Jumat, 08 Oktober 2010

PERAN EVIDENCE BASED PRACTICE DALAM MENGOPTIMALKAN PENGUNAAN OBAT PADA SWAMEDIKASI

PERAN EVIDENCE BASED PRACTICE DALAM MENGOPTIMALKAN PENGUNAAN OBAT PADA SWAMEDIKASI



Bergesernya orientasi bisnis pelayanan kesehatan pada farmasi komunitas, yang dulu berorientasi pada resep dan barang, sekarang sebagian mulai berorientasi pada produk otc dengan konseling selain sekedar resp. Pergeseran ini menyebabkan juga ada pergeseran akan kebutuhan manajemen didalam pengelolaan apotek juga pergeseran kompetensi yang dibutuhkan. Bila dulu lebih mengarah hanya sekedar PIO yang mana jalannya komunikasi lebih sering mengalir dari atas kebawah, sekarang komunikasi harus berajalan seimbang antara apoteker dan klien.

Komunikasi dua arah inilah yang akhirnya menjadi dasar pada pengembangan ilmu konseling di farmasi komunitas. Banyak diantara kita para praktisi komunitas mulai mengembangkan teknik-teknik konseling guna meningkatkan efektifitas pada proses konseling. Dan untuk mendapatkan koseling yang efektif, para apoteker praktisi di komunitas harus selalu melatih menggunakan teknik-teknik konseling yang dibutuhkan pada praktek komunitas.

Konseling kefarmasian yang merupakan usaha dari apoteker didalam membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalahnya kesehatan yang umumnya terkait dengan sediaan farmasi agar masyarakat mampu menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat itu sendiri.. Konseling kefarmasian bukan sekedar PIO dan konsultasi, tetapi lebih jauh dari itu.

Pada swamedikasi yang umumya menggunakan produk otc, konseling sangat berperan dalam mengoptimalkan pengunaan obat. Pada praktek apoteker komunitas, konseling tidak boleh dilepaskan dari“evidence based practice”. Eviden Based Practice tidak hanya berperan pada swamedikasi tetapi juga pada pelayanan resep. Tetapi pada kali ini saya hanya membahas keterkaitan Evidence Based Practice dalam mengoptimalkan penggunaan obat pada swamedikasi.

Swamedikasi adalah usaha masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya terkait sediaan farmasi. Yang mana di dalam menentukan keputusannya dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. Didalam membantu penentuan keputusan agar jalannya swamedikasi berjalan optimal maka apoteker harus melakukan tindakan profesi yang dinamakan konseling yang didalam prosesnya melibatkan evidence based practice.

Pada evidence based medicine, pengobatan didasar pada bukti ilmah yang dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan eviden based practis, bukti tidak dapat hanya dikaitkan dengan bukti-bukti ilmiah saja, tetapi juga harus dikaitkan dengan bukti/data yang ada pada saat pratek profesi dilakukan. Dengan demikian perbedaan waktu, situasi, kondisi, tempat dan lain-lain, mungkin akan mempengaruhi tindakan profesi, keputusan profesi dan hasil dari swamedikasi. Dan jalannya parktek profesi apoteker tetap harus berjalan optimal pada setiap situasi dan kondisi termasuk pada swamedikasi. Agar tetap menghasilkan praktek profesi yang optimal, setiap apoteker atau calon apoteker harus terlatih dalam penguasaan dan penerapan skill dan knowledge dalam prakek profesi sesuai kebutuhan.

Setiap apoteker bisa jadi mempunyai kebutuhan yang berbeda dalam skill dan knowledge, hal ini tergantung dari banyak hal, termasuk model, manajemen, lokasi, orientasi dll. Tetapi semua mempunyai kesamaan dalam standar profesi. Oleh karena itu pada apoteker komunitas, jam terbang apoteker dapat mempengaruhi kualitas penguasaan skill dan kwnledge dari seorang apoteker. Apoteker yang sangat cerdas bisa jadi akan kalah dengan apoteker yang sangat aktif di dalam pelayanan komunitas.

Salah satu standar yang digunakan untuk mendapatkan kualitas layanan yang ‘ajeg’ adalah ‘Standar Prosedur Operasional (SPO). Yang mana standar ini harus disusun sesuai praktek profesi yang telah dilakukan, bukan hanya sekedar teori belaka yang belum diuji coba, yang ujung-ujungnya adalah membikin susah dalam penerapannya. Selanjutnya SPO ini harus diuji cobakan secara luas dan proprosional sebelum dijadikan stanadar secara nasional.


Mengoptimalkan Penggunaan Obat

Mengoptimalkan pengunaan obat pada swamedikasi ditujukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan resiko yang paling ringan, dengan tetap melibatkan kaidah-kaidah layanan yang profesionalisme.

Resiko yang dimaksud disini adalah resiko bagi pasien, bagi profesi dan investasi juga bagi pemerintah. Hal ini menjadi penting, karena kita tidak mungkin melakukan proses pelayanan yang merugikan pasien, diri kita atau nilai-nilai investasi. Oleh karena itu, menghindarkan klien dari ESO menjadi sangat penting.

Demikian juga terhadap profesi, kita tetap harus menjaga dan mengembangkan profesi. Kita tidak mungkin mengembangkan profesi secara asal-asalan, semisal hanya asal mendapatkan uang atau hanya sekedar melakukan tugas. Hal yang perlu dicermati pada masyarakat modern adalah semua profesi mempunyai resiko hukum sebagai bagian kemajuan jaman.

Investasi juga mempunyai peranan penting didalam kemajuan suatu profesi, dan bisa dikatakan semua profesional membutuhkan investasi meskipun kecil, misal kantor tempat bekerja. Bagi para sebagian apoteker, investasi yang masih dianggap menjadi faktor penghambat kemajuan praktek profesi, terutama sarana dan prasarana, sedangkan obat mungkin masih bisa diatasi. Nilai investasi dalam membuka praktek profesi apoteker masih danggap mahal. Oleh karena itu, investasi yang mahal ini harus mendapatkan penjagaan yang salah satunya dengan praktek profesi yang lebih baik dan benar.

Dengan praktek profesi yang lebih baik, diharapkan resiko ikutan akibat praktek profesi seperti resiko hukum suatu misal menjadi dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan Evidence Based Practice pelayanan yang rasional bisa diharapkan menjadi lebih baik dan akhirnya menjadi kebutuhan bagi profesi apoteker, investor, masyarakat dan pemeritah. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bila Evidence Based Practice adalah suatu kebutuhan bagi kita semua.

Swamedikasi yang optimal adalah swamedikasi yang menggunakan sediaan farmasi secukupnya dan tidak berlebihan, sehingga rasio manfaat dibanding kerugian yang ditimbulkan akibat swamedikasi sangat besar, juga yang merupakan halpenting adalah tidak mengganggu diagnosa bila pasien dirujuk. Sering kali pasien meminum obat yang bertujuan menghilangkan gejala penyakit, padahal dengan hilangnya salah satu atau lebih gejala, penegakan diagnosa oleh dokter bisa terganggu.


Penerapan Evidence Based Practice Farmasi Pada Swamedikasi.

Pada penerapannya, Eviden Based Practice Farmasi berarti menkombinasikan semua data yang diperlukan didalam mengambil keputusan profesi oleh apoteker, dan di dalam pengkombinsian itu diperlukan skill dan knowledge yang memadai yang selanjutnya dinamakan kompetensi dalam swamedikasi.

Langkah-langkah didalam penerapan Evidence Based Practis Farmasi pada komunitas pada awalnya saya kembangkan dengan melibatkan mahasiswa PKP di Apotek. Dengan tujuan mempermudah proses pembelajaran dan sistematis. Dengan membuat tabulasi kasus perkasus terhadap permintaan swamedikasi yang didasarkan pada permintaan atas nama obat dan atas nama penyakit.

Dari tabulasi itulah saya menyusun SPO swamedikasi yang didasarkan pada 2 hal tersebut. Dengan harapan pemetaan permasalahan pada swamedikasi menjadi lebih baik dan lebih optimal. Prinsip yang di kembangkan adala 4 tepat 2 waspada.

Pada umumnya kita mengenal 4 tepat 1 waspada pada pengobatan rasional, yaitu; tepat indikasi, tepat pasien tepat obat tepat dosis dan waspada terhadap ESO. Pada penerapan Evidence Based Practice Farmasi pada swamedikasi setidaknya ditambah dengan “waspada terhadap bahaya perkembangan penyakit”. Dengan lebih waspada terhadap bahaya perkembangan penyakit, diharapkan semua resiko dapat diantisipasi dengan baik.

SPO terkait swamedikasi yang pernah saya usulkan pada himpunan seminat apoteker komunitas jatim adalah sebagai berikut :

A. SPO pelayanan swamedikasi berdasarkan permintaan pasien atas nama penyakit

1. Menyapa dan menanyakan kebutuhan pasien
2. eksplorasi (4w1h)mengenai data pasien, penyakit dan gejala penyakit yang diderita, obat obat yang biasa digunakan dan sedang digunakan
3. Identifikasi permasalahan, kemungkinan penyakit dan perkembangan penyakit, menangkap pesan utama.
4. Penilaian masalah, penilaian terhadap kemungkinan perkembangan penyakit dan penilaian terhadap resiko bila swamedikasi dijalankan
5. Keputusan profesi, kuratif, prekuentif, promotif, informatif, edukatif dan rujukan.
6. Informasi penyerta yang disesuaikan dengan keputusan profesi dan target profesi.



A. SPO pelayanan swamedikasi berdasarkan permintaan pasien atas nama obat

1. Menyapa dan menanyakan kebutuhan pasien.
2. Eksplorasi (4w1h) mengenai data pasien yang jadi pengguna obat, pemahaman penggunaan obat, penyakit dan gejala penyakit yang diderita terhadap permintaan obat, obat-obat lain yang sedang digunakan.
3. Identifikasi permasalahan, rasionalisasi penggunaan obat, menangkap pesan utama.
4. Penilaian masalah, penilaian terhadap pemahaman ESO oleh pasien dan rasio manfaat terhadap resiko bila obat diberikan
5. Keputusan profesi, kuratif, prekuentif, promotif, informatif, edukatif dan rujukan.
6. Informasi penyerta yang disesuaikan dengan keputusan profesi dan target profesi.


Pada prinsipnya kedua SPO tersebut adalah sama, yang mana sama-sama didasarkan pada nilai-nilai yang berkembang pada praktek profesi komunitas. Yang membedakan secara teknis adalah perlakuan pada eksplorasi, dan detail-detail pertanyaannya. Hal tersebut terjadi karena Evidence Based Practice yang terlibat sering kali berbeda.

Pentingnya peran Evidence Based Practice dalam mengoptimalkan pengunaan obat, menjadi salah satu judul seminar yang saya tawarkan pada Konfercab IAI Kab. Kediri. Semoga kedepannya kita bisa saling berbagi terkait skill dan knowledge terapan, agar profesi apoteker semakin maju dan perannya didalam pembangunan kesehatan bangsa semakin bermakna.

Jumat, 13 Agustus 2010

PENJAGA LUKISAN

PENJAGA LUKISAN


“Ada yang lucu Tuan?”, tiba-tiba ada yang menyapa Apoteker. Apoteker menoleh dan memperhatikan sekilas, menurut perkiraannya pria itu adalah pelukis yang sedang menjaga lukisannya. Apoteker dengan tetap tersenyum lebar menyapa pria tersebut, “he3x, anda yang melukis lukisan ini Tuan?”, sambil menunjuk lukisan pria yang sangat gendut sedang naik kuda yang kurus kerempeng sambil menggigit rumput.

Pria tersebut menjawab sambil tersenyum bangga karena merasa lukisannya ada yang mengapresiasi, “Benar Tuan, sayalah yang melukis itu”. Lanjut pria tersebut, “Diantara pengujung lukisan saya, lukisan ini adalah salah satu yang menarik, karena pesan dibalik lukisannya”.

Kemudian apoteker melanjutkan perkataannya, “itu kuda berjalan sepuluh langkah saja langsung rubuh, ha3x” apoteker tertawa sambil menirukan jalannya kuda yang terhuyung2.

Pelukis, “ha3x, tuan bisa saja”.

Jawab Apoteker dengan setengah tertawa, “ha3x, Coba Tuan perhatikan, kuda yang kurus kerempeng dengan beban kerja seperti itu hanya menggigit rumput tanpa boleh mengunyah. Apa kudanya lagi sariawan?

“Saya rasa tidaklah kalau kudanya sariawan. Itu pastinya karena pemiliknya sangat kikir”, lanjut Apoteker lagi.

Pelukis, “terima kasih tuan, anda telah mengapresiasi pesan dibalik lukisan saya”. Lanjut pelukis, “semua orang boleh mengapresiasi sesuai dengan latar belakangnya secara bebas, tetapi tetap harus mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku di Kerajaan ini”.

“Kalau setiap orang melakukan penilaian sendiri-sendiri, apakah itu tidak akan menjadikan penilaian menjadi kacau?”, Apoteker bertanya.

Pelukis, “Justru penilaian itu harus bebas dan kreatif, tetapi tidak boleh menyimpang dari norma yang berlaku di Kerajaan kita. Karena dari penilaian kreatif itulah munculnya ide-ide kreatif yang membangun”.

“Ooo, begitu ya”, jawab Apoteker sambil manggut-manggut

Pelukis, “Pada pekerjaan seniman itu yang susah adalah menggabungkan semua rasa sehingga dihasilkan suatu keserasian dan keselarasan rasa. Jadi sebagai seniman tidak boleh mngutamakan satu rasa saja. Missal asin atau pedas saja”.

Apoteker, “Tuan Pelukis, terus untuk asinan sama manisan bagaimana?”

Apoteker melanjutkan, “bukankah disitu hanya ada dominasi satu rasa saja??”

Pelukir, “Disinilah pentingnya memahamin rasa. Tidak semua makanan enak untuk dijadikan asinan atau manisan, hal ini disebabkan oleh rasa bawaan yang dikandung oleh bahan makanan yang mau dijadikan asinan atau manisan, jadi keserasian dan keselarasan rasa tetap ada.”

Apoteker manggut-manggut lagi, “he3x, iya ya…”

Pelukis, “Pekerjaan seniman tidak boleh diintervensi oleh pihak lain yang tidak mempunyai kompetensi”.

Apoteker, “Maksudnya”

“Tuan bisa melukis?” Tanya Pelukis kepada Apoteker.

“Tentu tidak tuan, ha3x”, jawab Apoteker sambil tertawa. “Saya tidak pernah belajar melukis”, lanjut Apoteker lagi.

“Tuan mau seandainya diminta melakukan intervesi terhadap lukisan saya yang belum selesai itu?”, Tanya pelukis sambil menunjuk lukisannya yang belum selesai.

Jawab Apoteker, “ha3x, mau saya jadikan apa???”

Sambil terus tertawa Apoteker melanjutkan, “bisa saya melanjutkan, tetapi menjadi gambar gelap gulita di dalam goa, ha3x”, Apoteker tertawa panjang.

“OK, saya mengerti”, lanjut Apoteker lagi.

Pelukis hanya tersenyum saja melihat tingkah apoteker yang dianggapnya sebagai jiwa yang menyenangkan.

Setelah berbincang-bincang agak lama yang terkadang diselingi gelak tawa dari keduanya, pelukis berkata kepada Apoteker sambil meminta apoteker memperhatikan pintu masuk ruang pertemuan.

Pelukis, “Tuan, coba anda perhatikan, didepan pintu masuk sudah ada 1 orang penjaga, berarti para tamu sudah dipersilahkan untuk masuk ruangan. Bila ada 2 penjaga berarti acara segera dimulai dan bila sudah ada 3 penjaga berarti acara sudah dimulai dan biasanya sudah tidak boleh lagi ada orang yang masuk”.

Lanjut Pelukis, “Di linkungan Kerajaan dibiasakan tidak boleh ada suara keras, sehingga semua dilakukan dengan simbol-simbol”.

Apoteker, “Ooo, begitu ya. Kalau begitu saya mohon pamit dulu”, sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Pelukis.
Pelukis, “Senang bertemu anda dan semoga hari anda menyenangkan”

Setelah berpamitan dan berbasa-basi sebentar Apoteker memasuki ruang pertemuan. Di dalam ruang pertemuan yang belum penuh, Apoteker disambut oleh PM, “Silahkan anda menempati deretan terdepan … bersambung

Senin, 02 Agustus 2010

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA


Selama saya bergabung dengan IAI (yang dulu ISFI), sebenarnya tidak pernah sekalipun saya menemukan konsep yang jelek. Semua konsep yang ditawarkan didalam membangun profesi adalah sangat baik. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa diantara konsep-konsep IAI tersebut selalu ada saja yang tidak bisa diterima?

Untuk sementara ini, kesimpulan saya adalah karena ada rasa tidak saling mempercayai diantara anggota IAI sendiri. Yang mana rasa tidak saling percaya ini bisa disebabkan oleh berbagai hal yang sangat manusiawi. Bila kita membicarakan siapa yang salah dan benar, maka pada hemat saya semuanya benar dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Yang salah adalah ketidak mampuan IAI mulai cabang sampai pusat didalam mengelola kepentingan-kepentingan yang muncul. Kepentingan itu bisa terkait kepentingan intern dan kepentingan ekstern. Dalam mengelola kepentingan kepentingan intern anggota saja, selama ini IAI masih kesulitanan. Padahal didalam mengelola organisasi yang besar ini, pengelolaan terhadap kepetingan kepentingan intern adalah sangat penting.

Dimana letak salahnya? Kesalahan bukan pada individu pengurus, tetapi karena IAI kekurangan ahli dalam segala bidang didalam membangun organisasi. Tetapi kekurangan ini bisa diminimalkan dengan melibatkan semua anggota yang peduli terhadap kemajuan profesi dalam hal ini termasuk juga melibatkan para praktisi. bukan berarti para praktisi ini adalah segalanya, tetapi setidaknya praktisi inilah yang bisa merasakan suka uka dalam melakukan praktek profesi. teori bisa di baca, tetapi perasaan sebagai praktisi hanya dapat dirasakan dengan melakukan pekerjaan profesi. Ini yang tidak bisa digantikan dengan hanya sekedar membaca.

Dalam membangun rasa saling percaya dalam organisasi IAI, hal-hal yang seharusnya diperhatikan antara lain :
1. membangun persepsi, yang mana dengan membangun persepsi diharapkan akan ada penyeragaman terhadap persepsi dalam praktek profesi. Penyeragaman buka berarti membelenggu kreatifitas anggota, tetapi batasan profesi harus dipahami dengan pemahaman profesionalisme.
2. Membangun komunikasi antar apoteker dan antar anggota dengan pengurus. Karena tanpa komunikasi yang baik, pesan tidak akan diterimakan dengan baik pula.
3. Membangun rasa keadilan didalam praktek profesi.
4. Mengatasi kesenjangan sosial.
5. mengapresiasikan semua masukan yang baik dari anggota.
6. Membangun PO yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Bila di dalam organisasi tidak ada rasa saling percaya, maka semua potensi yang ada bisa jadi justru akan saling meniadakan. Padahal semua potensi inilah yang seharusnya dikelola oleh organisasi agar menjadi kekuatan dari organisasi tersebut.

Salah satu cara didalam mengelola semua potensi ini adalah dengan :
1. meningkatkan interaksi diantara semua potensi
2. menciptakan rasa saling ketergantungan diantara semua potesi.
3. mempererat hubungan anara semua potensi
4. membangun komitmen bersama diantar semua potensi.

Dalam hal ini semua elemen organisasi adalah sangat penting dan tidak ada salah satupun yang lebih penting dari yang lain. Kita semua di dalam organisasi adalam tim, tim yang harus bekerja sama dan bekerja keras dengan tujuan memajukan organisasi. Oleh karena itu membangun komitmen bersama menjadi hal yang sangat penting.

Di dalam organisasi, kepercayaan adalah modal sosial yang hanya dapatkan dengan cara dibangun dan kerja keras, bukanya didapatkan dengan percuma. Semoga, IAI kedepan menjadi organisasi besar yang diisi oleh rasa saling percaya, baik intern dan ekstern. Demi kemajuan pembangunan kesehatan bangsa.

Selasa, 27 Juli 2010

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN

OTT – OBAT TIDAK TERCAMPURKAN


Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan memanjakan mata dengan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran umumnya pelukisnya sendiri, mereka dengan ramah menyambut para undangan. Para penjaga lukisan terkadang juga menceritakan apa maksud dari lukisan, sambil mempersilahkan para undangan segera memasuki ruang pertemuan setelah melihat pameran lukisan.

Saat Apoteker menuju sudut-sudut ruang jamuan, Apoteker mulai melamunkan seni-seni yang di temui sepanjang hari ini dan membandingkan dengan seni-seni praktek profesi Apoteker yang telah dilakukannya. “Tanpa disadari oleh banyak orang, apotekerpun juga merupakan seorang seniman”, demikian dalam hatinya. Apoteker selalu mengingat “buatlah sesuai seni”, setiap dalam melakukan peracikan obat, tanpa intervensi dari siapapun juga. Seni meracik memang menjadi seni tersendiri bagi seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas mulia.

Dan masih banyak seni-seni lain yang terlibat di dalam praktek profesi Apoteker. Seni mengelola keuangan, seni berkomunikasi, dsb. Seperti beberapa waktu yang lalu, apoteker harus selalu kreatif di dalam menjalankan tugasnya dengan seni berkomunikasi yang mudah di cerna oleh masyarakat. Analogi-analogi seringkali harus digunakan. Seperti pada kasus OTT di bawah diwaktu itu.

Pasien, “Pak minta obat A dan B”

Apoteker, “Untuk sakit apa bu?”

Pasien, “Titipan”

Apoteker, “yang nitip siapa?”

Pasien, “Keluarga saya”

Apoteker, “Obat ini tidak rasional bila digunakan secara bersama-sama”

Pasien, “tidak apa-apa, nanti orangnya marah bila saya tidak membelikan obat ini”

Apoteker, “Kombinasi obat ini dapat dari mana?”

Pasien, “dari dokter”

Apoteker mulai curiga bila pasien berbohong, karena kombinasi tidak rasional. kemudian apoteker melanjutkan perkataannya, “dokter mana bu?”

Pasien, “pokonya kedua obat ini bagus, dan saya minta kedua obat itu untuk dilayani”

Apoteker, “Benar Bu semua obat bagus, tetapi dalam penggunaannya ada aturan-aturan yang harus dipenuhi”

Pasien, “biar cepat sembuh Pak”

Apoteker, “ibu tahukan bila ada bakso enak sama tembakau enak?”. Lanjut apoteker sambil tersenyum, “tembakau enak itu bila dicampurkan dengan bakso enak akan menjadi sangat-sangat tidak enak”.

Kemudian pasien itu dengan sedikit malu sambil tertawa kecil. “Iya ya, he he he …”.

Apoteker akhirnya juga ikut tertawa.

Tanpa disadari, Apoteker akhirnya tertawa sendiri mengingat kejadian itu. Masih sangat beruntung, saat tertawa sendiri posisi Apoteker pas didepan sebuah lukisan yang menggambarkan orang yang sangat gendut lagi naik kuda yang sangat kurus. Yang didalam pikiran sebagian orang mungkin lukisan itu cukup bisa menggelitik.

“Ada yang lucu pak?”, tiba-tiba ada menyapa Apoteker…

Senin, 19 Juli 2010

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN

MENIKMATI MUSIK SAAT JAMUAN



“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya. Apoteker terdiam sesaat, mengingat-ingat. “Sepertinya saya tidak kenal”, dalam hati apoteker. Tanpa menunggu jawaban dari Apoteker pria tersebut melanjutkan pembicaraan, “kenalkan, saya Menteri Agama dan Budaya (MAB)”.

“PM, yang meberitahu keberadaan anda disini, beliau masih sibuk”, lanjut MAB. “Maaf tuan MAB, karena saya kurang mengenal lingkungan Istana”, sahut Apoteker. “Adakah yang tuan inginkan dari hamba?”, lanjut Apoteker. didalam hati apoteker sangat malu, lingkungan Istana menjadi lingkugan yang baru buat dirinya. Hampir-hampir tidak ada yang dikenalinya.

“Tidak ada”, jawab MAB. “hanya saya ingin mengetahui dari anda beberapa hal mengenai praktek profesi apoteker saja, karena menurut hasil arahan dari PM tadi malam tim penyusun konsep penugasan Apoteker diketuai oleh saya dan anda juga masuk didalam tim itu. Agar dalam pertemuan-pertemuan berikutnya nanti saya tidak buta akan profesi Apoteker, saya usahakan menemui anda dahulu. Meskipun ketetapan Raja belum turun, karena masih menunggu nanti, tetapi kita yang ada kemungkinan ditugaskan harus menyiapkan diri.”, lanjut MAB.

“Bila pada pertemuan hari ini Raja benar memilih saya sebagai ketua tim, maka saya berharap, dua hari lagi saya sudah bisa mendapatkan konsep tertulisnya dari anda. Dan minggu depan sudah dapat dimulai rapat-rapat penyusunan konsep. Dan sebelum minggu depan saya sudah harus mendapatkan gambaran praktek profesi Apoteker untuk dipelajari dan saya kaitkan dengan nilai-nilai budaya kerajaan”, lanjut MAB lagi.

Apoteker, “Hamba siap melaksanakan tugas tuan”.

MAB, “o iya, tadi anda terlihat terkejut karena sangat menikmati musik? Apa anda suka dengan musik?”

Jawab Apoteker, “Benar tuan, tebakan tuan tidak salah”. Dalam hati apoteker, “saya tidak mungkin akan menceritakan kecemburua sosial saya terhadap Koki Kepala”, “toh saya kan lebih memilih nilai-nilai kemanusiaan yang tidak hanya sekedar urusan perut, he3x”. dalam hati Apoteker untuk menghibur dirinya sendiri. Dalam hatinya lagi, “saya kan profesional yang siap melayani peduduk kerajaan, dan hidup saya akan saya dedikasikan buat Kerajaan dan kemakmuran Kerajaan”.

“saya suka musik, tetapi saya tidak bisa bermain musik” lanjut Apoteker. “musiknya sangat enak didengar, dan saya sangat menikmati”, lanjut apoteker lagi.

MAB, “Pendengaran anda cukup bagus, pemain musik itu memang hebat, sehari-hari kerjanya hanya berlatih bermain musik saja”. “mereka professional dan melakukan pekerjaannya demi menyenangkan orang lain secara profesional, bekerja keras dalam belajar dan berlatih menjadi motonya”, lanjut MAB.

Apoteker, “benar Tuan, mereka hebat. Alunan musiknya kadang sperti gemericik air, kadang seperti deru angina, yg terdengar sangat sangat enak ditelinga”.

“tetapi sehebat-hebatnya pemain musik tidak bisa menghibur orang tuli”, sambung MAB sambil tersenyum.

Tidak menyangka apoteker terhadap pernyataan MAB, kemudian apoteker menjawab, “iya ya…..,”, dengan spontan Apoteker melanjutkan perkataannya dengan sekenanya, “ berarti masih hebat apoteker, karena tetap bisa melayani orang yang tuli, ha3x”. kemudian di ikuti gelak tawa mereka berdua.

MAB melanjutkan lagi, “Anda lihat disudut itu, banyak lukisan, sehebat-hebatnya lukisan juga tidak bisa dinikmati oleh orang buta”.

Jawab Apoteker, “Benar tuan, semua lukisan itu tidak dapat dinikmati orang yang buta, beruntunglah kita tidak buta”.

Lanjut MAB, “Semoga kita tidak sedang dalam hati yang buta dan tuli, sehingga lebih bisa menikmati indahnya dunia”. Kemudian MAB berpamitan dan meninggalkan Apoteker yang masih menikmati hidangan tanpa menghiraukan kiri kanannya yang belum dikenal. Bukan karena sombong, tetapi karena memang tidak mempunyai ide untuk dibicarakan dan karena rasa percaya diri yang masih perlu dipupuk sedikit lagi.

Setelah selesai menikmati jamuan, para undangan kebanyakan menikmati lukisan yang dipamerkan di sudut-sudut ruang jamuan. Para penjaga pameran yang umumnya pelukisnya sendiri dengan ramah menyambut para undangan. Dengan ramah para penjaga lukisan juga…

Sabtu, 10 Juli 2010

BERMIMPI SAAT TERJAGA

BERMIMPI SAAT TERJAGA


Malam ini Apoteker menjadi susah tidur, mengingat pengalaman hari ini yang sangat istimewa. Setelah Raja memutuskan untuk mengirimkan Apoteker untuk ditugaskan sampai kepelosok guna mendampingi penduduk Kerajaan didalam meningkatkan derajat pendidikan kesehatan dan kesehatan, yang berarti juga meningkatkan ekonomi, kemanusiaan, peradaban dan ketahanan Kerajaan, Raja menindak lanjuti dengan menyusun tim guna menyiapkan segala yang tekait dengan usaha penugasan Apoteker sampai pada tingkat pelosok. Guman Apoteker dalam hati berulang-ulang, “Raja yang sangat cerdas dan bijaksana”.

Setiap detik demi detik hari ini terekam didalam benak Apoteker seakan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. “Pengalaman yang sangat berharga”, itu yang terlintas didalam pikirannya. “Setiap detik hari ini adalah ilmu dan pengalaman, yang tidak pernah terlintas didalam hati sebelumnya, bila akan menemui peristiwa yang sangat berharga yang mungkin hanya sekali didalam hidup”, demikian pikir Apoteker.

Sungguh tak terbayangkan, bila hari ini diundang oleh Raja untuk membahas penugasan Apoteker sampai ke pelosok. Tidak terbayangkan bila hari ini dirinya menjadi salah satu orang yang akan ikut didalam mengambil keputusan Kerajaan. “Sungguh merupakan mimpi,” kenang apoteker sambil membaringkan dirinya titempat tidur.

Sebelum acara hari ini dimulai, diadakan jamuan makan oleh Raja, yang mana makanan kualitas Kerajaan menjadi mimpi pertama bagi Apoteker dihari ini. “Sungguh luar biasa”, berkali-kali Apoteker berguman. Pengalaman pertamanya menyantap hidangan yang sangat lezat bagi lidah Apoteker. nuansa jamuan yang sangat istimewa karena diiringi musik yang sangat syahdu. “mimpikah aku”, kata Apoteker didalam hati setiap kali memasukan suapan nasi kedalam mulut. “Mungkin selama ini saya hanyalah katak dalam tempurung”, kata Apoteker dalam hati lagi.

Sudut-sudut ruang jamuan dihiasi lukisan lukisan yang sangat molek yang membuat hati Apoteker menjadi lebih nyaman didalam menikmati jamuan makan. Sesekali Apoteker berguman sendiri dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti orang lain, karena sangat pelannya didalam hirup pikuk undangan dan musik.

Sambil menikmati jamuan, Apoteker tenggelam didalam lamunannya sendiri. ”seandainya istri saya bisa memasak senikmat ini”, begitu mungkin ungkapan apoteker didalam lamunannya. “Ada masalah dengan jamuan tuan?”, tiba-tiba Apoteker dikejukan oleh seorang pria disampingnya. Dengan agak terkejut, tanpa menunggu makanan dimulut masuk kerongkongan semua, Apoteker sepontan menjawab “ tidak ada, tidak ada tuan” kemudian apoteker terbatuk-batuk karena tersedak. Pria itu kemudian melanjutkan perkataannya,” maaf tuan, saya telah mengganggu anda”. Dengan buru-buru apoteker menjadwab,”tidak apa-apa tuan. Kenalkan saya Apoteker, anda siapa?”

“Saya adalah Koki Kepala yang beratanggung jawab terhadap hidangan jamuan ini tuan”, sahut pria itu. “Jikalau ada keluhan dapat langsung disampaikan kepada saya”, sahut pria itu lagi.

“wah, hebat hebat hebat, masakan anda hebat”, kata apoteker kepada Koki Kepala sambil tersenyum lebar. “ha3x”, kemudian apoteker tertawa. “bisa masak sedemikian hebat, tentu anda berasal dari keluarga yang sangat jago memasak”, tebak apoteker.

sambil tersenyum Koki Kepala menjawab, “Saya berasal dari keluarga biasa, hanya karena kerja keras saya bisa jadi Koki Kepala”. Apoteker menjadi bingung, dalam hatinya, “apa hubungan kerja keras dengan jadi Koki???”, kemudian Apoteker berkata, “ Kita semua memang harus bekerja keras agar menjadi sukses”. Meskipun dalam hati Apoteker bertanya-tanya.

Dalam hati Apoteker yang penuh tanda Tanya, kemudian bertanya lagi, “Bagaimana masakan anda begitu hebat tuan?”. “Belajar dimana?”, lanjut Apoteker. “Saya jadi Koki Kepala baru 10 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya menjadi koki biasa dengan kemampuan yang terbatas, 10 tahun sebelumnya lagi saya hanya menjadi pembantu koki”, jawab Koki. “Beda dengan Apoteker, yang mana Apoteker ada pendidikannya, kalau Koki hanya belajar dari Koki Senior”, sambung Koki.

“Tapi Koki kan gajinya besar”, sambung apoteker merendah, karena memang tidak tahu berapa gaji koki yang sebenarnya. Lanjut apoteker lagi, “ Gaji Apoteker hanya sekitar 10 sampai 15 keping perak”. “Hanya cukup untuk makan saja”, lajut Apoteker lagi.

“Koki yang mana dulu? Pembantu Koki yang hanya menjadi pelayani Koki gajinya antara 7 keping perak sampai 15 keping perak, saat sudah bisa beberapa masakan sederhana atau membakar daging bisa sampai lebih dari 2 keping emas”, Jawab Koki. “Koki biasa bisa sampai 3 atau 4 keping emas. Koki Kepala bisa sampai 20 keping emas”, lanjut Koki. “Profesi Koki memang cukup menjanjikan di Kerajaan ini”, lanjut Koki Kepala lagi.

Sangat terkejut hati apoteker mendengar besarnya gaji Koki Kepala, bisa dibayangkan, satu keping emas setara dengan 20 keping perak. Di kepalanya sudah mulai menghitung seandainya gaji apoteker sebesar gaji Koki Kepala, dalam pikiran apoteker mulai penuh impian dan hayalan tentang seandainya, seandainya dan seandainya.

Apoteker bertanya lagi,” Dengan gaji Koki Kepala sebesar 20 keping emas, kenapa tidak membuat rumah makan sendiri?. lanjut Apoteker, “ keuntungannya kan pasti sangat besar dan berlipat-lipat”.

“ha3x, saya sering mendapat pertanyaan begini, saya sudah menduga”, jawab Koki Kepala sambil tertawa sedikit keras. kemudian Koki Kepala melanjutkan pernyataannya, “Banyak Koki yang berusaha mencoba membuka rumah makan sendiri, mulai pembantu koki sampai Koki Kepala. Umumnya pembantu Koki bukan mencoba membuka rumah makan besar, tetapi mencoba membuka rumah makan kecil-kecilan atau menjual makanan pingir jalan”.

Lanjut Koki, “ coba hitung, biaya operasional rumah makan besar untuk biaya gaji Koki dan karyawan lain ditambah sewa lahan bisa sampai 100 keping emas. Sangat besar sekali, itu semua belum ter,asuk perlengkapan masak dan biaya-biaya lain, kalau tidak jalan bagaimana?”

Apoteker terdiam sesaat sambil berpikir, “ gaji Koki Kepala cukup untuk menggaji 20 lebih Apoteker seperti dirinya. Bila dilihat dari fungsi kemanusiaan keberadaan Apoteker jauh lebih penting dari pada sekedar urusan perut. Tetapi bila dilihat dari sisi penghasilan, gaji Apoteker sangat jauh, padahal bila ditimbang-timbang pada tingkat kesulitan di dalam pekerjaan mungkin masih lebih rumit Apoteker.”

Kemudian Apoteker menjawab sekenanya, “ Wah, kalau begitu lebih enakan ikut orang saja, tidak usah mikir capek-capek penghasilan besar, ha3x”. Kemudian Koki menyambung dengan membenarkan perkataan Apoteker,” Memang benar, ikut orang gaji cukup untuk menghidupi keluarga, sudah sepantasnya saya bersukur”.

Setelah berbasa basi sebentar Koki Kepala berpamitan kepadaAapoteker,” Senang bertemu anda tuan, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Selamat menikmati jamuan”.

Sepeninggal Koki, hati apoteker berkata, “ besar sekali gaji Koki Kepala”, “untung saya tidak tertarik gaji, untung saya tertarik pada nilai-nilai kemanusiaan, meskipun gaji kecil”, sisi hati apoteker yang lain menghibur diri.

Apoteker melanjukan lamunannya,” Memang untuk mencari emas lebih berkembang bisnis urusan perut dari pada kerja kemanusiaan. Atau setidaknya membuka praktek dikota besar lebih menjanjikan dari pada dipelosok. Tetapi kalau ingin berguna bagi kemanusiaan dan Kerajaan lebih terasa di pelosok, lagian penduduk pelosok lebih menghargai orang lain dari pada penduduk kota.”.

Malam semakin larut, Apoteker belum bisa tidur, meskipun sudah cukup lama ada di tempat tidur. Kemudian apoteker bagun lagi dan mengambil minum air putih meskipun tidak haus.

“Hai tuan Apoteker!”, tiba-tiba Apoteker dikejutkan lagi oleh pria yang tidak dikenal sebelumnya… Berlanjut sampai ada waktu untuk melanjutkan.

Sabtu, 26 Juni 2010

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR

DONGENG SEBELUM APOTEKER TIDUR


Pada jaman dahulu kala ada Kerajaan Negeri Dongeng yang dipimpin oleh seorang Raja yang cerdas dan bijaksana. Yang mempunyai seorang Perdana Menteri (PM) yang cerdas pula. Rakyatnya selalu hidup dalam kemakmuran yang tiada kurang suatu apapun. Ada suatu kebiasaan Raja yang sangat baik, yang mana Raja sangat suka menyamar menjadi rakyat jelata, pedagang atau menjadi apapun juga untuk melihat keadaan kerajaan yang sebenarnya.

Pada suatu hari, dimusim panen yang mana kebanyakan dari para rakyatnya sedang sibuk merayakan pesta panen, Raja mengajak 2 orang pengawalnya untuk melakukan penyamaran. Dengan berpura-pura menjadi pedagang, Raja berharap dapat melihat keadaan ekonomi Kerajaan. Sehinga kondisi rakyat dapat diterjemahkan dalam rencana pembangunan ekonomi Kerajaan.

Dari desa ke desa, dari kota ke kota. Tanpa kenal lelah Sang Raja ditemani oleh dua orang pengawalnya. Yang satu menjadi tukang angkut barang dan yang satu menjadi bendahara. Raja sepertinya sangat menikmati perjalanannya, sampailah pada suatu hari Raja melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung didepan rumahnya dengan tatapan kosong. Guratan tua diwajahnya semakin menambah usia yang sebenarnya. Pakaian lusuh yang dikenakan menjadikan seperti orang yang tidak terawatt didalam hidupnya.

Dengan langkah yang perlahan Raja mendekati orang tua tersebut. Kemudian dengan sangat lembut Raja mengucapkan salam dan bertanya kepada pria tua tersebut.

“ selamat siang tuan, bisakah saya bertanya sesuatu?” kata Raja dengan penuh hormat. Sebagai orang asing, Raja tetap menghormati siapa saja yang ditemui di dalam penyamaran.

Pria tersebut tetap saja berdiam diri, tanpa menoleh sedikitpun seperti tidak ada siapa-siapa didekatnya. Pandangan kosong dan guratan-guratan tua wajahnya menampakkan tiada ekspresi sama sekali. Sekali-sekali mengambil nafas dalam-dalam, pria tersebut semakin kelihatan suatu duka yang mendalam. Kemudian Raja mengulang perkataannya lagi, “ Seamat siang tuan, bisakah anda menolong saya?” Kemudian pria tersebut menoleh tanpa menjawab, hanya memandangi wajah asing didekatnya.

Setelah beberapa saat Pria tua itu berkata, “anda siapa?” dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan tetap memandangi wajah asing didekatnya, dengan hampir tanpa ekspresi.

Raja menjawab, “saya pedagang dari kota.” Berdiam sesaat kemudian Raja berkata lagi, “Saya sedang mencari dagangan, kira-kira siapa penduduk disini yang masih menyimpan hasil panen?” Raja melanjutkan, “Mungkin tuan sendiri mempunyai hasil panen yang belum terjual?”

Pria tua itu terdiam. Tanpa sepatah katapun di keluarkan sambil menatap wajah sang raja dalam-dalam. Kemudian Raja berkata lagi,”kalau tuan sudah tidak mempunyai hasil panen lagi, bisakah tuan menunjukan orang yang masih mempunyai hasil panen?”
Pria tua itu kemudian menjawab, “Tuan, saya sudah tidak mempunyai ladang dan sawah lagi. Semua sudah saya jual. Dan saya juga tidak tahu siapa yang masih mempunyai hasil panen. Karena sudah satu tahun ini saya tidak pernah bergaul dan hanya merawat istri saya yang sakit.”

Selanjutnya pembicaraan menjadi cerita pria tua itu dengan usaha mengobati penyakit istrinya. Dengan sekali-sekali menarik napas panjang pria itu menceritakan semua cobaan yang dihadapi dengan tanpa semangat. Semua keluh kesah keluar dari mulutnya. Raja mendengarkan dengan penuh empati.

Setelah cerita berakhir, dengan basa basi sedikit Raja kemudian memberi uang keping emas kepada pria tua itu sambil berkata, “ini ada sedikit keping emas laba dari penjualan beberapa hari kemarin, semoga bisa membantu istri tuan untuk berobat.” Pria tua itu menerimanya dengan sangat terharu, dan sambil menangis pria itu berkata, “Tuanku, semoga rejeki tuan semakin banyak dan jauh dari mara bahaya.” Kemudian Raja berpamitan dan meninggalkan desa itu.

Keesokan harinya setelah sampai di Istana, Raja memanggil PM dan mendiskusikan masalah kesehatan. Saran dari Perdana Menteri adalah memperbaiki sistem kesehatan Kerajaan dan memanggil semua tenaga kesehatan terkait untuk dimintai masukan. Raja menyetujui dan menitahkan kepada Perdana menteri untuk mengundang semua tenaga kesehatan yang ada di Kota Raja.

Beberapa hari kemudian, hamper semua tenaga kesehatan sudah berkumpul di istana Kerajaan, di ruang pertemuan. Dan semua bertanya-tanya terhadap undangan Raja yang tiba-tiba dan terkesan sangat mendesak. Satu sama lain saling melontarkan pertanyaan yang sama dan semua tidak ada yang memahami kenapa sampai terjadi undangan ini. Saat kegaduhan yang diakibatkan bisikan-bisakan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara “Baginda Raja memasuki ruangan, semua hadirin harus hormat”.

Dengan penuh kewibawaan, Raja memasuki ruangan pertemuan. Setelah penghormatan kepada Raja selesai, Raja memerintahkan kepada PM untuk memulai pertemuan membahas masalah kesehatan di wilayah kerajaan.

PM: “ saudara-saudara yang terhormat, kalian semua diundang Kerajaan untuk membicarakan masalah kesehatan di wilayah Kerajaan. Raja menginginkan pembangunan kesehatan menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Karena Negara yang kuat tidak mungkin bila tidak diisi oleh badan dan jiwa yang sehat.”

Kemudian PM melanjutkan dengan pertanyaannya kepada Dokter; “ Dokter, bagaimana kosep kamu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat?”

Dokter; ”Tuanku yang saya hormati, menurut hamba Kerajaan harus menggaji dokter lebih banyak dan mengirmkannya sampai pada pelosok. Karena tanpa gaji yang cukup saya rasa tidak mungkin Dokter akan mau dikirim sampai ke pelosok kerajaan.”

PM; “ Perawat, bagaimana menurut kamu?

Perawat; “Benar yang mulia, profesi kami siap membantu Dokter sampai ke pelosok, toh saat ini Perawat sudah sampai pada pelosok Kerajaan. Cuma saja kewenangan kami terbatas.

PM; “ Apoteker ada masukan?”

Apoteker; “ Tuanku, menurut hamba Kerajaan harus mempunyai arah yang tepat dalam membangun sistem kesehatan. Termasuk menempatkan Dokter dan Perawat sampai ke tingkat pelosok Kerajaan. Dan kami akan membantu mereka dengan obat dan penyuluhan kesehatan yang sudah biasa kami lakukan.”

PM; “Dokter dari mana kamu akan menghidupi diri kamu bila gaji yang diberikan kerajaan kecil dan tidak cukup?”

Dokter; “ Kami masih bisa menarik jasa kepada penduduk yang sakit, terutama yang kaya. Dengan sekeping perak atau emas. Baik pada pelayanan pengobatan atau pada layanan konsultasi.”

PM; “ Perawat, bagaimana dengan kalian?”

Perawat; “ Tuanku, menurut hamba sama dengan Dokter. Hanya saja kami hanya menarik sekeping perunggu.”

PM; “Apoteker?”

Apoteker; “Tuanku, kami selama ini hanya makan dari jasa yang sangat kecil dari apa yang kami lakukan. Malahan untuk konsultasi dan edukasi kami hanya bisa melakukan dengan cuma-cuma.”

PM melanjutkan pertanyaannya; “ terus bagaimana kamu menghidupi keluarga kamu bila jasa kamu sangat kecil?”

Apoeker; “ Jasa kami memang sangat kecil, tetapi yang menggunakan jasa kami jauh lebih banyak. Sehingga bila dikumpulkan akan cukup untuk menghidupi keluarga kami. Meskipun itu tidak menjadikan kami kaya”

PM; “ Dokter, apa yang bisa kamu kerjaka untuk kerajaan?”

Dokter; “ Tuanku, kami akan bekerja keras mengobati semua penduduk Kerajaan yang sakit demi nilai-nilai kemanusiaan.”

PM; “ Perawat, apa yang bisa kamu kejakan?”

Perawat; “Kami siap melakukan perawatan kepada semua penduduk yang membutuhkan.”

PM; “ Apoteker? “

Apoteker; “ Tuanku, saya rasa kami siap mendudkung mereka, dan kami akan pula melakukan penyuluhan kesehatan kepada penduduk kerajaan dengan cuma-cuma. “

PM; “ Dokter, apa yang kamu harapkan dari kerajaan terhadap peran kamu? “

Dokter; “ Kami hanya minta sedikt gaji yang lebih banyak tuan. “

PM; “ Perawat? “

Perawat; “ hamba rasa sama dengan dokter Tuan “

Apoteker; “ kami hanya mengharapkan kemudahan dan pembebasan dari pajak, karena apa yang kami kami lakukan akan meningkatkan ekonomi kerajaan meskipun dampaknya tidak langsung. Dan sewajarnya bila ada dampak pada peningkatan ekonomi kerajaan menjadikan kami dipermudah, karena kami tidak mengharapkan gaji dari Kerajaan. “

Kemudian PM menghentikan dialog dan membicara hasil dialog ini dengan Raja. Raja menyuruh PM untuk mengambil kesimpulan dengan mendiskusikan lagi dengan para ahli kesehatan se Kota Raja.

PM; “ Menurut saya, kesimpulannya adalah, mengirimkan Dokter dan perawat sampai tingkat pelosok dan Apoteker harus mendukung mereka dengan mendirikan apotek pada daerah-daerah yang dianggapstrategis. Bagaimana menurut kalian semua? “

Dokter; “Hamba siap melaksanakan tugas “

Perawat; Hamba siap melaksanakan tugas kerajaan”

Apoteker; “ Hamba siap melaksanakan tugas Kerajaan “

Setelah semua selesai mengemukakan pendapat, PM melaporkan kepada Raja bahwa kesimpulan telah selesai dibuat, dan menjadi kewenangan Raja untuk memutuskan. Kata PM kepada Raja; “ Tuanku Yang Mulia, sidang sudah disimpulkan, dan dipersilahkan kepada Yang Mulia untuk menyampaikan putusan / titah. “

Kemudian Raja berdiam sejenak sebelum mengeluarkan titahnya. Dengan penuh kewibawaan Raja mengucapkan titahnya, “ Pertama, peran dokter dan perawat tetap seperti semula dan Kerajaan akan mengirim sampai pelosok disesuaikan dengan kebutuhan.

Kedua, Apoteker akan dikirimkan sampai pelosok untuk mengawal penduduk didalam menjaga kesehatan. Dan Kerajaan akan memberikan kemudahan dalam mengurus ijin dan membebaskan dari segala jenis pajak kerajaan.”

“Mungkin kalian bertanya-tanya akan keputusan ini.” lanjut Raja. “Saya lebih memilih untuk mengirimkan apoteker samai kepelosok, karena pekerjaan Dokter dan Perawat adalah tindakan medis dan pekerjaan akan ada setelah ada kasus medis. Sedangkan Apoteker justru lebih bisa diarahkan pada prekuentif dan edukasi. Bisa kamu hitung berapa uang kerajaan yang seharusnya dikeluarkan kepada penyuluh kesehatan bila kerajaan harus mengirimkan penyuluh kesehatan sampai kepelosok, padahal pekerjaan itu dapat dirangkap oleh Apoteker. Pada tugas ini Apoteker tidak perlu digaji oleh Kerajaan. Sedangkan dampaknya pada nilai ekonomi Kerajaan sangat tinggi. “

Lanjut Raja, “ oleh karena itu, sebagai ganti atas peran apoteker yang sangat penting didalam membangun kesehatan dan ekonomi Kerajaan, maka Apoteker akan difasilitasi oleh Kerajaan didalam menjalankan prakteknya dan akan dibebaskan dari segala macam pajak kerajaan. “

“Demikian titah aku turunkan”, Raja menutup siding dan meninggalkan ruangan.