atau saat yang akan datang. Untuk itu, para praktisi aktif harus menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan etika dalam membangun profesi. Dan para praktisi ini tidak bisa serta merta langsung dilibatkan, tetapi tentu saja harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan-pelatihan etika agar dapat merumuskan etika yang dipunyainya. Dalam hal ini, etika sebagai ilmu dan sebagai terapan harus dikembangkan secara bersama-sama.
Aktual etika sebagai ilmu terapan harus terus berjalan sesuai perkembangan jaman, bahkan perkiraan-perkiraan akan perkembangan etika sebagai ilmu terapan kedepan juga harus dibangun sedemikian rupa agar para profesional tidak “terkejut” apabila ternyata etika tiba-tiba berkembang menjadi sangat pesat.
Pembangunan etika profesi kearah ilmu terapan yang sangat implementatif menjadi impian para praktisi, yang seharusnya juga diajarkan oleh para praktisi dan selalu didiskusikan di antara para praktisi dan dikembangkan sebagai ilmu oleh para praktisi, yang selanjutnya praktisi diapresiasi dengan difasilitasi untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Etika sudah sewajarnya bila dibangun di atas impian praktisi, sebagai salah satu impian dalam mengembangkan profesi.
Seringkali kita terjebak pada pemahaman etika sebagai pegetahuan. Sebagai pengetahuan, etika hanya untuk sebagai sekedar tahu jikalau nanti profesional dalam menjalankan praktek profesi akan bersentuhan dengan etika. Pengetahuan ini seringkali belum diikuti dengan pemahaman untuk implementasinya.
Hal yang seharusnya kita perkuat dalam mebangun profesi apoteker dalam hal etika adalah memperkuat pemahaman etika dalam sisi praktis. Dalam sisi praktis, etika tidak hanya bisa diajarkan sebagai “tulisan”, tetapi etika harus diajarkan sebagai contoh-contoh penerapan dalam menjalankan praktek profesi, yang profesional dan bertanggung jawab. Hal ini tentu saja akan menjadikan lebih mudah bagi para calon apoteker atau apoteker dalam mengambil analogi-analogi etika, karena pencontohan sesuai dengan praktek profesi yang update.
Janganlah kita mencontohkan etika 10 atau mungkin malah 20 tahun yang lalu sebagai aktual etika saat ini atau saat yang akan datang. Untuk itu, para praktisi aktif harus menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan etika dalam membangun profesi. Dan para praktisi ini tidak bisa serta merta langsung dilibatkan, tetapi tentu saja harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan-pelatihan etika agar dapat merumuskan etika yang dipunyainya. Dalam hal ini, etika sebagai ilmu dan sebagai terapan harus dikembangkan secara bersama-sama.
Aktual etika sebagai ilmu terapan harus terus berjalan sesuai perkembangan jaman, bahkan perkiraan-perkiraan akan perkembangan etika sebagai ilmu terapan kedepan juga harus dibangun sedemikian rupa agar para profesional tidak “terkejut” apabila ternyata etika tiba-tiba berkembang menjadi sangat pesat.
Pembangunan etika profesi kearah ilmu terapan yang sangat implementatif menjadi impian para praktisi, yang seharusnya juga diajarkan oleh para praktisi dan selalu didiskusikan di antara para praktisi dan dikembangkan sebagai ilmu oleh para praktisi, yang selanjutnya praktisi diapresiasi dengan difasilitasi untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Etika sudah sewajarnya bila dibangun di atas impian praktisi, sebagai salah satu impian dalam mengembangkan profesi.
Jumat, 01 Juli 2011
PASIEN
PASIEN
Pemaknaan pasien bagi apoteker mungkin berbeda dengan tenaga kesehatan lain. Karena profesi apoteker adalah spesifik dan berbeda dengan tenaga kesehatan lain maka dalam hubungan pasien-apoteker tidak dapat dimaknai dengan hubungan pasien-dokter, atau hubungan paisien-perawat. Karena ada batasan-batasan perbedaan kompetensi dalam menjalankan praktek profesi masing-masing.
Pada hubungan pasien-apoteker, pasien dapat dimaknai sebagai anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa apoteker untuk tujuan sehat, sesuai dengan kompetensi apoteker. Yang mana hubungan tersebut terkait kepuusan, tindakan dan pekerjaan profesi. Sehingga pada batasan ini seorang apoteker sangat tidak boleh memaknai hubungan pasien-apoteker dengan hubungan pasien-tenaga kesehatan lain. Bisa jadi akan sangat berbeda maknanya.
Dalam mengembangkan farmasi komunitas, seharusnya kita tidak “dalam bayang-bayang” tenaga kesehatan lain. Termasuk dalam memaknai pasien. Kita harus mampu memaknai pasien sesuai pelayanan profesional yang mampu kita lakukan. Bukannya kita menonjolkan ego profesi, tetapi kita menonjolkan kompetensi profesi yang telah kita kembangkan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kepentingan masyarakat luas.
Pengembangan profesi bukan untuk mengembangkan ego, tetapi untuk mengembangkan kepedulian profesi terhadap kepentingan masyarakat luas. Janganlah menjadikan materi sebagai barometer keberhasilan pengembangan ini, tetapi ketercukupan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasianlah yang seharusnya menjadi barometer.
Dengan demikian, pasien dimata apoteker adalah setiap orang sakit atau sehat yang membutuhkan layanan profesional kefarmasian untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, baik dengan menggunakan tools (sediaan farmasi), atau hanya sebatas informasi untuk edukasi.
Pemaknaan pasien bagi apoteker mungkin berbeda dengan tenaga kesehatan lain. Karena profesi apoteker adalah spesifik dan berbeda dengan tenaga kesehatan lain maka dalam hubungan pasien-apoteker tidak dapat dimaknai dengan hubungan pasien-dokter, atau hubungan paisien-perawat. Karena ada batasan-batasan perbedaan kompetensi dalam menjalankan praktek profesi masing-masing.
Pada hubungan pasien-apoteker, pasien dapat dimaknai sebagai anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa apoteker untuk tujuan sehat, sesuai dengan kompetensi apoteker. Yang mana hubungan tersebut terkait kepuusan, tindakan dan pekerjaan profesi. Sehingga pada batasan ini seorang apoteker sangat tidak boleh memaknai hubungan pasien-apoteker dengan hubungan pasien-tenaga kesehatan lain. Bisa jadi akan sangat berbeda maknanya.
Dalam mengembangkan farmasi komunitas, seharusnya kita tidak “dalam bayang-bayang” tenaga kesehatan lain. Termasuk dalam memaknai pasien. Kita harus mampu memaknai pasien sesuai pelayanan profesional yang mampu kita lakukan. Bukannya kita menonjolkan ego profesi, tetapi kita menonjolkan kompetensi profesi yang telah kita kembangkan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kepentingan masyarakat luas.
Pengembangan profesi bukan untuk mengembangkan ego, tetapi untuk mengembangkan kepedulian profesi terhadap kepentingan masyarakat luas. Janganlah menjadikan materi sebagai barometer keberhasilan pengembangan ini, tetapi ketercukupan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasianlah yang seharusnya menjadi barometer.
Dengan demikian, pasien dimata apoteker adalah setiap orang sakit atau sehat yang membutuhkan layanan profesional kefarmasian untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, baik dengan menggunakan tools (sediaan farmasi), atau hanya sebatas informasi untuk edukasi.
Selasa, 24 Mei 2011
PENGAKTUALAN ILMU
PENGAKTUALAN ILMU
Tidak salah, ternyata banyak manfaat yang bisa saya ambil karena mengikuti kuliah S2 manajemen dan kebijakan farmasi. Banyak sekali pengaktualan ilmu terkait praktek profesi di apotek. Yang banyak menyita tenaga dan pikiran untuk itu. Sangat-sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan praktek profesi. Dari kaca mata farmasi masyarakat, semua sangat-sangat bagus.
Sangat terkesima, ternyata banyak hal terkait praktek dikomunitas yang selama ini kita tidak tahu, menjadi tahu logika-logika dasar penyusun praktek tersebut. Banyak juga yang selama ini kita abaikan dan tidak kita anggap penting, ternyata adalah sangat-sangat penting. kesibukan dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi saya kurang produktif menulis. bukan karena tidak ada ide, tetapi justru terlalu banyak ide sehingga bingung memulai dari mana.
selama ini blog hanya saya isi konseptual praktek profesi dan saya selalu berpikir holistik. tetapi setelah mendapat mata kuliah filsafat, saya merasa apa yang saya tulis kuranglah holistik. Dan dasar-dasar penulisan saya di blog ini mungkin juga kurang kuat pada beberapa hal. Saya merasa sangat berutung bertemu banyak guru. Apa yang kita cari selama bertahun-tahun, ternyata hanya butuh waktu beberapa jam tatap muka saja. demikian ini juga dirasakan oleh sejawat yang lain.
Semakin dalam kuliah, semakin banyak tugas dan semakin tersesat saya dalam ilmu nyata praktek profesi yang lebih baik. Semoga saya bisa memanfaatkan kuliah Manajemen dan Kebijakan Farmasi ini, untuk diri saya sendiri, keluarga, masyarakat, sejawat dan bangsa.
Tidak salah, ternyata banyak manfaat yang bisa saya ambil karena mengikuti kuliah S2 manajemen dan kebijakan farmasi. Banyak sekali pengaktualan ilmu terkait praktek profesi di apotek. Yang banyak menyita tenaga dan pikiran untuk itu. Sangat-sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan praktek profesi. Dari kaca mata farmasi masyarakat, semua sangat-sangat bagus.
Sangat terkesima, ternyata banyak hal terkait praktek dikomunitas yang selama ini kita tidak tahu, menjadi tahu logika-logika dasar penyusun praktek tersebut. Banyak juga yang selama ini kita abaikan dan tidak kita anggap penting, ternyata adalah sangat-sangat penting. kesibukan dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi saya kurang produktif menulis. bukan karena tidak ada ide, tetapi justru terlalu banyak ide sehingga bingung memulai dari mana.
selama ini blog hanya saya isi konseptual praktek profesi dan saya selalu berpikir holistik. tetapi setelah mendapat mata kuliah filsafat, saya merasa apa yang saya tulis kuranglah holistik. Dan dasar-dasar penulisan saya di blog ini mungkin juga kurang kuat pada beberapa hal. Saya merasa sangat berutung bertemu banyak guru. Apa yang kita cari selama bertahun-tahun, ternyata hanya butuh waktu beberapa jam tatap muka saja. demikian ini juga dirasakan oleh sejawat yang lain.
Semakin dalam kuliah, semakin banyak tugas dan semakin tersesat saya dalam ilmu nyata praktek profesi yang lebih baik. Semoga saya bisa memanfaatkan kuliah Manajemen dan Kebijakan Farmasi ini, untuk diri saya sendiri, keluarga, masyarakat, sejawat dan bangsa.
Langganan:
Postingan (Atom)