WEB ISFI JATIM
Selamat atas terbitnya web resmi ISFI Jatim di hari jadi ISFI, www.isfijatim.org karena dengan web ini ISFI Jatim bisa lebih mengekspresikan diri. Suatu hal yang tidak berlebihan bila web ini kedepan bisa diharapkan menjadi suatu forum resmi dari para profesional dari Jatim atau bahkan bisa juga diikuti oleh profesional dari daerah lain.
Kedepan web ini saya rasa akan melengkapi web yang sudah ada punya ISFI pusat. Permasalahan yang ada didaerah juga semakin terpantau secara nasional dan web ini juga akan menjadi ajang saling belajar dari berbagai daerah.
Sekali lagi selamat buat para profesional di Jawa Timur.
Jumat, 26 Juni 2009
Minggu, 07 Juni 2009
PRITA MULYASARI
PRITA MULYASARI
Kasus hukum yang dialami oleh Prita Mulyasari secara umum disebabkan karena rendahnya tingkat pemahaman masyarakat akan kesehatan. Kasus semacam ini bisa jadi akan menimpa kita siapa saja tenaga kesehatan. Bukannya saya ingin bicara soal benar atau salah secara hukum, tetapi bagaimana seharusnya kode etik dan fungsi pendidikan kesehatan dari sebuah sarana kesehatan yang seharusnya dihidupkan.
Rendahnya pemahaman akan kesehatan oleh masyarakat seringkali menyebabkan masyarakat memahami kesehatan dengan salah. Bisa jadi masyarakat akan menganggap pergi ke dokter umum ibarat naik becak dan pergi ke RS berkelas internasional ibarat naik pesawat terbang. Sehingga bila menemukan sesuatu yang dianggapnya salah, masyarakat umumnya langsung teriak2 dan menuduh jelek terhadap layanan tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan dukungan luas terhadap ibu Prita Mulyasari saat beliau dijatuhi vonis kurungan.
Yang kedua adalah kode etik, dimana dalam memberikan opini sekunder kita tidak boleh semena mena sehingga akan memperucing permasalahan. Meskipun pada kenyataannya diagnosa awal salah, pemberi opini sekunder seharusnya jangan sampai memperuncing permasalahan yang akhirnya bisa jadi justru akan merugikan pasien itu sendiri. Disini pentingnya kita sebagai tenaga kesehatan bersikap santun dan memberikan empati kepada masyarakat pengguna jasa. Karena bisa jadi kesalahan diagnosa awal adalah sikap kehati hatian dari sejawat kita.
Karena permasalahan semacam inilah maka sudah seharusnya bila sarana kesehatan yang ada dalam naungan departemen kesehatan seharusnya juga menghidupkan fungsi pendidikan kesehatan kepada masyarakat sekitar. Pendidikan kesehatan pada sarana kesehatan dengan memberikan edukasi, informasi dsb, dengan jelas dan jujur. Saya rasa bila diberikan edukasi dengan benar akan kecil kemungkinan terjadinya komplain. Sebagai sarana yang melayani masyarakat sering kali kita mendapat komplain, tetapi dengan komunikasi yang baik biasanya masyarakat mau mengerti.
Pada kasus ini, seharusnya komplain yang ditulis lewat email tak perlu dipermasalahkan, karena justru akan memperbesar permasalahan dan akan menurunkan citra dari layanan kesehatan secara umum. Mungkin yang akan turun citranya tidak hanya RS tersebut, tetapi juga pelayanan sejenis. Pada kasus ini menang atau kalah citra dari RS tetap akan kalah.
Seharusnya pada kasus ini justru kita belajar bagaimana memuaskan pasien, bukannya menuntut pasien untuk puas.
Kasus hukum yang dialami oleh Prita Mulyasari secara umum disebabkan karena rendahnya tingkat pemahaman masyarakat akan kesehatan. Kasus semacam ini bisa jadi akan menimpa kita siapa saja tenaga kesehatan. Bukannya saya ingin bicara soal benar atau salah secara hukum, tetapi bagaimana seharusnya kode etik dan fungsi pendidikan kesehatan dari sebuah sarana kesehatan yang seharusnya dihidupkan.
Rendahnya pemahaman akan kesehatan oleh masyarakat seringkali menyebabkan masyarakat memahami kesehatan dengan salah. Bisa jadi masyarakat akan menganggap pergi ke dokter umum ibarat naik becak dan pergi ke RS berkelas internasional ibarat naik pesawat terbang. Sehingga bila menemukan sesuatu yang dianggapnya salah, masyarakat umumnya langsung teriak2 dan menuduh jelek terhadap layanan tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan dukungan luas terhadap ibu Prita Mulyasari saat beliau dijatuhi vonis kurungan.
Yang kedua adalah kode etik, dimana dalam memberikan opini sekunder kita tidak boleh semena mena sehingga akan memperucing permasalahan. Meskipun pada kenyataannya diagnosa awal salah, pemberi opini sekunder seharusnya jangan sampai memperuncing permasalahan yang akhirnya bisa jadi justru akan merugikan pasien itu sendiri. Disini pentingnya kita sebagai tenaga kesehatan bersikap santun dan memberikan empati kepada masyarakat pengguna jasa. Karena bisa jadi kesalahan diagnosa awal adalah sikap kehati hatian dari sejawat kita.
Karena permasalahan semacam inilah maka sudah seharusnya bila sarana kesehatan yang ada dalam naungan departemen kesehatan seharusnya juga menghidupkan fungsi pendidikan kesehatan kepada masyarakat sekitar. Pendidikan kesehatan pada sarana kesehatan dengan memberikan edukasi, informasi dsb, dengan jelas dan jujur. Saya rasa bila diberikan edukasi dengan benar akan kecil kemungkinan terjadinya komplain. Sebagai sarana yang melayani masyarakat sering kali kita mendapat komplain, tetapi dengan komunikasi yang baik biasanya masyarakat mau mengerti.
Pada kasus ini, seharusnya komplain yang ditulis lewat email tak perlu dipermasalahkan, karena justru akan memperbesar permasalahan dan akan menurunkan citra dari layanan kesehatan secara umum. Mungkin yang akan turun citranya tidak hanya RS tersebut, tetapi juga pelayanan sejenis. Pada kasus ini menang atau kalah citra dari RS tetap akan kalah.
Seharusnya pada kasus ini justru kita belajar bagaimana memuaskan pasien, bukannya menuntut pasien untuk puas.
Minggu, 31 Mei 2009
PEMBIBITAN DAN KOMPETISI
PEMBIBITAN DAN KOMPETISI
Dua hal diatas adalah bagian dalam membentuk atlit. Tanpa pembibitan yang tepat, maka hasil yang dicapai tidak akan maksimal demikian juga bila kompetisi kurang, maka hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal.
Pada tulisan kali ini saya ingin mengungkapkan tentang kompetisi. Yang mana kompetisi tidak akan terjadi bila apoteker tidak pernah ada di apotek. Bila apoteker tidak pernah nongol di apotek maka yang berkompetisi hanya manajemen, bukan pelayanan. Sehingga kompetisi hanya masalah masalah teknis yang hasilnya tentu saja kurang maksimal bagi perkembangan profesi.
Dalam pelayanan di apotek yang dilakukan oleh apoteker secara langsung umumnya pelayanan kefarmasian menjadi suatu hal yang dijual yang diharapkan akan menjadi daya tarik utama dari suatu pelayanan kefarmasian di apotek. Pada masyarakat yang mempunyai pemahaman yang baik tentang pendidikan kesehatan, pelayanan yang prima adalah tujuan saat mereka mempunyai kepentingan dengan apotek. Dan bila semua apoteker yang berpraktek profesi di apotek sudah menjalankan profesi secara aktif dan pemahanan masyarakat sudah baik dalam hal pelayanan kefarmasian, maka mau tidak mau kompetetisi akan terjadi dengan sendirinya. Tentunya diharapkan kompetisi yang jujur atau dalam sepak bola di kenal "fair play". Kompetisi seharusnya bukan hal yang tabu bila profesi ingin berkembang.
Hal lain dari pentingnya kompetisi adalah perkembangan iptek terkait profesi. Dengan adanya kompetisi antar apoteker yang berpraktek profesi diapotek, maka apoteker akan berlomba lomba untuk selalu memperbarui penguasaan ipteknya dan akan mendorong penelitian penelitian terkait iptek pelayanan kefarmasian.
Hal yang diharapkan selanjutnya tentu saja kepuasan pelanggan. Pelanggan akan puas karena masalah kesehatan yang terkait kefarmasian diselesaikan dengan profesional. Pemerintah tentu saja akan sangat diuntungkan, karena beban pemerintah akan diselesaikan sebagian secara mandiri oleh masyarakat sendiri yang tergabung dalam HISFARMA/ISFI. Bagi profesi akan sangat diuntungkan karena eksistensinya diakui oleh masyarakat luas dan pemerintah.
Dengan uraian diatas, kompetisi yang profesional sangat dibutuhkan demi perkembangan profesi itu sendiri. SELAMAT BERKOMPETISI DENGAN PROFESIONAL.
Dua hal diatas adalah bagian dalam membentuk atlit. Tanpa pembibitan yang tepat, maka hasil yang dicapai tidak akan maksimal demikian juga bila kompetisi kurang, maka hasil yang diharapkan juga tidak akan maksimal.
Pada tulisan kali ini saya ingin mengungkapkan tentang kompetisi. Yang mana kompetisi tidak akan terjadi bila apoteker tidak pernah ada di apotek. Bila apoteker tidak pernah nongol di apotek maka yang berkompetisi hanya manajemen, bukan pelayanan. Sehingga kompetisi hanya masalah masalah teknis yang hasilnya tentu saja kurang maksimal bagi perkembangan profesi.
Dalam pelayanan di apotek yang dilakukan oleh apoteker secara langsung umumnya pelayanan kefarmasian menjadi suatu hal yang dijual yang diharapkan akan menjadi daya tarik utama dari suatu pelayanan kefarmasian di apotek. Pada masyarakat yang mempunyai pemahaman yang baik tentang pendidikan kesehatan, pelayanan yang prima adalah tujuan saat mereka mempunyai kepentingan dengan apotek. Dan bila semua apoteker yang berpraktek profesi di apotek sudah menjalankan profesi secara aktif dan pemahanan masyarakat sudah baik dalam hal pelayanan kefarmasian, maka mau tidak mau kompetetisi akan terjadi dengan sendirinya. Tentunya diharapkan kompetisi yang jujur atau dalam sepak bola di kenal "fair play". Kompetisi seharusnya bukan hal yang tabu bila profesi ingin berkembang.
Hal lain dari pentingnya kompetisi adalah perkembangan iptek terkait profesi. Dengan adanya kompetisi antar apoteker yang berpraktek profesi diapotek, maka apoteker akan berlomba lomba untuk selalu memperbarui penguasaan ipteknya dan akan mendorong penelitian penelitian terkait iptek pelayanan kefarmasian.
Hal yang diharapkan selanjutnya tentu saja kepuasan pelanggan. Pelanggan akan puas karena masalah kesehatan yang terkait kefarmasian diselesaikan dengan profesional. Pemerintah tentu saja akan sangat diuntungkan, karena beban pemerintah akan diselesaikan sebagian secara mandiri oleh masyarakat sendiri yang tergabung dalam HISFARMA/ISFI. Bagi profesi akan sangat diuntungkan karena eksistensinya diakui oleh masyarakat luas dan pemerintah.
Dengan uraian diatas, kompetisi yang profesional sangat dibutuhkan demi perkembangan profesi itu sendiri. SELAMAT BERKOMPETISI DENGAN PROFESIONAL.
Minggu, 24 Mei 2009
FORUM ILMIAH
FORUM ILMIAH
forum diskusi ilmiah, pendidikan berkelanjutan, PUKA dan lain lain diyakini dapat meningkatkan profesionalisme para apoteker. Forum diskusi ilmiah akan meningkatkan transfer ilmu dari satu praktisi ke praktisi yang lain. Juga akan menjadi forum pemecahan masalah bila profesi apoteker menemui masalah.
Seringkali dalam menjalankan profesi kita kesulitan dalam menyelesaikan masalah terkait profesi yang disebabkan salah satunya karena iptek yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu forum diskusi seperti pada situs resmi ISFI sangat diperlukan dan seharusnya dikembangkan. Bila diperlukan mungkin juga perguruan tinggi farmasi seharusnya juga mengembangkan forum forum seperti ini.
Demikian juga seminar atau pendidikan berkelanjutan, seharusnya juga menjadi salah satu yang bisa dikembangkan guna meningkatkan profesi. Saat ini secara kualitas ataupun kuantitas perlu ditingkatkan. Pendidikan berkelanjutan menjadi salah satu cara agar profesi apoteker tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga akan sangat membantu dalam praktek profesi.
Pelatihan pelatihan juga akan meningkatkan kemampuan apoteker dalam meningkatkan ketrampilan profesi. Dengan semakin terampil, maka diharapkan profesi akan berjalan dengan lebih efisien dan profesional. Saat ini pelatihan pelatihan juga masih sangat sedikit.
Pendapat saya, mungkinkah forum ilmiah dapat berjalan? Tidak mungkin akan ada aliran ilmu bila didalam forum hanya diisi oleh apoteker yang jam terbangnya sangat rendah. Karena bila forum hanya diisi oleh apoteker yang mempunyai jam terbang rendah maka kualitas forum juga akan rendah dan mungkin tidak atau kurang mengakomodasi kebutuhan profesi. Seharusnya forum diisi oleh para praktisi yang betul betul paham akan masalah profesi. Bila forum tidak dikendalikan oleh para praktisi bisa jadi forum akan berkembang menjadi forum imaginasi, sehingga forum justru tidak menjadikan profesi berkembang tetapi malah maju kebelakang.
forum diskusi ilmiah, pendidikan berkelanjutan, PUKA dan lain lain diyakini dapat meningkatkan profesionalisme para apoteker. Forum diskusi ilmiah akan meningkatkan transfer ilmu dari satu praktisi ke praktisi yang lain. Juga akan menjadi forum pemecahan masalah bila profesi apoteker menemui masalah.
Seringkali dalam menjalankan profesi kita kesulitan dalam menyelesaikan masalah terkait profesi yang disebabkan salah satunya karena iptek yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu forum diskusi seperti pada situs resmi ISFI sangat diperlukan dan seharusnya dikembangkan. Bila diperlukan mungkin juga perguruan tinggi farmasi seharusnya juga mengembangkan forum forum seperti ini.
Demikian juga seminar atau pendidikan berkelanjutan, seharusnya juga menjadi salah satu yang bisa dikembangkan guna meningkatkan profesi. Saat ini secara kualitas ataupun kuantitas perlu ditingkatkan. Pendidikan berkelanjutan menjadi salah satu cara agar profesi apoteker tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga akan sangat membantu dalam praktek profesi.
Pelatihan pelatihan juga akan meningkatkan kemampuan apoteker dalam meningkatkan ketrampilan profesi. Dengan semakin terampil, maka diharapkan profesi akan berjalan dengan lebih efisien dan profesional. Saat ini pelatihan pelatihan juga masih sangat sedikit.
Pendapat saya, mungkinkah forum ilmiah dapat berjalan? Tidak mungkin akan ada aliran ilmu bila didalam forum hanya diisi oleh apoteker yang jam terbangnya sangat rendah. Karena bila forum hanya diisi oleh apoteker yang mempunyai jam terbang rendah maka kualitas forum juga akan rendah dan mungkin tidak atau kurang mengakomodasi kebutuhan profesi. Seharusnya forum diisi oleh para praktisi yang betul betul paham akan masalah profesi. Bila forum tidak dikendalikan oleh para praktisi bisa jadi forum akan berkembang menjadi forum imaginasi, sehingga forum justru tidak menjadikan profesi berkembang tetapi malah maju kebelakang.
FORUM ILMIAH
FORUM ILMIAH
forum diskusi ilmiah, pendidikan berkelanjutan, PUKA dan lain lain diyakini dapat meningkatkan profesionalisme para apoteker. Forum diskusi ilmiah akan meningkatkan transfer ilmu dari satu praktisi ke praktisi yang lain. Juga akan menjadi forum pemecahan masalah bila profesi apoteker menemui masalah.
Seringkali dalam menjalankan profesi kita kesulitan dalam menyelesaikan masalah terkait profesi yang disebabkan salah satunya karena iptek yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu forum diskusi seperti pada situs resmi ISFI sangat diperlukan dan seharusnya dikembangkan. Bila diperlukan mungkin juga perguruan tinggi farmasi seharusnya juga mengembangkan forum forum seperti ini.
Demikian juga seminar atau pendidikan berkelanjutan, seharusnya juga menjadi salah satu yang bisa dikembangkan guna meningkatkan profesi. Saat ini secara kualitas ataupun kuantitas perlu ditingkatkan. Pendidikan berkelanjutan menjadi salah satu cara agar profesi apoteker tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga akan sangat membantu dalam praktek profesi.
Pelatihan pelatihan juga akan meningkatkan kemampuan apoteker dalam meningkatkan ketrampilan profesi. Dengan semakin terampil, maka diharapkan profesi akan berjalan dengan lebih efisien dan profesional. Saat ini pelatihan pelatihan juga masih sangat sedikit.
Pendapat saya, mungkinkah forum ilmiah dapat berjalan? Tidak mungkin akan ada aliran ilmu bila didalam forum hanya diisi oleh apoteker yang jam terbangnya sangat rendah. Karena bila forum hanya diisi oleh apoteker yang mempunyai jam terbang rendah maka kualitas forum juga akan rendah dan mungkin tidak atau kurang mengakomodasi kebutuhan profesi. Seharusnya forum diisi oleh para praktisi yang betul betul paham akan masalah profesi. Bila forum tidak dikendalikan oleh para praktisi bisa jadi forum akan berkembang menjadi forum imaginasi, sehingga forum justru tidak menjadikan profesi berkembang tetapi malah maju kebelakang.
forum diskusi ilmiah, pendidikan berkelanjutan, PUKA dan lain lain diyakini dapat meningkatkan profesionalisme para apoteker. Forum diskusi ilmiah akan meningkatkan transfer ilmu dari satu praktisi ke praktisi yang lain. Juga akan menjadi forum pemecahan masalah bila profesi apoteker menemui masalah.
Seringkali dalam menjalankan profesi kita kesulitan dalam menyelesaikan masalah terkait profesi yang disebabkan salah satunya karena iptek yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu forum diskusi seperti pada situs resmi ISFI sangat diperlukan dan seharusnya dikembangkan. Bila diperlukan mungkin juga perguruan tinggi farmasi seharusnya juga mengembangkan forum forum seperti ini.
Demikian juga seminar atau pendidikan berkelanjutan, seharusnya juga menjadi salah satu yang bisa dikembangkan guna meningkatkan profesi. Saat ini secara kualitas ataupun kuantitas perlu ditingkatkan. Pendidikan berkelanjutan menjadi salah satu cara agar profesi apoteker tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga akan sangat membantu dalam praktek profesi.
Pelatihan pelatihan juga akan meningkatkan kemampuan apoteker dalam meningkatkan ketrampilan profesi. Dengan semakin terampil, maka diharapkan profesi akan berjalan dengan lebih efisien dan profesional. Saat ini pelatihan pelatihan juga masih sangat sedikit.
Pendapat saya, mungkinkah forum ilmiah dapat berjalan? Tidak mungkin akan ada aliran ilmu bila didalam forum hanya diisi oleh apoteker yang jam terbangnya sangat rendah. Karena bila forum hanya diisi oleh apoteker yang mempunyai jam terbang rendah maka kualitas forum juga akan rendah dan mungkin tidak atau kurang mengakomodasi kebutuhan profesi. Seharusnya forum diisi oleh para praktisi yang betul betul paham akan masalah profesi. Bila forum tidak dikendalikan oleh para praktisi bisa jadi forum akan berkembang menjadi forum imaginasi, sehingga forum justru tidak menjadikan profesi berkembang tetapi malah maju kebelakang.
Senin, 11 Mei 2009
RAKERDA ISFI JATIM DI SARANGAN
Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada panitia rakerda jatim, karena ini adalah salah satu rakerda terindah yang pernah saya ikuti selain dibeberapa tempat lainnya seperti Probolinggo. Satu hal yang membuat saya suka adalah lokasi hotel yang ada di wilayah danau sarangan dan danau sarangan sangat bersih untuk ukuran tempat wisata dan cocok untuk jalan jalan pagi. Menyesal bila tak ikut.
Dan hasil rakerda seperti rakerda yang lain, mampu memberikan semangat TATAP kepada para peserta. Setiap kali rakerda selalu mampu menghidupkan semangat yang luar biasa, dan mampu membuka kesadaran para apoteker bahwa tugas kita mulia.
Satu catatan yang saya anggap kurang adalah kurang dibahasnya straregi penerapan program TATAP yang rencananya diuji cobakan di Jawa Timur. Dan catatan bagusnya adalah semangat TATAP yang diusung kali ini oleh pengurus daerah adalah sangat luar biasa.
Usulan untuk ber safari keliling PC guna mensosialisasikan TATAP menjadikan salah satu agenda yang prioritas PD ISFI JATIM. Dan yang menjadi pertanyaan adalah kesiapan dari para cabang itu sendiri untuk menyambut, karena mungkin akan dibutuhkan biaya dan tenaga. Semoga PD ISFI JATIM mampu mencarikan solusinya.
Rakerda kali ini yang rencananya menjadi rakerda terakhir dari kepengurusan periode ini mampu menjadi kesimpulan dari rakerda rakerda sebelumnya. Suatu kinerja yang sangat bagus yang mampu ditunjukan oleh para pengurus PD ISFI Jatim. Besar harapan saya kepada pengurus ISFI Jatim agar melakukan regenerasi dengan baik. Besarnya kinerja PD ISFI Jatim mungkin juga tidak ada apa apanya bila tidak didukung oleh para pengurus cabang, dan menurut saya kinerja pengurus cabang secara umum juga sangat bagus.
Saya sebagai peserta sangat puas. Semoga rakerda rakerda kedepan dapat dikemas dengan sangat indah.
Dan hasil rakerda seperti rakerda yang lain, mampu memberikan semangat TATAP kepada para peserta. Setiap kali rakerda selalu mampu menghidupkan semangat yang luar biasa, dan mampu membuka kesadaran para apoteker bahwa tugas kita mulia.
Satu catatan yang saya anggap kurang adalah kurang dibahasnya straregi penerapan program TATAP yang rencananya diuji cobakan di Jawa Timur. Dan catatan bagusnya adalah semangat TATAP yang diusung kali ini oleh pengurus daerah adalah sangat luar biasa.
Usulan untuk ber safari keliling PC guna mensosialisasikan TATAP menjadikan salah satu agenda yang prioritas PD ISFI JATIM. Dan yang menjadi pertanyaan adalah kesiapan dari para cabang itu sendiri untuk menyambut, karena mungkin akan dibutuhkan biaya dan tenaga. Semoga PD ISFI JATIM mampu mencarikan solusinya.
Rakerda kali ini yang rencananya menjadi rakerda terakhir dari kepengurusan periode ini mampu menjadi kesimpulan dari rakerda rakerda sebelumnya. Suatu kinerja yang sangat bagus yang mampu ditunjukan oleh para pengurus PD ISFI Jatim. Besar harapan saya kepada pengurus ISFI Jatim agar melakukan regenerasi dengan baik. Besarnya kinerja PD ISFI Jatim mungkin juga tidak ada apa apanya bila tidak didukung oleh para pengurus cabang, dan menurut saya kinerja pengurus cabang secara umum juga sangat bagus.
Saya sebagai peserta sangat puas. Semoga rakerda rakerda kedepan dapat dikemas dengan sangat indah.
Jumat, 08 Mei 2009
GAJI APOTEKER
GAJI APOTEKER
Dalam organisasi ISFI dalam memperjuangkan nasib apoteker salah satunya dengan memperjuangkan gaji apoteker. Sebagian dari kita mengatakan tabu bila kita mengatakan gaji dan halusnya adalah jasa profesi. Tetapi kenyataannya sebagian dari kita memperjuangkan gaji, bukannya jasa profesi.
Jasa profesi kita dapatkan berdasarkan apa yang kita lakukan, sedangkan gaji adalah apa yang kita dapatkan secara rutin yang besaranya sama atau relatif sama tanpa terlalu memperhitungkan volume pekerjaan. Jadi yang kita perjuangkan selama ini gaji ataukah jasa?
Tidak perlu terlalu jauh kita perdebatkan ini, tetapi coba kita bahas gaji apoteker pendamping. Apoteker pendamping secara umum gajinya dibawah APA, padahal apoteker pendamping umumnya lebih banyak melalukan pekerjaan profesi.
Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa kita tidak memperjuangkan gaji pendamping saja? Toh yang menjalankan pekerjaan kefarmasian lebih banyak apoteker pendamping. Ataukah apoteker pendamping dianggap praktisi kedua yang tidak perlu diperjuangkan?
Sudah sewajarnya, bila kita ingin memperjuangkan TATAP maka kita juga harus memperjuangkan jasa profesi yang seharusnya diterima apoteker pendamping. Bagaimanapun juga apoteker pendamping juga profesional yang bekerja secara profesional pula.
Suatu hal yang tidak mungkin memperjuangkan TATAP bila gaji apoteker pendamping tidak diperjuangkan. Mungkin bisa jadi TATAP hanya akan sebagai slogan saja bila gaji apoteker pendamping tidak diperjuangkan.
Semoga nasib apoteker pendamping kedepan lebih diperhatikan.
Dalam organisasi ISFI dalam memperjuangkan nasib apoteker salah satunya dengan memperjuangkan gaji apoteker. Sebagian dari kita mengatakan tabu bila kita mengatakan gaji dan halusnya adalah jasa profesi. Tetapi kenyataannya sebagian dari kita memperjuangkan gaji, bukannya jasa profesi.
Jasa profesi kita dapatkan berdasarkan apa yang kita lakukan, sedangkan gaji adalah apa yang kita dapatkan secara rutin yang besaranya sama atau relatif sama tanpa terlalu memperhitungkan volume pekerjaan. Jadi yang kita perjuangkan selama ini gaji ataukah jasa?
Tidak perlu terlalu jauh kita perdebatkan ini, tetapi coba kita bahas gaji apoteker pendamping. Apoteker pendamping secara umum gajinya dibawah APA, padahal apoteker pendamping umumnya lebih banyak melalukan pekerjaan profesi.
Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa kita tidak memperjuangkan gaji pendamping saja? Toh yang menjalankan pekerjaan kefarmasian lebih banyak apoteker pendamping. Ataukah apoteker pendamping dianggap praktisi kedua yang tidak perlu diperjuangkan?
Sudah sewajarnya, bila kita ingin memperjuangkan TATAP maka kita juga harus memperjuangkan jasa profesi yang seharusnya diterima apoteker pendamping. Bagaimanapun juga apoteker pendamping juga profesional yang bekerja secara profesional pula.
Suatu hal yang tidak mungkin memperjuangkan TATAP bila gaji apoteker pendamping tidak diperjuangkan. Mungkin bisa jadi TATAP hanya akan sebagai slogan saja bila gaji apoteker pendamping tidak diperjuangkan.
Semoga nasib apoteker pendamping kedepan lebih diperhatikan.
Langganan:
Postingan (Atom)