Senin, 02 Februari 2009

RESISTENSI ANTIBIOTIKA

RESISTENSI ANTIBIOTIKA


Seperti kita ketahui resistensi antibiotik bisa menyebabkan pengobatan menjadi sangat mahal dan bahaya lainnya yang lebih berbahaya adalah bisa mengancam jiwa. Sedangkan resistensi antibiotik sampai beberapa tahun kedepan mungkin tetap akan menjadi salah satu permasalahan kesehatan bangsa, yang mana bahaya dari resistensi antibiotika ini mungkin akan semakin berbahaya sebahaya penyakit menular lain seperti flu burung suatu misal bila tidak ditangani dengan tepat. Sebenarnya kita tahu apa penyebab resistensi antibiotika ini, tetapi apa yang dilakukan oleh pemerintah belumlah sampai pengatasan yang sistematis.

Belum sitematisnya ini, karena resistensi antibiotika masih belum dianggap barbahaya dan mungkin juga sebagaian dari tenaga kesehatan kita masih berpikir " toh selalu ada penelitian antibiotika baru". Apalagi bila dikaitkan dengan "komisi hasil KS dengan pabrik obat", resistensi mungkin justru menjadi sumber uang. Karena dengan resistensi akan terjadi pembenaran terhadap pemakaian antibiotika generasi lanjut untuk mengatasi infeksi sederhana. Dan ujung-ujungnya masyarakat lagi yang dirugikan.

Saya sangat menghargai usaha dari pemerintah yang berusaha menurunkan harga obat, dan pengendalian harga obat adalah sangat sangat penting. Tetapi bila pengendalian pemakaian obat yang rasional tidak ditingkatkan apa gunanya harga obat murah? Karena bila resistensi berlanjut karena penggunaan tidak tepat dan obat mahal, bisa jadi pilihannya adalah obat murah tetapi tidak manjur karena resistensi atau tak terbeli dan tidak ada resistensi, toh hasilnya pada masyarakat miskin mungkin sama saja, yaitu infeksi tak terobati. Dan yang sangat berbahaya adalah justru antibiotik terbeli dan tidak ada satupun yang efektif karena resistensi.

Pemakaian obat yang tidak terkendali akan sangat membahayakan masyarakat dan mungkin juga menyebabkan pengobatan menjadi lebih mahal, bahkan mahalnya bisa berlipat-lipat. Berlipat-lipatnya bisa disebabkan karena pengulangan biaya perawatan, pengulangan penggunaan obat, pengulangan penggunaan alat kesehatan, pengobatan lebih lama dan lain sebagainya. Oleh karena itu resistensi antibiotika seharusnya menjadi perhatian nasional.

Pada umumnya penyebab resistensi antibiotika adalah akibat pelepasan antibiotika yang tidak disertai edukasi yang benar. Yang selanjutnya terjadi pemakaian antibiotika yang sangat tidak terkendali.

Ketidak terkendalian pemakaian antibiotika bisa terjadi pada :
1. Peresepan dokter yang kurang rasional
2. Peresepan rumah sakit yang kurang rasional
3. Peresepan puskesmas yang kurang rasional
4. Pelepasan antibiotika yang tidak disertai edukasi yang benar oleh apotek
5. Pengulangan resep antibotika yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi.
6. Mengikuti saran dari yang tidak berkompeten untuk mengonsumsi antibiotika.
7. Pemakaian antibiotika pada hewan ternak dan perikanan
8 dan mungkin masih banyak lagi

Menurut hemat saya, untuk menekan terjadinya resistensi antibiotika atau kalau mungkin menurunkannya, adalah :
1. Apoteker diberdayakan untuk datang keapotek setiap jam buka apotek. Dan diwajibkan bagi para apoteker untuk melakukan edukasi yang benar setiap kali melepas antibiotika..
2. Mempekerjakan apoteker di tiap puskesmas di Indonesia.
3. Menambah tenaga penyuluh kesehatan apoteker di tiap dinas kesehatan.
4. Meningkatkan jumlah apotek sampai tingkat desa.
5. Menekan pemalsuan obat dengan membatasi sarana kesehatan yang boleh melakukan dispensing obat terutama antibiotika.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal yang dapat diprioritaskan dalam mengatasi resistensi antibiotika. Seperti misal antibiotika di apotek harus dilepaskan oleh apoteker secara langsung dan tidak boleh diwakilkan untuk menjamin kenyamanan pemakaian obat, kemanan pemakaian obat, ketepatan pemakaian obat dan lain sebagainya. Bila sistem kesehatan terutama dalam bidang kefarmasian masih seperti sekarang, saya tidak yakin masalah resistensi antibiotika dapat terselesaikan dengan baik. Bagaimanapun juga masalah resistensi ini memerlukan uluran tangan apoteker, uluran tangan untuk melakukan tugas-tugas kefarmasian diapotek dan menjadi pendamping masyarakat dalam swamedikasi agar masyarakat dapat teramankan dari bahaya obat.

Semoga kedepan pelayanan kesehatan dibidang kefarmasian lebih menjadi perhatian pemerintah. Demi pembangunan kesehatan seutuhnya dan tidak ada lagi terjadi pengkotak-kotakan tenaga kesehatan karena semua tenaga kesehatan dibutuhkan untuk saling bersinergi dan saling terkait. Yang kesemuanya ini adalah untuk membangun bangsa.

Ibarat permainan sepak bola yang bagus dan profesional, maka kita akan membutuhkan pemain yang bagus, tidak bisa sebelas pemain adalah penyerang semua tanpa kiper. Permainan tidak akan bagus bila tidak ada play maker yang mendistribusikan bola. Demikian juga dengan peran manajer dan pelatih adalah sangat penting pula. Bila dalam menyelesaikan masalah kesehatan tidak bersinergi maka masyarakat yang akan dirugikan. Besar harapan masyarakat kita akan kesehatan yang berkualitas yang seharusnya disuguhkan oleh tim kesehatan kita.

"MARILAH WASPADA TERHADAP PEMAKAIAN ANTIBIOTIKA DAN SELALULAH BERKONSULTASI DENGAN APOTEKER ANDA DI APOTEK"

Sabtu, 24 Januari 2009

PROFESI APOTEKER TIDAK TERGANTIKAN? atau TIDAK DIPERLUKAN?

Begitulah kira-kira argument dari pejabat isfi pada saat memberikan pencerahan kepada anggotanya dan pendapat sebagian orang dalam memandang profesi apoteker .....
Namun benarkah demikian halnya.



simak selengkapnya dan silahkan berkomentar di www.suaraapoteker.blogspot.com

Jumat, 23 Januari 2009

PERAN APOTEKER DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

PERAN APOTEKER DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR


Saat saya menemukan situs www.penyakitmenular.info , saya semakin yakin bila apoteker sangat penting perannya untuk ikut serta dalam penanggulangan penyakit menular. Apalagi bagi apoteker yang ada didaerah. Meskipun apoteker tidak harus mengobati secara langsung, tetapi tetap harus terlibat dalam proses pengobatan, pemberian informasi dan edukasi. Mungkin selama ini tidak dipikiran oleh banyak pihak akan peran apoteker dalam ikut menanggulangi penyakit menular, tetapi peran apoteker yang telah berjalan dalam menanggulagi peyakit menular tetap harus dipertahankan dan seharusnya juga dibina.

Pembinaan seharusnya diakukan baik oleh pemerintah ataupun oleh ISFI sebagai organisasi profesi agar peran ini menjadi lebih terorganisasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri, karena bagaimanapun juga apoteker adalah bagian yang terintegrasi dalam sistem kesehatan. Dengan pembinaan diharapkan peran apoteker juga akan semakin memudahkan pemerintah dalam menanggulangi penyakit menular.

Ada beberapa kelebihan apoteker dalam edukasi dalam penanggulangan penyakit menular yang antara lain adalah lebih murah, mungkin lebih murah dari pada program kaderisasi kesehatan ataupun program desa siaga. Karena disini apoteker tidak mengharapkan gaji dari pemeritah seperti bidan desa. Apoteker hanya butuh kemudahan saja dalam mendirian apotek sampai ke tingkat desa.

Bagaimanapun juga penyakit menular harus ditanggulangi sebelum menjadi wabah. Dan penanggulangan dapat bersifat kuratif ataupun prekuentif. Baik pada kuratif dan prekuentif apoteker dapat berperan, karena apoteker memang seharusnya terlibat pada keduanya. Pada prekuentif apoteker dapat berperan dalam edukasi dengan mempertajam pemahaman masyarakat karena apotek tempat apoteker bekerja juga merupakan pusat informasi tentang obat dan sediaan farmasi lain, serta menjadi pusat informasi penyakit bagi masyarakat sekitarnya.

Apoteker tidak mengobati penyakit secara langsung, kecuali pada beberapa kasus sederhana. Tetapi dengan wawasannya apoteker dapat ikut terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam penangguangan penyakit menular. Sebagai contoh pada saat pasien meminta obat turun panas pada swamedikasi, apoteker juga dapat menyertakan informasi tentang demam pelana kuda atau disebut juga demam punggung unta, agar masyarakat menjadi lebih waspada. Disini, apoteker juga dapat memberikan informasi kapan harus kedokter bila demam tidak kunjung sembuh.

Saya suka mengatakan bila peran apoteker secara umum juga mengamankan masyarakat dari bahaya obat dan bahaya penyakit. Baik dalam mengamankan masyarakat dari bahaya penyakit maupun bahaya obat apoteker harus mampu memberikan informasi yang akurat. Untuk dapat menjadi akurat apoteker harus selalu mengaktualkan diri agar dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan informasi. Karena informasi tersebut adalah salah satu yang harus disediakan diapotek, dan informasi merupakan komoditas yang penting di apotek.

Sebenarnya dalam pemahaman saya, penyakit menular dalam kesehatan tidak hanya DB, malaria, diare dsb, tetapi juga penyakit menular yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan kesehatan masyarakat. Penyakit menular ini lebih bersifat sosial, yang mana salah satunya adalah kesalahan pemahaman masyarakat akan obat, penyakit dan lain-lain terkait kesehatan. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk sosial, yang mana bila melakukan kesalahan seringkali juga akan berpotensi menular kepada masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu kesadaran masyarakat untuk mengakses informasi kepada para apoteker yang berpraktek profesi diapotek seharusya juga menjadi salah satu program pemerintah dan ISFI untuk menekan penyebaran penyakit menular sosial.

Kamis, 01 Januari 2009

BAGAIMANA KONSEP TATAP YANG IDEAL ?

BAGAIMANA IDEALNYA KONSEP TATAP ?

Saya rasa Pengurus ISFI pusat sudah punya konsep bagaimana bentuk kongkret TATAP.
Jangan hanya dibuat wacana konsep harus sudah dibuat tinggal di dalam Rakernas 2009 bulan januari ini di Surabaya di sahkan
Saya yakin Pejabat ISFI pasti tahu dan pasti sedikit banyak pernah melihat bagaimana pelayanan apotek/Pharmacy di negara lain seluruh dunia ...
tinggal bagaimana kita mengadopnya ...
Apakah kita menganut konsep saat apotek buka ada apoteker ? berarti satu apotek minimal harus ada 2 - 3 Apoteker ...
Atau kita menganut beberapa negara yang lebih extrem lagi semua pekerja di apotek adalah apoteker...
berarti di apotek bisa ada minimal 2 apoteker bahkan bisa 6 apoteker untuk apotek yang ramai dan cukup besar ...mana yang perlu diperdebatkan ?

Kalau di Negara lain bisa kenapa Indonesia Tidak ?

Banyak kasus keberadaan apoteker dipertanyakan oleh profesi lain dan kita bingung mencari pembenaran dan pembelaan mati-matian. apa masih tetap seperti itu ...

Please mari kita bersikap sayangi profesi kita ...


ingin info lebih jauh ?foto-foto dan ulasannya ?
tunggu tayangannya di www.suaraapoteker.blogspot.com

TUKANG UKREK

TUKANG UKREK


Ada komentar menarik dari pengunjung blog saya. Saya sangat-sangat menghargai cara pandang yang berbeda dan menurut perkiraan saya adalah seorang apoteker. Tetapi saya percaya kita semua mempunyai tujuan yang sama yaitu kemajuan profesi apoteker guna mendukung pembangunan kesehatan yang lebih manusiawi.

Karena anonim dan hanya meningalkan jejak sebagai tukang ukrek, maka selanjutnya akan saya kenali sebagai "tukang ukrek". Siapapun anda, anda mempunyai cara pandang sebagai mana sebagian apoteker memandang profesi apoteker. Bagaimanapun pandangan anda sebelum ada pembuktian secara ilmiah adalah benar dan pandangan saya juga benar. Memang selama ini saya selalu mengusulkan kepada pengurus ISFI daerah agar dilakukan penelitian terhadap hipotesa yang berkembang terkait profesi apoteker agar kita kedepan dalam memajukan profesi apoteker tidak hanya terjebak pada debat kusir. Karena bermain argumentasi yang didasarkan pada debat kusir sering kali justru membawa kita berjalan mundur. Apa lagi debat kusir yang hanya didasari data empiris individu profesi.

Saya selalu mengatakan kepada siapa saja bahwa profesi kita akan berkembang lebih jauh dan lebih maju bila dasar pijakan kita dalam menjalankan profesi adalah penelitian dan ilmiah. Dan saya mengakui bila dasar pemikiran saya dalam blog ini juga empiris dari apa yang telah saya alami diapotek saya sendiri. Terkadang kita juga berbagi empiris dari apotek lain atau profesi lain. Banyak yang harus bisa digali tentang profesi kita demi kemajuan bangsa dan negara kita. Siapapun anda saya menghormati anda.

Kembali pada pandangan anda, saya menangkap pandangan anda sama dengan sebagian teman-teman apoteker yang lain. Tetapi sebagian lagi juga setuju dengan pandangan saya. Tetapi apalah artinya perbedaan bila kita mempunyai tujuan yang sama?

Pandangan anda yang saya tangkap al:

1. Apotek adalah pedagang obat yang hanya berperan mendistribusikan obat. Mungkin seperti toko bangunan seperti anda contohkan.
Pendapat saya ==> Pada kasus bangunan, bila kita ingin membangun rumah, maka kita akan mencari kosultan tentang material dan desain juga struktur. Kita tidak mungkin akan membangun asal membangun. Dan membangunpun ada aturan yang mengatur dalam artian produk hukumya. Disini ada kesamaan memang, tetapi ada perbedaan. Untuk membahas ini saya akan ceritakan satu kasus, ada seorang bapak yang anaknya baru satu, anaknya baru minum susu dan anaknya baru satu hari tak bisa BAB. Datang keapotek minta obat pelancar BAB, Dengan PD saya tolak permintaannya dan saya suruh tunggu sampai 3 hari dan bila tidak BAB saya suruh kedokter, dan sorenya bapak tersebut datang lagi membeli obat lain dan mengatakan anaknya sudah BAB. Pada kasus ini bisa saja saya bohongi dengan memberikaan obat apa saja, tetapi tidak saya lakukan, karena saya merasa profesional. Saya menjaga harga diri profesi apoteker, dan dampaknya adalah kepuasan tentu saja. Dari cara pandang seorang pedagang, hukumnya haram menolak uang apalagi orang sudah datang sendiri seperti pada kasus ini. Pada kasus seperti ini umumnya para pedagang akan memberikan apa saja asal mereka dapat uang. Oleh karena itu saya tidak suka dianggap sekedar pedagang, karena saya menggunakan dasar ilmiah dalam melakukan segala tindakan profesi. Saya lebih suka mengangap obat adalah alat dalam kita menjalankan profesi apoteker, seperti bengkel mobil yang harus mengganti suku cadang. Montir tidak akan mau dianggap sebagai pedagang suku cadang seandainya mereka mempunyai toko suku cadang.

2. TATAP menyerap omset? omset siapa yang terserap?
Pendapat saya ==> Pandangan anda disini menurut saya lebih cenderung anda melihat pola lama pengelolaan apotek. Saya selalu mengatakan kepada semua pihak bahwa kita bisa menjadi play maker diapotek dengan menciptakan pasar. Mungkin juga kita bisa berharap dari pertumbuhan belanja obat perkapita, karena belanja obat perkapita masyarakat kita masih kecil dan masih mungkin untuk tumbuh dan kita tangkap. Suatu tantangan yang lain bagi kita adalah kesadaran kesehatan masyarakat kita yang masih rendah, sehingga belanja obat diapotek masih dianggap mewah. Kalau anda berasal dari daerah pinggiran, mungkin anda akan mengetahui kasus tentang masih banyaknya masarakat yang tidak merawat penyakitnya yang dikarenakan salah satunya adalah rendahnya tingkat pendidikan kesehatan mereka, ini adalah salah satu peluang. Peluang memajukan profesi. Yang selanjutnya kompetisi dalam profesi adalah hal yang wajar, seperti dokter dengan dokter atau arsitek dengan arsitek. Karena kompetisi justru akan memajukan profesi itu sendiri. Arsitekpun juga berkompetisi dengan tukang bangunan seperti kita berkompetisi dengan toko obat, kita juga berkompettisi dengan toko kelontong. Jangan kompetisi dianggap suatu hal yang tabu, tetapi bagaimana membuat kompetisi yang fair.

3. Pembeli obat sebenarnya bukan pasien, tetapi dokter.
Pendapat saya ==> Pada sebagian apoteker mengangap seperti ini, dan pada umumnya ini adalah pandangan apoteker kuno. Maaf saya menyebut kuno, karena pola kelola apotek tempo dulu adalah lebih mengarah pada layanan atas resep. Hal ini mengingatkan pada saat saya pertama membuka apotek, semua orang mencibir, termasuk dari sebagian famili saya. Dan memang terbukti omset resep saya kecil dan saya tidak menyesal karena omset non resep saya lebih dari 90%nya omset resep saya. Saya cukup puas melayani masyarakat, karena merekalah yang sebenarnya lebih menghargai kita karena pelayanan kita. Meskipun omset tersebut sudah termasuk susu dan kosmetik, toh kita lebih berkompetensi untuk menjelaskan kedua hal tesebut dari pada tetangga saya yang buka toko kelontong.

4. Dokter suka ganti-ganti merek.
Pendapat saya ===> Tak usah ambil pusing dengan merek yang diganti-ganti dokter. Biar obat buatan pabrik A,B,C atau D semuanya produk teman sejawat kita para apoteker anggota HISFARIN yang profesional, toh semua produk tersebut diawasi pemerintah. Kalau menurut saya, ganti saja merek tersebut asal pasiennya mengetahui bila kita ganti merek, toh kita para apoteker secara umum lebih paham dari pada dokter tentang formulasi. Ditempat saya, mungkin karena sudah sangat percaya kepada saya sering kali kalau obat bermerek dianggap kemahalan justru pasiennya yang minta diganti generik berlogo. Dan juga menurut pengalaman saya, hanya pada obat-obat tertentu saja yang biasanya ada perbedaan BA/BE. Harga mahal bukan suatu jaminan akan lebih manjur,dan ini terbukti pada banyak kasus diapotek saya. Asal kita bisa menjamin kualitas obat dan penyerahan obat yang benar, menurut saya boleh saja kita ganti.

5. TATAP menyebabkan biaya operasional apotek tinggi.
Pendapat saya ==> Saya sudah buktikan untuk apotek yang melakukan TATAP biaya operasional justru lebih hemat. Dan mungkin kedepan akan saya buktikan lagi untuk beberapa apotek lagi.

6. Pelayanan TATAP akan lambat.
Pendapat saya ==> Saya sudah buktikan tidak lambat asal apotekernya cukup dan strategi pelayanan yang digunakan tepat. Dari pengalaman saya, kebutuhan konsultasi dan konseling umumnya hanya sekitar kurang dari 10%. Kecuali banyak kasus baru. Suatu misal pada resep kasus hipertensi, bila pasien sudah patuh tidak perlu kita mengulang-ulang konseling dan konsultasi. Saya lebih suka menggunakan tehnik konseling pertanyaan tertutup dan tehnik konseling eksplorasi untuk menggali apakah pasien membutuhkan konseling atau tidak. Banyak ilmu sosial yang harus dikuasai oleh apoteker, meskipun dulu saat kuliah tidak diajarkan, ternyata tak ada salahnya belajar sendiri. Ini semua demi kita sendiri, demi eksistensi profesi kita.

7. Yang mengambil obat bukan penderita ataupun keluarga penderita.
Pendapat saya ==> Disinilah letak perjuangan kita, bagaimana caranya agar pasien atau setidaknya keluarga pasien yang mengambil resep. Untuk memperjuangkan hal ini tentu saja kita harus melakukan penelitian kenapa ini terjadi? Bisa jadi hal ini disebabkan yang salah satunya karena apoteker tempo dulu tidak pernah aktif diapotek, sehingga pada saat ditanya tentang informasi yang berkaitan dengan obat dan penyakit mereka tidak atau kurang faham. Atau ada penyebab lain, di apotek saya umumnya diambil sendiri oleh pasien atau keluarga pasien. Terkadang untuk orang yang tinggal sendiri dan dalam keadaan yang tidak memungkinkan mengambil obat, yang mengambil obat tetap kita beri informasi obat yang memadai dan bila harus ada penekanan-penekan informasi biasanya sering saya ulang-uang sampai beberapa kali, terkadang bila mereka takut lupa ditulis sendiri. Saya juga tidak menutup mata bila sebagian informasi yang saya berikan mungkin juga tidak dimengerti yang disebabkan olah banyak hal. Tetapi sekali lagi inilah perjuangan dalam menjalankan profesi apoteker.

Sebanarnya dalam menjalankan profesi apoteker di apotek kita tidak boleh hanya terlalu tergantung kepada resep dokter. Segmen pasar obat resep cuman 22% dan segmen obat bebas adalah 38%. Kenapa kita harus berebut resep? Kelemahan apotek yang mengandalkan omset dari seorang dokter spesialis suatu misal, adalah bila dokter tersebut mendapat kompetitor sehingga jumlah pasiennya turun maka apoteknya juga akan menjadi sepi, atau dengan kata lain bila dokternya mati apotek juga mati. Kasus seperti ini sudah banyak contohnya.

Berbeda bila kita mengandalkan obat bebas. Kompetitor kita yang paling kuat hanya sesama apoteker. Dokter bisa jadi justru tergantung kita, karena sering kita kirimi pasien. Dalam membina swamedikasi kepada masyarakat awam, saya seringkali merujuk kepada dokter. Suatu misal pada kasus ispa non spesipik, saya tidak pernah menyarankan menggunakan antibiotik, hanya saya kasih obat untuk gejalanya saja dan yang penting tingkatkan istirahat atau tambah vitamin. Pasien umumnya saya beri pesan agar kedokter bila penyakit tak kunjung sembuh. Atau pada kasus yang kita duga harus kita rujuk kedokter, kita harus langsung rujuk saja, tetapi sebaiknya kita rujuk kepada dokter-dokter yang lebih menghormati profesi kita.

Pada kasus swamedikasi kita tidak boleh memaksakan diri harus sembuh pada semua kasus. Pasien umumnya saya konseling bila keamanan adalah lebih penting dari pada sekedar sembuh. Dan juga yang menjadi PR kita para apoteker di apotek pada kasus swamedikasi adalah bagaimana kita bisa mengamankan masyarakat dari bahaya obat dan penyakit. Untuk mengamankan masyarakat dari bahaya obat semua apoteker bisa, tetapi untuk mengamankan pasien dari bahaya penyakit mungkin belum semua apoteker bisa. Karena sangat tergantung juga pada jam terbang.

Pasien saya sebagian juga mengkonsultasikan dulu penyakitnya kepada saya sebelum kedokter. Disinilah kesempatan kita untuk membuat dokter berhutang budi dengan kita, karena ada kesempatan kita mengirimi rejeki dengan mengirimi pasien. Banyak hal yang saya lakukan agar kita bisa menjadi play maker dalam dunia kesehatan, tergantung kita mau atau tidak. Kesempatan sebenarnya selalu ada tetapi permasalahan utama kita adalah kesiapan kita menghadapi tantangan. Memang harus saya akui bila tidak semua ilmu saya yang saya terapkan didalam praktek profesi saya adalah saya dapatkan dari kursi kuliah, tetapi sebagian kita kejar dan kita kejar. Sebagian kita dapatkan dari Dinas Kesehatan yang sering mengadakan pembinaan, juga dari BPOM, juga dari ISFI.

Dan yang lain yang penting yang mempengaruhi perkembangan ilmu kita, adalah penerapan ilmu kita. Dengan diterapkannya ilmu kita setiap hari, maka akan terjadi penajaman. Yang berikutnya adalah adanya interaksi kita dengan lingkungan kita. Bila kita melakukan praktek profesi diapotek, maka kita akan berinteraksi dengan sesama profesi apoteker, profesi kesehatan lain dan masyarakat. Dari interaksi tersebut sering kali terjadi aliran ilmu pengetahuan seperti mengalirnya air dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Inilah salah satu kelebihan penerapan TATAP.

Saya akui bila uraian saya ini adalah hanya berdasarkan dari data empiris diapotek saya dan sebagian karena interaksi saya dengan sesama apoteker. Dan saya berterima kasih atas tanggapan tukang ukrek, bagaimanapun juga pendapat anda adalah kenyataan dari sebagian permasalahan yang kita hadapi yang menjadi PR bagi kita semua. Dan menurut saya tidak ada salahnya bila kita mulai sekarang mengkondisikan apotek kita dengan TATAP, meskipun belum dengan TATAP yang ideal. Dan menurut saya TATAP ADALAH SATU SATUNYA PILIHAN YANG PALING IDEAL untuk menjawab masalah kesehatan bidang kefarmasian di apotek.

Rabu, 31 Desember 2008

BISNIS RECEH APOTEK

BISNIS RECEH APOTEK

Tidak semua apotek seperti yang dibayangkan banyak orang, yang mana akan banyak resep yang nilainya ratusan ribu sekali transaksi atau mungkin bisa jutaan per transaksi per lembar resep. Apotek di desa seringkali diawali dari omset kurang dari 5 juta perbulannya dengan nilai transaksi yang diawali kurang dari 500 rupiah per transaksi. Dengan margin laba berkisar 10-15%, bahkan untuk kategori susu bisa cuma 5% saja. Dengan kenyataan ini, maka bisnis apotek kedepan bisa jadi akan didominasi oleh bisnis receh.

Bila apotek kedepan akan didominasi oleh bisnis receh, maka pengelolaan apotek kedepan bisa jadi akan ada pergeseran pengelolaan. Bila saat ini apotek lebih diharapkan untuk mendapatkan omset besar yang dikarenakan biaya operasional apotek yang besar, maka kedepan sebagian besar apotek tidak bisa lagi untuk diharapkan mendapat omset besar. Bila omset tidak lagi besar, maka mau tidak mau apotek harus mengadakan penghematan biaya operasional pada segala lini. Salah satu lininya adalah biaya operasional yang didalamnya adalah gaji karyawan.

Bila apotek menjadi bisnis receh yang omsetnya kecil, maka akan dibutuhkan tenaga pelayanan yang kecil pula. Yang paling mungkin untuk menghemat biaya pelayanan adalah dengan tidak menyediakan tenaga pelayanan lain kecuali Apoteker. Demi eksistensi apotek kedepan, maka sudah saatnya didesain apotek yang lebih mengarah pada apotek profesional yang dikelola oleh apoteker secara mandiri. Pada pengelolaan apotek secara mandiri ini apoteker bisa menggunakan sarana milik orang lain ataupun milik apoteker sendiri.

Bukannya saya ingin mengajak penghilangan tenaga pelayanan lain, tetapi ini demi keberadaan apotek itu sendiri dan demi kepentingan dari insvestasi. Buat apa banyak tenaga diapotek bila tidak diperlukan? Dalam hal ini apotek tetap harus jalan disemua daerah demi pemerataan pelayanan kepada masyarakat dan mendukung pembangunan kesehatan seutuhnya. Pada kasus ini, agar apotek tetap jalan meskipun dengan omset kecil menurut saya lebih baik apotek pada model ini tidak perlu diberi tenaga pelayanan lain kecuali apoteker.

Bila kita mengasumsikan apotek hanya mempunyai omset 7,5 juta perbulan dengan margin laba sekitar 15 % maka laba kotor adalah 1.125.000;- . Dari uraian tersebut adalah tidak rasional bila kita menyediakan sekitar 5 orang tenaga pelayanan seperti model apotek tempo dulu. Kelebihan dengan membuat apotek profesional yang hanya mempunyai tenaga pelayanan satu orang, yaitu apoteker adalah akan murahnya biaya opresional apotek. Keuntungan lain adalah pelayanan diapotek akan menjadi lebih rasional karena dilakukan sendiri oleh seorang apoteker yang memang mempunyai kompetensi untuk itu. Dan masih banyak lagi keuntungan lain apotek model ini bila dilihat dalam perannya pada sistem kesehatan nasional.

Cuman sayangnya sampai saat ini belum ada suatu konsep baku apotek profesi yang dalam pelayanannya hanya dilakukan oleh apoteker secara langsung. Konsep yang seharusnya dibuat oleh ISFI sebagai induk organisasi ataupun pemerintah yang sangat besar kepentingannya untuk itu. Padahal konsep apotek profesi yang benar-benar menerapkan TATAP yang dalam pelayanannya dilakukan langsung oleh apoteker sangat menguntungkan semua pihak termasuk pemerintah.

Mungkin penyusunan konsep apotek profesi cukup susah, tetapi kita bisa mengandalkan data yang berupa pengalaman beberapa sejawat apoteker yang sudah pernah mengalami bisnis receh dan telah melakukan TATAP. Tingkat kesulitan dalam menjalankan bisnis receh ini memang berbeda dengan tingkat kesulitan pada bisnis apotek pada umumnya. Dan mungkin juga bisnis receh ini juga memerlukan perhatian pemerintah melebihi apotek rakyat, mengingat nilai fungsinya bagi pencerdasan dan pembangunan kesehatan bangsa sangat-sangat besar. Bukannya berarti apotek profesi ingin diperlakukan khusus atau istimewa, tetapi kita hanya menginginkan pengakuan atas jerih payah dalam peran serta kita dalam mencerdaskan bangsa dan membangun kesehatan bangsa. Disini kita tidak menginginkan mendali atau piala, tetapi kita hanya membutuhkan kemudahan dalam pengurusan ijin suatu misal, toh pemerintah atau pemerintah daerah lebih diuntungkan karena adanya apotek profesi ini.

Semoga kedepan dalam perijinan apotek tidak lagi dipersulit dengan biaya yang sangat besar, seperti pada salah satu daerah yang menurut beberapa teman ditarik biaya 7 - 15 juta. Mahal, karena proses perijinan apotek pindah dari dinas kesehatan ke dinas perizinan dan apotek dianggap sebagai bisnis besar yang modalnya pasti ratusan juta. Padahal saat ini untuk membuka apotek profesi di desa bisa diawali dengan modal obat sekitar 15 juta atau mungkin kurang untuk mendapatkan omset sekitar 10 juta perbulan. Disini sangat jelas sekali bila orang pemerintahpun belum semuanya melihat apotek sebagai sarana kesehatan yang keberadaannya adalah sangat dibutuhkan demi pembangunan daerah itu sendiri.

Ketidak pahaman sebagian masyarakat terhadap keberadaan apotek sebagai sarana kesehatan yang cukup strategis harusnya merupakan PR bagi pengurus ISFI dan pemerintah. Dan seharusnya untuk lebih jauhnya pemerintah memprogramkan pendirian apotek sampai ke pelosok dan meningkatkan peran apoteker dalam segala sendi kehidupan. Program kesehatan yang lebih profesional yang merata yang menyangkut peran apoteker dalam segala sendi kehidupan akan meningkatkan tingkat pendidikan kesehatan masyarakat. Dan selanjutnya bisa diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Ada banyak keuntungan apotek model ini demi pembangunan kesehatan bangsa. Peran apoteker yang lebih terlihat juga merupakan suatu kelebihan tersendiri. Dari uraian diatas, apotek model ini tidak hanya sekedar menjual obat, tetapi lebih memihak kepada semua kepentingan. Baik kepentingan pemerintah, apoteker sendiri, perguruan tinggi, masyarakat dan semua bisnis farmasi yang terkait.

Selasa, 23 Desember 2008

TATAP AKAN DIBERLAKUKAN TAHUN DEPAN?

TATAP AKAN DIBERLAKUKAN TAHUN DEPAN?

Tiada Apoteker Tiada Pelayanan atau yang sering disingkat TATAP, lambat laun pasti akan diberlakukan. Pada postingan saya sebelumnya, saya selalu mengajak apoteker baru untuk memberlakukan TATAP pada apotek yang dikelolanya mulai sekarang, terutama yang milik sendiri. Karena bagaimanapun juga dengan penerapan TATAP akan ada perbedaan pengelolaan apotek. Mungkin perbedaan ini akan berdampak pada sistem dan manajemen apotek yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi pendapatan apotek.

Harapan saya, blog ini tidak hanya berguna bagi para apoteker, tetapi juga bagi para pengusaha farmasi, perguruan tinggi farmasi dan semua saja yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan langsung dengan dunia farmasi. Dunia perapotekan telah berkembang sedemikian jauh, sehingga cara pengelolaannyapun juga harus berkembang agar apotek tetap bisa eksis. Dampaknya tidak hanya bagi dunia perapotekan saja, tetapi juga bagi Pedagang Besar Farmasi dan Industri Farmasi. Perkembangan lebih jauh juga terjadi pada dunia pendidikan farmasi.

Mungkin dari kita masih ada yang tidak percaya bila TATAP bisa diberlakukan dalam waktu dekat ini, mengingat perjalanan yang sangat panjang dan TATAP tidak pernah berhasil diterapkan secara utuh sampai saat ini, karena sebagian dari kita para apoteker masih ada yang belum setuju dengan penerapan TATAP. Tetapi ada baiknya bila sejawat yang belum setuju dengan penerapan TATAP melihat perkembangan apotek yang telah menerapkan TATAP, untuk belajar seandainya TATAP betul-betul diterapkan.

Ada banyak alasan mengapa TATAP akan harus diterapkan;

1. Perkembangan jumlah apoteker yang sangat pesat. Bisa anda bayangkan bila sepuluh tahun kedepan jumlah apoteker akan bertambah 50.000 orang. Maka rasio jumlah penduduk per apoteker akan kurang dari 5000 orang per apoteker. Bila satu apotek tetap satu apoteker seperti sekarang, atau hanya pinjam nama saja seperti konsep apotek rakyat tentu saja akan kebanjiran apotek dan apotek mungkin akan menjadi proyek merugi. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita para apoteker untuk mulai menata diri.

2. Masyarakat yang semakin cerdas dan semakin paham akan hak-haknya. Bisa jadi kedepan apotek yang tidak ditunggui apoteker selama jam buka apotek akan ditinggal oleh masyarakat. Karena masyarakat semakin tahu dan tahu bila hanya apotekerlah yang mempunyai kompetensi untuk memjelaskan obat secara benar di apotek. Mungkin kedepan harga tidak lagi menjadi masalah utama bagi masyarakat, tetapi pelayanan akan menjadi hal yang lebih penting juga keselamatan akibat pengunaan obat. Dan saat ini banyak terjadi pemborosan obat bukan karena harga obat yang mahal, tetapi karena pengunaan obat yang kurang tepat. Dampak dari penggunaa obat yang kurang tepat bisa berdampak pengulangan pengobatan atau penggunaan obat yang seharusnya tidak perlu. Pemborosan semacam ini seringkali tidak disadari oleh masyarakat, karena masih rendahnya tingkat pendidikan kesehatan dari sebagian masyarakat dibidang farmasi.

3. Industri farmasi membutuhkan pengamanan dari pemalsuan. Saat ini sudah berbeda dengan 12 tahun yang lalu. sekitar 12 tahun yang lalu apotek umumnya masih didirikan dikota-kota dan belum banyak yang merambah kota kecamatan. Pada saat itu peredaran obat palsu sangat merajalela, karena umumnya masyarakat hanya memburu obat murah dan pedagang obat hanya memburu untung besar. Tetapi saat ini pedagang obat mulai tergeser oleh adanya apotek yang obatnya lebih terjamin, dan dibeberapa daerah tersebut masyarakat lebih suka datang ke apotek, toh harga relatif sama, bahkan sering kali diapotek harga lebih murah dan barangnya terjamin. Dari pengalaman ini tentu saja industri farmasi akan merasakan keuntungan yang lebih besar dengan semakin banyaknya apotek sampai pelosok, sehinga produknya dapat lebih merata dan terkawal dari pemalsuan. Oleh karena itu TATAP juga akan menjadi harapan pengusaha faramsi.

4. Perguruan tinggi farmasi juga sangat membutukan pemberlakuan TATAP ini, bisa anda bayangkan bila jumlah apoteker sangat melimpah seperti uraian no 1 diatas. Bisa jadi semua perguruan tinggi farmasi akan tutup, karena lulusannya tidak diserap oleh pasar. Dalam hal ini perguruan tinggi farmasi juga harus mendukung terlaksananya TATAP, kecuali para dosennya mengingnkan pensiun dini karena kehabisan mahasiswa.

Dalam postingan ini, yang penting kita dari berbagai kalangan sebaiknya dapat untuk lebih mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu TATAP diterapkan. Dan TATAP menurut saya adalah solusi yang paling tepat dalam mengatasi masalah lapangan pekerjaan apoteker dan masalah kesehatan bangsa. Sekali lagi bukan hanya apoteker yang harus mempersiapkan TATAP, tetapi semua pihak. Meskipun anda seorang pengusaha apotek, industri farmasi, atau siapa saja sebaiknya mulailah menghitung akan keberadaan TATAP.

Mungkin sebagian kita ada yang merasa akan dirugikan oleh TATAP, tetapi jangka kedepannya akan lebih banyak yang diuntungkan dengan TATAP. Mengingat TATAP adalah satu-satunya pilihan yang paling ideal, maka sebaiknya kita semua mulai berhitung seandainya TATAP benar-benar diberlakukan. Tak ada salahnya sedia payung sebelum hujan, dan tak ada ruginya bila hujan tidak terjadi. Tetapi bila mendung sudah semakin menebal dan hitam apa yang harus kita lakukan? Demikian pula bila jumlah lulusan apoteker sudah semakin menumpuk, apakah kita biarkan tanpa penataan?

Pertumbuhan jumlah apoteker yang semakin subur seperti rumput dimusim hujan, adalah tantangan suatu organisasi profesi (ISFI) untuk dipecahkan. Bila tidak dipecahkan bisa jadi berkembangnya jumlah apoteker ibarat sel kanker yang membesar terus dan semakin membesar dan akhirnya mati dan akhirnya apoteker hilang dari peredaran.